Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Malam,’ dengkur Ron, dari suatu tempat di samping kanannya.

‘Malam,’ kata Harry.

Mungkin kali berikutnya … kalau ada kali berikutnya …. Cho akan sedikit lebih gembira. Dia seharusnya mengajaknya keluar; Cho mungkin telah mengharapkannya dan sekarang benar-benar marah kepadanya … atau apakah dia sedang berbaring di ranjang, masih menangisi Cedric? Dia tidak tahu harus berpikir apa. Penjelasan Hermione membuat semuanya tampak lebih rumit bukannya lebih mudah dimengerti.

Itulah yang seharusnya mereka ajarkan kepada kami di sini, pikirnya, sambil berbalik ke samping, bagaimana cara kerja otak anak perempuan … lagipula akan lebih berguna daripada Ramalan …

Neville mendengus dalam tidurnya. Seekor burung hantu beruhu di suatu tempat di luar pandangan.

Harry bermimpi dia kembali berada di ruangan DA. Cho sedang menuduhnya memikat dia ke sana dengan alasan-alasan palsu; katanya dia menjanjikannya seratus lima puluh Kartu Cokelat Kodok kalau dia muncul. Harry protes … Cho berteriak, ‘Cedric memberiku banyak Kartu Cokelat Kodok, lihat!’ Dan dia menarik keluar segenggam penuh Kartu dari bagian dalam jubahnya dan melemparkannya ke udara. Lalu dia berubah menjadi Hermione, yang berkata, ‘Kamu memang berjanji kepadanya, kau tahu, Harry … kukira sebaiknya kamu memberinya sesuatu yang lain sebagai pengganti … bagaimana kalau Fireboltmu?’ Dan Harry protes bahwa dia tidak bisa memberi Cho Fireboltnya, karena Umbridge menahannya, dan lagipula semua hal itu menggelikan, dia cuma datang ke ruangan DA untuk memasang beberapa bola hiasan Natal yang berbentuk seperti kepala Dobby …

Lalu mimpi itu berubah …

Tubuhnya terasa licin, bertenaga dan luwes. Dia sedang meluncur di antara batangbatang logam mengkilat, menyeberangi batu yang dingin dan gelap … dia rata dengan lantai, meluncur pada perutnya … tempat itu gelap, tetapi dia bisa melihat benda-benda di sekitarnya berkilauan dalam warna-warna aneh dan bergetar … dia memalingkan kepalanya … pada pandangan pertama koridor itu kosong … tetapi tidak … seorang lelaki sedang duduk di lantai di depan, dagunya turun ke dadanya, garis bentuk tubuhnya bersinar dalam gelap …

Harry menjulurkan lidahnya … dia merasakan bau lelaki itu di udara … dia hidup tetapi mengantuk … duduk di depan sebuah pintu di ujung koridor itu …

Harry ingin menggigit lelaki itu … tapi dia harus menguasai dorongan itu … dia punya pekerjaan yang lebih penting untuk dilakukan …

Tetapi lelaki itu bergerak … sebuah Jubah perak jatuh dari kakinya ketika dia melompat bangkit; dan Harry melihat garis bentuk tubuhnya yang bergerak-gerak dan kabur menjulang tinggi di atasnya, melihat sebuah tongkat ditarik dari sebuah ikat pinggang … dia tidak punya pilihan … dia menaikkan tubuh dari lantai dan menyerang sekali, dua kali, tiga kali, menghujamkan taring-taringnya dalam-dalam ke daging lelaki itu, merasakan tulang iganya remuk di bawah rahangnya, merasakan semburan darah yang hangat …

Lelaki itu sedang berteriak kesakitan … lalu dia terdiam … dia merosot ke belakang pada dinding … darah memercik ke lantai …

Keningnya sakit sekali … sakit seperti akan meledak …

‘Harry! HARRY!’

Dia membuka matanya. Setiap inci tubuhnya tertutup keringat sedingin es; sepreinya

terpelintir di sekelilingnya seperti jaket pengikat, dia merasa seolah-olah besi pengorek api yang panas sekali sedang dilekatkan ke keningnya.

‘Harry!’

Ron sedang berdiri di atasnya terlihat benar-benar ketakutan. Ada lebih banyak figur di kaki ranjang Harry. Dia mencengkeram kepalanya dengan tangan; rasa sakit itu membutakannya … dia bergulung ke kanan dan muntah ke tepi kasur.

‘Dia benar-benar sakit,’ kata sebuah suara takut. ‘Apakah kita harus memanggil seseorang?’

‘Harry! Harry!’

Dia harus memberitahu Ron, sangat penting bahwa dia memberitahunya … sambil menghirup udara banyak-banyak, Harry mendorong dirinya sendiri bangkit di tempat tidur, memaksa dirinya tidak muntah lagi, rasa sakit itu setengah membutakannya.

‘Ayahmu,’ dia terengah-engah, dadanya turun-naik. ‘Ayahmu … diserang …’

‘Apa?’ kata Ron tidak mengerti.

‘Ayahmu! Dia digigit, serius, ada darah di mana-mana …’

‘Aku akan mencari bantuan,’ kata suara takut yang sama, dan Harry mendengar

langkah-langkah kaki keluar dari kamar asrama.

‘Harry, sobat,’ kata Ron tidak yakin, ‘kau … kau cuma bermimpi …’

‘Tidak!’ kata Harry dengan marah; penting bahwa Ron mengerti.

‘Itu bukan mimpi … bukan mimpi biasa … aku ada di sana, aku melihatnya … aku

melakukannya …’

Dia bisa mendengar Seamus dan Dean bergumam tetapi tidak peduli. Rasa sakit di keningnya agak berkurang, walaupun dia masih berkeringat dan gemetaran hebat. Dia muntah lagi dan Ron melompat mundur menjauh.

‘Harry, kau tidak sehat,’ katanya bergetar. ‘Neville sudah pergi mencari bantuan.’

‘Aku baik-baik saja!’ Harry tersedak, menyeka mulutnya pada piyamanya dan gemetaran tak terkendali. ‘Tak ada yang salah denganku, ayahmu yang harus kau khawatirkan — kita perlu mencari tahu di mana dia — dia berdarah hebat — aku — itu seekor ular besar.’

Dia mencoba keluar dari tempat tidur tetapi Ron mendorongnya kembali; Dean dan Seamus masih berbisik-bisik di suatu tempat di dekat situ. Apakah satu menit berlalu atau sepuluh menit, Harry tidak tahu; dia hanya duduk di sana gemetaran, merasakan sakit yang pelan-pelan surut dari bekas lukanya … lalu ada langkah-langkah kaki bergegas menaiki tangga dan dia mendengar suara Neville lagi.

‘Sebelah sini, Profesor.’

Profesor McGonagall datang dengan bergegas ke dalam kamar asrama itu mengenakan jubah panjang kotak-kotaknya, kacamatanya bertengger miring di batang hidung kurusnya.

‘Ada apa, Potter? Di mana yang sakit?’

Dia belum pernah begitu senang berjumpa dengannya; yang dia butuhkan sekarang adalah seorang anggota Order of Phoenix, bukan seseorang yang mencerewetinya dan meresepkan ramuan-ramuan tak berguna.

‘Ayah Ron,’ katanya sambil duduk lagi. ‘Dia diserang seekor ular dan masalahnya serius, aku melihatnya terjadi.’

‘Apa maksudmu, kau melihatnya terjadi?’ kata Profesor McGonagall, alisnya yang gelap bertaut.

‘Aku tidak tahu … aku sedang tidur dan kemudian aku ada di sana …’

‘Maksudmu kau memimpikan ini?’

‘Tidak!’ kata Harry dengan marah; tak adakah dari mereka yang akan mengerti? ‘Awalnya aku sedang bermimpi tentang sesuatu yang benar-benar berbeda, sesuatu yang bodoh … dan lalu ini memotongnya. Itu nyata, aku tidak membayangkannya. Mr Weasley sedang tertidur di atas lantai dan dia diserang oleh seekor ular raksasa, ada banyak darah, dia jatuh, seseorang harus mencari tahu di mana dia …’

Profesor McGonagall sedang menatapnya melalui kacamatanya yang miring seolaholah ngeri akan apa yang sedang dilihatnya.

‘Aku tidak sedang berbohong dan aku tidak gila!’ Harry memberitahunya, suaranya meninggi menjadi teriakan. ‘Kuberitahu Anda, aku melihatnya terjadi!’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.