Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Itu dia!’ Ron berbisik.

‘Ke bawah sini!’ Harry berkata cepat-cepat; sambil meraih Jubah Gaib, dia memutarnya menutupi dirinya sendiri dan Hermione sementara Ron mengitari meja dan menukik ke bawah Jubah itu juga. Berimpitan bersama, mereka mundur ke sebuah sudut. Fang

menggonggong hebat ke pintu. Hagrid tampak benar-benar bingung.

‘Hagrid, sembunyikan cangkir-cangkir kami!’

Hagrid meraih cangkir-cangkir Harry dan Ron dan mendorongnya ke bawah bantal di keranjang Fang. Fang sekarang sedang melompat-lompat di pintu, Hagrid mendorongnya menjauh dengan kakinya dan menariknya hingga terbuka.

Profesor Umbridge sedang berdiri di ambang pintu mengenakan mantel wolnya dan topi yang serasi dengan penutup telinga. Dengan bibir dikerutkan, dia mencondongkan badan ke belakang untuk melihat wajah Hagrid; dia hampir tidak mencapai pusarnya.

‘Jadi,’ katanya lambat-lambat dan keras-keras, seolah-olah sedang berbicara kepada

seseorang yang tuli. ‘Anda Hagrid, bukan?’

Tanpa menunggu jawaban dia berjalan ke dalam ruangan, matanya yang menonjol berputar ke segala arah.

‘Pergi,’ bentaknya, sambil melambaikan tas tangannya kepada Fang, yang sudah melompat ke arahnya dan mencoba menjilat wajahnya.

‘Er — aku tidak mau bersikap kasar,’ kata Hagrid sambil menatapnya, ‘tapi siapa kamu?’

‘Namaku Dolores Umbridge.’

Matanya menyapu kabin itu. Dua kali menatap langsung ke sudut di mana Harry berdiri, terapit di antara Ron dan Hermione.

‘Dolores Umbridge?’ Hagrid berkata, terdengar sepenuhnya bingung. ‘Kukira kau salah satu dari Kementerian itu — bukankah kau kerja dengan Fudge?’

‘Saya dulu Sekretaris Senior untuk Menteri, ya,’ kata Umbridge, sekarang berjalan ke sana kemari di sekitar kabin itu, mengamati setiap detil di dalam, dari kantong barang di dinidng hingga mantel bepergian yang terabaikan. ‘Saya sekarang guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam –‘

‘Anda berani,’ kata Hagrid, ‘tak banyak yang mau mengambil pekerjaan itu lagi.’

‘– dan Penyelidik Tinggi Hogwarts,’ kata Umbridge, tidak memberi tanda bahwa dia

mendengarnya.

‘Apa itu?’ kata Hagrid sambil merengut.

‘Persis yang akan kutanyakan,’ kata Umbridge sambil menunjuk keping-keping

pecahan porselen di atas lantai yang dulunya cangkir Hermione.

‘Oh,’ kata Hagrid, dengan pandangan sekilas yang sangat tidak membantu ke sudut di mana Harry, Ron dan Hermione berdiri tersembunyi, ‘oh, itu … Fang. Dia memecahkan sebuah cangkir. Jadi aku harus menggunakan yang ini sebagai gantinya.’

Hagrid menunjuk ke cangkir tempat dia minum, satu tangan masih mengepit stik naga yang tertekan ke matanya. Umbdrige berdiri menghadapnya sekarang, mengamati setiap

detil penampilannya bukannya kabin itu.

‘Saya mendengar suara-suara,’ katanya pelan.

‘Aku sedang bicara dengan Fang,’ kata Hagrid dengan keras.

‘Dan dia berbicara kembali kepada Anda?’

‘Well … bisa dibilang begitu,’ kata Hagrid, terlihat tidak nyaman. ‘Aku kadang bilang Fang hampir seperti manusia –‘

‘Ada tiga set jejak kaki di salju yang mengarah dari pintu-pintu kastil ke kabin Anda,’ kata Umbridge dangan manis.

Hermione menarik napas cepat; Harry mengatupkan sebuah tangan ke mulutnya. Untungnya, Fang sedang mengendus-endus dengan keras di sekitar tepi jubah Profesor Umbridge dan dia tampaknya tidak mendengar.

‘Well, aku baru saja kembali,’ kata Hagrid, sambil melambaikan sebuah tangan yang besar kepada kantong barang. ‘Mungkin seseorang datang berkunjung sebelumnya dan aku tidak berjumpa dengan mereka.’

‘Tidak ada jejak kaki menjauh dari pintu kabin Anda.’

‘Well, aku … aku tidak tahu kenapa itu …’ kata Hagrid, sambil menarik-narik jenggotnya dengan gugup dan lagi-lagi memandang sekilas ke sudut di mana Harry, Ron dan Hermione berdiri, seolah-olah meminta bantuan. ‘Erm …’

Umbridge berputar dan berjalan-jalan di kabin itu, sambil memandang sekeliling dengan waspada. Dia membungkuk dan mengintai ke bawah tempat tidur. Dia membuka lemari-lemari Hagrid; Harry bahkan mengempiskan perutnya selagi dia lewat. Setelah melihat dengan waspada ke dalam kuali besar yang digunakan Hagrid untuk memasak, dia berputar berkeliling lagi dan berkata, ‘Apa yang terjadi dengan Anda? Bagaimana Anda mendapatkan luka-luka itu?’

Hagrid buru-buru mengangkat stik naga dari wajahnya, yang menurut pendapat Harry adalah kesalahaa, karena memar-memar hitam dan ungu di sekitar wajahnya sekarang terlihat jelas, tanpa menyebut sejumlah besar darah segar dan beku di wajahnya. ‘Oh, aku … terkena kecelakaan kecil,’ katanya lemah.

‘Kecelakaan seperti apa?’

‘Aku — aku tersandung.’

‘Anda tersandung,’ ulangnya dengan dingin.

‘Yeah, itu benar. Tersandung … sapu seorang teman. Aku sendiri tidak terbang. Well, lihat ukuranku, kukira tak ada sapu yang bisa menahanku. Temanku membiakkan kudakuda Abraxan, aku tak tahu apa kau pernah melihat mereka, binatang besar, bersayap, kau tahu, aku naik salah satunya sebentar dan –‘

‘Ke mana Anda pergi?’ tanya Umbridge, memotong ocehan Hagrid dengan dingin.

‘Ke mana aku –?’

‘Pergi, ya,’ katanya. ‘Tahun ajaran dimulai dua bulan yang lalu. Guru lain harus menggantikan kelas-kelas Anda. Tak seorangpun dari kolega Anda yang bisa memberiku informasi apapun tentang keberadaan Anda. Anda tidak meninggalkan alamat. Ke mana Anda pergi?’

Ada jeda sementara Hagrid menatapnya dengan matanya yang baru tidak tertutup. Harry hampir bisa mendengar otaknya bekerja mati-matian.

‘Aku — aku pergi untuk kesehatanku,’ katanya.

‘Untuk kesehatan Anda,’ ulang Profesor Umbridge. Matanya menjelajah pada wajah Hagrid yang berubah warna dan bengkak; darah naga menetes lembut dan pelan ke jasnya. ‘Saya mengerti.’

‘Yeah,’ kata Hagrid, ‘sedikit — udara segar, kau tahu –‘

‘Ya, sebagai penjaga hewan udara segar pasti susah didapatkan,’ kata Umdrige dengan manis. Bagian kecil di wajah Hagrid yang tidak hitam atau ungu, merona merah.

‘Well — perubahan pemandangan, kau tahu –‘

‘Pemandangan pegunungan?’ kata Umbridge dengan cepat.

‘Dia tahu,’ Harry berpikir dengan putus asa.

‘Pegunungan?’ Hagrid mengulangi, jelas sedang berpikir cepat. ‘Bukan, Prancis Selatan untukku. Sedikit matahari dan … dan laur.’

‘Benarkah?’ kata Umbridge. ‘Anda tidak punya kulit kecoklatan.’

‘Yeah … well … kulit sensitif,’ kata Hagrid, mencoba tersenyum manis. Harry memperhatikan bahwa dua giginya telah lepas. Umbridge memandangnya dengan dingin; senyumnya menghilang. Lalu dia mengangkat tas tangannya sedikit lebih tinggi ke lekuk lengannya dan berkata, ‘Tentu saja saya akan memberitahu Menteri tentang kembalinya Anda yang terlambat.’

‘Benar,’ kata Hagrid sambil mengangguk.

‘Anda juga harus tahu, bahwa sebagai Penyelidik Tinggi adalah tugasku yang patut disayangkan tetapi perlu untuk menginspeksi guru-guru sejawatku. Jadi saya berani bilang kita akan segera bertemu lagi.’

Dia berbalik dengan tajam dan bergerak kembali ke pintu.

‘Kau menginspeksi kami?’ Hagrid mengulangi dengan hampa, sambil memandangnya.

‘Oh, ya,’ kata Umbridge dengan pelan, sambil memandang balik kepadanya dengan tangan di pegangan pintu. ‘Kementerian berketetapan untuk menyingkirkan guru-guru yang tidak memuaskan, Hagrid. Selamat malam.’

Dia pergi, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi keras. Harry bergerak akan menarik lepas Jubah Gaib tetapi Hermione meraih pergelangan tangannya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.