Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Jadi,’ kata Harry, ‘kau melihat mereka dan lalu apa?’

‘Well, kami tunggu sampai pagi, tak mau menyelinap kepada mereka dalam gelap, ‘tuk keselamatan kami sendiri,’ kata Hagrid. ‘Sekitar jam tiga pagi mereka tertidur tepat di tempat mereka duduk. Kami tak berani tidur. ‘Tuk satu hal, kami mau pastikan tak satupun dari mereka bangun dan datang ke tempat kami, dan hal lain, dengkurannya tak bisa dipercaya. Sebabkan salju longsor menjelang pagi.’

‘Bagaimanapun, begitu terang kami turun jumpai mereka.’

‘Begitu saja?’ kata Ron, terlihat kagum. ‘Kalian berjalan langsung ke dalam kamp raksasa?’

‘Well, Dumbledore beritahu kami bagaimana melakukannya,’ kata Hagrid. ‘Berikan Gurg hadiah-hadiah, perlihatkan rasa hormat, kalian tahu.’

‘Berikan apa hadiah-hadiah?’ tanya Harry.

‘Oh, Gurg –artinya ketua.’

‘Bagaimana kau bisa tahu yang mana Gurg?’ tanya Ron.

Hagrid mendengkur geli.

‘Tak masalah,’ katanya. ‘Dia yang paling besar, paling jelek dan paling malas. Duduk di sana menunggu dibawakan makanan oleh yang lainnya. Kambing mati dan sebagainya. Namanya Karkus. Aku rasa dia dua puluh dua, dua puluh tiga kaki dan beratnya beberapa gajah. Kulit seperti kulit badak dan sebagainya.’

‘Dan kalian berjalan ke arahnya begitu saja?’ kata Hermione terengah-engah.

‘Well … turun ke arahnya, tempat dia berbaring di lembah itu. Mereka ada di jalan menurun antara empat gunung agak tinggi, tahu, di samping sebuah danau pegunungan, dan Karkus berbaring di sisi danau meraung-raung pada yang lain untuk memberinya makan dan istrinya. Olympe dan aku menuruni sisi pegunungan –‘

‘Tapi tidakkah mereka mencoba membunuh kalian sewaktu melihat kalian?’ tanya Ron tidak percaya.

‘Jelas ada di pikiran beberapa dari mereka,’ kata Hagrid sambil mengangkat bahu, ‘tapi kami lakukan apa yang Dumbledore suruh, yakni angkat hadiah kami tinggi-tinggi dan tatap mata kami ke Gurg dan abaikan yang lainnya. Jadi itu yang kami lakukan. Dan sisanya jadi diam dan amati kami lewat dan kami sampai tepat di kaki Karkus dan kami membungkuk dan letakkan hadiah kami di depannya.’

‘Apa yang kalian berikan kepada raksasa?’ tanya Ron tidak sabaran. ‘Makanan?’

‘Tidak, dia bisa dapat makanan sendiri,’ kata Hagrid. ‘Kami membawakannya sihir. Raksasa suka sihir, cuma tidak suka kita gunakan lawan mereka. Bagaimanapun, hari pertama itu kami beri dia ranting api Gubraithian.’

Hermione berkata, ‘Wow!’ dengan pelan, tetapi Harry dan Ron merengut tidak mengerti.

‘Ranting –?’

‘Api abadi,’ kata Hermione kesal, ‘kalian seharusnya sudah tahu sekarang. Profesor Flitwick menyebutnya setidaknya dua kali dalam kelas!’

‘Well, ngomong-ngomong,’ kata Hagrid cepat-cepat, menyela sebelum Ron bisa menjawab balik, ‘Dumbledore menyihir ranting ini untuk terbakar selamanya, yang bukan sesuatu yang bisa dilakukan setiap penyihir, dan aku letakkan di salju dekat kaki Karkus dan berkata, “Hadiah untuk Gurg raksasa dari Albus Dumbledore, yang mengirimkan salam hormatnya.”‘

‘Dan apa yang dikatakan Karkus?’ tanya Harry bersemangat.

‘Tidak ada,’ kata Hagrid. ‘Tak bisa bahasa Inggris.’

‘Kau bercanda!’

‘Tak masalah,’ kata Hagrid tidak terganggu, ‘Dumbledore sudah peringatkan kami itu mungkin terjadi. Karkus cukup tahu untuk berteriak memanggil beberapa raksasa yang tahu bahasa kita dan mereka terjemahkan untuk kami.’

‘Dan apa dia suka hadiahnya?’ tanya Ron.

‘Oh yeah, sangat riuh begitu mereka ngerti apa itu,’ kata Hagrid, sambil membalikkan stik naganya untuk menekankan sisi yang lebih dingin ke matanya yang bengkak. ‘Sangat senang. Jadi kemudian aku berkata, “Albus Dumbledore minta Gurg bicara dengan pembawa pesannya sewaktu dia kembali besok dengan hadiah lai.”‘

‘Kenapa kalian tidak bisa bicara dengan mereka hari itu?’ tanya Hermione.

‘Dumbledore mau kami pelan-pelan,’ kata Hagrid. ‘Biar mereka lihat kami tepati janjijanji kami. Kami akan kembali besok dengan hadiah lain, dan lalu kami memang kembali dengan hadiah lain — beri kesan bagus — tahu? Dan beri mereka waktu untuk coba hadiah pertama dan temukan itu bagus, dan buat mereka ingin lagi. Bagaimanapun, raksasa seperti Karkus — beri mereka informasi terlalu banyak dan mereka bunuh kau cuma untuk buat sederhana. Jadi kami membungkuk pergi dan temukan gua kecil yang bagus untuk bermalam dan pagi berikutnya kami kembali dan kali ini kami temukan Karkus duduk menunggu kami terlihat sangat bersemangat.’

‘Dan kalian bicara dengannya?’

‘Oh yeah. Pertama-tama kami hadiahkan kepadanya sebuah topi baja perang yang bagus — buatan goblin dan tidak bisa dihancurkan, kalian tahu — dan lalu kami duduk dan kami bicara.’

‘Apa katanya?’

‘Tak banyak,’ kata Hagrid. ‘Kebanyakan dengar. Tapi ada tanda-tanda bagus. Dia pernah dengar Dumbledore, dengar dia berdebat melawan pembunuhan para raksasa terakhir di Inggris. Karkus tampaknya sangat tertarik dengan apa yang harus dikatakan Dumbledore. Dan beberapa yang lainnya, terutama yang bisa sedikit bahasa Inggris, mereka berkumpul dan mendengarkan juga. Kami penuh harapan sewaktu kami pergi hari itu. Janji untuk kembali pagi berikutnya dengan hadiah lain …

‘Tapi malam itu semuanya gagal.’

‘Apa maksudmu?’ kata Ron cepat-cepat.

‘Well, seperti yang kubilang, mereka tidak cocok hidup bersama, para raksasa,’ kata Hagrid dengan sedih. ‘Tidak dalam kelompok-kelompok besar seperti itu. Mereka tidak bisa menahan diri, mereka saling bunuh satu sama lain tiap beberapa minggu. Yang pria saling bertarung dan yang wanita saling bertarung; sisa-sisa suku tua saling bertarung, dan itu bahkan tanpa perselisihan tentang makanan dan api terbaik dan tempat untuk tidur. Kalian akan pikir, melihat bagaimana seluruh ras mereka hampir habis, mereka akan saling membiarkan, tapi …’

Hagrid menarik napas dalam-dalam.

‘Malam itu ada perkelahian, kami melihatnya dari mulut gua kami, memandang ke bawah ke lembah. Berlangsung berjam-jam, kalian takkan percaya bisingnya. Dan waktu matahari terbit salju merah dan kepalanya tergeletak di dasar danau.’

‘Kepala siapa?’ kata Hermione terengah-engah.

‘Karkus,’ kata Hagrid dengan kasar. ‘Ada Gurg baru, Golgomath.’ Dia menarik napas dalam-dalam. ‘Well, kami tidak harapkan Gurg baru dua hari sesudah kami ramah-tamah dengan yang pertama, dan kami punya perasaan aneh Golgomath takkan terlalu ingin dengarkan kami, tapi kami harus coba.’

‘Kalian pergi berbicara dengannya?’ tanya Ron tidak percaya. ‘Setelah kalian menyaksikan dia merenggut kepala raksasa lain?’

‘Tentu saja,’ kata Hagrid, ‘kami tidak pergi sejauh itu untuk menyerah setelah dua hari! Kami turun dengan hadiah berikutnya yang ingin kami berikan untuk Karkus.

‘Aku tahu tidak bisa sebelum aku buka mulutku. Dia duduk di sana memakai topi baja Karkus, melirik kami waktu kami mendekat. Dia besar, salah satu yang terbesar di sana. Rambut hitam dan gigi yang serasi dan kalung tulang. Mirip tulang manusia, beberapa di antaranya — Hal berikutnya yang kutahu, aku tergantung terbalik di udara, dua kawannya sudah menangkapku.’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.