Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘– lagu itu yang memicuku –‘

‘– pasti akan memicu siapapun.

Hermione bangkit dan berjalan ke jendela, menjauh dari perseteruan itu, sambil

mengamati salju yang beterbangan turun ke kaca.

‘Lihat, hentikan, bisakah!’ Harry meledak. ‘Sudah cukup buruk, tanpa kau yang menyalahkan dirimu untuk semuanya!’

Ron tidak berkata apa-apa melainkan duduk menatapi tepi jubahnya yang lembab dengan sengsara. Setelah beberapa saat dia berkata dengan suara tak berminat, ‘Ini yang terburuk yang pernah kurasakan seumur hidupku.’

‘Bergabunglah dengan klub,’ kata Harry dengan getir.

‘Well,’ kata Hermione, suaranya sedikit bergetar. ‘Aku bisa memikirkan satu hal yang mungkin menghibur kalian berdua.’

‘Oh yeah?’ kata Harry dengan skeptis.

‘Yeah,’ kata Hermione sambil berpaling dari jendela yang hitam pekat dan penuh bintik salju, sebuah senyum lebar terentang di wajahnya. ‘Hagrid sudah kembali.’

 

Bab 20:

Kisah Hagrid

Harry berlari cepat naik ke kamar anak laki-laki untuk mengambil Jubah Gaib dan Peta Perampok dari kopernya; dia begitu cepat sehingga dia dan Ron sudah siap berangkat setidaknya lima menit sebelum Hermione bergegas turun kembali dari kamar anak perempuan, memakai scarf, sarung tangan dan salah satu topi peri menonjolnya sendiri.

‘Well, di luar dingin!’ katanya membela diri, sewaktu Ron mendecakkan lidah tidak sabaran.

Mereka bergerak pelan-pelan melalui lubang potret dan menutupi diri mereka dengan terburu-buru memakai Jubah itu — Ron sudah tumbuh banyak sehingga dia sekarang harus membungkuk agar kakinya tidak kelihatan — lalu, sambil bergerak lambat-lambat dan dengan waspada, mereka menuruni banyak tangga, berhenti sejenak beberapa waktu sekali untuk memeriksa peta mencari tanda-tanda Mr Filch atau Mrs Norris. Mereka beruntung; mereka tidak melihat siapapun kecuali Nick si Kepala-Nyaris-Putus, yang melayang sambil melamun dan bersenandung sesuatu yang terdengar amat mirip dengan ‘Weasley adalah Raja kami.’ Mereka berjalan pelan-pelan menyeberangi Aula Depan dan keluar ke halaman sekolah yang hening dan bersalju. Dengan hentakan besar di jantungnya, Harry melihat petak-petak cahaya keemasan kecil di depan dan asap yang bergelung dari cerobong asap Hagrid. Dia mulai berjalan cepat, dua yang lain saling mendorong dan bertabrakan di belakangnya.Mereka berjalan dengan bersemangat melalui salju yang semakin menebal sampai akhirnya mereka mencapai pintu depan kayu itu. Ketika Harry mengangkat kepalan tangannya dan mengetuk tiga kali, seekor anjing mulai menggonggong dengan hebat di dalam.

‘Hagrid, ini kami!’ Harry berseru melalui lubang kunci.

‘Harusnya sudah tahu!’ kata sebuah suara kasar.

Mereka tersenyum satu sama lain di bawah Jubah itu; mereka bisa tahu dari suara Hagrid bahwa dia senang. ‘Ada di rumah tiga detik … menyingkir dari jalan, Fang … awas, kau anjing tukang tidur …’

Gerendel dilepaskan, pintu berderit terbuka dan kepala Hagrid muncul di celah.

Hermione menjerit.

‘Jenggot Merlin, pelankan suaramu!’ kata Hagrid buru-buru, sambil menatap liar ke atas kepala mereka. ‘Di bawah Jubah itu, bukan? Well, masuk, masuk!’

‘Maaf!’ Hermione terengah-engah, selagi mereka bertiga menyelip melewati Hagrid ke dalam rumah dan menarik Jubah hingga lepas sehingga dia bisa melihat mereka. ‘Aku hanya — oh, Hagrid!’

‘Bukan apa-apa, bukan apa-apa!’ kata Hagrid buru-buru sambil menutup pintu di belakang mereka dan bergegas menutup semua tirai, tapi Hermione terus menatapnya dengan ketakutan.

Rambut Hagrid pekat dengan darah beku dan mata kirinya telah berkurang menjadi celah membengkak di antara banyak memar ungu dan hitam. Ada banyak luka potong di wajah dan tangannya, beberapa di antaranya masih berdarah, dan dia bergerak dengan hati-hati, yang membuat Harry curiga akan tulang iga yang patah. Jelas dia baru saja pulang; sebuah mantel bepergian hitam yang tebal tersandar di punggung sebuah kursi dan sebuah kantong barang yang cukup besar untuk membawa beberapa anak kecil tergeletak di dinding dekat pintu. Hagrid sendiri, dua kali ukuran manusia normal, sekarang sedang terpincang-pincang ke perapian dan menempatkan sebuah ceret tembaga ke atasnya.

‘Apa yang terjadi denganmu?’ Harry menuntut, sementara Fang menari-nari mengitari mereka semua, mencoba menjilat wajah-wajah mereka.

‘Sudah kuberitahu kalian, bukan apa-apa,’ kata Hagrid dengan tegas. ‘Mau secangkir?”Bilang saja,’ kata Ron, ‘kau babak belur!”Kuberitahu kalian, aku baik-baik saja,’ kata Hagrid sambil bangkit dan berpaling untuk

tersenyum kepada mereka semua, tetapi mengerenyit. ‘Astaga, senang melihat kalian bertiga lagi — musim panas menyenangkan?’

‘Hagrid, kau diserang!’ kata Ron.

‘Tuk terakhir kali, bukan apa-apa!’ kata Hagrid dengan tegas.

‘Apakah kau akan berkata bukan apa-apa kalau salah satu dari kami muncul dengan satu pon daging cincang menggantikan wajah?’ Ron menuntut.

‘Kau harus pergi menemui Madam Pomfrey, Hagrid,’ kata Hermione dengan cemas, ‘beberapa luka potong itu tampak mengerikan.’

‘Aku sudah mengurusnya, oke?’ kata Hagrid menekan.

Dia berjalan ke meja kayu besar yang terletak di tengah kabinnya dan melemparkan ke samping serbet teh yang tadi tergeteletak di atasnya. Di bawahnya adalah sebuah stik mentah, berdarah, sedikit hijau yang sedikit lebih besar daripada ban mobil biasa.

‘Kau tidak akan makan itu, bukan, Hagrid?’ kata Ron, sambil mencondongkan badan untuk melihat lebih dekat. ‘Tampaknya beracun.’

‘Memang harus tampak seperti itu, itu daging naga,’ Hagrid berkata. ‘Dan aku tidak ambil untuk dimakan.’

Dia mengambil stik itu dan membantingkannya ke sisi kiri wajahnya. Darah kehijauan bercucuran ke janggutnya sementara dia mengeluarkan erangan pelan kepuasan.

‘Itu lebih baik. Membantu untuk rasa pedihnya, kalian tahu.’

‘Jadi, apakah kau akan memberitahu kami apa yang sudah terjadi denganmu?’ Harry bertanya.

‘Tak bisa, Harry. Rahasia besar. Lebih dari nilai pekerjaanku untuk beritahu kalian.’

‘Apakah para raksasa memukulimu, Hagrid?’ tanya Hermione pelan.

Jari-jari Hagrid tergelincir dari stik naga itu dan stik itu meluncur dengan bersuara ke dadanya.

‘Raksasa?’ kata Hagrid, sambil menangkap stik itu sebelum mencapai ikat pinggangnya dan membantingkannya kembali ke wajahnya, ‘siapa yang bilang apa-apa tentang raksasa? Siapa yang memberitahu kalian apa yang aku — siapa yang bilang aku — eh?’

‘Kami menerka,’ kata Hermione dengan nada minta maaf.

‘Oh, begitu, bukan?’ kata Hagrid sambil mengamatinya dengan mata yang tidak

tersembunyi oleh stik.

‘Itu agak … jelas,’ kata Ron. Harry mengangguk.

Harry melotot kepada mereka, lalu mendengus, melemparkan stik itu kembali ke atas

meja dan berjalan ke ceret, yang sekarang sedang berbunyi.

‘Belum pernah kenal anak-anak seperti kalian bertiga yang tahu lebih banyak dari yang seharusnya,’ dia bergumam, sambil menceburkan air mendidih ke tiga cangkirnya yang berbentuk ember. ‘Dan aku juga tidak puji kalian. Turut campur, itu yang disebut

beberapa orang. Mengganggu.’

Tetapi jenggotnya berkedut.

‘Jadi apakah kau pergi mencari para raksasa?” kata Harry sambil menyeringai selagi

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.