Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Kau baik-baik saja?’

‘Tentu saja,’ kata Harry dengan muram, sambil meraih tangannya dan membiarkannya menarik dia bangkit. Madam Hooch sedang meluncur ke arah salah satu pemain Slytherin di atasnya, walaupun dia tidak bisa melihat siapa dari sudut ini.

‘Berandal Crabbe itu,’ kata Angelina dengan marah, ‘dia memukul Bludger kepadamu saat dia melihat kau mendapatkan Snitch — tapi kita menang, Harry, kita menang!’

Harry mendengar dengusan dari belakangnya dan berpaling, masih memegang Snitch kuat-kuat di tangannya: Draco Malfoy telah mendarat di dekatnya. Pucat karena marah, dia masih bisa mengejek.

‘Menyelamatkan batang leher Weasley, bukan?’ dia berkata kepada Harry. ‘Aku belum pernah melihat Keeper yang lebih buruk … tapi dia lahir di tong sampah … kau suka lirikku, Potter?’

Harry tidak menjawab. Dia berpaling untuk menemui sisa tim itu yang sekarang sedang mendarat satu per satu, berteriak dan meninju ke udara dengan kemenangan; semua kecuali Ron, yang telah turun dari sapunya di dekat tiang gawang dan tampaknya sedang berjalan lambat-lambat ke ruang ganti sendirian.

‘Kami mau menulis beberapa syair lagi!’ Malfoy berseru, selagi Katie dan Alicia memeluk Harry. ‘Tapi kami tidak bisa menemukan kata-kata yang berima dengan gemuk dan jelek — kami mau bernyanyi tentang ibumu, tahu –‘

‘Bicara tentang anggur masam,’ kata Angelina sambil memberi Malfoy pandangan jijik.

‘– kami juga tidak bisa mencocokkan pecundang tak berguna — untuk ayahnya, kalian tahu –‘

Fred dan George sudah menyadari apa yang sedang dibicarakan Malfoy. Sewaktu masih berjabatan tangan dengan Harry, mereka menjadi kaku, memandang berkeliling ke Malfoy.

‘Biarkan!’ kata Angelina seketika, sambil memegang lengan Fred. ‘Biarkan, Fred, biarkan dia berteriak, dia cuma jengkel karena dia kalah, si kecil yang sok –‘

‘– tapi kau suka keluarga Weasley, bukan, Potter?’ kata Malfoy sambil mengejek. ‘Menghabiskan liburan di sana dan segalanya, bukan? Tidak ngerti bagaimana kau bisa tahan bau busuknya, tapi kukira kalau kau dibesarkan oleh para Muggle, bahkan gubuk Weasley berbau OK –‘

Harry menarik George. Sementara itu, butuh usaha gabungan Angelina, Alicia dan Katie untuk menghentikan Fred melompat pada Malfoy, yang sedang tertawa terangterangan. Harry memandang berkeliling mencari Madam Hooch, tetapi dia masih memaki Crabbe karena serangan Sludger ilegalnya.

‘Atau mungkin,’ kata Malfoy, mengerling sementara dia mundur, ‘kau bisa ingat seperti apa rumah ibumu berbau busuk, Potter, dan kandang babi Weasley mengingatkanmu padanya –‘

Harry tidak sadar melepaskan George, yang dia tahu hanyalah bahwa sedetik kemudian mereka berdua sedang berlari cepat menuju Malfoy. Dia sudah sepenuhnya lupa bahwa semua guru sedang menonton: yang ingin dia lakukan hanyalah menyebabkan sebanyak mungkin rasa sakit pada Malfoy; tak ada waktu untuk menarik keluar tongkatnya, dia hanya mengeluarkan kepalan tangan yang sedang menggenggam Sntich dan membenamkannya sekeras yang dia bisa ke perut Malfoy –

‘Harry! HARRY! GEORGE! JANGAN!’

Dia bisa mendengar suara-suara anak-anak perempuan berteriak, Malfoy menjerit, George menyumpah, sebuah peluit ditiup dan pekik kerumunan di sekitarnya, tapi dia tidak peduli. Tidak sampai seseorang di sekitar sana berteriak ‘Impedimenta!’ dan dia terjatuh ke belakang akibat tenaga mantera itu, barulah dia menghentikan usaha meninju setiap inci Malfoy yang bisa dijangkaunya.

‘Kalian kira apa yang sedang kalian lakukan?’ jerit Madam Hooch, selagi Harry melompat bangkit. Kelihatannya dia yang telah mengenainya dengan Mantera Perintang; dia sedang memegang peluitnya di satu tangan dan sebuah tongkat di tangan lainnya; sapunya tergeletak begitu saja beberapa kaki jauhnya. Malfoy bergelung di atas tanah, merengek dan merintih, hidungnya berdarah; George berbibir bengkak; Fred masih ditahan paksa oleh ketiga Chaser, dan Crabbe sedang berkotek di latar belakang. ‘Aku belum pernah melihat kelakuan seperti itu — kembali ke kastil, kalian berdua, dan langsung ke kantor Kepala Asrama kalian! Pergi! Sekarang!’

Harry dan George berbalik dan berjalan keluar dari lapangan, keduanya terengahengah, tak satupun berkata sepatah kata pun kepada yang lain. Lolongan dan cemoohan dari kerumunan semakin samar dan semakin samar sampai mereka mencapai Aula Depan, di mana mereka tidak bisa mendengar apa-apa kecuali suara langkah kaki mereka sendiri. Harry menjadi sadar bahwa sesuatu masih meronta-ronta di tangan kanannya, buku-buku jari yang dibuatnya memar menghantam rahang Malfoy. Ketika memandang ke bawah, dia melihat sayap-sayap perak Snitch menonjol keluar dari antara jari-jarinya, meronta-ronta ingin bebas.

Mereka belum lagi mencapai pintu kantor Profesor McGonagall ketika dia datang menyusuri koridor di belakang mereka. Dia mengenakan sebuah scarf Gryffindor, tetapi melepaskannya dari lehernya dengan tangan-tangan bergetar selagi dia berjalan menuju mereka, tampak pucat karena marah.

‘Masuk!’ katanya marah besar, sambil menunjuk ke pintu. Harry dan George masuk. Dia berputar ke belakang meja tulisnya dan menghadap mereka, gemetaran karena marah selagi dia melemparkan scarf Gryffindor itu ke samping ke atas lantai.

‘Well?’ katanya. ‘Aku belum pernah melihat pertunjukan yang memalukan begini. Dua lawan satu! Jelaskan!’

‘Malfoy memancing kami,’ kata Harry kaku.

‘Memancing kalian?’ teriak Profesor McGonagall sambil menghantamkan tinjunya ke meja tulisnya

sehingga kaleng kotak-kotaknya tergelincir dari samping meja dan terbuka, mengotori lantai dengan Kadal Jahe. ‘Dia baru saja kalah, bukan? Tentu saja dia mau memancing kalian! Tapi apa yang bisa dikatakannya yang membenarkan apa yang kalian berdua –‘

‘Dia menghina orang tua saya,’ geram George. ‘Dan ibu Harry.’

‘Tapi bukannya membiarkan Madam Hooch menyelesaikan, kalian berdua memutuskan memberi pertunjukan duel Muggle, bukan?’ teriak Profesor McGonagall. ‘Apakah kalian punya gambaran apa yang telah kalian –?’

‘Hem, hem.’

Harry dan George keduanya berputar. Dolores Umbridge sedang berdiri di ambang pintu terbungkus dalam sebuah mantel wol hijau yang sangat meningkatkan kemiripannya dengan seekor katak besar, dan sedang tersenyum dengan cara mengerikan, memuakkan dan tidak menyenangkan yang telah Harry hubungkan dengan kesengsaraan yang akan segera tiba.

‘Bolehkah kubantu Anda, Profesor McGonagall?’ tanya Profesor Umbridge dengan suara manisnya yang paling beracun.

Darah menyerbu wajah Profesor McGonagall.

‘Bantu?’ ulangnya, dengan suara tertahan. ‘Apa maksud Anda, bantu?’

Profesor Umbridge bergerak maju ke dalam kantor itu, masih memamerkan senyumnya yang memuakkan.

‘Kenapa, kukira Anda mungkin bersyukur atas sedikit kekuasaan tambahan.’

Harry tidak akan terkejut melihat bunga-bunga api beterbangan dari lubang hidung Profesor McGonagall.

‘Yang Anda kira salah,’ katanya, sambil memalingkan punggungnya kepada Umbridge.

‘Sekarang, kalian berdua sebaiknya mendengarkan dengan seksama. Aku tidak peduli provokasi apa yang dilakukan Malfoy kepada kalian, aku tidak peduli kalaupun dia menghina setiap anggota keluarga yang kalian miliki, perilaku kalian menjijikkan dan aku akan memberikan masing-masing dari kalian detensi seminggu! Jangan memandangku seperti itu, Potter, kau pantas mendapatkannya! Dan kalau salah satu dari kalian pernah –‘

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.