Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Harry tidak bisa menahan diri: meninggalkan pencariannya akan Snitch, dia berputar untuk mengamati Ron, sebuah figur tunggal di sisi jauh lapangan, melayang di depan ketiga tiang gawang sementara Warrington yang besar meluncur menujunya.

‘– dan Warrington dengan Quaffle, Warrington menuju gol, dia keluar dari jangkauan Bludger dengan hanya Keeper di depan –‘

Gelombang besar nyanyian timbul dari tribun Slytherin di bawah:

‘Weasley tak bisa menyelamatkan apapun, Dia tak bisa memblokir sebuah gawang …’

‘– jadi itulah ujian pertama bagi Keeper Gryffindor Weasley, adik dari para Beater Fred dan George, dan bakat baru yang menjanjikan dalam tim — ayo, Ron!’

Tetapi teriakan senang datang dari ujung Slytherin: Ron telah menukik dengan liar, lengannya terentang lebar, dan Quaffle telah membumbung di antaranya langsung melalui lubang gawang tengah Ron.

‘Slytherin mencetak gol!’ datang suara Lee di tengah-tengah sorakan dan ejekan dari kerumunan di bawah, ‘jadi sepuluh-nol untuk Slytherin — kurang beruntung, Ron.’

Anak-anak Slytherin bernyanyi semakin keras.

‘WEASLEY LAHIR DI TONG SAMPAH

DIA SELALU MEMBIARKAN QUAFFLE MASUK …’

‘– dan Gryffindor kembali menguasai bola dan Katie Bell sedang mengitari lapangan -‘ teriak Lee dengan berani, walaupun nyanyian itu sekarang begitu memekakkan sehingga dia hampir tidak bisa membuat dirinya terdengar menimpalinya.

‘WEASLEY AKAN PASTIKAN KAMI MENANG WEASLEY ADALAH RAJA KA MI …’

‘Harry, APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?’ teriak Angelina, membumbung melewatinya untuk mengejar Katie. ‘BERGERAKLAH!’

Harry sadar dia sudah diam di tempat di tengah udara selama lebih dari semenit, menyaksikan kelanjutan pertandingan tanpa menyisakan perhatian pada keberadaan Snitch; terkejut, dia menukik dan mulai mengitari lapangan lagi, sambil menatap sekeliling, mencoba mengabaikan nyanyian bersama yang sekarang menggelegar ke seluruh stadium:

‘WEASLEY ADALAH RAJA KAMI, WEASLEY ADALAH RAJA KAMI …’

Tidak ada tanda-tanda Snitch di manapun dia memandang; Malfoy masih mengitari stadium seperti dirinya. Mereka melewati satu sama lain di tengah jalan mengelilingi lapangan, menuju ke arah yang berbeda, dan Harry mendengar Malfoy bernyanyi keraskeras:

‘WEASLEY LAHIR DI TONG SAMPAH …’

‘– dan Warrington lagi,’ teriak Lee, ‘yang memberikan bola kepada Pucey, Pucey melewati Spinnet, ayolah sekarang, Angelina, kau bisa mengalahkannya — ternyata kau tidak bisa — tapi Bludger yang bagus dari Fred Weasley, maksudku, George Weasley, oh, siapa peduli, bagaimanapun, salah satu dari mereka, dan Warrington menjatuhkan Quaffle dan Katie Bell — er – menjatuhkannya juga — sehingga sekarang Montague memegang Quaffle, Kapten Slytherin Montague membawa Quaffle dan dia menaiki lapangan, ayolah sekarang, Gryffindor, hadang dia!’

Harry meluncur mengitari ujung stadium di belakang tiang-tiang gawang Slytherin, memaksa dirinya sendiri tidak melihat apa yang sedang terjadi di ujung Ron. Selagi dia ngebut melewati Keeper Slytherin, dia mendengar Bletchey bernyanyi bersama kerumunan di bawah:

‘WEASLEY TIDAK BISA MENYELAMATKAN APAPUN …’

‘– dan Pucey mengelak dari Alicia lagi dan dia menuju langsung ke gawang, hentikan, Ron!’

Harry tidak harus melihat untuk mengetahui apa yang terjadi: ada erangan mengerikan dari ujung Gryffindor, dirangkai dengan jeritan dan tepuk tangan baru dari anak-anak Slytherin. Sambil memandang ke bawah, Harry melihat si wajah buldog Pansy Parkinson tepat di bagian depan tribun, punggungnya menghadap lapangan selagi dia memimpin para suporter Slytherin yang sedang meraung:

‘ITULAH SEBABNYA ANAKANAK SLYTHERIN SEMUA BERNYANYI WEASLEY ADALAH RAJA KAMI.’

Tetapi dua puluh-nol bukan apa-apa, masih ada waktu bagi Gryffindor untuk mengejar atau menangkap Snitch. Beberapa gol dan mereka akan memimpin seperti biasanya, Harry meyakinkan dirinya sendiri, sambil meliuk-liuk di antara pemain-pemain lain untuk mengejar sesuatu yang berkilauan yang ternyata adalah tali jam tangan Montague.

Tapi Ron membiarkan dua gol lagi masuk. Ada rasa panik dalam hasrat Harry untuk menemukan Snitch sekarang. Kalau saja dia bisa mendapatkannya segera dan menyelesaikan pertandingan itu secepatnya.

‘– dan Katie Bell dari Gryffindor mengelak dari Pucey, menghindari Montague, belokan yang bagus, Katie, dan dia melemparkan ke Johnson, Angelina Johnson mambawa Quaffle, dia melewati Warrington, dia menuju gawang, ayolah sekarang, Angelina — GRYFFINDOR MENCETAK GOL! Empat puluh- sepuluh, empat puluh untuk Slytherin dan Pucey membawa Quaffle –‘

Harry bisa mendengar topi singa menggelikan Luna meraung di tengah-tengah sorakan Gryffindor dan merasa berbesar hati; hanya tiga puluh poin selisihnya, itu bukan apa-apa, mereka bisa mengejar dengan mudah. Harry mengelakkan sebuah Bludger yang telah dikirim Crabbe meluncur ke arahnya dan meneruskan penjelajahan kalutnya di lapangan untuk mencari Snitch, sambil terus mengamati Malfoy kalau-kalau dia menunjukkan tanda-tanda sudah melihatnya, tetapi Malfoy, seperti dirinya, terus membumbung mengitari stadium, mencari tanpa hasil …

‘– Pucey melempar ke Warrington, Warrington ke Montague, Montague kembali kepada Pucey — Johnson menghalangi, Johnson mengambil Quaffle, Johnson ke Bell, ini tampak bagus — maksudku buruk, Bell terkena Bludger dari Goyle dari Slytherin dan Pucey yang memegang bola –‘

‘WEASLEY LAHIR DI TONG SAMPAH

DIA SELALU MEMBIARKAN QUAFFLE MASUK

WEASLEY AKAN PASTIKAN KAMI MENANG …’

Tapi akhirnya Harry sudah melihatnya: Golden Snitch kecil yang berkibaran yang sedang melayang-layang beberapa kaki dari tanah di ujung lapangan Slytherin.

Dia menukik …

Dalam beberapa detik, Malfoy sudah melintas di langit di sebelah kiri Harry, sesosok hijau dan perak yang kabur membungkuk rendah di sapunya …

Snitch itu menyerempet kaki salah satu tiang gawang dan bergegas menuju sisi tribun yang lain; pergantian arahnya sesuai dengan Malfoy, yang lebih dekat; Harry menarik Fireboltnya berputar, dia dan Malfoy sekarang dekat sekali …

Beberapa kaki dari tanah, Harry mengangkat tangan kanannya dari sapunya, menjulurkannya pada Snitch itu … di sebelah kanannya, lengan Malfoy juga terulur, meraih, mencari-cari …

Semuanya selesai dalam dua detik yang menyesakkan napas, nekat, dan tersapu angin

– jari-jari Harry menutup di sekeliling bola kecil yang memberontak itu — kuku-kuku Malfoy mencakari punggung tangan Harry tanpa harapan — Harry menarik sapunya ke atas, sambil memegang bola yang memberontak di tangannya dan para penonton Gryffindor meneriakkan persetujuan mereka …

Mereka selamat, tidak peduli bahwa Ron sudah membiarkan gol-gol itu masuk, tak seorangpun akan ingat selama Gryffindor sudah menang –

WHAM.

Sebuah Bludger menghantam Harry tepat di punggungnya dan dia jatuh ke depan dari sapunya. Untung saja dia hanya lima atau enam kaki di atas tanah, setelah menukik demikian rendah untuk menangkap Snitch, tapi dia kehabisan napas juga ketika dia mendarat telentang di atas lapangan yang membeku. Dia mendengar peluit nyaring Madam Hooch, kegemparan di tribun yang terdiri dari teriakan-teriakan jengkel, jeritanjeritan dan cemoohan marah, sebuah bunyi debam, lalu suara Angelina yang kalut.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.