Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Kami akan ke sana sebentar lagi,’ Harry meyakinkan dia. ‘Ron cuma harus sarapan sedikit.’

Namun, setelah sepuluh menit menjadi jelas bahwa Ron tidak mampu makan apapun lagi dan Harry merasa sebaiknya membawa dia turun ke ruang ganti. Ketika mereka bangkit dari meja, Hermione juga bangkit, dan sambil memegang lengan Harry dia menariknya ke samping.

‘Jangan biarkan Ron melihat apa yang ada di lencana-lencana Slytherin itu,’ dia berbisik penting.

Harry memandangnya bertanya, tapi dia menggelengkan kepalanya memperingatkan; Ron baru saja berjalan lunglai ke arah mereka, terlihat gelisah dan putus asa.

‘Semoga berhasil, Ron,’ kata Hermione, berdiri berjingkat dan menciumnya di pipi. ‘Dan kamu, Harry –‘

Ron terlihat agak sadarkan diri selagi mereka berjalan kembali menyeberangi Aula Besar. Dia menyentuh tempat di wajahnya yang dicium Hermione, tampak bingung, seolah-olah dia tidak yakin apa yang baru saja terjadi. Dia tampak terlalu kacau untuk terlalu memperhatikan sekitarnya, tetapi Harry memandang sekilas ke lencana-lencana berbentuk mahkota itu ketika mereka melewati meja Slytherin, dan kali ini dia bisa membaca kata-kata yang terukir di atasnya:

Weasley adalah Raja kami

Dengan perasaan tidak menyenangkan bahwa ini tidak mungkin sesuatu yang baik, dia bergegas membawa Ron menyeberangi Aula Depan, menuruni undakan-undakan batu dan keluar ke udara sedingin es.

Rumput beku berderak di bawah kaki mereka selagi mereka bergegas menuruni lapangan yang landai menuju stadium. Tidak ada angin sama sekali dan langit seputih mutiara, yang berarti jarak pandang akan bagus tanpa kerugian sinar matahari langsung ke mata. Harry menunjukkan faktor-faktor mendukung ini kepada Ron selagi mereka berjalan, tetapi dia tidak yakin Ron mendengarkan.

Angelina sudah berganti pakaian dan sedang berbicara dengan anggota tim yang lainnya ketika mereka masuk. Harry dan Ron memakai jubah mereka (Ron berusaha memakai kepunyaannya terbalik selama beberapa menit sebelum Alicia jatuh kasihan kepadanya dan pergi membantu), lalu duduk untuk mendengarkan perbincangan sebelum pertandingan sementara celotehan suara-suara di luar semakin keras ketika kerumunan orang-orang berdatangan keluar dari kastil menuju lapangan.

‘OK, aku baru saja tahu barisan akhir Slytherin,’ kata Angelina, sambil memeriksa sepotong perkamen. ‘Para Beater tahun lalu, Derrick dan Bole, sudah pergi, tetapi tampaknya Montague menggantikan mereka dan gorila-gorila biasa, bukannya siapa saja yang bisa terbang cukup baik. Mereka adalah dua cowok yang bernama Crabbe dan Goyle, aku tidak tahu banyak tentang mereka –‘

‘Kami tahu,’ kata Harry dan Ron bersama-sama.

‘Well, mereka tampaknya tidak cukup pintar untuk membedakan ujung sapu yang satu dari yang lain,’ kata Angeline, sambil mengantongi perkamennya, ‘tapi walau begitu aku selalu heran Derrick dan Bole berhasil menemukan jalan ke lapangan tanpa papan penunjuk arah.’

‘Crabbe dan Goyle sama saja,’ Harry meyakinkan dia.

Mereka bisa mendengar ratusan langkah kaki menaiki bangku-bangku yang ditumpuk di tribun penonton. Beberapa orang sedang bernyanyi, walaupun Harry tidak bisa mendengar kata-katanya. Dia mulai merasa gugup, tetapi dia tahu kegugupannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Ron, yang sedang mencengkeram perutnya dan menatap lurus ke depan lagi, rahangnya terkatup rapat dan warna kulitnya kelabu pucat.

‘Sudah waktunya,’ kata Angelina dengan suara berbisik, sambil memandang jam tangannya. ‘Ayo semuanya … semoga berhasil.’

Tim itu bangkit, memanggul sapu mereka dan berbaris dalam satu barisan keluar dari ruang ganti ke sinar matahari yang menyilaukan. Raungan suara menyambut mereka di mana Harry masih bisa mendengar nyanyian, walaupun teredam oleh sorak-sorai dan tiupan peluit.

Tim Slytherin sedang berdiri menanti mereka. Mereka juga mengenakan lencanalencana berbentuk mahkota. Kapten yang baru, Montague, bentuk badannya serupa dengan Dudley Dursley, dengan lengan besar seperti daging berbulu. Di belakangnya mengintai Crabbe dan Goyle, hampir sama besarnya, berkedip-kedip dengan bodoh dalam sinar matahari, sambil mengayunkan tongkat-tongkat pemukul Beater baru mereka. Malfoy berdiri di satu sisi, sinar matahari berkilauan pada kepalanya yang putih pirang. Dia memandang mata Harry dan tersenyum menyeringai, sambil mengetuk lencana berbentuk mahkota di dadanya.

‘Para Kapten, jabat tangan,’ perintah wasit Madam Hooch, sementara Angelina dan Montague saling meraih satu sama lain. Harry bisa tahu bahwa Montague sedang berusaha melumatkan jari-jari Angelina, walaupun dia tidak berkerenyit.

‘Naiki sapu kalian …’

Madam Hooch menempatkan peluitnya ke mulut dan meniup.

Bola-bola dilepaskan dan keempat belas pemain meluncur ke atas. Dari sudut matanya Harry melihat Ron melintas menuju tiang-tiang gawang. Harry meluncur lebih tinggi, mengelakkan sebuah Bludger, dan mulai melakukan kitaran lebar di lapangan itu, sambil memandang sekeliling mencari kilatan emas, Draco Malfoy sedang melakukan hal yang persis sama.

‘Dan itu Johnson — Johnson dengan Quaffle, gadis itu benar-benar pemain yang bagus, aku sudah bilang begitu selama bertahun-tahun tapi dia masih tidak mau kencan denganku –‘

‘JORDAN!’ teriak Profesor McGonagall.

‘– cuma fakta iseng, Profesor, menambahkan sedikit minat — dan dia menghindari Warrington, dia melewati Montague, dia — aduh — dihantam dari belakang oleh sebuah Bludger dari Crabbe … Montague menangkap Quaffle, Montague menuju ke ujung lapangan dan –Bludger yang bagus di sana dari George Weasley, itu sebuah Bludger ke kepala bagi Montague, dia menjatuhkan Quaffle, ditangkap oleh Katie Bell, Katie Bell untuk Gryffindor memberikan bola secara terbalik ke Alicia Spinnet dan Spinnet pergi –‘

Komentar Lee Jordan bergaung ke seluruh stadium dan Harry mendengarkan sekeras mungkin melalui angin yang bersiul di telinganya dan hiruk-pikuk kerumunan, semuanya berteriak dan mengejek dan bernyanyi.

‘– mengelakkan Warrington, menghindari sebuah Bludger — hampir saja, Alicia — dan kerumunan suka ini, dengar saja mereka, apa yang sedang mereka nyanyikan?’

Dan selagi Lee berhenti untuk mendengarkan, lagu itu terdengar kuat dan jelas dari lautan hijau dan perak di tribun bagian Slytherin:

‘Weasley tak bisa menyelamatkan apapun, Dia tak bisa memblokir sebuah gawang, Itulah sebabnya anak-anak Slytherin semua bernyanyi: Weasley adalah Raja kami.’

‘Weasley lahir di tong sampah, Dia selalu membiarkan Quaffle masuk, Weasley akan pastikan kami menang, Weasley adalah Raja kami.’

‘– dan Alicia memberikan bola kembali ke Angelina!’ Lee berteriak, dan selagi Harry berbelok, isi tubuhnya mendidih karena apa yang baru dia dengar, dia tahu Lee sedang mencoba menenggelamkan kata-kata dari nyanyian itu. ‘Ayolah sekarang, Angelina -tampaknya dia cuma harus mengalahkan si Keeper! — DIA MENEMBAK — DIA — aaah …’

Bletchey, Keeper Slytherin, menyelamatkan gol itu; dia melemparkan Quaffle ke Warrington yang bergegas membawanya, berzig-zag antara Alicia dan Katie; nyanyian dari bawah semakin kuat dan semakin kuat sementara dia semakin mendekati Ron.

‘Weasley adalah Raja kami, Weasley adalah Raja kami, Dia selalu membiarkan Quaffle masuk, Weasley adalah Raja kami.’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.