Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Harry merasa optimis mengenai peluang Gryffindor; mereka, lagipula, belum pernah kalah dari tim Malfoy. Memang, Ron masih belum berpenampilan seperti standar Wood, tapi dia bekerja demikian keras untuk memperbaikinya. Kelemahannya yang terbesar adalah kecenderungan untuk kehilangan kepercayaan diri setelah dia membuat satu kesalahan; kalau dia membiarkan satu gol masuk dia menjadi bingung dan karena itu cenderung kemasukan lebih banyak lagi. Di sisi lain, Harry sudah melihat Ron membuat penyelamatan yang benar-benar spektakuler ketika dia sedang bagus; sewaktu suatu latihan yang patut diingat dia telah bergantung dengan satu lengan dari sapunya dan menendang Quaffle begitu kerasnya menjauh dari cincin gawang sehingga membumbung sepanjang lapangan dan melalui cincin tengah di ujung lainnya; para anggota tim yang lain merasa penyelamatan ini sebanding dengan salah satu yang baru-baru ini dibuat oleh Barry Ryan, Keeper Internasional Irlandia, melawan Chaser terkenal Polandia, Ladislaw Zamojski. Bahkan Fred berkata bahwa Ron masih mungkin membuatnya dan George bangga, dan bahwa mereka mempertimbangkan dengan serius untuk mengakui dia sekeluarga dengan mereka, sesuatu yang mereka yakinkan kepadanya telah mereka coba sangkal selama empat tahun.

Satu-satunya hal yang benar-benar membuat Harry khawatir adalah seberapa banyak Ron membiarkan taktik tim Slytherin untuk membuatnya gelisah sebelum mereka bahkan sampai ke lapangan. Harry, tentu saja, telah menahan komentar-komentar sinis mereka selama lebih dari empat tahun, jadi bisikan-bisikan, ‘Hei, Potty, kudengar Warrington bersumpah akan menjatuhkanmu dari sapumu pada hari Sabtu,’ jauh dari membekukan darahnya, membuatnya tertawa. ‘Bidikan Warrington begitu menyedihkan aku akan lebih kuatir kalau dia sedang membidik orang di sampingku,’ jawabnya, yang membuat Ron dan Hermione tertawa dan menghapus senyum menyeringai di wajah Pansy Parkinson.

Tetapi Ron belum pernah tahan kampanye hinaan, ejekan dan intimidasi terusmenerus. Ketika anak-anak Slytherin, beberapa di antaranya kelas tujuh dan lebih besar darinya, bergumam selagi mereka berpapasan di koridor, ‘Sudah pesan tempat tidurmu di sayap rumah sakit, Weasley?’ dia tidak tertawa, tetapi berubah menjadi warna hijau pucat. Ketika Draco Malfoy meniru Ron menjatuhkan Quaffle (yang dilakukannya setiap kali mereka berada dalam jarak pandang masing-masing), telinga Ron berpijar merah dan tangannya bergetar hebat sehingga dia juga cenderung menjatuhkan apapun yang sedang dipegangnya saat itu.

Oktober berakhir dalam deru angin yang melolong dan hujan yang melanda dan November tiba, dingin seperti besi beku, dengan embun beku keras setiap pagi dan angin dingin seperti es yang menggigit tangan dan wajah yang terbuka. Langit dan langit-langit Aula Besar berubah kelabu pucat seperti mutiara, gunung-gunung di sekitar Hogwarts berpuncak salju, dan suhu di dalam kastil turun demikian rendah sehingga banyak murid mengenakan sarung tangan pelindung kulit naga tebal mereka di koridor di antara pelajaran.

Pagi pertandingan tiba dengan cerah dan dingin. Ketika Harry terbangun dia memandang berkeliling ke tempat tidur Ron dan melihatnya duduk tegak kaku, lengannya melingkari lututnya, sambil menatap terus ke ruang kosong.

‘Kau baik-baik saja?’ kata Harry.

Ron mengangguk tetapi tidak berbicara.. Harry terpaksa teringat ke saat Ron secara tidak sengaja menempatkan Mantera Pemuntah-Siput kepada dirinya sendiri; dia tampak sama pucat dan berkeringatnya seperti saat itu, belum lagi enggan membuka mulutnya.

‘Kau hanya perlu sedikit sarapan,’ Harry berkata menguatkan. ‘Ayo.’

Aula Besar cepat terisi penuh ketika mereka tiba, perbincangan lebih keras dan suasana lebih gembira daripada biasa. Ketika mereka melewati meja Slytherin ada peningkatan kebisingan. Harry memandang sekeliling dan melihat bahwa, sebagai tambahan pada scarf dan topi hijau yang biasa, setiap orang dari mereka memakai sebuah lencana perak yang bentuknya tampak seperti mahkota. Karena alasan-alasan tertentu banyak dari mereka yang melambai kepada Ron, sambil tertawa keras-keras. Harry mencoba melihat apa yang tertulis pada lencana-lencana itu selagi dia lewat, tetapi dia terlalu kuatir agar Ron lewat meja mereka cepat-cepat untuk bertahan cukup lama untuk membacanya.

Mereka menerima sambutan meriah di meja Gryffindor, di mana semua orang mengenakan warna merah dan emas, tetapi jauh dari menaikkan semangat Ron sorak sorai itu sepertinya melemahkan semangat juangnya yang tersisa; dia merosot ke bangku terdekat terlihat seolah-olah dia sedang menghadapi makanan terakhirnya.

‘Aku pasti sinting mau melakukan ini,’ katanya dengan bisikan parau. ‘Sinting.’

‘Jangan tolol,’ kata Harry tegas, sambil memberikan kepadanya pilihan sereal, ‘kau akan baik-baik saja. Gugup itu normal.’

‘Aku sampah,’ kata Ron parau. ‘Aku payah. Aku tidak bisa bermain untuk menyelamatkan hidupku. Apa yang kupikirkan?’

‘Sadarlah,’ kata Harry dengan tegang. ‘Lihat penyelamatan yang kau buat dengan kakimu hari itu, bahkan Fred dan George bilang itu brilian.’

Ron memalingkan wajah tersiksa kepada Harry.

‘Itu kecelakaan,’ bisiknya dengan sengsara. ‘Aku tidak bermaksud melakukannya –aku tergelincir dari sapuku sewaktu tak seorangpun dari kalian melihat dan ketika aku sedang mencoba naik kembali aku tak sengaja menendang Quaffle itu.’

‘Well,’ kata Harry, pulih cepat dari kejutan tak menyenangkan ini, ‘beberapa kecelakaan seperti itu dan pertandingan sudah jadi milik kita, bukan?’

Hermione dan Ginny duduk di seberang mereka sambil mengenakan scarf, sarung tangan dan bunga mawar kecil berwarna merah dan emas.

‘Bagaimana perasaanmu?’ Ginny bertanya kepada Ron, yang sekarang sedang menatap ampas susu di dasar mangkuk serealnya seolah-olah mempertimbangkan dengan serius untuk mencoba menenggelamkan dirinya ke dalam.

‘Dia cuma gugup,’ kata Harry.

‘Well, itu tanda yang bagus, aku belum pernah merasa kau mengerjakan ujian dengan baik kalau kau tidak sedikit gugup,’ kata Hermione sepenuh hati.

‘Halo,’ kata sebuah suara samar dan seperti melamun dari belakang mereka. Harry melihat ke atas: Luna Lovegood telah datang dari meja Ravenclaw. Banyak orang yang sedang menatapinya dan beberapa tertawa dan menunjuk-nunjuk terang-terangan; dia sudah berhasil mendapatkan sebuah topi yang berbentuk seperti kepala singa berukuran sebenarnya, yang bertenggar genting di kepalanya.

‘Aku mendukung Gryffindor,’ kata Luna, sambil menunjuk tanpa perlu ke topinya. ‘Lihat apa yang dilakukannya …’

Dia meraih ke atas dan mengetuk topi itu dengan tongkatnya. Topi itu membuka mulutnya lebar dan mengeluarkan raungan yang sangat realistis yang membuat semua orang di sekitar sana melompat.

‘Bagus, bukan?’ kata Luna dengan senang. ‘Aku mau dia mengunyah seekor ular untuk mewakili Slytherin, kalian tahu, tapi tidak ada waktu. Ngomong-ngomong … semoga berhasil, Ronald!’

Dia berjalan pergi. Mereka belum sepenuhnya pulih dari guncangan topi Luna sewaktu Angelina bergegas datang menuju mereka, ditemani oleh Katie dan Alicia, yang alisnya syukurlah telah dikembalikan ke normal oleh Madam Pomfrey.

‘Sewaktu kalian siap,’ katanya, ‘kita akan langsung turun ke lapangan, memeriksa kondisi dan berganti pakaian.’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.