Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Tadi benar-benar bagus, Harry,’ kata Hermione, ketika akhirnya hanya dia, Harry dan Ron yang tinggal.

‘Yeah, memang!’ kata Ron dengan antusias, selagi mereka menyelinap keluar dari pintu dan menyaksikannya melebur kembali menjadi batu di belakang mereka. ‘Apakah kau melihatku melucuti Hermione, Harry?’

‘Cuma sekali,’ kata Hermione, merasa terluka. ‘Aku mengenaimu jauh lebih sering daripada kau mengenaiku –‘

‘Aku tidak cuma mengenaimu sekali, aku mengenaimu setidaknya tiga kali –‘

‘Well, kalau kau menghitung sekali di mana kau tersandung kakimu sendiri dan mengetuk tongkatku dari tanganku –‘

Mereka berdebat sepanjang jalan kembali ke ruang duduk, tetapi Harry tidak mendengarkan mereka. Dia memandangi Peta Perampok, tetapi dia juga sedang memikirkan Cho yang berkata dirinya membuatnya gugup.

 

Bab 19:

Singa dan Ular

Harry merasa seolah-olah dia sedang membawa semacam jimat di dalam dadanya selama dua minggu berikutnya, suatu rahasia membara yang mendukungnya melalui kelas-kelas Umbridge dan bahkan memungkinkannya tersenyum lembut selagi dia melihat ke dalam matanya yang menonjol mengerikan. Dia dan DA sedang melawannya tepat di bawah hidungnya, melakukan hal yang paling dibencinya dan Kementerian, dan kapanpun dia seharusnya membaca buku Wilbert Slinkhard selama pelajaran Umbrige dia malah bertahan pada ingatan memuaskan tentang pertemuan mereka yang baru berlangsung, mengingat bagaimana Neville telah berhasil melucuti Hermione, bagaimana Colin Creevey telah menguasai Mantera Perintang setelah usaha keras selama tiga kali pertemuan, bagaimana Parvati Patil telah menghasilkan Kutukan Reduktor yang begitu bagus sehingga dia mengecilkan meja tempat semua Teropong Curiga menjadi debu.

Dia mendapati hampir tidak mungkin menetapkan satu malam dalam seminggu untuk pertemuan DA yang teratur, karena mereka harus menyesuaikan dengan latihan tiga tim Quidditch berbeda, yang sering diatur ulang karena kondisi cuaca yang buruk; tetapi Harry tidak menyesali ini; dia punya perasaan mungkin lebih baik membuat waktu pertemuan mereka tidak terduga. Kalau seseorang sedang mengawasi mereka, akan lebih sulit membuat polanya.

Hermione segera menciptakan sebuah metode pintar untuk mengkomunikasikan waktu dan tanggal pertemuan berikutnya kepada semua anggota kalau-kalau mereka perlu mengubahnya dalam waktu singkat, karena akan terlihat mencurigakan kalau orang-orang dari Asrama yang berbeda-beda terlalu sering terlihat menyeberangi Aula Besar untuk berbicara kepada satu sama lain. Dia memberikan kepada setiap anggota DA sebuah Galleon palsu (Ron menjadi sangat bersemangat ketika dia pertama melihat keranjang itu dan yakin dia benar-benar akan membagikan emas).

‘Kalian lihat angka di sekitar tepi koin?’ Hermione berkata, sambil mengangkat sebuah untuk diperiksa pada akhir pertemuan keempat mereka. Koin itu berkilauan besar dan kuning dalam cahaya obor. ‘Pada Galleon-Galleon asli itu hanya nomor seri yang mengacu kepada goblin yang mencetak koin. Namun, pada koin-koin palsu ini, angkaangka akan berubah untuk memantulkan waktu dan tanggal pertemuan berikutnya. Koin akan menjadi panas ketika tanggalnya berubah, jadi kalau kalian sedang membawanya di kantong kalian akan bisa merasakannya. Kita masing-masing ambil sebuah, dan sewaktu Harry menetapkan tanggal pertemuan berikutnya dia akan mengganti angka-angka di koinnya, dan karena aku telah meletakkan Mantera Protean pada koin-koin itu, mereka semua akan berubah meniru koinnya.’

Keheningan hampa menyambut kata-kata Hermione. Dia memandang berkeliling kepada semua wajah yang menatapnya, agak bingung.

‘Well — kukira itu ide yang bagus,’ katanya tidak yakin, ‘maksudku, walaupun jika Umbridge meminta kita mengosongkan kantong kita, tidak ada yang mencurigakan dari membawa sebuah Galleon, bukan? Tapi … well, kalau kalian tidak mau menggunakannya –‘ ‘Kau bisa melakukan Mantera Protean?’ kata Terry Boot.

‘Ya,’ kata Hermione.

‘Tapi itu … itu standar NEWT, begitulah,’ katanya dengan lemah.

‘Oh,’ kata Hermione, mencoba terlihat rendah hati. ‘Oh … well … ya, kurasa begitu.’

‘Kenapa kau tidak masuk Ravenclaw?’ tuntutnya, sambil menatap Hermione dengan sesuatu yang mendekati keheranan. ‘Dengan otak seperti punyamu?’

‘Well, Topi Seleksi memang mempertimbangkan dengan serius untuk memasukkanku ke Ravenclaw selama Penyeleksianku,’ kata Hermione dengan cerah, ‘tapi akhirnya dia memutuskan Gryffindor. Jadi, apakah itu berarti kita akan menggunakan Galleon-Galleon tersebut?’

Ada gumaman persetujuan dan semua orang maju untuk mengambil satu dari keranjang. Harry memandang ke samping kepada Hermione.

‘Kau tahu ini mengingatkanku pada apa?’

‘Tidak, apa itu?’

‘Bekas luka para Pelahap Maut. Voldemort menyentuh salah satu dari mereka, dan semua bekas luka mereka terbakar, dan mereka tahu mereka harus bergabung dengannya.’

‘Well … ya,’ kata Hermione pelan, ‘ dari sanalah aku dapat ide, tapi kau akan memperhatikan bahwa aku memutuskan untuk mengukirkan tanggal ke potongan logam bukannya pada kulit anggota-anggota kita.’

‘Yeah … aku lebih suka caramu,’ kata Harry sambil menyeringai selagi dia menyelipkan Galleonnya ke dalam kantongnya. ‘Kurasa satu-satunya bahaya dengan ini adalah kita mungkin membelanjakannya secara tidak sengaja.’

‘Peluangnya kecil,’ kata Ron, yang sedang memeriksa Galleon palsunya sendiri dengan suasana sedikit murung. ‘Aku tidak punya Galleon asli yang bisa tertukar.’

Sementara pertandingan Quidditch pertama pada musim ini, Gryffindor lawan Slytherin, semakin mendekat, pertemuan DA mereka ditunda karena Angelina memaksakan latihan yang hampir setiap hari. Kenyataan bahwa Piala Quidditch belum diadakan lagi begitu lama menambah minat dan gairah yang cukup besar di sekitar pertandingan yang akan datang; anak-anak Ravenclaw dan Hufflepuff sangat tertarik pada hasilnya, karena mereka, tentu saja, akan bermain melawan kedua tim pada tahun mendatang; dan para Kepala Asrama tim-tim yang bersaing, walaupun mereka berusaha menyamarkan dengan semangat olahraga pura-pura, bertekad untuk melihat pihak mereka sendiri menang. Harry sadar seberapa Profesor McGonagall peduli untuk mengalahkan Slytherin ketika dia tidak memberikan mereka pekerjaan rumah pada minggu sebelum pertandingan.

‘Kukira kalian sudah punya cukup untuk dikerjakan,’ katanya dengan angkuh. Tak seorangpun benar-benar mempercayai telinga mereka sampai dia memandang langsung kepada Harry dan Ron dan berkata dengan muram, ‘Aku sudah menjadi terbiasa melihat Piala Quidditch di ruang kerjaku, anak-anak, dan aku tidak mau harus menyerahkannya kepada Profesor Snape, jadi gunakan waktu tambahan ini untuk berlatih, bisakah?’

Snape tidak kurang jelasnya ikut mendukung; dia telah memesan lapangan Quidditch untuk Slytherin begitu seringnya sehingga anak-anak Gryffindor kesulitan memasukinya untuk bermain. Dia juga menulikan telinganya pada banyak laporan mengenai usahausaha anak-anak Slyhterin untuk mengguna-gunai para pemain Gryffindor di koridor. Ketika Alicia Spinnet muncul di sayap rumah sakit dengan alis yang tumbuh begitu tebal dan cepat sehingga menghalangi pandangannya dan merintangi mulutnya, Snape bersikeras bahwa dia pasti mencoba Mantera Pelebat-Rambut pada dirinya sendiri dan menolak mendengarkan empat belas saksi mata yang bersikeras bahwa mereka telah melihat Keeper Slytherin, Miles Bletchley, menghantamnya dari belakang dengan kutukan sewaktu dia bekerja di perpustakaan.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.