Baca Novel Online

Edensor

MOZAIK 1:

Laki-Laki Zenit Dan Nadir

Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang melesat-lesat itu. Analogi eksperimen itu tak lain, karena kecepatan cahaya bersifat sama dan absolut, dan waktu relatif tergantung kecepatan gerbong ini pendapat Einstein maka pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang sama tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relatif satu sama lain.

Banyak orang yang panjang pengalamannya tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pendek mencerahkan sepanjang hidup. Pengalaman semacam itu bak mutiara dan mutiara dalam hidupku adalah lelaki yang mengutuki hidupnya sendiri, namanya Weh.

Kini lihatlah perbuatan Weh. Taikong Hamim, penggawa masjid, sampai mengacung-acungkan tombak mimbar pada khalayak yang silang sengketa.

“Tahu apa kalian soal hukum agama!”

“Jangan mandikan mayatnya di masjid! Biar dia hangus di neraka berdaki-daki!”

***

Langit, kemudi, dan layar, itulah samar ingatku tentang Weh. Tapi di sekolah lama Mollen Bass Technisce School di Tanjong Pandan, aku pernah melihat fotonya. Tak bohong orang bilang bahwa dia bukan sembarang, karena Belanda hanya menerima pribumi yang paling cerdas di sekolah calon petinggi teknik kapal keruk timah itu. Foto kuno itu sudah buram. Weh seorang pemuda yang gagah. Ia bergaya, berdiri condong menumpukan tubuh kekarnya di atas pemukul kasti. Namun, sesuatu yang menyayat tersembunyi dalam matanya. Seringainya hambar, jauh, dan kesakitan. Weh mengawasi lekat siapa pun yang mendekati fotonya. Aku menatapnya, lama, lalu bisikan garau mendesis dari foto itu, “Engkau, laki-laki zenit dan nadir ….” Bulu tengkukku meruap, seseorang seakan berdiri di belakangku, aku berbalik, sepi. Mengapa Weh kesakitan?

Semula ia baik-baik saja, bahkan tempatnya terhormat di kelas. Sampai penyakit nista merampok hidupnya. Ia kena burut. Burut terkutuk yang meniup skrotum dan kelaki-lakiannya, bengkak seperti balon sampai jalannya pengkor. Jampi dan ramuan tak mempan. Ia atau sanak leluhurnya pernah melangkahi Cjur’an, kualat, tuduh orang kampung tanpa perasaan. Hidup Weh disita malu. Semangat pemuda penuh harapan itu tumbang. Ia keluar dari Technisce School, mengasingkan diri, meninggalkan tunangannya. Weh menjadi nelayan, tinggal di perahu.

***

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: April 9, 2017 02:02

    Mahdenique

    Kereen!
  • Posted: May 17, 2017 04:21

    ririna

    Bahkan aku masih berharap, Ikal bertemu A Ling di desa itu....
  • Posted: September 29, 2017 14:28

    Agus trianto

    Sure lof,it's Bumiharjo :)