Baca Novel Online

Digital Fortress

Ruangan itu meledak. Hiruk pikuk. Para teknisi saling berpelukan sambil melempar hasil cetak komputer ke udara dengan bahagia. Suara sirene melemah. Brinkerhoff meraih Midge dan berpelukan. Soshi menangis bahagia.

“Jabba,” tanya Fontaine. “Berapa banyak yang mereka dapatkan?”

“Sangat sedikit,” kata Jabba sambil memerhatikan monitornya. “Sangat sedikit. Dan tidak ada yang secara utuh.”

Fontaine mengangguk perlahan. Sebuah senyum tipis muncul di ujung bibirnya. Dia melihat ke sekeliling untuk mencari Susan Fletcher, tetapi wanita itu sedang berjalan ke depan ruangan. Pada dinding di depan Susan, wajah David Becker memenuhi layar.

“David?”

“Hai, cantik.” David tersenyum. “Pulanglah,” kata Susan. “Pulang sekarang.” “Kita bertemu di Stone Manor?” tanya David. Susan mengangguk. Air matanya menggenang. “Setuju.”

“Agen Smith?” panggil Fontaine.

Dari belakang Becker, Smith muncul pada layar. “Ya, Pak?”

“Tampaknya Mr. Becker memiliki kencan. Apakah kau bisa mengurus agar dia bisa pulang secepatnya?” Smith mengangguk. “Pesawat jet kita berada di Malaga.”

Smith menepuk punggung Becker. “Anda mendapat perlakuan istimewa, Pak. Pernah terbang dengan Learjet 60?”

Becker terkekeh. “Belum semenjak kemarin.”

***

128

KETIKA SUSAN terbangun, matahari sedang bersinar cerah. Cahaya lembutnya menembus tirai dan jatuh di atas tempat tidurnya yang terbuat dari bulu angsa. Susan meraih tubuh David. Apakah aku sedang bermimpi? Badan Susan tidak bergerak. Dia merasa lelah, masih pusing akibat kelelahan malam sebelumnya.

“David?” erang Susan.

Tidak ada jawaban. Susan membuka matanya. Sekujur tubuhnya masih terasa letih. Belahan kasur di sisinya dingin. David telah pergi.

Aku sedang bermimpi, pikir Susan. Dia terduduk. Ruangan tempat dia berada bergaya Viktoria, banyak renda dan benda antik—ini kamar terbaik di Stone Manor. Tas bawaannya berada di tengah lantai yang terbuat dari kayu keras … pakaian dalamnya berada di atas kursi bergaya Ratu Anne di samping tempat tidur.

Apakah David benar-benar sudah sampai? Susan teringat—badan David di atasnya. Pria itu membangunkannya dengan kecupan-kecupannya. Apakah dirinya hanya memimpikan halhal itu? Susan melihat ke arah meja di samping tempat tidur. Di sana terdapat sebuah botol sampanye, dua gelas, … dan sebuah catatan.

Sambil menggosok matanya yang masih mengantuk, Susan membalut dirinya dengan selimut dan membaca catatan itu.

Susan tersayang, Aku mencintaimu.

Tanpa lilin, David.

Susan bersemu dan mendekap catatan itu. Itu memang dari David. Tanpa lilin … itu kode yang belum berhasil dipecahkan Susan.

Susan menengadah karena merasa ada gerakan di bagian pojok. Di atas sebuah dipan yang mewah, di bawah sinar matahari pagi, terbungkus mantel mandi yang tebal, David Becker sedang duduk dengan diam sambil memerhatikan Susan. Susan menjulurkan tangannya dan mengisyaratkan David untuk mendekat.

“Tanpa lilin?” tanya Susan lembut sambil memeluk David.

“Tanpa lilin.” David tersenyum

Susan mencium David dalam-dalam. “Beri tahu aku artinya.”

“Tidak akan.” David tertawa. “Pasangan kekasih membutuhkan rahasia—hal itu membuat segalanya lebih menarik.”

Susan tersenyum culas. “Kalau memang lebih menarik daripada yang terjadi semalam, aku tidak akan bisa berjalan lagi.”

David merangkul Susan. Nyawanya hampir melayang kemarin dan sekarang dia berada di sini. Dia merasa lebih hidup daripada yang pernah dibayangkannya.

Susan meletakkan kepalanya di atas dada David dan mendengarkan bunyi detak jantung pria itu. Susan tidak percaya dirinya telah menyangka David sudah mati.

“David,” desah Susan sambil melirik ke arah catatan yang berada di samping meja. “Beri tahu aku tentang ‘tanpa lilin.’ Kau tahu, kan, aku paling benci jika ada kode yang tidak bisa aku pecahkan.”

David diam.

“Beri tahu aku.” Susan merengut. “Atau kau tidak akan pernah mendapatkan diriku lagi.” “Pembohong!”

Susan memukul David dengan bantal. “Beri tahu aku! Sekarang!”

Tetapi David tahu, dia tidak akan pernah memberi tahu Susan. Rahasia di balik ‘tanpa lilin’ terlalu manis. Sejarahnya kuno. Selama zaman Renaisans, para pematung Spanyol yang membuat kesalahan saat memahat marmer mahal biasanya menambal bagian yang sompal dengan cera-“lilin.” Sebuah patung yang tidak bercela dan tidak membutuhkan tambalan disebut sebagai sebuah “patung sin cera”, “patung tanpa lilin.” Frase itu akhirnya berubah arti menjadi jujur atau benar. Kata dalam bahasa Inggris “sincere” (tulus) berasal dari bahasa Spanyol sin cera-“tanpa lilin.” Kode rahasia David sebenarnya bukanlah sebuah misteri besar. Dia hanya menandatangani surat-suratnya “Sincerely” atau “Dengan tulus.” Tetapi agaknya David tidak menyangka kalau Susan akan menjadi penasaran.

“Kau pasti senang kalau tahu,” kata David sambil berusaha mengalihkan arah pembicaraan, “bahwa dalam penerbangan pulang, aku menelepon rektor universitas.”

Susan menengadah dengan penuh harapan. “Katakan kau telah mundur dari posisi kepala departemen.”

David mengangguk. “Aku akan kembali mengajar semester depan.”

Susan mendesah dengan lega. “Ke tempatmu semula.”

David tersenyum lembut. “Ya, aku rasa Spanyol telah mengingatkanku tentang suatu hal yang penting.”

“Kembali mematahkan hati para mahasiswi?” Susan mencium pipi David. “Vah, paling tidak, kau akan punya waktu untuk membantuku menyunting manuskripku.”

“Manuskrip?”

“Ya. Aku telah memutuskan untuk menerbitkannya.” “Menerbitkannya?” David tampak ragu. “Menerbitkan apa?”

“Beberapa ide yang aku miliki tentang protokol penyaring varian dan residu kuadrat.”

David mengerang. “Kedengarannya akan laku keras.”

Susan tertawa. “Kau akan terkejut.”

David merogoh ke dalam kantong mantel mandinya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. “Tutup matamu. Aku mempunyai sesuatu untukmu.”

Susan menutup matanya. “Coba kutebak—sebuah cincin mencolok yang penuh dengan ukiran dalam bahasa Latin?”

“Tidak.” David terkekeh. “Aku telah menyuruh Fontaine mengembalikan cincin itu ke tempat barang-barang peninggalan Tankado.” David meraih tangan Susan dan menyelipkan sesuatu pada jari Susan.

“Pembohong.” Susan tertawa dan membuka matanya. “Aku tahu-”

Tetapi perempuan itu langsung terdiam. Cincin yang melingkar pada jarinya sama sekali bukan cincin Tankado. Cincin itu terbuat dari platina bertahtakan sebutir berlian. Susan terengah.

David menatap ke dalam mata kekasihnya. “Maukah kau menikah denganku?”

Susan merasa tercekat. Dia menatap ke arah David dan kembali ke arah cincin itu. Matanya mendadak menggenang. “Oh, David … aku tidak tahu harus berkata apa.”

“Katakan saja ya.”

Susan berpaling dan tidak mengatakan apa-apa.

David menunggu. “Susan Fletcher, aku mencintaimu. Menikahlah denganku.”

Susan mengangkat kepalanya. Matanya basah oleh air mata. “Maafkan aku, David,” bisiknya. “Aku … aku tidak bisa.”

David menatap dengan terkejut. Dia menatap mata Susan untuk mencari tanda-tanda bahwa wanita itu sedang bercanda. Tetapi dia tidak menemukannya. “S-Su-san,” David tergagap. “A-aku tidak mengerti.”

“Aku tidak bisa,” ulang Susan. “Aku tidak bisa menikahimu.” Wanita itu berpaling. Pundaknya bergetar. Dia menutup wajahnya dengan tangannya.

David benar-benar bingung. “Tetapi, Susan … aku pi-ker ….” Dia memegang bahu kekasihnya yang bergetar dan membalikkan tubuh wanita itu ke arahnya. Saat itulah David tahu. Susan Fletcher sama sekali tidak menangis. Wanita itu histeris.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.