Baca Novel Online

Digital Fortress

Jabba tidak menghiraukan Susan. Dia sudah sibuk dengan kalkulatornya.

“Hati-hati!” kata Soshi memperingatkan. “Kita membutuhkan bilangan bulat.”

“Tanda bintang itu,” ulang Susan. “Ada catatan kaki.”

Soshi mencari bagian bawah paragraf itu.

Susan membaca catatan kaki yang bertanda bintang itu. Dia menjadi pucat. “Oh … Tuhan.” Jabba menengadah.”Apa?”

Semua menyorongkan badan ke depan dan kemudian terdengar desahan kalah secara bersamaan. Catatan kaki yang kecil itu berbunyi:

**12% marjin kesalahan. Angka-angka yang diterbitkan berbeda dari satu laboratorium ke laboratorium lainnya.

***

127

TIBA-TIBA SEMUA orang di podium menjadi terdiam dan takjub. Seolah-olah mereka sedang menyaksikan gerhana atau letusan gunung berapi—serangkaian peristiwa menakjubkan yang tidak bisa mereka kendalikan. Waktu seolah merangkak.

“Kita akan segera kehilangan bank data!” teriak seorang teknisi. “Para pendobrak! Banyak sekali!”

Pada bagian sebelah kiri layar, David, Agen Smith, dan Agen Coliander menatap kosong ke arah kamera. Pada tampilan VR, perisai terakhir sudah sangat tipis. Segerombolan garis hitam mengelilinginya; ratusan garis yang mengantri untuk mendobrak masuk ke bagian inti. Pada layar sebelah kanan masih terlihat gambar Tankado. Tayangan kematiannya berputar berulang-ulang. Wajahnya yang putus asa—jemarinya yang menjulur ke atas, dan cincin yang berkilau di bawah sinar matahari.

Susan melihat tayangan yang kadang tampak jelas, kadang tidak itu. Susan menatap ke dalam mata Tankado yang tampak dipenuhi oleh rasa sesal. Sebenarnya Tankado tidak ingin hai ini sampai berlarut-larut seperti sekarang, kata Susan pada dirinya sendiri. Tankado ingin menyelamatkan kita. Tetapi yang tampak berulang- ulang pada layar adalah Tankado yang sedang menyorongkan jemarinya ke atas, menyodorkan cincinnya ke depan mata orang-orang. Dia berusaha berbicara tetapi tidak mampu. Dia hanya terus menyorongkan tangannya ke atas.

Di Sevilla, otak Becker terus berputar. Dia bergumam pada dirinya sendiri, “Apa kata mereka tentang kedua isotop itu?” U238 dan U …?” Becker mendesah dengan kencang—hal itu tidak penting. Dia seorang guru bahasa, bukan ahli fisika.

“Garis-garis yang masuk bersiap untuk mendobrak!”

“Tuhan!” teriak Jabba dengan putus asa. “Apa perbedaan kedua isotop itu? Tidak ada yang tahu perbedaan keduanya?!” Tidak ada jawaban. Para teknisi di dalam ruangan itu menatap tampilan itu dengan tidak berdaya. Jabba berbalik ke arah monitor dan menghempaskan tangannya. “Kenapa tidak ada seorang ahli nuklir pun ketika kau sedang membutuhkannya!”

SUSAN MENATAP ke arah tayangan QuickTime pada layer di dinding. Dia sadar, semuanya telah usai. Dengan gerakan lambat, dia menatap Tankado sekarat berulang kali. Tankado berusaha berbicara, tercekat, menyorongkan tangannya yang cacat … berusaha menyampaikan sesuatu. Tankado berusaha menyelamatkan bank data, kata Susan pada dirinya sendiri. Tetapi kita tidak pernah tahu caranya.

“Pendobrak sudah akan masuk!”

Jabba menatap ke arah layar. “Ini dia!” Keringat mengucur di seluruh wajah Jabba.

Pada bagian tengah layar, perisai terakhir yang tipis hamper menghilang. Kerumunan garis hitam yang mengelilingi bagian inti tampak sangat pekat dan berdenyut-denyut. Midge berpaling. Fontaine berdiri dengan kaku dan menatap ke depan. Brinkerhoff tampak mual.

“Sepuluh detik!”

Mata Susan tidak pernah meninggalkan gambar Tankado. Wajah yang putus asa itu. Penyesalan itu. Tangan Tankado yang menyorong ke atas, berulang-ulang, cincin yang berkilauan, jemari cacat yang berada di depan wajah-wajah asing. Tankado sedang berusaha memberi tahu mereka sesuatu. Apa itu?

Pada bagian layar di atas, David kelihatan sedang berpikir keras. “Perbedaan,” Becker terus menggumam pada dirinya sendiri. “Perbedaan antara U238 dan U23S. Jawabannya pasti sederhana.”

Seorang teknisi sedang menghitung mundur. “Lima! Empat! Tiga!”

Kata itu sampai di Spanyol dalam waktu sepersepuluh detik. Tiga … tiga.

David bagaikan tertembak peluru kejut lagi. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar. Tiga … tiga … tiga. 238 kurang 235! Selisihnya tiga! Dengan sekuat tenaga, Becker meraih mikrofon ….

Di tempat yang jauh, Susan sedang menatap tangan Tankado yang tersorong ke atas. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu di luar cincin itu … di luar emas berukir, ke arah daging di bawah cincin itu … ke arah jemari Tankado. Tiga jari. Ternyata bukan cincin. Tetapi jemarinya. Tankado tidak memberitahukan hal itu kepada mereka. Dia menunjukkannya. Dia memberitahukan rahasianya, menyingkap kode pemusnahnya—memohon seseorang agar mengerti … berdoa agar rahasianya bisa sampai di NSA tepat pada waktunya.

“Tiga,” bisik Susan dengan tercengang.

“Tiga!” teriak Becker dari Spanyol.

Tetapi di dalam suasana hiruk pikuk itu, tidak ada yang mendengarkan.

“Kita hancuri” teriak seorang teknisi.

Tampilan VR berkedip hebat saat bagian inti hamper bobol. Terdengar suara sirene.

“Sudah ada data yang keluar!”

“Muncul pendobrak berkekuatan tinggi dari sega- la arah!”

Susan bergerak seolah dalam mimpi. Dia berbalik ke arah keyboard Jabba. Saat berbalik, pandangannya terpaku pada tunangannya, David Becker. Suara David kembali menggelegar dari mikrofon.

“Tiga! Selisih antara 235 dan 238 adalah 3!”

Setiap orang di dalam ruangan itu menengadah.

“Tiga!” teriak Susan di antara ingar bingar suara sirene yang memekakkan telinga dan para teknisi yang ribut. Susan menunjuk ke arah layar. Semua mata mengikutinya, ke arah tangan Tankado, terjulur, ketiga jarinya bergoyang dengan putus asa di bawah matahari Sevilla.

Badan Jabba menjadi kaku. “My God!” Mendadak Jabba sadar bahwa si genius yang cacat itu selama ini berusaha memberitahukan jawabannya kepada mereka.

“Tiga adalah bilangan prima!” seru Soshi. “Tiga adalah sebuah bilangan prima!”

Fontaine tampak bingung. “Mungkinkah sesederha- na itu?”

“Data keluar lagi!” teriak seorang teknisi. “Cepat sekali!”

Setiap orang di atas podium langsung berbalik ke computer Jabba dengan tangan yang terjulur. Tetapi di antara kerumunan itu, Susan, bagaikan sebuah mobil yang sedang menyalip, menyentuh targetnya. Susan mengetik angka 3. Setiap orang berbalik lagi ke arah layar di dinding. Di antara kekacauan itu, terlihat pada layar.

MASUKKAN KUNCI SANDI? 3

“Ya!” perintah Fontaine. “Lakukan sekarang!” Susan menahan napas dan menekan tombol ENTER. Komputer itu berbunyi bip satu kali. Tidak ada yang bergerak.

Tiga detik yang mengerikan kemudian tidak terjadi apaapa.

Suara sirene terus berbunyi. Lima detik. Enam detik. “Data keluar lagi!” “Tidak ada perubahan!”

Tiba-tiba Midge mulai menunjuk ke arah layar di dinding dengan panik. “Lihat!”

Sebuah pesan muncul pada layar.

KODE PEMUSNAH DITERIMA.

“Perbaiki perisai pelindung!” perintah Jabba. Tetapi Soshi selangkah lebih maju daripada Jabba. Soshi telah mengirimkan perintah itu.

“Data yang keluar terhalang!” teriak seorang teknisi. “Para pendobrak dimusnahkan!”

Pada tampilan VR, perisai lapis pertama mulai muncul kembali. Garis-garis hitam yang menyerang bagian inti dengan cepat dimusnahkan.

“Muncul kembali!” teriak Jabba. “Perisai itu muncul kembali!”

Untuk sejenak, semuanya merasa tidak percaya, seolah dalam sekejap semuanya akan hancur lebur. Tetapi kemudian, perisai kedua mulai kelihatan … dan yang ketiga. Tak lama kemudian, seluruh rangkaian penyaring muncul. Bank data selamat.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.