Baca Novel Online

Digital Fortress

Hanya Susan yang tersenyum. “Tampaknya tidak asing,” katanya. “Blok yang terdiri atas empat huruf— seperti Enigma.”

Sang direktur mengangguk. Enigma adalah mesin penulis sandi paling terkenal dalam sejarah—sebuah mesin pembuat sandi seberat dua belas ton milik NAZI. Mesin itu menulis sandi dalam blok yang terdiri atas empat huruf.

“Hebat!” Sang direktur mengerang. “Kau tidak memiliki mesin itu, bukan?”

“Bukan itu maksudku!” kata Susan yang mendadak menjadi bergairah. Hal seperti ini adalah keahliannya. “Maksudku, ini sebuah kode. Tankado meninggalkan kita sebuah petunjuk. Dia mengejek kita dan menantang kita untuk memecahkan kunci sandi itu tepat pada waktunya. Dia meletakkan petunjuk- petunjuknya di luar jangkauan kita!”

“Konyol,” sergah Jabba. “Tankado hanya memberikan satu petunjuk—mengumumkan tentang TRANSLTR. Itu saja. Itulah jalan keluar kita, dan kita sudah mengacaukannya.”

“Aku harus setuju dengan Jabba,” kata Fontaine. “Aku ragu Tankado akan berani mengambil risiko membiarkan kita lolos dengan memberikan petunjuk tentang kode pemusnahnya.”

Susan mengangguk lemah, tetapi dia ingat bagaimana Tankado telah memberi mereka petunjuk tentang NDAKOTA. Susan menatap huruf-huruf itu sambil bertanya-tanya apakah ini adalah salah satu permainan Tankado.

“Blok terowongan tinggal separuh!” teriak seorang teknisi.

Pada VR, jumlah garis hitam yang tampak melesat makin masuk ke dalam kedua perisai yang tertinggal.

David yang dari tadi duduk dengan tenang sedang memerhatikan drama yang sedang berlangsung dari monitor yang ada di depannya. “Susan?” panggil David. “Aku mempunyai ide. Apakah teks itu terdiri atas enam belas kelompok blok dengan empat huruf masing-masingnya?”

“Oh, demi Tuhan, ” kata Jabba perlahan. “Sekarang setiap orang ingin ikut bermain?”

Susan tidak menghiraukan Jabba. “Ya. Enam belas.”

“Hilangkan spasinya,” kata Becker mantap.

“David,” balas Susan yang merasa agak malu. “Kurasa kau tidak mengerti. Kelompok empat adalah-”

“Hilangkan spasinya,” ulang David.

Untuk sejenak, Susan merasa ragu-ragu dan kemudian dia mengangguk kepada Soshi. Dengan cepat Soshi menghilangkan spasi yang ada. Hasilnya tidak lebih jelas.

PFEESESNRETMMFHAIRWEOOIGMEENRMA ENETSHASDCNSIIAAIEERBRNKFBLELODI

Jabba meledak. “CUKUP! Waktu bermain-main sudah usai! Cacing itu bertambah cepat dua kali! Waktu kita tinggal kira-kira delapan menit! Kita sedang mencari sebuah angka. Bukan sekelompok huruf-huruf kacau!”

“Empat kali enam belas,” kata David dengan tenang. “Hitung, Susan.”

Susan menatap gambar David pada layar di dinding. Hitung? David payah daiam matematika! Susan tahu David bisa menghapal konjugasi kata kerja dan kosakata bagaikan sebuah mesin Xerox, tetapi matematika ….

“Daftar perkalian,” kata Becker.

Daftar perkalian, pikir Susan. Apa yang sedang dia bicarakan ?

“Empat kali enam belas,” ulang profesor itu. “Aku harus menghafal daftar perkalian di kelas empat.”

Susan membayangkan daftar perkalian standar di sekolah dasar. Empat kali enam belas. “64,” kata Susan dengan bingung. “Terus apa?”

David mendekati arah kamera, wajahnya memenuhi seluruh layar. “64 huruf

Susan mengangguk. “Ya, tetapi huruf-huruf itu-” Susan membeku.

“64 huruf,” ulang David.

Susan terengah. “My God! David, kau genius!”

***

121

“TUJUH MENIT!” teriak seorang teknisi.

“Delapan baris yang terdiri atas delapan huruf!” seru Susan dengan bersemangat.

Soshi mengetik. Fontaine berdiri dan memerhatikan dengan membisu. Perisai keempat mulai bertambah tipis.

“Enam puluh empat huruf!” Susan mengambil kendali. “Itu sebuah bujur sangkar yang sempurna!”

“Bujur sangkar yang sempurna?” tanya Jabba. “Terus apa?”

Sepuluh detik kemudian, Soshi telah menyusun huruf-huruf yang tampaknya acak itu di layar. Huruf-huruf tersebut sekarang berada dalam delapan baris yang masing-masing terdiri atas delapan huruf. Jabba memerhatikan hurufhuruf itu dan melempar tangannya dengan putus asa. Susunan baru tersebut tidak lebih jelas dari susunan semulanya.

PFEESESN

RETMPFHA

I R W E O O I G

MEENNRMA

ENETSHAS

D C N S I I A A

I E E R B R N K

F B L E L O D I

“Benar-benar jelas!” Jabba mengerang.

“Ms. Fletcher,” kata Fontaine, “coba jelaskan.” Semua mata tertuju pada Susan.

Susan sedang memerhatikan blok teks tersebut. Secara perlahan dia mulai mengangguk. Kemudian, dia tersenyum lebar. “David, bodohnya aku!”

Setiap orang di podium saling bertukar pandangan bingung.

David berkedip pada gambar Susan Fletcher yang kecil pada layar di depannya. “64 huruf. Julius Caesar beraksi lagi.”

Midge tampak bingung. “Apa yang sedang kalian bicarakan?”

“Kotak Caesar.” Susan bersemu. “Baca dari atas ke bawah. Tankado mengirimkan sebuah pesan kepada kita.”

***

122

“ENAM MENIT!” teriak seorang teknisi.

Susan meneriakkan perintah. “Ketik ulang dari atas ke bawah! Baca menurun, bukan menyamping!”

Soshi dengan cepat mengatur ulang kolom dalam kotak itu dan mengetik ulang teks tersebut.

“Julius Caesar mengirim sandinya dengan cara ini!” kata Susan. “Perhitungan huruf-huruf Caesar selalu berbentuk sebuah kotak sempurna!” “Selesai!” teriak Soshi.

Setiap orang menatap teks satu baris yang baru disusun ulang itu pada layar di dinding.

“Masih omong kosong,” kata Jabba dengan kesal. “Lihat. Teks itu sama sekali merupakan bit acak-” Kata-katanya tersangkut di tenggorokannya. Matanya membelalak sebesar piring kecil. “Oh … asta ….”

Fontaine juga telah melihatnya. Alis matanya melengkung naik. Tampaknya dia terkesan.

Midge dan Brinkerhoff berseru bersamaan. “Astaga.”

Ke-64 huruf itu sekarang berbunyi

PRIMEDIFFERENCEBETWEENELEMENTSRESPONSIBLEFORHIROSHIMAANDNAGASAKI

“Selipkan spasi,” perintah Susan. “Kita harus memecahkan teka-teki ini.”

***

123

SEORANG TEKNISI yang pucat berlari ke arah podium. “Blok terowongan hampir hilang!”

Jabba berbalik ke arah tampilan VR pada layar. Para penyerang bergerak maju. Sebentar lagi mereka akan menyerang perisai kelima dan yang terakhir. Bank data itu kehabisan waktu.

Susan tidak menghiraukan kekacauan di sekelilingnya. Dia membaca pesan aneh dari Tankado itu berulang kali.

PRIME DIFFERENCE BETWEEN ELEMENTS RESPONSIBLE FOR HIROSHIMA AND NAGASAKI

(Perbedaan utama antara unsur-unsur yang bertanggung jawab atas Hiroshima dan Nagasaki)

“Ini bahkan bukan sebuah pertanyaan!” seru Brinkerhoff. “Bagaimana bisa ada jawabannya?”

“Kita membutuhkan angka,” Jabba mengingatkan. “Kode pemusnah itu terdiri atas angka-angka.”

“Diam,” kata Fontaine dengan tenang.Dia berbalik dan berbicara pada Susan. “Ms. Fletcher, kau sudah membawa kita sampai sejauh ini. Aku membutuhkan tebakan terbaikmu.”

Susan menarik napas panjang. “Tempat untuk mengetikkan kode pemusnah hanya menerima angka. Tebakanku adalah teks ini merupakan sebuah petunjuk atas sebuah angka. Teks ini menyebut Hiroshima dan Nagasaki—dua kota yang dihancurkan oleh bom atom. Mungkin kode pemusnah itu berhubungan dengan jumlah korban, perkiraan biaya kerusakan dalam dolar ….” Susan berhenti sesaat sambil membaca ulang petunjuk itu. “Kata ‘difference’ tampaknya penting. The prime difference between Nagasaki and Hiroshima. (Perbedaan utama antara Nagasaki dan Hiroshima.) Tampaknya Tankado merasa kedua kejadian itu agak berbeda.”

Raut muka Fontaine tidak berubah. Walaupun begitu, dia langsung kehilangan harapan. Tampaknya masalah politis seputar kedua ledakan paling dashyat dalam sejarah tersebut harus dianalisis, dibandingkan, dan diterjemahkan menjadi sebuah angka ajaib … dan semua itu harus dilakukan dalam waktu lima menit.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.