Baca Novel Online

Digital Fortress

***

118

“ITU BUKTINYA,” kata Fontaine dengan mantap. “Tankado menyingkirkan cincin itu. Dia menginginkan cincin itu berada sejauh mungkin dari dirinya—sehingga kita tidak akan menemukannya.”

“Tetapi, Direktur,” debat Susan, “hal itu tidak masuk akal. Jika Tankado tidak tahu bahwa dirinya dibunuh, kenapa dia memberikan kode pemusnah itu kepada orang lain?”

“Aku setuju,” kata Jabba. “Tankado itu seorang pemberontak. Tetapi dia pemberontak yang memiliki hati nurani. Memaksa kita untuk mengakui TRANSLTR adalah satu hal, tetapi membongkar bank data rahasia kita adalah hal lain.”

Fontaine menatap dengan rasa tidak percaya. “Kau pikir Tankado ingin menghentikan cacing ini? Apakah saat dia sekarat, dia masih memikirkan nasib NSA yang malang?”

“Blok terowongan mulai hancur!” seorang teknisi berteriak. “Kita akan benar-benar tidak berdaya dalam lima belas menit, maksimal!”

“Begini saja,” kata sang direktur yang mengambil kendali. “Dalam lima belas menit, setiap negara berkembang di planet ini akan belajar bagaimana membuat sebuah peluru balistik antarbenua. Jika di dalam ruangan ini ada yang mempunyai usul tentang kode pemusnah yang lebih baik daripada cincin ini, aku siap mendengarkan.” Sang direktur menunggu. Tidak ada yang berbicara. Sang direktur melihat ke arah Jabba dan keduanya saling menatap. “Tankado menyingkirkan cincin itu untuk sebuah alasan, Jabba. Apakah dia berusaha menguburnya, atau dia berharap pria gemuk itu akan berlari ke arah telepon umum dan mengabari kita tentang hal itu, aku benar-benar tidak peduli. Tetapi aku sudah membuat keputusan. Kita akan memasukkan kutipan itu. Sekarang.”

Jabba menarik napas panjang. Dia tahu bahwa Fontaine ada benarnya—tidak ada pilihan yang lebih baik. Mereka kehabisan waktu. Jabba duduk. “Baik … mari kita lakukan.” Jabba bergerak mendekati keyboard. “Mr. Becker? Kata-kata yang terukir itu, silakan. Pelan-pelan saja.” David Becker membaca ukiran itu, dan Jabba mengetik. Ketika mereka selesai, mereka memeriksa ulang ejaannya dan menghilangkan semua spasi yang ada. Pada sebuah panel di bagian tengah layar, di dekat bagian atasnya, terdapat hurufhuruf:

QUISCUSTODIETIPSOSCUSTODES

“Aku tidak menyukai hal ini,” Susan menggumam lembut. “Kode itu terasa aneh.”

Jabba ragu-ragu. Jarinya menggantung di atas tombol ENTER.

“Laksanakan,” perintah Fontaine.

Jabba menekan tombol itu. Beberapa detik kemudian, seluruh ruangan sadar bahwa hal itu adalah sebuah kesalahan.

***

119

“CACING ITU bertambah cepat!” teriak Soshi dari arah belakang ruangan. “Kode itu salah!”

Setiap orang terdiam dan menatap dengan ngeri.

Pada layar di depan mereka terdapat laporan kesalahan mereka:

SALAH MEMASUKKAN KODE. HANYA ANGKA SAJA.

“Sialan!” jerit Jabba. “Hanya angka saja! Kita sedang berurusan dengan angka! Matilah kita! Cincin ini tidak berguna!”

“Cacingnya bertambah dua kali lebih cepat!” teriak Soshi. “Kita kena penalti!”

Pada bagian tengah layar, tepat di bawah laporan kesalahan, VR menunjukkan sebuah gambar yang mengerikan. Saat pelindung tingkat ketiga musnah, kira-kira setengah lusin garis tipis yang mewakili para hacker yang hendak menjarah bergerak maju. Mereka berusaha mendekati bagian inti lingkaran itu. Dengan berlalunya waktu, sebuah garis baru muncul. Disusul yang lainnya.

“Mereka bertambah banyak!” teriak Soshi.

“Sudah ada yang masuk dari luar negeri!” teriak teknisi lainnya. “Berita sudah beredar!”

Susan mengalihkan perhatiannya dari gambar lingkaran dinding pelindung yang hancur itu dan melihat ke sisi layar. Tayangan gambar pembunuhan Tankado terus berulang-ulang. Tayangan itu sama setiap kalinya—Tankado memegangi dadanya, terjatuh, dan dengan pandangan panik yang putus asa, dia memaksa sekelompok wisatawan yang tidak tahu-menahu untuk mengambil cincinnya. Ini tidak masuk akai. Jika Tankado tidak tahu bahwa kita yang membunuhnya …. Pandangan Susan kosong. Sekarang sudah terlambat. Kita tefah melewatkan sesuatu.

Pada VR, jumlah hacker yang menggedor gerbang bank data berlipat ganda setiap menitnya. Dari saat sekarang, jumlah itu akan meningkat dengan hebat. Para hacker, seperti halnya hiena (sejenis anjing liar), adalah sebuah keluarga besar. Mereka selalu bersemangat untuk menyebarkan berita tentang buruan baru.

Tampaknya Leland Fontaine telah cukup melihat. “Matikan sekarang,” dia mengumumkan. “Matikan mesin sialan itu.”

Jabba menatap ke arah depan bagaikan seorang kapten yang kapalnya sedang tenggelam. “Sudah terlambat, Pak. Kita hancur.”

***

120

PETUGAS SYS-Sec berbobot empat ratus pon itu berdiri diam tidak bergerak. Tangannya yang berada di atas kepalanya menunjukkan rasa tidak percayanya. Dia telah diperintahkan untuk mematikan bank data, tetapi mereka sudah terlambat dua puluh menit. Para hiu dengan modem berkecepatan tinggi akan sanggup men-downhad sejumlah besar informasi rahasia dari bank data.

Jabba tersadar dari mimpi buruknya oleh Soshi yang berlari ke arah podium dengan hasil cetak terbaru. “Aku menemukan sesuatu, Pak!” katanya dengan bersemangat. “Ada orphan dalam cacing itu! Or-phan itu termasuk dalam kelompok alpha. Ada di mana-mana!”

Jabba bergeming. “Kita sedang mencari kode dengan angka! Bukan kode dengan alpha! Kode pembunuh itu terdiri atas angka-angka!”

“Tetapi kita menemukan orphan. Tankado pasti terlalu baik untuk meninggalkan orphan—apalagi dalam jumlah banyak!”

Istilah orphan merujuk kepada baris tambahan pada sebuah program. Baris tambahan itu sama sekali tidak menyokong fungsi program itu. Baris tambahan itu tidak memakan apa pun, tidak merujuk pada apa pun, tidak menuju ke mana pun, dan biasanya dibuang pada proses debugging atau pembersihan akhir dan proses kompilasi.

Jabba mengambil hasil cetak itu dan mempelajarinya.

Fontaine berdiri dengan diam.

Susan mengintip hasil cetak itu dari balik pundak Jabba. “Kita diserang oleh sebuah draf kasar dari cacing Tankado?”

“Sudah dipoles atau belum,” sergah Jabba, “cacing ini telah menghancurkan kita.”

“Aku tidak mengerti,” debat Susan. “Tankado adalah seorang perfeksionis. Kau tahu itu. Tidak mungkin dia meninggalkan bug pada programnya.”

“Ada banyak bug!” jerit Soshi. Dia merampas hasil cetak itu dari Jabba dan menyodorkannya kepada Susan. “Lihat!”

Susan mengangguk. Benar saja, setelah setiap kira-kira dua puluh baris program itu, selalu ada empat karakter yang mengapung bebas. Susan melacak karakter-karakter yang mengapung tersebut.

PFEE SESN RETM

“Pengelompokan alpha empat bit,” kata Susan dengan bingung. “Vang pasti, mereka bukan bagian dari program itu.”

“Lupakan ini,” geram Jabba. “Kau hanya melakukan hal yang sia-sia.”

“Mungkin tidak,” kata Susan. “Banyak sandi menggunakan kelompok empat bit. Ini mungkin sebuah kode.”

“Ya,” Jabba mengerang. “Bunyinya—’Ha, ha. Mampus kau.’ ” Jabba menatap ke arah VR. “Tinggal sembilan menit lagi.”

Susan tidak mengacuhkan Jabba dan menatap Soshi. “Ada berapa banyak orphan?”

Soshi mengangkat bahunya. Wanita itu melangkah ke arah komputer Jabba dan mengetik semua kelompok orphan itu. Ketika selesai, dia mundur dari komputer. Setiap orang menatap ke layar komputer itu.

PFEE SESN RETM MFHA IRWE OOIG MEE NRMA ENET SHAS DCNS IIAA IEER BRNK FBLE LODI

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.