Baca Novel Online

Digital Fortress

Setiap orang di podium berdiri dengan diam, menatap, dan menunggu. Jabba mengetik beberapa kunci dan mengatur tampilan layer video pada layar. Pesan Tankado muncul di sisi kiri.

HANYA KEBENARAN YANG BISA MENYELAMATKAN KALIAN SEKARANG

Pada bagian kanan layar pada dinding itu ada gambar bagian dalam mobil van dengan Becker dan kedua agen yang bergerombol di depan kamera. Di bagian tengah layar muncul sebuah bingkai yang kurang jelas. Bingkai itu berubah menjadi seperti gambar bintik-bintik yang biasa ditampilkan oleh sebuah televise yang rusak, dan kemudian menjadi gambar sebuah taman berwarna hitam dan putih.

“Penayangan dimulai,” Agen Smith mengumumkan.

Rekaman itu tampak bagaikan sebuah film kuno. Gambarnya tidak alami dan berkedut-kedut—ini diakibatkan oleh proses pembuangan gambar. Proses pembuangan dilakukan dengan mengurangi jumlah informasi yang dikirim sampai dengan setengahnya agar proses penayangan bisa berlangsung lebih cepat.

Gambar pada rekaman bergerak ke sebuah lapangan luas yang satu sisinya dibatasi sisi depan sebuah bangunan yang berbentuk setengah lingkaran—Seville Ayuntamiento. Pada bagian depannya terdapat pepohonan. Taman itu kosong. “X-sebelas hancur!” seorang teknisi berteriak. “Anak nakal ini benar-benar lapar!”

SMITH MULAI bercerita. Komentar-komentarnya menunjukkan dirinya seorang agen yang berpengalaman. “Gambar ini diambil dari dalam van,” katanya, “kira-kira lima puluh meter dari tempat pembunuhan. Tankado sedang berjalan mendekat dari arah kanan. Hulohot berada di tengah pepohonan di sebelah kiri.”

“Kami sedang dikejar-kejar waktu di sini,” desak Fontaine. “Ayo kita langsung ke bagian yang penting saja.”

Agen Coliander menyentuh beberapa tombol dan gambar video berubah dengan cepat.

Setiap orang di podium menonton dengan tegang saat bekas teman kerja mereka, Ensei Tankado, muncul pada gambar. Penayangan video yang dipercepat membuat gambargambar yang muncul tampak lucu. Tankado berjalan terburuburu ke arah lapangan. Tampaknya dia sedang menikmati pemandangan. Dia memayungi matanya dengan tangannya dan mendongak ke arah atap-atap curam di sisi depan bangunan yang besar itu.

“Ini dia,” kata Smith. “Hulohot seorang ahli. Ini adalah tembakan pertamanya.”

Smith benar. Ada kilatan cahaya dari belakang pepohonan di sebelah kiri layar. Tidak lama kemudian, Tankado mencengkeram dadanya. Untuk beberapa saat lelaki itu terhuyung. Kamera yang menyorotnya dari dekat agak bergoyang dan sesekali kehilangan fokus.

Saat penayangan itu berlangsung cepat, Smith dengan dingin terus bercerita. “Seperti yang bisa kalian lihat, jantung Tankado langsung berhenti.”

Gambar-gambar itu membuat Susan mual. Tankado mencengkeram dadanya dengan tangannya yang cacat. Pada wajahnya terlihat rasa bingung dan takut.

“Kalian akan melihat,” tambah Smith, “matanya tertuju ke bawah, ke dirinya sendiri. Tidak sekali pun Tankado melihat ke sekeliling.”

“Dan itu penting?” kata Jabba dengan setengah bertanya.

“Sangat,” kata Smith. “Jika Tankado mencurigai adanya permainan kotor, secara naluriah, dia akan melihat ke sekelilingnya. Tetapi seperti yang bisa kalian saksikan, dia tidak melakukannya.”

Pada layar, Tankado terjatuh di atas lututnya sambil terus memegangi dadanya. Tidak sekali pun dia menengadah. Ensei Tankado adalah pria kesepian, yang meninggal secara alamiah dalam kesendirian.

“Ini aneh,” kata Smith dengan bingung. “Peluru-peluru trauma biasanya tidak membunuh secepat ini. Terkadang, jika sasarannya cukup besar, peluru semacam ini malah tidak mematikan.”

“Jantung yang lemah,” kata Fontaine datar.

Smith mengangkat alisnya dengan kagum. “Pemilihan senjata yang hebat.”

Susan memerhatikan Tankado yang terguling dari posisi berlutut menjadi menyamping dan akhirnya tergeletak. Dia terbaring dengan wajah menghadap ke atas dan masih memegangi dadanya. Mendadak kamera berpindah dari Tankado dan kembali ke arah kerumunan pohon. Seorang pria muncul. Dia mengenakan kacamata berbingkai kawat dan membawa sebuah tas berukuran besar. Saat mendekati tubuh Tankado yang kejang-kejang itu, jemari pria itu mulai membuat gerakan tahan bisu yang aneh dengan sebuah alat yang tertempel pada jemarinya.

“Dia sedang menggunakan Monocle-nya,” kata Smith mengumumkan. “Dia sedang mengirim pesan bahwa Tankado sudah disingkirkan.” Smith berbalik ke arah Becker dan terkekeh. “Kelihatannya Hulohot mempunyai kebiasaan buruk untuk mengirimkan laporan hasil pembunuhan sebelum korbannya benar-benar mati.”

Coliander kembali mempercepat film itu dan kamera mengikuti Hulohot saat dia bergerak menuju korbannya. Tiba-tiba seorang pria tua menghambur keluar dari sebuah halaman di dekat situ. Pria tua itu berlari ke arah Tankado dan berlutut di samping orang Jepang itu. Hulohot memperlambat gerakannya. Tidak lama kemudian, dua orang lain muncul dari halaman yang sama—seorang pria gemuk dan seorang wanita berambut merah. Mereka juga menghampiri Tankado.

“Pemilihan tempat yang salah untuk sebuah pembunuhan,” kata Smith. “Hulohot pikir korbannya akan sendirian.”

Pada layar, Hulohot terlihat menatap sesaat dan kemudian kembali mundur ke arah pepohonan. Tampaknya, dia ingin menunggu.

“Ini dia bagian serah terimanya. Pada awalnya kami tidak memerhatikan hal itu.”

Susan menatap gambar yang mengerikan pada layar itu. Tankado kehabisan napas. Tampaknya, dia berusaha menyampaikan sesuatu kepada “orang-orang Samaria” yang sedang berlutut di sampingnya. Kemudian, dengan putus asa, dia menyodorkan tangan kirinya ke atas dan hampir menghantam wajah pria tua itu. Tankado menyorongkan jemarinya yang cacat ke depan mata pria tua itu. Kamera menyorot ke arah ketiga jari Tankado yang aneh, dan pada salah satu jarinya terdapat sebuah cincin emas yang berkilau di bawah matahari Spanyol. Tankado menyodorkannya sekali lagi. Pria tua itu mundur. Tankado berpaling kepada wanita di sampingnya. Dia menyodorkan ketiga jarinya yang cacat ke depan wajah wanita itu, seolah memohon wanita itu agar mengerti. Cincin itu berkilau di bawah matahari. Wanita itu berpaling ke arah lain. Tankado, sekarang tercekat dan tidak bisa bersuara, berpaling kepada pria gendut itu dan mencoba untuk yang terakhir kalinya.

Pria yang tua tiba-tiba berdiri dan berlari, mungkin untuk mencari bantuan. Tankado tampak semakin melemah, tetapi dia masih menyodorkan cincin itu ke hadapan wajah pria gemuk itu. Pria gemuk itu lalu meraih dan memegang pergelangan tangan Tankado untuk menyanggahnya. Tankado yang sekarat terlihat menengadah untuk melihat jemarinya sendiri, cincinnya, dan kemudian ke arah mata pria gemuk itu. Sebagai permohonan terakhir sebelum mati, Ensei Tankado mengangguk lemah pada pria itu, seolah mengatakan ya.

Kemudian, Tankado jatuh lemas. “Tuhan,” Jabba mengerang.

Tiba-tiba kamera menyorot ke tempat Hulohot bersembunyi. Pembunuh itu telah pergi. Sebuah sepeda motor polisi muncul di atas Avenida Firelli. Kamera berbalik ke tempat Tankado berbaring. Wanita yang sedang berlutut di samping Tankado mendengar suara sirene polisi. Wanita itu melihat keadaan sekitarnya dengan gelisah dan mulai menarik-narik temannya yang gendut itu sambil memohonnya untuk pergi. Kedua orang itu pun berlalu.

Kamera kembali menyorot ke arah Tankado. Kedua tangan pria itu terlipat di atas dadanya yang tidak bernyawa. Cincin pada jarinya telah hilang.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.