Baca Novel Online

Digital Fortress

“D-David kata Susan tergagap. Susan tidak sadar bahwa ada 37 orang yang sedang berdiri terpaku di belakang dirinya. “Kau sudah menanyakan itu padaku, ingat? Lima bulan yang lalu. Aku mengatakan ya.”

“Aku tahu.” Becker tersenyum. “Tetapi kali ini”—Becker mengulurkan tangan kirinya ke arah kamera dan memamerkan sebuah cincin emas pada jari manisnya-“kali ini aku memiliki sebuah cincin.”

***

116

“BACA, MR. Becker!” perintah Fontaine.

Jabba yang sedang duduk dan berkeringat meletakkan jemarinya di atas key-board. “Ya,” katanya, “baca ukiran itu!”

Susan Fletcher berdiri bersama mereka dengan lutut yang lemas dan perasaan bahagia. Setiap orang di ruangan itu menghentikan segala kegiatan, dan menatap gambar David Becker yang besar di layar. Profesor itu sedang memutar-mutar cincin dengan jemarinya dan mempelajari ukirannya.

“Dan dengan sangat teliti,'” perintah Jabba. “Satu kesalahan saja, kita akan tamat.”

Fontaine memandang kesal ke arah Jabba. Direktur NSA tersebut menyadari keadaan yang sangat genting saat itu. Dia tidak membutuhkan tambahan tekanan lagi. “Santai saja, Mr. Becker. Jika kita membuat kesalahan, kita akan mencoba lagi sampai benar.”

“Nasihat yang buruk, Mr. Becker,” sergah Jabba. “Saat pertama harus benar. Kode pemusnah biasanya memberikan penalti jika salah—untuk mencegah permainan tebak-tebak buah manggis. Jika kita salah memasukkan kode, kerja cacing itu mungkin akan bertambah cepat. Jika kita membuat kesalahan dua kali, program tersebut akan terkunci. Permainan usai.”

Sang direktur mengernyit dan balik menatap layar. “Mr. Becker, saya tadi keliru. Baca dengan teliti—baca dengan sangat teliti.”

Becker mengangguk dan mempelajari cincin itu untuk sesaat. Kemudian dengan tenang dia membacakan ukiran itu. “Q … U … I … S … spasi … C

Jabba dan Susan menyela secara bersamaan. “Spasi?” Jabba berhenti mengetik. “Ada spasi?”

Becker mengangkat bahunya sambil memeriksa cincin itu. “Ya. Ada banyak.”

“Ada yang tidak aku ketahui?” sela Fontaine. “Apa yang sedang kita tunggu?”

“Pak,” kata Susan. Dia tampak bingung. “Ini … ini agak ….”

“Aku setuju,” kata Jabba. “Ini aneh. Kata kunci tidak pernah memiliki spasi.”

Brinkerhoff menelan ludahnya. “Jadi, apa maksudmu?”

“Maksudnya,” sela Susan, “ini mungkin bukan kode pemusnah.”

Brinkerhoff menjerit. “Itu pasti kode pemusnah! Kalau tidak, apa lagi? Untuk apa Tankado memberikannya kepada orang lain? Siapa lagi yang suka mengukirkan serangkaian huruf acak pada cincinnya?”

Fontaine membuat Brinkerhoff terdiam dengan tatapan tajamnya.

“Ah … saudara-saudara,” sela Becker yang tampaknya enggan untuk terlibat. “Kalian terus-menerus menyebut hurufhuruf acak. Kurasa aku harus memberi tahu

Anda … bahwa huruf-huruf pada cincin ini tidak acak.”

Setiap orang di podium berseru serentak. “Apa!”

Becker tampak gelisah. “Maaf, tetapi yang pasti di sini terdapat kata-kata. Harus kuakui bahwa kata-kata ini terukir sangat rapat satu dengan yang lainnya. Secara sekilas, kelihatannya acak. Tetapi jika diperhatikan dengan teliti, kau akan melihat bahwa ukiran itu … adalah bahasa Latin.”

Jabba tergagap. “Kau bercanda!”

Becker menggeleng. “Tidak. Bunyinya, ‘Quis custodiet ipsos custodes.’ Terjemahan bebasnya-”

“Siapa yang akan mengawasi para pengawas!” sela Susan untuk menyelesaikan kalimat David.

Becker terkejut. “Susan, aku tidak tahu kau bisa-”

“Itu dikutip dari Satir karya Juvenal,” kata Susan. “Siapa yang akan mengawasi para pengawas? Siapa yang akan mengawasi NSA jika kita mengawasi dunia? Itu peribahasa kesukaan Tankado!”

“Jadi,” tanya Midge, “itu kunci sandinya atau bukan?”

“Itu pasti kunci sandinya,” kata Brinkerhoff.

Fontaine berdiri dengan diam. Tampaknya, dia sedang mengolah semua keterangan yang ada.

“Aku tidak tahu apakah itu kunci sandinya,” kata Jabba. “Menurutku Tankado tidak mungkin menggunakan susunan yang tidak teracak.”

“Hilangkan saja spasinya,” teriak Brinkerhoff, “dan ketik kode sialan itu!”

Fontaine berbalik ke arah Susan. “Apa pendapat-mu, Ms. Fletcher?”

Susan berpikir sejenak. Dia tidak bisa memastikan hal ini, tetapi ada sesuatu yang terasa janggal. Susan mengenal Tankado cukup baik untuk tahu bahwa pria itu menyukai kesederhanaan. Hasil karyanya Tankado selalu jelas dan absolut. Kenyataan bahwa spasinya harus dihilangkan terasa ganjil. Itu adalah detail yang kecil, tetapi tetap saja merupakan sebuah cacat, dan sama sekali tidak bersih—tidak seperti pukulan telak Tankado yang telah dibayangkan Susan.

“Rasanya tidak pas,” kata Susan pada akhirnya. “Aku rasa itu bukan kuncinya.”

Fontaine menarik napas panjang. Matanya yang gelap menatap ke dalam mata Susan. “Ms. Fletcher, menurut Anda, jika ini bukan kuncinya, untuk apa Ensei Tankado memberikannya kepada orang lain? Jika dia yakin kita yang telah membunuhnya, tidakkah kau berkesimpulan bahwa dia akan menghukum kita dengan menghilangkan cincin itu?”

Sebuah suara baru menyela percakapan itu. “Eh … Direktur?”

Semua mata menatap ke arah layar. Itu adalah Agen Smith yang berada di Sevilla. Dia berada di belakang bahu Becker dan berbicara melalui pengeras suara. “Entah ini berguna atau tidak. Aku tidak yakin Mr. Tankado sadar bahwa dirinya dibunuh.”

“Bisa diulang?” pinta Fontaine.

“Hulohot sangat ahli. Kami menyaksikan pembunuhan itu—hanya berjarak lima puluh meter dari kami. Semua bukti menunjukkan bahwa Tankado tidak sadar.” “Bukti?” tanya Brinkerhoff. “Bukti apa? Tankado memberikan cincin ini kepada orang lain. Bukti itu sudah cukup!”

“Agen Smith,” sela Fontaine. “Apa yang membuatmu berpikir Ensei Tankado tidak sadar dirinya dibunuh?”

Smith mendehem. “Hulohot membunuhnya dengan sebuah NTB—sebuah peluru traumatis noninvasif. Itu sebuah tabung karet yang mengenai dada dan menyebar. Peluru ini tidak berbunyi dan sangat bersih. Mungkin Mr. Tankado hanya merasa totokan keras pada dadanya sebelum dia mengalami gagal jantung.

“Peluru traumatis,” Becker berpikir. “Itu menjelaskan luka memarnya.”

“Sangat diragukan,” Smith menambahkan, “bahwa Tankado menghubungkan rasa sakit itu dengan seorang pembunuh bayaran.”

“Tetapi dia tetap memberikan cincin itu kepada orang lain,” kata Fontaine.

“Benar, Pak. Tetapi dia tidak pernah mencari penyerangnya. Seorang korban selalu berusaha mencari penyerangnya saat dirinya ditembak. Itu naluri.”

Fontaine bingung. “Dan kau mengatakan bahwa Tankado tidak berusaha mencari Hulohot?”

“Tidak, Pak. Kami memiliki rekaman filmnya jika Anda ingin-”

“Penyaring X-sebelas mulai hilang!” seorang teknisi berteriak. “Cacingnya sudah hampir sampai di sana!”

“Lupakan rekaman film itu,” kata Brinkerhoff. “Ketik saja kode pemusnah itu dan akhiri semua ini!”

Jabba mendesah. Mendadak dia menjadi tenang. “Direktur, jika kita memasukkan kode yang salah ….”

“Ya,” sela Susan, “jika Tankado tidak mencurigai bahwa kita yang membunuhnya, kita memiliki beberapa pertanyaan untuk dijawab.”

“Berapa banyak waktu yang kita miliki, Jabba?”

Jabba melihat ke arah VR. “Kira-kira dua puluh menit. Aku sarankan kita menggunakan waktu dengan baik.”

Fontaine terdiam cukup lama. Kemudian, dia mendesah dalam-dalam. “Baiklah, putar film itu.”

***

117

“PENAYANGAN VIDEO dimulai dalam waktu sepuluh detik,” terdengar suara Agen Smith yang berderak. “Kami mengirimkan setiap gambar yang ada berikut rekaman suaranya—kami akan mengusahakan agar penayangan videonya bisa kalian terima pada saat yang bersamaan dengan saat kami memutarnya.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.