Baca Novel Online

Digital Fortress

“Pihak swasta?” kata Fontaine sambil merenung. Kedengarannya seperti cava-cava Strathmore—yang dengan bijaksana tidak mau melibatkan NSA.

“Penyaring FTP mulai hancur!” teriak seorang teknisi.

“Kami membutuhkan benda itu,” desak Fontaine. “Di mana Hulohot sekarang?”

Smith menoleh ke belakang pundaknya. “Ya … dia ada bersama kami, Pak.”

Fontaine menghela napas. “Di mana?” Itu berita terbaik yang didengarnya hari ini.

Smith meraih dan mengatur lensa kamera. Kamera itu menyorot ke dalam mobil van, dan dua onggok tubuh yang bersandar ke dinding belakang van mulai terlihat. Yang satu berbadan besar dengan kacamata berbingkai kawat yang letaknya miring. Yang lainnya adalah lelaki muda dengan rambut gelap tebal dan kemeja yang berlumuran darah.

“Hulohot adalah yang di sebelah kiri,” Smith menjelaskan.

“Dia sudah mati?” tanya sang direktur. “Ya, Pak.”

Fontaine tahu masih ada waktu nanti untuk penjelasan. Pria itu melihat ke arah gambar perisai yang makin menipis. “Agen Smith,” kata Fontaine dengan perlahan dan jelas. “Benda itu. Aku membutuhkannya.”

Smith tampak agak malu. “Pak, kami masih tidak tahu barang apa itu. Kami sedang mencari tahu.”

***

114

“KALAU BEGITU, cari lagi!” perintah Fontaine.

Sang direktur melihat dengan kecewa saat gambar pada layar menunjukkan kedua agen itu sedang mencari sebuah daftar yang berisi nomor dan huruf acak di sekujur tubuh kedua pria di dalam van itu.

Wajah Jabba pucat. “Oh, my God, mereka tidak bisa menemukannya. Matilah kita!”

“Kita kehilangan penyaring FTP!” sebuah suara berteriak. “Perisai ketiga mulai terancam!” Orang-orang bertambah sibuk.

Pada layar di depan, agen yang berambut pendek mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah. “Pak, kunci sandi itu tidak ada di sini. Kami telah menggeledah kedua pria ini. Kantong, pakaian, dan dompet mereka. Tidak ada tanda sama sekali. Hulohot menggunakan sebuah komputer Monocle dan kami juga sudah memeriksanya. Tampaknya, dia tidak mengirimkan apa pun yang menyerupai karakter-karakter acak—yang ada hanya daftar korban yang telah dibunuhnya.”

“Sialanf Fontaine merasa marah dan mendadak kehilangan ketenangannya. “Pasti ada di sana! Cari terus!”

Tampaknya, Jabba merasa dirinya sudah cukup melihat—Fontaine telah bertaruh dan kalah. Jabba mengambil kendali. Petugas Sys-Sec berbadan besar itu turun dari tempatnya di podium bagaikan sebuah gunung yang bergemuruh. Dia melintas di antara pasukan pemrogram sambil meneriakkan serangkaian perintah. “Akses ke perintah pemadaman cadangan! Mulai mematikan bank data! Kerjakan sekarang!”

“Kita tidak akan sempat!” teriak Soshi. “Kita butuh setengah jam! Saat waktu matinya tiba, segalanya akan sudah terlambat!”

Jabba membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi dia disela oleh sebuah jeritan pedih dari arah belakang ruangan.

Setiap orang berpaling. Bagai sebuah penampakan, Susan Fletcher bangkit dari posisi meringkuk di bagian belakang ruang itu. Wajahnya putih, matanya terpaku pada gambar di layar, pada gambar David Becker yang tidak bergerak, berdarah, dan terpuruk di atas lantai van.

“Kau membunuhnya!” jerit Susan. “Kau membunuhnya!” Wanita itu terhuyung ke arah gambar itu dan berusaha meraihnya. “David

Setiap orang menatap Susan dengan bingung. Perempuan itu bergerak maju, sambil terus berteriak. Matanya tidak pernah beralih dari gambar David. “David,” kata Susan dengan terengah sambil berjalan maju. “Oh … David … teganya mereka-”

Fontaine tampak bingung. “Kau kenal pria ini?” Tubuh Susan bergoyang saat dia melintasi podium. Dia berhenti beberapa kaki di depan proyeksi raksasa itu dan mendongak. Bingung dan mati rasa. Berulang kali dia memanggil-manggil nama pria yang dicintainya.

***

115

PIKIRAN DAVID Becker benar-benar kosong. Aku sudah mati. Tetapi dia mendengar suara. Sebuah suara yang jauh. “David.”

Ada rasa panas membakar yang memusingkan di bagian bawah lengan Becker. Darahku seolah penuh dengan bara api. Tubuhku bukan lagi milikku. Tetapi ada sebuah suara yang memanggil dirinya. Suara itu halus, jauh. Tetapi suara itu adalah bagian dari dirinya. Becker juga mendengar suara-suara lain—suara asing dan tidak penting yang sedang berteriak. Dia berjuang untuk menyingkirkan suara-suara lain itu. Hanya ada satu suara yang penting. Suara itu kadang terdengar jelas, kadang tidak.

“David … maafkan aku ….”

Becker melihat kilasan cahaya. Pada awalnya cahaya itu lemah, hanya seberkas cahaya kelabu, kemudian semakin jelas. Becker berusaha untuk bergerak, tetapi dia merasa sakit. Dia berusaha untuk berbicara, tetapi yang ada hanya kesunyian. Suara itu terus memanggilnya.

Seseorang berada di dekat Becker dan mengangkatnya. Becker bergerak ke arah suara itu. Suara itu sedang memanggilnya. Dengan linglung, Becker menatap ke arah gambar yang bercahaya itu. Dia bisa melihat wanita itu pada sebuah layar kecil. Wanita itu sedang menatap ke arahnya dari dunia lain. Apakah dia sedang menyaksikan aku mati? “David ….”

Suara itu terdengar tidak asing. Wanita itu adalah malaikat. Dia telah datang untuk Becker. Malaikat itu berbicara. “David, aku mencintaimu.”

Tiba-tiba, David sadar.

SUSAN MERAIH ke arah layar sambil menangis, tertawa, tenggelam dalam badai emosi yang berkecamuk. Dia menghapus air matanya dengan cepat. “David, aku—aku pikir ….”

Agen Smith meletakkan David Becker di atas tempat duduk yang menghadap monitor. “Dia merasa sedikit pusing, Bu. Beri dia sedikit waktu.”

“T-tetapi,” kata Susan tergagap. “Aku melihat sebuah pesan. Katanya ….”

Smith mengangguk. “Kami melihatnya juga. Hulohot telah menghitung anak ayam sebelum telurnya menetas.”

“Tetapi darah itu …. ”

“Luka goresan,” balas Smith. “Kami telah membalutnya dengan kain kasa.” Susan tidak bisa berbicara.

Agen Coliander muncul di kamera. “Kami menembaknya dengan senjata J23 baru—senjata pelumpuh yang mempunyai efek lama.”

“Jangan khawatir, Bu,” kata Smith meyakinkan. “Dia akan baik-baik saja.”

David Becker menatap monitor televisi di hadapannya. Dia merasa pusing dan bingung. Gambar di dalam layer adalah sebuah ruangan—sebuah ruangan yang hiruk pikuk. Susan berada di sana. Wanita itu sedang berdiri di atas sebuah panggung dan menatap dirinya.

Susan sedang menangis dan tertawa. “David. Puji Tuhan! Kukira aku telah kehilangan dirimu!”

Becker menggosok pelipisnya. Dia bergerak maju ke arah layar dan menarik mikrofon ke arah mulutnya. “Susan?” Susan menatap dengan takjub. Tampang David yang berantakan sekarang memenuhi seluruh layar di depan wanita itu. Suara David membahana.

“Susan, aku harus menanyakan sesuatu padamu.” Untuk beberapa saat, getaran dan volume suara Becker membuat semua kegiatan di bank data terhenti. Setiap orang berhenti mengerjakan apa yang sedang dikerjakannya dan berbalik.

“Susan Fletcher,” suara itu menggema, “maukah kau menikahiku?”

Ruang kendali itu menjadi sunyi. Sebuah papan jepit untuk menulis terjatuh ke lantai beserta satu mug penuh berisi pensil. Tidak ada yang memungut barang-barang itu kembali. Yang ada hanya bunyi derum kipas komputer dan suara napas David Becker yang teratur pada mikrofonnya.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.