Baca Novel Online

Digital Fortress

“Kita masih punya waktu,” kata Jabba, “jika kita cepat. Pemutusan hubungan listrik secara manual akan memakan waktu tiga puluh menit.”

Fontaine terus menatap ke arah VR. Tampaknya, dia sedang mempertimbangkan pilihannya.

“Direktur!” teriak Jabba. “Jika perisai-perisai pelindung itu hilang, setiap pengguna komputer di seluruh dunia akan bisa masuk ke bank data kita dengan mudah! Dan ini menyangkut rahasia-rahasia tingkat tinggi! Catatan tentang operasi rahasia! Agen-agen kita di luar negeri! Nama dan tempat tinggal setiap orang yang masuk dalam program perlindungan saksi! Kode konfirmasi untuk meluncurkan roket! Kita harus mematikannya! Sekarang!

Sang direktur kelihatan tidak bergeming. “Pasti ada caralain.”

“Ya,” sembur Jabba, “ada! Kode pemusnah! Tetapi satusatunya pria yang mengetahuinya telah mati!”

“Bagaimana dengan brute forcel” tanya Brinkerhoff. “Bisakah kita menebak kode pemusnah itu?”

Jabba mengempaskan lengannya. “Demi Tuhan! Kode pemusnah itu sama dengan kunci-kunci tersandi—acak! Tidak mungkin ditebak! Jika kau bisa mengetik 600 billiar kode dalam 45 menit, silakan!”

“Kode pemusnah itu ada di Spanyol,” kata Susan dengan lemah.

Setiap orang di podium berbalik. Itu hal pertama yang diucapkan perempuan itu sejak sekian lama.

Susan menengadah dengan mata berkaca-kaca. “Tankado memberikannya pada seseorang ketika dia meninggal.”

Setiap orang tampak bingung.

“Kunci sandi itu kata Susan dengan gemetar.

“Komandan Strathmore mengirim seseorang untuk mencarinya.”

“Dan?” tanya Jabba. “Apakah utusan Strathmore mendapa ikannya ?”

Susan berusaha menahan air matanya, tetapi tetap saja dia menangis. “Ya,” katanya tercekat. “Aku rasa begitu.”

***

111

SEBUAH TERIAKAN yang memekakkan telinga memenuhi seluruh ruang kendali. “Para hiu!” Itu teriakan Soshi.

Jabba berbalik ke arah VR. Dua garis tipis telah muncul dari arah luar lingkaran-lingkaran konsentris itu. Kedua garis itu tampak seperti sperma yang berusaha menembus sel telur.

“Mereka mencium darah, teman-teman!” Jabba berbalik ke arah Direktur. “Aku membutuhkan keputusan. Kita mematikan bank data, atau kita akan terlambat sama sekali. Segera setelah kedua penyusup ini melihat bahwa Bastion Host telah musnah, mereka akan meneriakkan seruan perang.”

Fontaine tidak bereaksi. Dia sedang memikirkan sesuatu. Berita dari Susan Fletcher bahwa kunci sandi itu berada di Spanyol seolah menjanjikan sesuatu baginya. Dia menatap Susan yang berada di bagian belakang. Wanita itu tampaknya tenggelam dalam dunianya sendiri. Susan terduduk di atas sebuah kursi, kepalanya dipangku oleh tangannya. Fontaine tidak tahu pasti apa yang menyebabkan reaksi itu, tetapi apa pun itu, Fontaine tidak punya waktu untuk mengurusnya sekarang.

“Aku membutuhkan keputusan!” pinta Jabba. “Sekarang!”

Fontaine menengadah. Dia berbicara dengan tenang. “Baiklah, kau mendapatkannya. Kita tidak akan mematikan bank data. Kita akan menunggu.”

Jabba menganga tidak percaya. “Apa? Tetapi itu adalah-”

“Sebuah taruhan,” sela Fontaine. “Sebuah taruhan yang mungkin bisa kita menangkan.” Dia mengambil telepon seluler Jabba dan menekan beberapa tombol. “Midge,” katanya. “Ini Leland Fontaine. Dengarkan dengan baik ….”

***

112

“SEMOGA ANDA tahu apa yang sedang Anda lakukan, Direktur,” desis Jabba. “Kita hamper kehilangan kesempatan untuk mematikannya.”

Fontaine tidak bereaksi.

Bagai diberi aba-aba, pintu di bagian belakang ruang kendali terbuka, dan Midge melangkah masuk. Wanita itu tiba dengan terengahengah di atas podium. “Direktur! Switchboard sedang melacaknya sekarang!”

Fontaine berbalik dengan penuh harap ke arah layar di dinding depan. Lima belas detik kemudian, layar berubah.

Pada mulanya, tampilan layar tampak bagaikan salju dan terlihat tidak alami. Tetapi secara perlahan gambar itu tampak makin tajam. Itu adalah transmisi digital yang menggunakan QuickTime—hanya lima tampilan per detik. Gambar itu menunjukkan dua orang pria. Vang satu pucat dengan potongan rambut yang sangat pendek. Yang satunya lagi pirang khas Amerika, ereka duduk menghadap kamera bagaikan dua pembaca berita di televisi yang sedang menunggu waktu tayang.

“Apa ini?” tanya Jabba.

“Duduk dengan tenang,” perintah Fontaine.

Kedua pria pada layar itu tampak berada di dalam sebuah mobil van. Kabel-kabel elektronik tampak tergantung di sekeliling mereka. Hubungan audio berderak dan tersambung. Tiba-tiba terderak suara latar yang gaduh.

“Suara yang masuk,” seorang teknisi berteriak dari belakang. “Lima menit lagi sebelum hubungan dua arah tersambung.”

“Siapa mereka?” tanya Brinkerhoff dengan gugup.

“Para pengawas,” balas Fontaine sambil menatap ke arah dua pria yang diutusnya ke Spanyol itu. Hal itu dilakukan untuk berjaga-jaga. Fontaine yakin akan hampir semua aspek dari rencana Strathmore—penyingkiran Tankado yang disayangkan tetapi harus dilaksanakan, penulisan ulang Benteng Digital—itu semua bisa dimengerti. Tetapi ada satu hal yang membuat Fontaine gelisah: keterlibatan Hulohot. Hulohot memang sangat ahli, tetapi pria itu adalah tentara bayaran. Apakah Hulohot bisa dipercaya? Akankah pria itu merampas kunci sandi itu untuk dirinya sendiri? Fontaine ingin agar Hulohot diawasi, untuk berjaga-jaga. Dan Fontaine telah mengambil tindakan yang dibutuhkan.

***

113

“SAMA SEKALI tidak bisa!” teriak pria yang berambut pendek di depan kamera. “Kami harus melapor kepada Direktur Leland Fontaine dan hanya kepada Leland Fontaine! Begitu perintah yang kami dapat.”

Fontaine tampak sedikit geli. “Kau tampaknya tidak kenal aku.”

“Tidak penting, bukan?” kata si pirang dengan sengit.

“Biar aku jelaskan,” sela Fontaine. “Biar aku jelaskan sesuatu sekarang.”

Beberapa detik kemudian, wajah kedua pria di dalam layar bersemu merah dan siap menceritakan segalanya kepada Direktur NSA. “Ddirektur,” kata si pirang tergagap, “Aku adalah Agen Coliander. Ini Agen Smith.”

“Baik,” kata Fontaine. “Ceritakan kepada kami dengan cepat.”

PADA BAGIAN belakang ruangan, Susan Fletcher terrduduk dan berjuang melawan rasa kesepian yang mencekat di sekelilingnya. Matanya terpejam dan telinganya berdenging. Susan terisak. Badannya telah menjadi mati rasa. Kekacauan di ruang kendali itu telah mereda dan berubah menjadi gumaman yang membosankan.

Kerumunan orang di atas podium mendengarkan dengan gelisah saat Agen Smith mulai bercerita.

“Atas perintah Anda, Direktur,” Smith memulai, “kami telah berada di Sevilla selama dua hari untuk membuntuti Mr. Ensei Tankado.”

“Ceritakan padaku tentang pembunuhan itu,” kata Fontaine dengan tidak sabar.

Smith mengangguk. “Kami melihatnya dari dalam mobil van pada jarak kira-kira lima puluh meter. Pembunuhan itu dilakukan dengan mulus. Tampaknya Hulohot seorang profesional.Tetapi setelah itu, dia tidak bisa melanjutkan apa yang diperintahkan kepadanya. Ada orang lain yang datang. Hulohot tidak sempat mengambil benda itu.”

Fontaine mengangguk. Kedua agen itu telah menghubunginya saat dia berada di Amerika Selatan dan mengabarkan soal ketidakberesan itu. Gara-gara itulah Fontaine langsung mengakhiri perjalanannya.

Coliander mengambil alih. “Kami membuntuti Hulohot sebagaimana yang Anda perintahkan. Tetapi pria itu tidak pernah bergerak mendekati kamar mayat. Sebaliknya, dia malah menguntit pria lain. Pria lain ini tampaknya dari pihak swasta. Dia mengenakan jas dan dasi.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.