Baca Novel Online

Digital Fortress

Mata Jabba masih terlihat terpukul ketika seseorang dari arah belakang ruangan mulai berteriak dengan liar.

“Jabba! Jabba!”

Orang itu adalah Soshi Kuta, kepala teknisi Jabba. Wanita itu berlari ke arah podium sambil membawa kertas hasil cetak yang panjang. Soshi tampak ketakutan.

“Jabba!” Sohi terengah. “Cacing itu … aku baru saja mengetahui cacing itu diprogram untuk apa!” Soshi menyodorkan kertas itu ke tangan Jabba. “Aku mendapatkannya dari program pemeriksaan kegiatan sistem! Kami mengisolasi perintah-perintah dari cacing itu—coba lihat programnya! Lihat apa yang direncanakan untuk dilakukannya!”

Dengan bingung, kepala Sys-Sec membaca hasil cetak itu. Kemudian, Jabba meraih pegangan agar tidak terjatuh.

“Oh, Tuhan,” kata Jabba terengah. “Tankado … bajingan kau!”

***

110

JABBA MENATAP kosong ke arah hasil cetak yang disodorkan Soshi. Dengan wajah pucat, Jabba mengelap keningnya dengan lengan bajunya. “Direktur, kita tidak mempunyai pilihan. Kita harus memutuskan sambungan listrik ke bank data.”

“Tidak bisa,” sahut Fontaine. “Hasilnya akan hancur berantakan.”

Jabba sadar bahwa sang direktur ada benarnya. Ada lebih dari tiga ribu koneksi ISDN yang tersambung dengan NSA dari seluruh penjuru dunia. Setiap hari, para komandan militer mengakses foto-foto instan tentang pergerakan musuh yang diambil oleh satelit. Para insinyur di Lockheed men-downhad potongan- potongan cetak biru senjata terbaru. Para petugas lapangan mengakses berita terbaru tentang misi mereka. Bank data NSA adalah tulang punggung pelaksanaan pemerintahan A.S. Mematikan bank data tanpa ada peringatan akan mengakibatkan kekacauan intelijen yang serius di seluruh dunia.

“Aku sadar akan akibatnya, Pak,” kata Jabba, “tetapi kita tidak memiliki pilihan lain.”

“Coba jelaskan,” perintah Fontaine. Sang direktur melirik cepat ke arah Susan yang sedang berdiri di sampingnya di atas podium. Tampaknya wanita itu sedang termenung.

Jabba menarik napas panjang dan mengelap alisnya lagi. Dari tampang Jabba, kerumunan di atas podium itu sadar mereka tidak akan menyukai apa yang akan dikatakannya.

“Cacing ini,” Jabba memulai. “Cacing ini bukanlah sebuah lingkaran degeneratif biasa. Cacing ini adalah sebuah lingkaran yang selektif. Dengan kata lain, cacing ini memiliki indra perasa.”

Brinkerhoff membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi Fontaine menyuruhnya diam dengan kibasan tangan.

“Program-program aplikasi yang paling berbahaya akan menghapus bersih sebuah bank data,” lanjut Jabba, “tetapi yang satu ini jauh lebih kompleks. Cacing ini hanya menghapus berkas-berkas yang berada pada jangkauan atau parameter tertentu.”

“Maksudmu, cacing ini tidak akan menyerang seluruh bank data?” tanya Brinkerhoff dengan penuh harap. “Itu bagus, bukan?”

“Tidak!” Jabba meledak. “Itu buruk! Itu benar-benar buruk!”

“Tenang!” perintah Fontaine. “Parameter apa yang diincar cacing ini? Militer? Operasi-operasi terselubung?”

Jabba menggeleng. Dia menatap Susan yang masih terlihat melamun. Kemudian, matanya bertemu dengan tatapan sang direktur. “Pak, seperti yang Anda tahu, setiap orang yang ingin berhubungan dengan bank data ini dari luar harus melewati serangkaian pintu jaga sebelum akhirnya diizinkan masuk.”

Fontaine mengangguk. Hierarki untuk mengakses bank data NSA dirancang dengan baik. Setiap orang yang berwenang dapat mengakses lewat internet dan jaringan global atau WWW. Mereka diizinkan mengakses ke bagian mereka masing-masing, bergantung dari urutan otorisasi.

“Karena kita terhubung ke internet global,” Jabba menjelaskan, “para hacker, pemerintah asing, dan hiu-hiu EFF berputar mengitari bank data ini selama 24 jam dan berusaha mendobrak masuk.”

“Ya,” kata Fontaine, “dan 24 jam sehari, penyaring-penyaring pengaman kita terus menghalangi mereka. Jadi, apa maksudmu?”

Jabba melihat ke arah hasil cetak itu lagi. “Maksudku adalah ini. Cacing Tankado tidak mengincar data kita.” Dia mendehem. “Cacing itu sedang mengincar penyaring-penyaring pengaman kita.”

Fontaine menjadi pucat. Tampaknya dia mengerti implikasinya—cacing ini mengincar penyaring-penyaring yang selama ini menjaga kerahasiaan bank data NSA. Tanpa penyaringpenyaring itu, semua informasi di dalam bank data bias diakses siapa saja.

“Kita harus mematikannya,” ulang Jabba. “Kira-kira satu jam lagi, setiap anak kelas tiga SD dengan sebuah modem akan bisa menembus bank data ini.”

Fontaine berdiri untuk beberapa lama tanpa mengatakan apa pun. Jabba menunggu dengan tidak sabar dan akhirnya berbalik kepada Soshi. “Soshi! VR! Sekarang!

Soshi langsung berlari.

Jabba sering bergantung pada VR. Di dalam kalangan pengguna komputer, VR berarti “virtual reality,” atau sebuah dunia maya yang diciptakan oleh komputer. Tetapi

di NSA, VR berarti vis-rep-visual representation, tampilan visual. Di dalam sebuah dunia yang penuh dengan para teknisi dan politisi, yang masing-masing memiliki tingkat pengertian yang berbeda terhadap hal-hal teknis, sebuah tampilan visual sering merupakan cara untuk menjelaskan suatu masalah. Jabba tahu,VR untuk krisis yang sedang berlangsung sekarang bisa menjelaskan persoalan itu dengan cepat.

“VR!” teriak Soshi dari sebuah komputer ke bagian belakang ruangan itu.

Sebuah diagram yang dibuat oleh komputer muncul di dinding di depan mereka. Susan menatap dengan pandangan kosong. Dia benar-benar terlepas dari kegilaan di sekelilingnya. Setiap orang di ruangan itu mengikuti pandangan Jabba ke arah layar di dinding.

Diagram di depan mereka tampak bagaikan ling-karanlingkaran untuk membidik. Di bagian tengah ada sebuah lingkaran merah bertanda DATA. Di sekeliling bagian tengah itu ada lima lingkaran yang konsentris dengan ketebalan dan warna yang berbeda. Lingkaran paling luar berwarna pucat, hampir tembus pandang.

“Kita memiliki lima tingkat pertahanan,” Jabba menjelaskan. “Sebuah Bastion Host primer, dua set paket penyaring untuk FTP dan X-sebelas, sebuah blok terowongan, dan akhirnya sebuah program otorisasi berdasar PEM tepat di bawah proyek Truffel. Perisai paling luar adalah Bastion Host yang sedang terancam. Perisai itu hampir hilang. Dalam satu jam, kelima perisai itu akan hilang. Setelah itu, seluruh dunia akan mengalir masuk. Setiap bit data di dalam NSA akan menjadi milik publik.”

Fontaine mempelajari VR. Matanya tampak marah.

Brinkerhoff mengeluarkan suara rintihan lemah. “Cacing ini bisa membuka bank data kita untuk dunia?”

“Ini bagaikan mainan bagi Tankado,” bentak Jabba. “Gauntlet adalah pelindung cadangan kita. Strathmore telah mengacaukannya.”

“Ini tindakan perang,” bisik Fontaine dengan nada getir.

Jabba menggeleng. “Aku benar-benar ragu jika Tankado bermaksud sampai sejauh ini. Aku rasa dia berencana untuk menghentikannya.”

Fontaine menatap ke arah layar dan memerhatikan bahwa lapisan pertama dari kelima lingkaran itu telah hilang sama sekali.

“Bastion Host sudah musnah!” teriak seorang teknisi dari arah belakang ruangan. “Perisai kedua terancam!”

“Kita harus segera mulai mematikan sambungan listrik,” desak Jabba. “Dari apa yang tampak pada VR, kita hanya punya 45 menit. Proses mematikannya adalah rumit.”

Bank data NSA dirancang sedemikian rupa agar mesin itu jangan sampai kehilangan tenaga listrik—secara tidak sengaja atau bila diserang. Mesin penyokong ganda untuk telepon dan tenaga listrik terkubur di dalam ruangan beton yang dipadatkan jauh di dalam tanah. Sebagai tambahan, NSA juga disokong beberapa cadangan listrik utama milik umum. Proses mematikan mencakup serangkaian konfirmasi dan prosedur yang kompleks— jauh lebih kompleks daripada proses peluncuran nuklir kapal selam.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.