Baca Novel Online

Digital Fortress

***

108

PUSAT KENDALI bank data utama milik NSA terlihat seperti ruang kendali misi NASA dalam ukuran yang lebih kecil. Ada selusin computer yang menghadap dinding video seluas 30 x 40 kaki pada bagian ujung ruang itu. Pada layar, angka-angka dan diagram bergerak cepat, muncul dan menghilang seolah-olah seseorang sedang memindahkan saluran televisi. Sekumpulan teknisi, dengan kertas hasil cetakan yang panjang di tangan, bergerak cepat mondar-mandir dari satu komputer ke komputer lain dan meneriakkan perintah-perintah. Suasananya hiruk pikuk.

Susan menatap fasilitas yang mencengangkan itu. Dia hampir tidak ingat bahwa 250 ton tanah telah digali untuk menciptakan tempat ini. Ruangan tersebut berada 214 kaki di bawah tanah. Tempat itu aman dari ledakan bom dan nuklir.

Jabba berdiri pada bagian yang lebih tinggi di tempat komputer-komputer itu. Dia meneriakkan perintah dari tempatnya berada bagai seorang raja yang memberikan titah kepada para hambanya. Sebuah pesan terpampang pada layar persis dibelakang Jabba. Pesan itu begitu akrab untuk Susan. Teks seukuran baliho itu menggantung di atas kepala Jabba.

HANYA KEBENARAN YANG BISA MENYELAMATKAN KALIAN SEKARANG

MASUKKAN KUNCI SANDI

Seolah terjebak di dalam sebuah mimpi buruk, Susan mengikuti Fontaine ke arah podium. Dunia di sekitarnya

seolah bergerak dengan lambat dan kabur.

Jabba melihat kedatangan mereka dan berbalik

bagaikan seekor banteng yang mengamuk. “Aku membuat

Gauntlet untuk sebuah tujuan!”

“Gauntlet telah musnah,” balas Fontaine dengan tenang.

“Berita basi, Direktur,” semprot Jabba. “Di mana Strathmore?”

“Komandan Strathmore telah tewas.” “Benar-benar adil!”

“Tenang, Jabba,” perintah sang direktur. “Cepat beri tahu kami, seberapa ganasnya virus ini?”

Jabba menatap sang direktur agak lama, dan tanpa peringatan, tawanya meledak. “Virus?” Suara tawanya yang serak bergema ke seluruh ruang bawah tanah itu. “Apakah itu yang Anda anggap sedang terjadi?”

Fontaine tetap tenang. Kekurangajaran Jabba sudah melewati batas, tetapi dia sadar bukan saat dan tempatnya sekarang untuk menangani masalah itu. Di tempat ini, Jabba lebih berkuasa daripada Tuhan. Masalah-masalah computer tidak bisa ditangani dengan serangkaian perintah normal.

“Jadi, bukan virus?” seru Brinkerhoff dengan penuh harap.

Jabba mendengus dengan kesal. “Virus mempunyai rangkaian-rangkaian replika, anak manis! Yang ini tidak!”

Susan berjalan mendekat. Dia tidak bisa berkonsentrasi.

“Lalu apa yang sedang terjadi?” tanya Fontaine. “Kupikir kita terserang virus.”

Jabba menarik napas panjang dan merendahkan suaranya. “Virus katanya sambil mengelap keringat dari wajahnya. “Virus bisa bereproduksi. Mereka menciptakan klon. Virus itu congkak dan bodoh—rangkaian biner yang egois. Virus menghasilkan anak lebih cepat daripada kelinci. Itu kelemahan virus—kau bisa mengawin-silangkan sebuah virus sampai musnah kalau tahu caranya. Sialnya, program ini tidak egois dan tidak merasa perlu untuk bereproduksi. Program ini mampu berpikir jernih dan terfokus. Sebenarnya, kalau program itu sudah menyelesaikan tugasnya di sini, dia akan membunuh dirinya sendiri secara digital.” Jabba menunjuk ke arah kekacauan yang tampil pada layar besar di belakangnya. “Para hadirin.” Jabba mendesah. “Perkenalkan penyusup komputer yang bisa melakukan kamikaze … si cacing.”

“Cacing?” Brinkerhoff mengerang. Istilah itu terdengar terlalu biasa untuk sebuah penyusup yang berbahaya.

“Cacing,” kata Jabba dengan marah. “Tidak ada struktur yang rumit. Hanya naluri—makan, buang air, merangkak. Seperti itu. Sangat sederhana. Sederhana dan mematikan. Ia melakukan apa yang sudah diprogram untuk dilakukannya dan kemudian keluar.”

Fontaine menatap Jabba dengan tajam. “Dan cacing ini diprogram untuk melakukan apa?”

“Tidak tahu,” balas Jabba. “Sekarang, ia menyebar dan menempel pada semua data rahasia kita. Setelah itu, ia bias melakukan apa saja. Ia bisa saja memutuskan untuk menghapus semua berkas, atau ia bisa saja memutuskan untuk mencetak gambar-gambar wajah bulat yang tersenyum di atas salah satu transkrip Gedung Putih.”

Suara Fontaine tetap tenang dan terkendali. “Bisakah kau menghentikannya?”

Jabba mendesah panjang dan menatap layar. “Aku tidak tahu. Semuanya tergantung dari seberapa kesalnya pembuat program ini.” Jabba menunjuk ke arah pesan yang ada di layar. “Ada yang mau memberitahukan apa maksudnya itu?”

HANYA KEBENARAN YANG BISA

MENYELAMATKAN KALIAN SEKARANG

MASUKKAN KUNCI SANDI

Jabba menanti sebuah jawaban dan tidak mendapatkan apa-apa. “Kelihatannya ada yang sedang mempermainkan kita, Direktur. Pemerasan. Ini pesan untuk meminta tebusan.”

Suara Susan terdengar seperti sebuah bisikan dan kosong. “Itu … Ensei Tankado.”

Jabba berbalik ke arah Susan. Dia menatap Susan sesaat dengan mata terbelalak. “Tankado?”

Susan mengangguk lemah. “Dia ingin kita mengaku … tentang TRANSLTR … tetapi hal ini merenggut-”

“Pengakuan?” sela Brinkerhoff yang terlihat terkejut. “Tankado ingin kita mengaku bahwa kita memiliki TRANSLTR? Aku rasa hal itu sudah terlambat!”

Susan membuka mulut untuk berbicara, tetapi Jabba mendahuluinya. “Kelihatannya Tankado memiliki sebuah kode pemusnah,” katanya sambil menatap pesan pada layar itu.

Setiap orang berbalik.

“Kode pemusnah?” tanya Brinkerhoff.

Jabba mengangguk. “Ya. Sebuah kunci sandi yang akan menghentikan cacing itu. Secara gampangnya, jika kita mengakui bahwa kita memiliki TRANSLTR, Tankado akan memberi kita sebuah kode pemusnah. Kita mengetik kode itu dan menyelamatkan bank data. Selamat datang di era pemerasan secara digital.

Fontaine berdiri membatu dan tidak bergerak. “Berapa banyak waktu yang kita miliki?”

“Sekitar satu jam,” kata Jabba. “Cukup untuk mengadakan sebuah konferensi pers dan mengakui semuanya.”

“Rekomendasi,” pinta Fontaine. “Menurutmu apa yang bisa kita lakukan?”

“Sebuah rekomendasi?” seru Jabba dengan tidak percaya. “Anda menginginkan sebuah rekomendasi? Saya akan memberi Anda sebuah rekomendasi! Anda berhenti bermain-main, itu yang harus Anda lakukan!”

“Tenang,” kata Direktur memperingatkan Jabba.

“Direktur,” kata Jabba. “Sekarang, Ensei Tankado menguasai bank data ini! Berikan apa pun yang dia inginkan. Jika dia ingin dunia tahu tentang TRANSLTR, hubungi CNN, dan bukalah segalanya. Lagi pula, sekarang TRANSLTR hanyalah sebuah lubang di tanah—apa peduli Anda sekarang?”

Semua terdiam. Fontaine tampaknya sedang menim-bangnimbang pilihannya. Susan mulai berbicara, tetapi Jabba kembali mengalahkannya.

“Anda menunggu apa lagi, Direktur! Telepon Tankado! Katakan padanya bahwa Anda akan menuruti permainannya! Kita membutuhkan kode pemusnah itu, atau seluruh tempat ini akan hancur!”

Tidak ada yang bergerak.

“Apakah kalian semua gila?” jerit Jabba. “Hubungi Tankado! Katakan padanya kita menyerah! Berikan kode pemusnah itu padaku! SEKARANG!” Jabba mengeluarkan telepon selulernya dan menyalakannya. “Sudahlah! Beri aku nomornya! Aku akan menghubungi bajingan kecil itu sendiri \”

“Tidak usah repot-repot,” bisik Susan. “Tankado sudah mati.”

Setelah bingung dan terkejut selama beberapa saat,

Jabba mulai mengerti. Dia merasa terhantam peluru.

Petugas Sys-Sec yang bertubuh besar itu terlihat hendak

roboh. “Mati? Tetapi lalu … itu berarti … kita tidak bisa ii

“Itu berarti kita membutuhkan rencana baru,” kata Fontaine apa adanya.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.