Baca Novel Online

Digital Fortress

Tiba-tiba dia melihatnya.

Tombol untuk memanggil lift itu tidak mati—tombol itu hanya tertutup oleh abu hitam. Sekarang tombol itu menyala lemah di bawah noda jari Susan yang hitam.

Ternyata ada sambungan listrik!

Dengan harapan yang menggelora, Susan menekan tombol itu dengan keras. Berulang kali terdengar suara di balik pintu lift itu. Dia bisa mendengar suara kipas ventilasi di dalam gerbong lift itu. Gerbong itu ada di sini. Kenapa pintu sialan ini tidak mau terbuka?

Di antara asap, Susan melihat ada sebuah keypad kedua yang berukuran lebih kecil—dengan tombol-tombol bertuliskan huruf-huruf, dari A sampai Z. Dengan putus asa, Susan teringat sesuatu. Kata kunci.

ASAP MULAI bergulung masuk melalui bingkai jendela yang meleleh. Susan kembali menggedor pintu lift. Tetapi pintu itu tidak mau membuka. Kata kunci itu, pikir Susan. Strathmore tidak pernah memberitahuku kata kunci itu,’ Asap silicon mulai memenuhi ruang kantor itu. Dengan tercekat, Susan terpuruk kalah di depan lift. Kipas ventilasi berputar beberapa kaki dari dirinya. Dia tergeletak, bingung dan kehabisan napas.

Susan menutup matanya, tetapi suara David kembali membangunkannya. Lari, Susan! Buka pintunya! Lari! Susan membuka matanya sambil berharap melihat wajah David, matanya yang hijau liar, dan senyumannya yang nakal. Tetapi yang terlihat cuma huruf-huruf dari A sampai Z. Kata kunci itu ….

Susan memandang huruf-huruf pada keypad itu. Dirinya hampir tidak bisa melihat dengan jelas. Pada tampilan layer di bagian bawah keypad terdapat lima garis kosong yang sedang menanti diisi dengan huruf yang tepat.

Kata kunci itu terdiri atas iima karakter, iima huruf, piker Susan. Dia langsung menyadari masalahnya: 26 pangkat S. Ada 11.881.376 pilihan. Dengan setiap terkaan per detik, maka dibutuhkan sembilan belas minggu ….

KETIKA SUSAN tercekat dan terbaring di atas lantai di bawah keypad, dia mendengar suara sang komandan yang menyedihkan. Aku mencintaimu, Susan! Aku selalu mencintaimu! Susan! Susan! Susan! ….

Susan tahu bahwa Strathmore telah mati, tetapi suaranya terus menggema. Susan mendengar namanya sendiri berulang kali:

Susan … Susan ….

Kemudian, Susan tersadar.

Dengan agak gemetar, dia bergerak ke arah keypad dan mengetik sebuah kata kunci. S…U…S…A…N Pintu lift langsung terbuka.

***

108

LIFT STRATHMORE melaju turun dengan cepat. Di dalam gerbong lift itu, Susan menarik napas panjang untuk menghirup udara segar ke dalam paru-parunya. Dalam keadaan bingung, Susan bersandar pada dinding gerbong saat lift itu memperlambat gerakannya untuk berhenti. Tidak lama kemudian, terdengar tuas gigi lift itu berbunyi dan kabel penarik lift bergerak lagi, kali ini secara horizontal. Susan merasa gerbong itu bergerak semakin cepat saat melaju

ke arah bangunan utama NSA. Akhirnya gerbong itu berhenti dan pintunya terbuka.

Dengan terbatuk, Susan menghambur keluar menuju sebuah lorong semen yang gelap. Sekarang dia berada di dalam sebuah terowongan—berlangit-langit rendah dan sempit. Ada sepasang garis kuning yang membentang di depannya. Garis itu menghilang dalam lubang kosong yang gelap.

Jalan bawah tanah ….

Susan berjalan terhuyung ke arah terowongan itu sambil memegang bagian dinding sebagai acuan. Di belakangnya, pintu lift itu menutup. Sekali lagi, Susan Fletcher terjebak di dalam kegelapan. Sunyi.

Tidak terdengar apa-apa selain deruman lembut pada dinding.

Deruman itu bertambah keras.

Mendadak, bagaikan matahari yang menyingsing, kegelapan itu berubah menjadi kabut kelabu. Kemudian, sebuah kendaraan kecil muncul dari balik tikungan. Lampu depan kendaraan itu membuat mata Susan menjadi silau. Dia terhenyak ke dinding dan memayungi matanya dengan tangannya. Terasa ada terpaan angin, dan kendaraan itu pun melintas.

Tak lama kemudian terdengar decitan karet di atas semen. Suara deruman itu mendekat lagi. Kali ini berbalik arah. Beberapa detik kemudian, kendaraan itu berhenti di samping Susan.

“Ms. Fletcher!” seru sebuah suara penuh rasa kaget.

Susan menatap ke sosok yang secara sekilas terlihat cukup akrab itu. Pria itu duduk di belakang setir sebuah kereta golf listrik.

“Astaga,” kata pria itu terengah. “Anda baik-baik saja? Kami pikir Anda sudah tewas!”

Susan menatap kosong.

“Chad Brinkerhoff,” seru pria itu sambil memerhatikan tampang kriptografer yang terpukul itu. “Pembantu Umum Direktur.”

Dengan lemah dan bingung, Susan hanya bisa meng-ucapkansepatah kata, “TRANSLTR

Brinkerhoff mengangguk. “Lupakan itu. Ayo naik.”

LAMPU DEPAN kereta golf itu menyinari dinding semen di sepanjang lorong itu.

“Ada virus di dalam bank data utama,” kata Brinkerhoff.

“Aku tahu,” Susan berbisik.

“Kami membutuhkan pertolongan Anda.”

Susan berusaha untuk membendung tangisannya. “Strathmore … dia ….

“Kami tahu,” kata Brinkerhoff. “Dia telah memotong jalan Gauntlet.”

“Ya … dan Kata-kata Susan tersangkut di tenggorokannya. Dia telah membunuh David.

Brinkerhoff meletakkan sebelah tangannya di atas pundak Susan. “Hampir sampai, Ms. Fletcher. Bertahanlah.”

KERETA GOLF Kensington berkecepatan tinggi itu berbelok di sebuah sudut dan berhenti. Di samping mereka, tegak lurus terhadap terowongan itu, terdapat sebuah lorong dengan lantai yang disinari lampu merah. “Mari,” kata Brinkerhoff sambil membantu tamunya turun dari kendaraan itu.

Brinkerhoff membimbing Susan menuju lorong itu. Susan mengikuti Brinkerhoff dalam keadaan bingung. Lantai lorong itu turun curam. Susan berpegangan pada besi di sisi dinding dan membuntuti Brinkerhoff turun. Udara mulai terasa sejuk. Mereka turun terus.

Saat mereka masuk lebih dalam ke perut bumi, lorong itu menyempit. Dari suatu tempat di belakang mereka terdengar langkah-langkah kaki yang kuat dan mantap. Suara langkah itu bertambah keras. Brinkerhoff dan Susan berhenti dan berbalik.

Seorang pria hitam besar melangkah mendekat. Susan belum pernah melihat pria itu sebelumnya. Setelah pria itu mendekat, dia melihat Susan dengan tajam.

“Siapa dia?” tanya pria itu.

“Susan Fletcher,” jawab Brinkerhoff.

Pria besar itu mengangkat alisnya. Walaupun tertutup abu dan basah kuyup, Susan Fletcher lebih menarik dari yang pernah dibayangkannya. “Dan komandan?” tanya pria hitam itu.

Brinkerhoff menggeleng.

Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Setelah menatap beberapa saat, dia berbalik kepada Susan. “Leland Fontaine,” katanya sambil menyodorkan tangannya. “Aku senang kau baikbaik saja.”

Susan menatapnya. Dia tahu bahwa suatu saat dia akan bertemu dengan sang direktur, tetapi saat seperti ini bukanlah yang pernah dibayangkannya.

“Mari, Ms. Fletcher,” kata Fontaine sambil memimpin jalan. “Kami membutuhkan bantuan Anda.”

DI UJUNG lorong yang berkabut merah itu terdapat sebuah dinding besi yang menghalangi jalan mereka. Fontaine mendekat dan mengetik kode di dalam kotak sandi yang berada dalam sebuah ceruk. Kemudian, pria itu meletakkan tangan kanannya di atas sebuah panel kaca kecil. Terlihat sebuah kilatan cahaya. Tak lama kemudian, dinding lebar itu bergeser ke kiri.

Hanya ada satu ruangan di dalam NSA yang lebih keramat dari Crypto, dan Susan merasa dirinya akan segera memasuki ruangan tersebut.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.