Baca Novel Online

Digital Fortress

DENGAN GERAKAN lambat, Strathmore ber-balik ke arah Susan. Wanita itu berdiri tidak berdaya di samping pintu Crypto. Strathmore melihat ke wajah Susan yang berlinang air mata. Dia terlihat berkilau di dalam cahaya. Dia malaikat, pikir Strathmore. Strathmore mencari ketenangan di dalam mata kepala-kriptografer itu, tetapi yang bisa dilihatnya hanyalah kematian. Impian yang selama ini membuat Strathmore bertahan selama bertahun-tahun, sekarang sudah sirna. Dia tidak akan pernah memiliki Susan Fletcher. Tidak akan pernah. Kehampaan yang secara mendadak menyerang Strathmore itu terasa sangat menyesakkan.

Susan melirik sekilas ke arah TRANSLTR. Dia tahu bahwa sebuah bola api yang terperangkap di dalam cangkang keramikkomputer itu sedang bergolak ke arah mereka. Susan merasa bola api itu bergerak semakin cepat sambil melahap oksigen yang dilepaskan oleh cip yang terbakar. Dalam sekejap, kubah Crypto akan menjadi sebuah neraka yang membara.

Akalnya menyuruh dirinya untuk berlari, tetapi ke-matian David menekan dirinya. Susan merasa mendengar suara David memanggil namanya, menyuruhnya untuk kabur, tetapi tidak ada tempat baginya untuk pergi. Crypto adalah sebuah makam yang terkunci. Tak masalah. Bayangan kematian tidak membuat Susan takut. Kematian akan menghilangkan rasa sakit. Dia akan bersama David lagi.

Lantai Crypto mulai bergetar, seolah seekor monster laut akan keluar dari kedalaman di bawahnya. Suara David terdengar berteriak. Lari, Susan! Lari! Strathmore sekarang bergerak ke arah Susan. Wajahnya seolah terkenang masa lalu. Matanya yang kelabu tampak mati. Seorang patriot yang pernah hidup di dalam pikiran Susan kini telah mati—yang ada hanyalah seorang pembunuh. Lengan Strathmore tiba-tiba merangkul Susan lagi, memeluknya dengan putus asa. Strathmore mencium pipi Susan. “Maafkan aku,” pinta Strathmore. Susan berusaha menarik dirinya, tetapi Strathmore menahannya.

TRANSLTR mulai bergetar keras bagaikan peluru yang siap meluncur. Lantai Crypto mulai bergoyang. Strathmore memeluk Susan lebih erat lagi. “Peluk aku, Susan. Aku membutuhkanmu.”

Rasa marah yang hebat menggelora di sekujur tubuh Susan. Suara David memanggil lagi. Aku mencintaimu. Larilah! Dengan sekuat tenaga, Susan membebaskan dirinya. Raungan TRANSLTR semakin memekakkan telinga. Api sudah mencapai puncak komputer itu. TRANSLTR mengerang. Setiap sambungannya meretas.

Suara David bagaikan mengangkat dan membimbing Susan. Dia berlari melintasi lantai Crypto dan menaiki tangga ke arah ruang kantor Strathmore. Di belakangnya, TRANSLTR mengeluarkan sebuah raungan yang sangat keras.

Saat cip silikon terakhir hancur, sebuah gelombang panas yang hebat mendobrak bagian atas penutup TRANSLTR dan mengakibatkan kepingan keramik berhamburan di udara. Serentak, udara Crypto yang kaya akan oksigen tersedot masuk ke dalam tabung TRANSLTR yang hampa udara.

Susan mencapai tempat landai pada tangga dan meraih pegangan ketika terpaan angin kencang menghantam badannya. Angin itu memutar badannya tepat pada waktunya sehingga dia bisa melihat sang wakil direktur operasional jauh di lantai bawah. Strathmore sedang berada di sebelah TRANSLTR, menatapnya dari bawah. Badai sedang berkecamuk di sekeliling Strathmore, tetapi pada mata pria itu terlihat kedamaian. Bibirnya terbuka, dan dia mengucapkan sebuah kata terakhir. “Susan.”

Udara yang mengalir masuk ke dalam TRANSLTR bergesekan dengan Strathmore dan terbakar. Dengan sebuah kobaran api yang besar, Komandan Strathmore berubah wujud, dari seorang pria, menjadi sebuah bayangan, dan akhirnya sebuah legenda.

Saat ledakan itu menghantam Susan, badannya terlontar ke belakang sejauh lima belas kaki dan masuk ke dalam ruang kantor Strathmore. Yang bisa diingatnya hanyalah rasa panas yang membakar.

***

106

PADA JENDELA di dalam ruang konferensi direktur, jauh di atas kubah Crypto, tampak tiga wajah yang menahan napas. Ledakan itu telah menggetarkan seluruh komplek NSA. Leland Fontaine, Chad Brinkerhoff, dan Midge Milken menatap dalam kesunyian yang mencekam.

Tujuh puluh kaki di bawah, kubah Crypto berkobar. Atap kubahnya yang terbuat dari bahan polikarbonat masih utuh, tetapi di bawah cangkang yang tembus pandang itu, api bergolak hebat. Asap hitam berputar seperti kabut di dalam kubah.

Ketiga orang itu menatap ke bawah tanpa sepatah kata pun. Pemandangan itu luar biasa dan mengerikan.

Fontaine berdiri terpekur cukup lama. Akhirnya, dia berbicara. Suaranya pelan tetapi mantap. “Midge, kirimkan kru ke sana … sekarang.”

Di seberang ruangan, telepon Fontaine berdering.

Dari Jabba.

107

SUSAN TIDAK tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Rasa terbakar di tenggorokannya membuat dirinya tersadar. Dengan bingung, Susan melihat keadaan sekelilingnya. Dia berada di atas karpet di belakang sebuah meja. Satu-satunya cahaya di ruangan itu adalah kilatan berwarna oranye yang aneh. Udara berbau plastic terbakar. Tempat dirinya berada sama sekali tidak berbentuk ruangan lagi. Tempat itu adalah sebuah cangkang yang hancur. Tirai-tirai terbakar, dan dinding dari bahan kaca plexi hangus.

Kemudian, Susan teringat semuanya. David.

Dengan rasa panik yang meningkat, perempuan itu berusaha bangkit berdiri. Udara terasa membakar saluran pernapasannya. Sambil berusaha mencari jalan keluar, Susan terhuyung ke arah pintu. Ketika dia melintasi ambang pintu, kakinya berayun di atas jurang dalam yang menganga. Dia meraih bingkai pintu tepat pada waktunya. Jalan sempit di depan pintu telah hilang. Jalan yang terbuat dari besi itu rubuh, terpelintir, masih membara, dan teronggok lima puluh kaki di bawah. Susan melihat ke arah lantai Crypto dengan ngeri. Tempat itu bagaikan lautan api. Sisa cip silicon yang meleleh terlontar keluar dari TRANSLTR bagaikan lahar. Asap tebal berbau tajam membubung ke atas. Susan mengenali bau itu. Asap silikon. Racun yang mematikan.

Saat dia mundur kembali ke dalam reruntuhan ruang kantor Strathmore, Susan mulai merasa akan pingsan. Tenggorokannya panas. Seluruh tempat itu dipenuhi oleh cahaya membara. Crypto sedang sekarat. Demikian juga aku, pikir Susan.

Untuk sejenak, Susan mempertimbangkan untuk menggunakan satu-satunya jalan keluar yang ada—lift Strathmore. Tetapi dia tahu hal itu sia-sia. Tidak ada alat elektronik yang bisa bertahan dari ledakan itu.

Tetapi saat dia bergerak di antara asap tebal, dia teringat pada kata-kata Hale. Lift itu bekerja dengan tenaga listrik dari bangunan utama! Aku sudah melihat denahnya! Susan tahu bahwa hal itu benar.

Dia juga tahu bahwa seluruh lorong lift itu dibuat dari beton yang dipadatkan.

Asap berputar di sekeliling Susan. Dengan terhuyung dia menembus asap menuju lift tersebut. Tetapi setelah sampai di depan alat itu, dia melihat tombol untuk memanggil lift itu gelap. Dia menekan tombol itu dengan sia-sia. Susan terjatuh di atas lututnya dan menggedor pintu lift itu. Dia kemudian berhenti mendadak. Sesuatu bergerak di belakang pintu lift. Dengan perasaan terkejut, Susan menengadah. Kedengarannya, gerbong lift itu ada di situ! Susan menekan tombol itu lagi. Dan kembali terdengar suara di balik pintu.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.