Baca Novel Online

Digital Fortress

Sambil bergantung di luar jendela, Becker berterima kasih kepada Tuhan bahwa latihan squash-nya setiap hari meliputi latihan dengan mesin Nautilus selama dua puluh menit untuk membentuk otot lengan agar pukulan ouer-head-nya lebih baik. Malangnya, walaupun lengannya kuat, Becker sekarang kesulitan menarik tubuhnya kembali ke atas. Pundaknya seolah terbakar. Sisi kirinya seolah robek terbuka. Bingkai jendela berbatu tajam itu tidak memberikan pegangan yang memadai tetapi malah memarut jemarinya bagaikan beling.

Becker sadar bahwa tinggal sebentar lagi sebelum penyerangnya berlari turun dan atas. Dan arah atas, sang pembunuh pasti akan melihat jemarinya pada bingkai jendela.

Dauid Becker memejamkan matanya dan mendorong ke atas. Dia sadar dia butuh mukjizat untuk tetap hidup. Jemarinya kehilangan kekuatan. Dia melihat ke bawah melewati kakinya yang terjuntai. Jarak ke pohon-pohon jeruk di bawah sama dengan panjang lapangan sepak bola. Benar-benar mematikan. Rasa sakit di bagian sisinya bertambah parah. Langkah-langkah kaki yang menuruni tangga bergemuruh dan bagian atas. Becker menutup matanya. Sekarang atau tidak sama sekali. Dia menggemeretakkan giginya dan mendorong ke atas.

Batu-batu tajam merobek kulit pergelangan tangannya saat dia menyentakkan dirinya ke atas. Suara langkah-langkah kaki mendekat dengan cepat. Becker meraih bagian dalam jendela itu sambil berusaha memantapkan pegangannya. Dia menjejakkan kakinya. Dia mengangkat badannya dengan sokongan sikutnya. Sekarang dia bisa melihat ke dalam. Kepalanya masuk separuh melewati jendela bagaikan seseorang di bawah mesin guilotin. Becker menyepakkan kakinya sambil berusaha melontarkan badannya masuk. Separuh badannya Becker sudah masuk. Tubuh bagian atasnya tergantung di atas anak tangga. Langkah-langkah kaki semakin mendekat. Becker menggapai bagian dalam di bawah tangga itu dan, dengan satu lontaran, tubuhnya meluncur masuk. Becker menghantam tangga dengan keras.

HULOHOT MERASAKAN badan Becker menghantam lantai di bawahnya. Dia meloncat maju dengan pistol teracung. Dia melihat sebuah jendela. Itu dia! Hulohot bergerak ke sisi luar jendela itu dan membidik ke arah bawah tangga. Kaki-kaki Becker terlihat menghilang di sisi yang melengkung. Hulohot menembak dengan putus asa. Peluru itu terbang ke bawah tangga.

Saat Hulohot berlari turun tangga untuk mengejar buruannya, dia menempel pada dinding luar menara agar bias mendapatkan arah pandangan terluas. Ketika anak tangga berputar itu terlihat di hadapannya, si buron tampaknya selalu berada ISO derajat di depan, selalu terhalang. Becker mengambil jalan dekat dinding dalam, memotong setiap sudut dan melompati empat sampai lima anak tangga sekali turun. Hulohot membuntuti dan belakang. Tinggal sekali tembak. Hulohot berada di atas angin. Dia tahu, bahkan saat mencapai dasar tangga, Becker tidak bisa lari ke mana-mana. Dia bisa menembak punggung Becker saat pria itu melintasi teras terbuka. Pengejaran seru itu berputar menuruni tangga.

Hulohot bergerak ke sisi dalam agar lebih cepat. Dia bisa melihat bayangan Becker setiap kali mereka melewati sebuah jendela. Turun. Turun. Berputar. Kelihatannya jaraknya dengan Becker tinggal sedikit lagi. Hulohot mengawasi bayangan Becker dengan sebelah mata dan yang sebelah lagi mengawasi anak tangga.

Mendadak, Hulohot melihat bayangan Becker terjengkang. Bayangan itu dengan kacau terhuyung ke km dan kelihatan seperti berputar di udara dan meluncur ke tengah lorong tangga. Hulohot meloncat maju. Aku mendapatkannya!

Pada anak tangga di depan Hulohot terdapat sebatang besi. Besi itu mendadak muncul di udara dan sebuah sudut, terhunus ke depan bagaikan pedang anggar pada ketinggian mata kaki. Hulohot berusaha berkelit ke km, tetapi terlambat. Benda itu berada di antara pergelangan kakinya. Kaki belakang Hulohot bergerak maju dan mengenai besi itu dengan keras. Besi itu menghantam tulang kering Hulohot. Tangannya terbentang untuk berpegangan tetapi dia hanya mendapati udara kosong. Mendadak Hulohot melayang, dan berputar di udara. Saat dia melayang turun, dirinya melewati Becker yang tertelungkup. Lengan Becker terjulur. Batang besi tempat lilin di tangannya terjebak di antara kaki Hulohot saat pembunuh itu berputar turun.

Hulohot menabrak dinding luar dan kemudian menghantam anak tangga. Ketika akhirnya mencapai lantai bawah, badannya terguling. Senjatanya terjatuh di lantai. Badannya tetap berguling 360 derajat selama lima kali sebelum akhirnya berhenti.

***

101

DAVID BECKER belum pernah memegang pistol sebelumnya, tetapi sekarang dirinya sedang melakukannya. Badan Hulohot terpelintir di dalam kegelapan di dekat tangga Giralda. Becker menekan laras pistol itu pada pelipis penyerangnya dan, dengan hati-hati, dirinya berjongkok. Jika ada satu gerakan saja, Becker akan menembak. Tetapi tidak ada gerakan. Hulohot telah tewas.

Becker menjatuhkan pistol itu dan terpuruk di atas tangga. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Becker merasakan air matanya menggenang. Dia berusaha menahannya. Dia sadar bahwa waktu untuk menumpahkan emosinya bukan sekarang. Sekarang adalah waktunya pulang. Becker berusaha berdiri, tetapi badannya terlalu lelah untuk bergerak. Becker duduk beberapa saat di atas tangga batu itu.

Secara tidak sadar, Becker memerhatikan badan yang terpelintir di depannya. Mata sang pembunuh tidak menunjukkan ekspresi apaapa. Tatapannya kosong. Entah bagaimana, kacamatanya masih berada pada tempatnya. Kacamata itu berbentuk aneh, pikir Becker. Ada sebuah kawat yang menonjol dari gagang di belakang telinganya dan kawat tipis itu terhubung pada sebuah kotak kecil di bagian ikat pinggangnya. Becker terlalu lelah untuk merasa penasaran.

Sambil terduduk di tangga dan mengingat apa yang telah terjadi, dia mengalihkan perhatiannya pada cincin yang melingkar di jarinya. Penglihatannya telah kembali jernih dan dia akhirnya bisa membaca ukiran pada cincin itu. Seperti yang telah diduga, ukiran itu bukan dalam bahasa Inggris. Becker menatap ukiran itu untuk beberapa saat dan kemudian mengernyit. Pantaskah karena benda ini orang melakukan pembunuhan?

MATAHARI PAGI sangat menyilaukan ketika akhirnya Becker melangkah keluar dari Giralda menuju teras luar itu. Rasa sakit pada bagian sisinya mulai mereda, dan pandangannya telah kembali berfungsi normal. Karena bingung, Becker berdiri sesaat sambil menikmati wanginya bunga-bunga jeruk. Kemudian, dia bergerak dengan pelan menyeberangi teras itu.

Saat Becker melangkah pergi, sebuah van berhenti tak jauh dari sana. Dua pria meloncat keluar dari kendaraan itu. Mereka masih muda dan berpakaian gaya militer. Mereka mendekati Becker dengan mantap.

“David Becker?” tanya salah satu dari kedua pria itu.

Becker berhenti mendadak. Dia heran bagaimana mereka bisa tahu namanya. “Siapa … siapa kalian?” “Tolong ikut dengan kami. Segera.”

Ada sesuatu yang tidak beres dari pertemuan itu— sesuatu yang membuat bulu kuduk Becker berdiri kembali. Becker mundur menjauh dari kedua pria itu.

Pria yang lebih pendek menatap Becker dengan dingin. “Lewat sini, Mr. Becker. Sekarang.”

Becker berpaling dan hendak berlari. Tetapi dia hanya sempat bergerak satu langkah. Seorang dari kedua lelaki itu mengeluarkan senjata, kemudian terdengar sebuah tembakan.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.