Baca Novel Online

Digital Fortress

David Becker menundukkan kepalanya dan mengunyah roti komuni sebaik mungkin. Dia merasa ada yang sedang terjadi di belakangnya, sebuah gangguan. Becker teringat pada pria dan siapa dia membeli jas hitam itu. Dia berharap pria itu mendengarkan peringatannya untuk tidak memakai jasnya sebagai gantinya. Becker mulai berbahk dan melihat, tetapi dia takut pria dengan kacamata berbingkai kawat itu akan menatapnya. Becker membengkokkan lututnya agar jasnya bisa menutupi bagian belakang celana drilnya. Tetapi tidak berhasil.

Cawan anggur datang dan sebelah kanan Becker dengan cepat. Orang-orang sudah menelan anggur mereka, membuat tanda salib, dan berdiri untuk pergi. Pelan-pelan! Becker tidak ingin terburu-buru meninggalkan altar. Tetapi dengan dua ribu umat yang sedang menanti dan hanya delapan pastor yang melayani, dia akan dianggap tidak sopan untuk berlamalama setelah mencicipi anggur.

CAWAN ITU berada di sebelah kanan Becker ketika Hulohot melihat celana dril Becker yang tidak serasi itu. “Estas ya muerto,” Hulohot mendesis perlahan. “Kau sudah mati.” Hulohot bergerak maju di lorong tengah. Waktu untuk bertindak diam-diam sudah lewat. Dua tembakan di punggung, dan dia akan merampas cincin itu dan kabur. Tempat pangDI kalan taksi terbesar di Sevilla berada setengah blok dan Mateus Gago. Hulohot meraih senjatanya.

Adios, Senor Becker ….

LA SANGRE de Cnsto, la copa de la saluacion.

Bau keras dan anggur merah memenuhi lubang hidung Becker saat Padre Hererra merendahkan cawan perak itu. Terlalu pagi untuk minum, pikir Becker saat dia rnen-codongkan badannya ke depan. Tetapi saat cawan perak itu berada sejajar dengan matanya, dia melihat sebuah gerakan yang kabur. Sesosok tubuh bergerak dengan cepat dan bentuk badannya terpelintir dalam bayangan pada cawan.

Becker melihat kilatan bahan logam dan senjata yang dikeluarkan Hulohot. Dengan cepat dan tanpa sadar, bagaikan atlet lari yang mendengarkan suara tembakan, Becker melesat maju. Sang pastor terhuyung ke belakang dengan ngeri ketika cawan peraknya melayang di udara dan anggur merahnya mengguyur marmer putih. Para pastor dan putra altar berhamburan saat Becker meloncat melewati pembatas komuni. Peredam Hulohot memuntahkan sebuah tembakan. Beckerjatuh dengan keras ke lantai, dan tembakan itu meledak di atas lantai marmer di belakang dirinya. Tidak lama kemudian, Becker terhuyung-huyung menuruni tiga buah tangga menuju lorong sempit tempat petugas gereja keluar masuk. Para petugas gereja biasa muncul ke atas altar dengan keanggunan surgawi melalui lorong sempit itu.

Pada bagian ujung bawah tangga, Becker tersandung dan terjatuh. Dia merasa dirinya tergelincir tanpa kendali di atas batu yang terpoles licin. Sebuah rasa nyeri seperti teriris belati menghunjam perutnya saat dia terjatuh miring. Sesaat kemudian, Becker berlari tergopoh-gopoh di sepanjang lorong bertirai dan menuruni sebuah tangga kayu.

Perih. Becker berlari melintasi ruang ganti pakaian. Tempat itu gelap. Dia mendengar jeritan dan altar. Langkah-langkah kaki yang terdengar keras mengikutinya. Becker mendobrak pintu rangkap dan masuk ke sebuah ruang baca. Tempat itu gelap dan dilengkapi dengan karpet-karpet dan Timur dan perabot mahogani yang terpoles indah. Pada bagian dinding di ujung ada sebuah salib dengan ukuran sebesar manusia dewasa. Becker berhenti. Buntu. Dia berada di ujung bentuk salib katedral itu. Dia dapat mendengar Hulohot mendekat dengan cepat. Dia menatap salib itu dan mengutuki nasib buruknya.

“Sialan I” jerit Becker.

Tiba-tiba terdengar bunyi kaca pecah di sebelah km Becker. Dia berbahk. Seorang pria dengan jubah merah terengah dan melihat Becker dengan ngeri. Bagaikan seekor kucing yang terpergok sedang memangsa burung kenari, pria berjubah itu mengelap mulutnya dan berusaha menyembunyikan botol anggur untuk komuni itu dengan kakinya.

“Salida!” kata Becker. “Sahda! Biarkan aku keluar!”

Kardinal Guerra bertindak secara naluriah. Setan telah memasuki ruang-ruang suci sambil berteriak agar dibebaskan dan rumah Tuhan. Guerra ingin mengabulkan permintaan Becker—secepatnya. Setan itu telah masuk pada saat yang sangat tidak tepat.

Dengan pucat, kardinal itu menunjuk ke sebuah tirai pada dinding di bagian kirinya. Ada sebuah pintu yang tersembunyi di balik tirai itu. Guerra memasang pintu tersebut di sana tiga tahun yang lalu karena sang kardinal merasa lelah keluar masuk gereja melalui pintu depan bagaikan seorang pendosa biasa. Pintu itu langsung menuju halaman belakang di luar.

***

96

TUBUH SUSAN yang basah dan gemetar terhenyak di atas sofa di dalam Node 3. Strathmore menyampirkan jas miliknya di atas pundak Susan. Tubuh Hale tergeletak beberapa yard di depan mereka. Suara sirene masih berbunyi. Bagaikan es yang mencair di sebuah kolam yang beku, lambung TRANSLTR mengeluarkan sebuah suara berderak yang keras.

“Aku akan turun untuk memutuskan sambungan listriknya,” kata Strathmore sambil meletakkan tangan pada pundak Susan untuk menenangkannya. “Aku akan segera kembali.”

Susan menatap kosong pada Strathmore saat pria itu bergegas melintasi lantai Crypto. Strathmore bukan lagi seorang pria tidak berdaya yang dilihat Susan sepuluh menit yang lalu. Sang komandan telah kembali—penuh logika, terkendali, dan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya.

Kata-kata terakhir dari catatan bunuh diri Hale melintas di dalam benak Susan bagaikan sebuah kereta yang lepas kendali: Di atas segalanya, aku benar-benar menyesal tenteng David Becker. Maafkan aku. Aku telah dibutakan oleh ambisi.

Mimpi buruk Susan baru saja dikonfirmasikan. David berada dalam bahaya … atau lebih buruk lagi. Mungkin sudah terlambat. Aku benar-benar menyesal tentang David Becker.

Susan menatap catatan itu. Hale bahkan tidak menandatanganinya—dia hanya mengetik namanya pada bagian akhir: Greg Hale. Greg mengerahkan seluruh nyalinya, menekan CETAK, dan kemudian menembak dirinya sendiri— hanya seperti itu. Hale pernah bersumpah untuk tidak kembali ke penjara. Dia menepati janjinya—tetapi sebagai gantinya, dia memilih kematian. “David Susan terisak. David!

SAAT ITU, sepuluh kaki di bawah lantai Crypto, Komandan Strathmore menuruni tangga panjat menuju bagian landai pertama. Hari itu penuh dengan bencana. Apa yang dimulai olehnya sebagai sebuah tindakan patnotis telah berubah secara tidak terkendali. Sang komandan terpaksa harus membuat beberapa keputusan yang tidak masuk akal, melakukan tindakan-tindakan yang mengerikan— tindakan-tindakan yang tidak disangka bisa dilakukannya.

Itu sebuah jalan keluar! Itu satu-satunya jalan keluar!

Ada pekerjaan yang harus dipikirkan oleh Strathmore: negara dan kehormatan. Dia tahu masih ada waktu. Dia bisa mematikan TRANSLTR. Dia bisa menggunakan cincin itu untuk menyelamatkan bank data yang paling penting milik negara. Va, pikirnya, masih ada waktu.

Strathmore melihat semua bencana di sekelilingnya. Penyemprot air telah memancar. TRANSLTR sedang mengerang. Sirene terus berbunyi. Larnpu-larnpu yang berkedip terlihat bagaikan helikopter yang menembus kabut tebal. Pada setiap langkah, yang bisa dilihat Strathmore adalah Greg Hale—knptografer muda itu mendongak padanya, matanya memohon, dan kemudian, tembakan itu. Hale mati untuk Negara … untuk kehormatan. NSA tidak sanggup menanggung sebuah skandal lagi. Strathmore memerlukan seorang kambing hitam. Lagi pula, nantinya Greg Hale akan menjadi sebuah bencanajuga.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.