Baca Novel Online

Digital Fortress

Kira-kira satu menit kemudian, Becker merasa ada yang menendangnya. Dia mendongak. Pria berwajah ce-curut itu sedang berdiri di sisi kanannya. Dia dengan gelisah sedang menunggu Becker untuk meninggalkan bangku.

Becker panik. Dia sudah mau pergi? Berarti aku harus berdiri tegak! Becker mengisyaratkan kepada pria itu untuk melangkahi saja dirinya. Pria itu hampir tidak bisa menahan amarahnya. Dia menarik dan menyingsingkan ujung jaket hitamnya, serta berdiri menyamping untuk menunjukkan bahwa orang-orang pada baris itu menunggu untuk keluar. Becker menengok ke km dan melihat bahwa wanita yang duduk di sana telah pergi. Sisi km bangku itu kosong sampai ke lorong tengah.

Tidak mungkin misanya sudah selesai! Mustahil! Kita baru saja sampai!

Tetapi ketika Becker melihat putera altar di bagian akhir baris itu dan dua lajur antnan orang di lorong tengah menuju altar, dia sadar apa yang sedang terjadi.

Komum. Becker mengerang. Orang-orang Spanyol sialan melakukannya di awal misa.

***

92

SUSAN MENURUNI tangga menuju lantai bawah tanah. Uap tebal sekarang mulai mengepul di sekeliling lambung TRANSLTR. Jalanjalan sempit mulai menjadi basah karena kondensasi. Susan hampir terjatuh karena sepatunya licin. Dia bertanya-tanya berapa lama TRANSLTR bisa bertahan. Sirene terus memberikan bunyi peringatan. Lampu-lampu darurat berkedip setiap dua detik. Tiga lantai di bawah, pembangkit tenaga listrik cadangan mulai berguncang dan mengeluarkan suara rengekan. Susan tahu bahwa di suatu tempat di bagian dasar yang berkabut asap itu ada sebuah pemutus sambungan listrik. Susan merasa waktu semakin sempit.

DI LANTAI atas, Strathmore meraih Beret-tanya. Dia membaca ulang catatan yang baru saja dibuatnya dan meletakkan catatan tersebut di atas lantai ruangan di tempat dirinya berdiri. Apa yang hendak dilakukannya adalah sebuah tindakan pengecut. Hal itu tidak diragukan lagi. Aku bisa bertahan, pikirnya. Strathmore teringat akan virus di bank data NSA; dia teringat David Becker di Spanyol; dia teringat akan rencananya untuk menambahkan sebuah celah. Dia telah mengatakan begitu banyak kebohongan. Dia telah bersalah atas banyak hal. Dia sadar, dengan cara inilah dia bisa berkelit dan tanggung jawab … satusatunya cara untuk terhindar dan rasa malu. Dengan berhatihati, dia membidik pistolnya. Kemudian, dia menutup matanya dan menarik pelatuk pistol itu.

SUSAN BARU saja menuruni enam buah tangga ketika dia mendengar bunyi tembakan yang teredam. Bunyi itu terdengar jauh dan hampir tidak terdengar karena deruman pembangkitpembangkit tenaga listrik. Susan belum pernah mendengar bunyi tembakan senjata kecuali di televisi, tetapi dia tidak ragu akan apa yang baru saja didengarnya.

Susan berhenti dan suara itu bergema di telinganya. Dengan rasa ngeri, wanita itu mengkhawatirkan yang terburuk. Dia membayangkan impian sang komandan— sebuah celah pada Benteng Digital, yang seharusnya merupakan sebuah prestasi luar biasa. Dia membayangkan virus di dalam bank data, pernikahan Strathmore yang gagal, anggukan kepala Strathmore yang mengerikan. Kakinya terasa lemas. Dia merasa bergoyang dan segera mencengkeram pegangan tangga. Komandan! Tidak!

Untuk beberapa saat, Susan diam tidak bergerak. Pikirannya kosong. Gema suara tembakan seolah menelan semua keriuhan di sekitarnya. Pikirannya menyuruh dirinya untuk terus, tetapi kakinya menolak. Komandan! Sesaat kemudian, Susan berlari menaiki tangga. Dia sama sekali lupa akan bahaya di sekitarnya.

Dia berlari dengan membabi buta sambil tergelincir. Di atasnya, kelembapan memancar bagaikan hujan. Ketika dia mencapai tangga panjat dan mulai memanjat, dia merasa dirinya terangkat dan bawah oleh embusan uap yang kuat hingga hampir terlontar keluar dan pintu kolong itu. Susan berguling di atas lantai Crypto dan merasakan tiupan angin sejuk di sekujur tubuhnya. Blus putihnya basah dan menempel pada badannya.

Suasana di dalam Crypto gelap. Susan terdiam sambil berusaha mereka-reka keadaan sekelilingnya. Suara tembakan itu terus berdengung di dalam kepalanya. Uap panas memancar keluar dan pintu kolong bagaikan gas yang keluar dan sebuah gunung berapi yang siap meletus.

Susan mengutuki dirinya sendiri karena telah meninggalkan pistol Beretta itu bersama Strathmore. Dia telah meninggalkan benda itu pada sang komandan, bukan? Atau pistol itu berada di Node 3? Saat matanya mulai terbiasa dengan kegelapan, Susan melihat ke arah lubang menganga pada dinding Node 3. Cahaya monitor komputer di ruangan itu redup, tetapi dan kejauhan Susan bisa melihat Hale yang tergeletak tidak bergerak di atas lantai tempat dia meninggalkannya tadi. Tidak ada tanda-tanda Strathmore. Sambil tetap merasa khawatir akan apa yang akan ditemukannya, Susan pergi menuju ruang kantor sang komandan.

Tetapi saat dirinya mulai bergerak, Susan merasa ada yang aneh. Dia berbahk beberapa langkah dan mengintip ke dalam Node 3. Dalam cahaya yang remang-remang, dia bias melihat lengan Hale. Lengan itu tidak berada di sisi tubuhnya. Hale tidak lagi terikat bagaikan mumi. Lengannya berada di atas kepalanya. Dia tergeletak di atas lantai. Apakah dia berhasil membebaskan diri? Tetapi tidak ada gerakan. Hale diam tidak bergerak.

Susan mendongak ke arah ruang kerja Strathmore yang di lantai atas. “Komandan?” Sunyi.

Dengan hati-hati, Susan bergerak ke dalam Node 3. Ada sebuah benda di tangan Hale. Benda itu berkilau terkena cahaya monitor. Susan bergerak mendekat … lebih dekat lagi. Tiba-tiba dia bisa melihat apa yang sedang digenggam Hale. Benda itu adalah sebuah Beretta.

Susan terengah. Sambil mengikuti garis lengkung lengan Hale, matanya bergerak ke arah wajah Hale. Apa yang dilihatnya sungguh mengerikan. Separuh dan kepala Hale berlumuran darah. Noda gelap telah menyebar ke atas karpet.

My God! Susan terhuyung mundur. Bukannya tembakan sang komandan yang didengarnya tadi, tetapi tembakan Hale!

Seolah tersihir, Susan bergerak mendekati tubuh Hale. Tampaknya Hale telah berhasil membebaskan dirinya sendiri. Kabel mesin cetak tergeletak di sampingnya. Aku pasti telah meninggalkan pistol itu di sofa, pikir Susan. Darah yang mengalir dan lubang di tengkorak Hale tampak hitam dalam cahaya kebiruan.

Pada lantai di samping Hale terdapat selembar kertas. Susan maju dengan ragu-ragu dan mengambil kertas itu. Kertas itu adalah sebuah surat.

Teman-teman tersayang. Aku mengakhiri hidupku hari mi

sebagai penebusan atas dosa-dosa berikut ….

Dengan rasa tidak percaya, Susan menatap catatan bunuh diri di tangannya. Susan membaca pelan. Hal ini seperti tidak nyata—sangat tidak seperti Hale—sebuah daftar penyucian dosa. Hale mengakui segalanya— menyadari bahwa NDAKOTA hanya sebuah tipuan, menyewa seorang pembunuh untuk menghabisi Ensei Tankado dan mengambil cincin itu, mendorong Phil Chartrukian, dan berencana menjual Benteng Digital.

Susan mencapai baris terakhir. Dia tidak siap menghadapi apa yang sedang dibacanya. Kata-kata terakhir surat itu merupakan sebuah pukulan yang melumpuhkannya.

Di atas segalanya, aku benar-benar menyesal tentang David

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.