Baca Novel Online

Digital Fortress

***

90

SIRENE CRYPTO berbunyi nyaring. Strathmore tidak tahu berapa lama Susan telah pergi. Strathmore duduk sendiri di dalam bayangan. Suara dengung TRANSLTR memanggil dirinya. Kau bisa bertahan … kau bisa bertahan ….

Ya, pikirnya. Aku bisa bertahan—tetapi bertahan tidak ada artinya tanpa kehormatan. Lebih baik aku mati daripada hidup dafam bayangan aib.

Dan aib telah menunggunya. Strathmore telah merahasiakan hal itu kepada Direktur. Dia telah mengirim sebuah virus ke dalam komputer paling aman di negara itu. Tidak diragukan lagi, dia akan digantung. Tujuannya patriotis, tetapi segalanya berjalan tidak seperti yang direncanakannya. Telah terjadi kematian dan pengkhianatan. Akan ada persidangan, tuduhan, kemarahan publik. Dirinya telah mengabdi pada negaranya dengan rasa hormat dan integritas selama bertahun-tahun. Strathmore tidak bisa membiarkan hal itu berakhir seperti ini.

Aku bisa bertahan, pikir Strathmore.

Kau pembohong, balas pikirannya sendiri.

Hal itu benar. Dia adalah pembohong. Dia telah tidak jujur kepada beberapa orang. Susan Fletcher adalah salah satunya. Ada banyak hal yang belum dikatakannya kepada wanita itu—hal-hal yang sekarang membuatnya sangat malu. Selama bertahun-tahun, wanita itu merupakan ilusinya, fantasinya yang tak pernah padam. Strath-more memimpikan Susan setiap malam. Dia memanggil nama wanita itu dalam tidurnya. Dia tidak bisa tahan. Wanita itu secemerlang dan secantik wanita idamannya. Istrinya telah berusaha sabar, tetapi ketika dia bertemu Susan, dia segera kehilangan harapannya. Beu Strath-more tidak menyalahkan suaminya. Dia berusaha menahan perih yang dideritanya sekuat mungkin, tetapi belakangan hal itu menjadi semakin tidak tertahankan. Dia mengatakan kepada Strathmore bahwa pernikahan mereka telah berakhir. Bayangan wanita lain bukanlah tempat bagi Beu untuk menghabiskan hidupnya.

Secara perlahan, suara sirene menyadarkan Strathmore dan lamunannya. Kemampuan analisisnya berusaha mencari jalan keluar. Otaknya dengan enggan mengakui apa yang dirasakan dirinya. Hanya ada satu jalan keluar, hanya ada satu solusi.

Strathmore melihat ke arah keyboard dan mulai mengetik. Dia tidak memutar monitor untuk melihat apa yang ditulisnya. Jemarinya mengetikkan kata-kata dengan pelan dan penuh keyakinan.

Teman-teman tersayang, aku mengakhiri hidupku hari ini ….

Dengan cara ini, tidak akan ada yang bertanya-tanya. Tidak akan ada penyelidikan. Tidak akan ada tuduhan. Dia akan menceritakan pada dunia apa yang telah terjadi. Banyak yang telah rnati … tetapi rnasih ada satu nyawa untuk direnggut.

***

91

DI DALAM katedral, suasana selalu terasa bagaikan malam. Kehangatan siang terasa sejuk dan lembab di dalamnya. Lalu-lintas orang di luar teredam oleh dinding granit tebal. Tidak ada lilin yang cukup untuk menerangi langit-langit yang luas. Bayangan ada di mana-mana. Hanya ada kaca patri berwarna di atas, yang menyaring keburukan dunia luar menjadi pancaran cahaya merah dan biru.

Katedral Sevilla, seperti semua katedral besar di Eropa, dirancang dengan bentuk salib. Bagian altar selalu terletak di bagian tengah bentuk salib. Bangku-bangku kayu berada pada sumbu vertikal, membentang sejauh 113 yard dari altar ke bagian kaki salib. Di bagian kiri dan kanan pada sisi bentuk salib katedral itu terdapat tempat pengakuan dosa, makam-makam suci,dan tempat duduk tambahan.

Becker terjepit di bagian tengah sebuah bangku kayu di barisan yang terletak agak ke belakang. Sebuah tempat dari logam berukuran sebesar lemari es dan berisi dupa tergantung pada seutas tali di ruang kosong pada bagian atas kepala. Benda itu mengeluarkan asap dupa. Loncenglonceng Giralda masih tetap berbunyi dan menggetarkan batu-batu bangunan katedral. Becker menurunkan arah pandangannya ke arah dinding bersepuh emas di bagian belakang altar. Becker memiliki banyak hal untuk disyukuri. Dirinya masih bernapas. Ini sebuah keajaiban.

Saat seorang pastor bersiap mengucapkan doa pembukaan, Becker memeriksa sisi badannya. Ada noda merah pada kemejanya, tetapi pendarahannya sudah berhenti. Dia kembali memasukkan kemejanya dan menjulurkan lehernya. Di bagian belakang, pintu-pintu berderik menutup. Becker sadar, jika tadi dia dibuntuti, sekarang dia terjebak. Katedral Sevilla memiliki jalan masuk tunggal. Ini adalah rancangan yang populer pada masa-masa ketika gereja digunakan sebagai benteng pertahanan, sebuah tempat perlindungan yang aman dan serangan bangsa Moor. Dengan jalan masuk tunggal, berarti hanya ada satu pintu untuk dibankade. Sekarang jalan masuk tunggal tersebut memiliki fungsi lain—untuk menjamin bahwa semua turis yang masuk ke dalam katedral telah membeli karcis.

Pintu-pintu bersepuh emas setinggi 22 kaki itu terbanting menutup dengan keras. Becker terkunci di dalam rumah Tuhan. Dia menutup matanya dan duduk merosot pada bangku kayu. Becker adalah satu-satunya orang di dalam bangunan itu yang tidak berpakaian hitam. Di suatu tempat, suara-suara mulai bernyanyi.

DI BAGIAN belakang gereja itu, sesosok tubuh bergerak pelan pada lorong-bangku samping sambil berusaha untuk berada di dalam daerah yang gelap. Sosok itu telah menyelip masuk tepat sebelum pintu-pintu menutup. Pria itu tersenyum pada dirinya sendiri. Perburuan ini semakin bertambah menarik. Becker ada di sini … aku bisa merasakannya. Dia bergerak secara metodis, sebaris demi sebaris. Di bagian atas, tempat dupa berayun perlahan. Ini tempat yang tepat untuk mati, pikir Hulohot. Semoga aku juga mati seperti ini.

BECKER BERLUTUT di atas lantai katedral yang dingin dan menundukkan kepalanya agar tidak terlihat. Pria yang duduk di sebelahnya menatapnya—tingkah Becker sangatlah tidak pantas di rumah Tuhan.

“Enfermo,” kata Becker meminta maaf. “Sakit.”

Becker sadar dirinya harus merunduk. Dia telah melihat sesosok tubuh yang tidak asing sedang bergerak di lorongbangku samping. Itu dia! Dia ada di sini!

Walaupun berada di tengah jemaat yang besar, Becker khawatir dirinya tetap merupakan sasaran empuk— jaketnya yang hijau kekuningan bagaikan rambu lalu-hntas yang bersinar di antara kerumunan hitam. Dia berpikir untuk melepaskan jaket tersebut, tetapi kemeja putihnya tidak lebih baik. Sebagai gantinya, Becker membungkuk lebih rendah lagi.

Pria di samping Becker mengernyit. “Tunsta.” Pria itu mendengus dan kemudian berbisik agak sarkastis, “Llamo un medico? Perlu aku panggilkan dokter?”

Becker mendongak ke arah pria tua berwajah cecurut itu. “No, gracias. Estoy bien.”

Pria itu menatap Becker dengan marah. “Pues sientate! Kalau begitu, duduklah!” Orang-orang di sekitar mendesis pada mereka agar diam. Pria tua itu menggigit lidahnya sendiri dan menatap ke depan.

Becker menutup matanya dan membungkuk lebih rendah lagi sambil bertanya-tanya berapa lama misa itu akan berlangsung. Sebagai seorang Protestan, Becker selalu beranggapan bahwa misa Katolik terlalu panjang. Dia berdoa semoga hal itu benar, karena segera setelah misa berakhir, dia akan terpaksa berdiri dan memberi jalan bagi yang lainnya untuk keluar. Dengan pakaian berbahan dril, dia pasti mati.

Becker sadar dirinya tidak memiliki pilihan saat itu. Dia hanya bisa berlutut di atas lantai dingin katedral besar itu. Akhirnya, pria tua di sampingnya tidak tertarik lagi padanya. Para jemaat berdiri sekarang untuk menyanyikan sebuah himne. Becker tetap berlutut. Kakinya mulai terasa kram. Tidak ada ruang untuk berselonjor. Sabar, pikir Becker. Sabar. Dia menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.