Baca Novel Online

Digital Fortress

Dan kemudian, Becker sampai di sana.

Bagai sebuah jalan tol yang kehabisan dana, lorong itu berhenti mendadak. Di sana terdapat sebuah tembok tinggi, sebuah bangku kayu, dan tidak ada yang lainnya. Tidak ada jalan kabur. Becker mendongak ke arah bangunan berlantai tiga di dekatnya dan kemudian berbahk dan menyusun lorong itu kembali. Tetapi beberapa langkah kemudian, dia berhenti.

Pada bagian jalan lurus yang mulai menanjak, sesosok tubuh muncul. Pria itu bergerak ke arah Becker dengan keyakinan penuh. Pada tangannya terdapat sebuah pistol yang berkilauan karena tertimpa sinar matahari pagi.

Becker mendadak dapat merasakan keadaan badannya ketika dia berbahk ke arah dinding tadi. Rasa sakit di bagian sisi tubuhnya mulai terasa. Dia menyentuh daerah itu dan melihatnya. Jemarinya berlumuran darah, dan darah juga menutupi cincin Ensei Tankado. Becker merasa pusing. Dia menatap cincin berukir itu dan menjadi bingung. Dia lupa kalau dirinya sedang mengenakan cincin itu. Dia sampai lupa alasannya datang ke Sevilla. Dia melihat ke arah pria yang mendekatinya, kemudian dia melihat cincin itu lagi. Apa karena ini Megan mati? Apa karena ini dirinya akan mati?

Bayangan itu maju mendekat di jalan yang menanjak itu. Becker melihat dinding di segala sisi—sebuah jalan buntu di belakangnya. Di antaranya ada beberapa jalan dengan gerbang, tetapi sudah terlambat untuk meminta tolong.

Becker menempelkan punggungnya pada jalan buntu itu. Tiba-tiba dia bisa merasakan setiap kerikil di bawah telapak kakinya, setiap benjolan pada dinding di punggungnya. Dia teringat masa lalunya, masa kecilnya, orangtuanya … Susan.

Oh, Tuhan … Susan.

Untuk pertama kalinya semenjak dia kecil, Becker berdoa. Dia bukan berdoa agar terbebas dan kematian. Sebaliknya, dia berdoa agar wanita yang ditinggalkannya mendapat kekuatan, agar wanita itu tahu tanpa ragu bahwa dirinya dicintai. Becker menutup matanya. Kenangan datang bagaikan hujan badai. Kenangan itu bukan tentang rapat-rapat antarbagian, urusan kampus, dan sembilan puluh persen hal-hal lain di dalam kehidupannya. Kenangan itu adalah tentang wanita itu. Kenangan-kenangan yang sederhana: bagaimana dia mengajari wanita itu memegang sumpit, pelayaran mereka ke Cape Cod. Aku mencintaimu, pikir Becker. Ketahuilah … untuk selamanya.

Seolah segala pertahanan diri, kepura-puraan, sikap berlebihan dalarn hidupnya sirna. Becker berdiri dalarn keadaan telanjang—telanjang di hadapan Tuhan. Aku seorang pria, pikirnya. Secara ironis, untuk beberapa saat, Becker berpikir, Aku seorang pria tanpa lilin. Becker berdiri dengan rnata tertutup ketika pria dengan kacamata berbingkai kawat itu mendekat. Tidak jauh dan sana, sebuah lonceng mulai berdentang. Becker menunggu dalam kegelapan, menunggu suara yang akan mengakhiri hidupnya.

***

89

MATAHARI PAGI baru saja terbit di atas bangunan-bangunan di Sevilla dan menyinari ngarai-ngarai di bawahnya. Lonceng-lonceng di atas menara Giralda berbunyi untuk memanggil para umat agar menghadiri misa pagi. Ini saat yang ditunggu-tunggu oleh para penduduk di sana. Di bagian mana pun di daerah itu, gerbanggerbang terbuka dan para keluarga berhamburan ke lorong-lorong. Bagaikan darah yang mengalir di dalam nadi Santa Cruz yang tua, orang-orang itu pergi menuju jantung kota kecil mereka, menuju inti dari sejarah mereka, menuju Tuhan, singgasana mereka, katedral mereka.

Jauh di dalam benak Becker, sebuah lonceng berdentang. Apakah aku telah mati? Hampir dengan enggan, Becker membuka matanya dan memicing di dalam pancaran pertama sinar matahari. Dia sadar dengan tepat di mana dirinya berada. Dia melihat ke depan dan mencari penyerang yang berada di lorong di depannya. Tetapi pria dengan kacamata berbingkai kawat itu tidak terlihat. Vang terlihat justru orangorang lain. Keluarga-keluarga Spanyol dengan pakaian terbaik mereka sedang keluar dan pintu pagar menuju lorong sambil mengobrol dan tertawa.

DI UJUNG lorong, tersembunyi dan pandangan Becker, Hulohot mengutuk dengan kesal. Awalnya hanya ada sepasang orang yang memisahkan dirinya dengan buruannya. Hulohot hampir yakin, kedua orang itu akan segera pergi. Tetapi suara lonceng terus bergema di seluruh lorong dan membuat orangorang keluar dan rumah mereka. Pasangan kedua muncul bersama dengan anak-anak mereka. Mereka saling memberi salam. Bercakap-cakap, tertawa, dan mencium pipi sebanyak tiga kali. Kelompok lain muncul, dan Hulohot tidak bias melihat mangsanya lagi. Sekarang, dengan rasa marah yang mendidih, Hulohot berlari masuk ke dalam kerumunan orang yang semakin bertambah banyak. Dia harus mendekati Dauid Becker!

Pembunuh itu mendesak maju sampai di akhir gang. Untuk sejenak dia tersesat di antara lautan orang—jas dan dasi, gaun-gaun hitam, mantel berenda yang terlampir di atas pundak wanita-wanita bungkuk. Tampaknya orang-orang tersebut tidak menyadari kehadiran Hulohot. Mereka melenggang dengan santai dan semua berpakaian hitam. Mereka bergerombol, bergerak menyatu, dan menghalangi jalan Hulohot. Hulohot berkelit keluar dan kerumunan itu dan segera menuju ke jalan buntu. Pistolnya terangkat. Kemudian, dia mengeluarkan sebuah jeritan bisu yang tidak mirip suara manusia. Dauid Becker sudah kabur.

BECKER TERHUYUNG dan menyelip di antara kerumunan orang itu. Ikuti kerumunan orang ini, pikirnya. Mereka tahu jalan keluar. Becker memotong ke kanan dia persimpangan, dan lorong itu melebar. Di mana-mana, gerbang terbuka dan orang-orang berhamburan keluar. Den-tangan lonceng semakin keras.

Bagian samping badan Becker masih terasa panas membakar, tetapi dia merasakan darahnya berhenti mengucur. Becker berlari terus. Di belakangnya, seorang pria dengan senjata semakin mendekat.

Becker bergerak melewati kelompok orang yang hendak pergi ke gereja. Dia berusaha merendahkan kepalanya. Sudah tidak jauh lagi. Becker bisa merasakannya. Kerumunan itu menjadi semakin besar. Lorong telah melebar. Mereka tidak berada di cabang jalan kecil lagi. Mereka berada di jalur utama. Saat berbelok, tiba-tiba Becker melihatnya, menjulang di depan mereka—katedral itu dan menara Giralda.

Suara lonceng memekakkan telinga. Gemanya terjebak di antara dinding-dinding bangunan di tempat itu. Beberapa kerumunan orang menyatu. Setiap orang mengenakan pakaian hitam, berdesakan ke arah pintu Katedral Sevilla yang terbuka itu. Becker berusaha memisahkan diri dan menuju Mateus Gago, tetapi dirinya terjebak. Dia terhimpit oleh kerumunan orang yang saling mendorong. Dibandingkan dengan orang lain di dunia, orang-orang Spanyol mempunyai pandangan yang berbeda tentang }afak badan. Becker terjepit di antara dua wanita bertubuh besar. Mata kedua wanita itu tertutup dan membiarkan kerumunan orang di sekitar mereka membawa mereka. Wanita-wanita itu menggumamkan doa sambil memegang butiran rosario.

Saat kerumunan itu mendekati bangunan besar dan batu itu, Becker mencoba memotong ke km lagi, tetapi arus manusia itu lebih kuat sekarang karena semangat, desakan, dan dorongan dan orang-orang yang berdoa sambil menutup mata. Becker kembali ke dalam kerumunan sambil berusaha melawan arus gelombang manusia yang bersemangat itu. Hal itu mustahil, seperti berenang ke hulu sungai dengan kedalaman satu mil. Becker berbahk. Pintu-pintu katedral tampak di depannya— bagaikan sebuah jalan masuk ke sebuah parade karnaval yang tidak ingin diikutinya. Mendadak Dauid Becker sadar, dirinya akan masuk ke gereja.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.