Baca Novel Online

Digital Fortress

Tetapi peluru-peluru itu tidak pernah tiba.

Sepeda motor Becker akhirnya mencapai puncak bukit, dan dia melihatnya—centro. Lampu-lampu pusat kota terhampar di hadapannya bagaikan taburan bintang di langit. Becker mengebut melewati belukar dan memotong melewati pinggiran jalan. Mendadak, Vespanya terasa lebih cepat. Auenue Luis Montoto serasa berpacu di bawah roda-roda motornya. Sebuah stadion sepak bola melesat di sebelah km. Becker telah terlepas dan bahaya sekarang.

Pada saat itulah Becker mendengar bunyi decitan logam di atas beton. Suara itu tidak asing baginya. Becker menengadah. Beberapa yard di depannya, taksi itu menderum turun dan jalan landai pintu keluar dan masuk ke jalan Luis Montoto serta mempercepat lajunya menuju ke arah Becker.

Becker tahu dia seharusnya merasa panik. Tetapi dia tidak merasakan itu. Dia tahu apa yang akan dilakukannya. Becker membelok ke Menendez Pelayo dan melonggarkan genggamannya pada setir. Motornya meluncur melintasi sebuah taman kecil dan masuk ke lorong berkerikil Mateus Gago— sebuah jalan sempit satu arah menuju gerbang distrik Santa Cruz.

Tinggal sedikit lagi, pikir Becker.

Taksi itu terus membuntuti Becker dan menderu mendekat. Mobil itu mengikutinya melewati gerbang Santa Cruz. Kaca spion mobil taksi itu hancur oleh gerbang sempit yang melengkung. Becker sadar, dia telah menang. Santa Cruz adalah bagian tertua di Seuilla. Tidak ada jalan di antara bangunan. Hanya ada lorong berkelok-kelok yang dibuat pada zaman Romawi. Jalan-jalan setapak itu hanya cukup untuk dilalui oleh pejalan kaki dan sepeda motor yang sesekali lewat. Becker pernah satu kali tersesat selama berjam-jam di lorong-lorong sempit itu.

Ketika Becker mempercepat motornya di jalan Monto-to Gago, gereja katedral Sevilla yang bergaya Gotik dan abad kesebelas menjulang bagai gunung di depannya. Tepat di samping katedral itu, menara Giralda menjulang setinggi 419 kaki ke angkasa dengan matahari yang mulai menyingsing pada bagian latar. Ini Santa Cruz, tempat katedral terbesar kedua di dunia dan juga tempat tinggal keluarga-keluarga Katolik paling saleh dan tertua di Sevilla.

Becker mengebut menyeberangi lapangan dan batu di depannya. Terdengar sebuah tembakan, tetapi terlambat. Becker dan sepeda motornya telah menghilang di dalam sebuah lorong sempit—Calhta de la Virgen.

***

88

LAMPU DEPAN Vespa David Becker membuat bayangan-bayangan pada dinding di sepanjang lorong sempit itu. Becker berjuang dengan pedal gigi motornya dan menderu di antara bangunan bercat kapur sambil membangunkan para penghuni Santa Cruz pada hari Minggu pagi itu.

Waktu sudah berlalu hampir tiga puluh menit sejak Becker kabur dari bandara. Sejak itu Becker terus berlari. Dia bertanya tiada habisnya: Siapa yang berusaha membunuhku? Apa istimewanya cincin itu? Di manakah pesawat jet NSA? Becker teringat akan Megan yang tewas di dalam bilik kamar kecil, dan rasa mual kembali menyerang dirinya.

David Becker berharap dapat langsung menyeberangi distrik itu dan keluar di sisi lainnya, tetapi Santa Cruz adalah sebuah labirin membingungkan yang terdiri atas banyak gang dan penuh dengan jalan buntu. Becker kehilangan arah. Dia mendongak untuk mencari menara Giralda sebagai penunjuk arah, tetapi dinding di sekitarnya begitu tinggi sehingga dia tidak bisa melihat apa pun kecuali sebuah celah tipis langit subuh di atasnya.

Becker bertanya-tanya di rnana pria dengan kacamata berbingkai kawat itu berada. Dia tahu, penyerangnya itu belum menyerah. Pembunuh itu mungkin sedang mengejarnya dengan berjalan kaki. Becker berjuang untuk mengendalikan Vespanya melewati tikungan-tikungan yang sempit. Bunyi mesin motornya bergema di seluruh lorong. Becker sadar, dirinya adalah sasaran empuk di dalam keheningan Santa Cruz. Pada saat ini, keuntungan yang dia miliki adalah kecepatan. Aku harus segera sampai ke sisi satunya!

Setelah serangkaian belokan dan jalan lurus, Becker meluncur ke pertigaan Esquina de los Reyes. Lelaki itu sadar dirinya dalam masalah—dia pernah berada di tempat itu sebelumnya. Saat Becker berdiri mengangkangi sepeda motornya yang diam, sambil memutuskan ke mana harus berbelok, mesin motornya mati. Penunjuk isi tangki bensin menunjukkan VACIO. Bagai telah diberi aba-aba, sebuah bayangan muncul dan sebuah lorong di sebelah km Becker. Otak manusia adalah komputer tercepat. Beberapa detik kemudian, otak Becker mengenali bentuk kacamata pria itu. Ingatannya mencocokkan bentuk itu dan menemukannya.

Otaknya menyadari bahaya yang mengancam dan meminta sebuah keputusan. Becker mendapatkannya. Dia menjatuhkan sepeda motor tidak berguna itu dan berlari cepat.

Malang bagi Becker, Hulohot sekarang berjalan kaki, bukannya berada di dalam taksi yang melaju. Dengan tenang, pembunuh itu mengangkat senjatanya dan menembak.

Peluru itu menyerempet sisi tubuh Becker tepat saat pengajar itu mencapai sebuah sudut di luar jarak tembak. Setelah enam atau tujuh langkah, Becker mulai merasakannya. Awalnya seperti keram otot di atas pinggulnya. Kemudian berubah seperti gatal yang hangat. Ketika Becker melihat darah, dia sadar. Tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa sakit di mana pun. Vang ada hanya berlari masuk ke dalam lorong Santa Cruz yang berkelok-kelok.

HULOHOT MENGEJAR buruannya. Dia tergoda untuk menembak kepala Becker, tetapi dia seorang profesional; dia memanfaatkan kesempatan dengan baik. Becker adalah sasaran yang bergerak, dan membidik bagian tengah tubuhnya akan mempertipis kemungkinan meleset, baik secara vertikal maupun horizontal. Namun, kesempatan itu telah hilang. Becker berkelit pada detik terakhir, dan bukannya mengenai kepala Becker, peluru Hulohot menyerempet bagian sisi tubuhnya. Walaupun Hulohot sadar pelurunya hanya menggores Becker, tetapi tembakan itu memuaskan. Kontak telah terjadi. Sang mangsa telah disentuh oleh maut. Ini sebuah permainan baru.

BECKER BERLARI dengan membabi buta. Berbelok. Berkelok. Menghindari jalan-jalan yang lurus. Pikirannya kosong. Kosong sama sekali—di mana dirinya berada, siapa yang mengejarnya—yang tinggal hanya naluri, melindungi diri sendiri. Tidak ada rasa sakit, hanya rasa takut, dan tenaga yang besar.

Sebuah tembakan mengenai ubin azulejo di belakang Becker. Kepingan kaca berhamburan di belakang lehernya. Becker berbelok ke km, masuk ke lorong lain. Dia berteriak minta tolong, tetapi kecuali suara langkah kakinya dan napasnya yang berat, udara pagi tetap sunyi.

Sisi tubuh Becker terasa perih sekarang. Dia khawatir telah meninggalkan jejak merah di atas jalan berkapur tadi. Becker melihat ke sekelilingnya untuk mencari pintu yang terbuka, gerbang yang terbuka, atau jalan kabur apa pun untuk keluar dan ngarai yang menyesakkan itu. Tidak ada. Lorong itu menyempit.

“Socorro!” Suara Becker hampir tidak terdengar. “Tolong!”

Dinding pada kedua sisi Becker semakin merapat. Lorong itu berbelok. Becker mencari sebuah persimpangan, sebuah cabang, sebuah jalan keluar. Lorong itu semakin menyempit. Pintu-pintu terkunci. Lorong-lorong bertambah sempit. Gerbang- gerbang terkunci. Suara langkah kaki semakin mendekat. Becker berada di jalan yang lurus, dan mendadak lorong itu menanjak serta menjadi lebih curam. Becker merasa kakinya pegal dan gerakannya menjadi lambat.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.