Baca Novel Online

Digital Fortress

Susan mengangguk. Hal itu sangat masuk akal. Tankado memaksa NSA untuk memberi tahu dunia tentang TRANSLTR. Ini pemerasan. Tankado memberikan sebuah pilihan pada NSA—memberi tahu dunia tentang TRANSLTR atau kehilangan bank data. Susan menatap dengan takjub teks di depannya. Pada bagian bawah layar, sebaris kata berkedip-kedip.

MASUKKAN KUNCI SANDI

Sambil menatap kata-kata yang berkedip itu, Susan menjadi mengerti—virus, kunci sandi, cincin Tankado, rencana pemerasan yang sangat cerdik. Kunci sandi yang mereka cari bukan untuk membuka sebuah alogaritma. Kunci sandi tersebut adalah sebuah antidot, sebuah penawar. Kunci sandi tersebut bisa menghentikan virus itu. Susan telah banyak membaca tentang virus-virus seperti itu—program-program berbahaya yang dibuat beserta dengan obatnya, yaitu sebuah kunci rahasia yang bisa menonaktifkan virus-virus tersebut. Tankado tidak pernah berencana menghancurkan data utama NSA—dia hanya ingin agar kita mengumumkan pada pubhc tentang TRANSLTR! Kemudian, dia akan memberikan kunci sandi itu pada kita agar kita bisa menghentikan virusnya!

Sekarang, sudah menjadi jelas bagi Susan bahwa rencana Tankado telah melenceng. Tankado tidak berencana untuk mati. Dia berencana untuk duduk di dalam sebuah bar di Spanyol sambil mendengarkan konferensi pers CNN tentang komputer pemecah kode rahasia milik Amerika. Kemudian, dia akan menghubungi Strathmore untuk membacakan kunci sandi yang terukir di cincinnya, dan menyelamatkan bank data pada saat yang tepat. Setelah tertawa, Tankado akan menghilang sebagai seorang pahlawan EFF.

Susan memukul meja dengan kepalan tangannya. “Kita membutuhkan cincin itu! Cincin itu adalah satu-satunya kunci sandi yang ada!” Sekarang dia mengerti— tidak ada North Dakota, tidak ada kunci sandi yang lain. Bahkan jika NSA mengumumkan kepada publik tentang TRANSLTR, Tankado sudah tidak ada untuk menyelamatkan mereka.

Strathmore terdiam.

Situasi ini menjadi lebih serius dan yang pernah dibayangkan Susan. Vang paling mengejutkan adalah, Tankado membiarkan hal ini berlangsung sampai sejauh ini. Dia tentunya tahu apa yang akan terjadi jika NSA sampai tidak mendapatkan cincin itu—tetapi malahan, pada detik-detik terakhir hidupnya, dia memberikan cincin itu kepada orang lain. Tankado telah dengan sengaja menjauhkan cincin itu dan mereka. Tapi lalu Susan sadar, dia bisa berharap Tankado berbuat apa—menyimpan cincin itu untuk mereka, padahal pria itu berpikir merekalah yang membunuhnya? Tetap saja, Susan tidak bisa percaya bahwa Tankado telah membiarkan hal ini terjadi. Tankado cinta damai. Dia tidak ingin membuat kehancuran. Vang diinginkannya hanyalah meluruskan yang salah. Ini adalah tentang TRANSLTR. Ini tentang hak setiap orang untuk menyimpan rahasia. Ini tentang membuat dunia sadar bahwa NSA selalu menguping mereka. Susan tidak bisa membayangkan Ensei Tankado dapat melakukan sebuah agresi untuk menghapus data utama NSA.

Suara sirene menarik Susan kembali pada kenyataan. Dia melirik ke arah sang komandan yang hancur dan dia tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu. Bukan hanya rencana untuk menambahkan sebuah celah pada Benteng Digital saja yang hancur, tetapi keteledoran Strathmore telah membuat NSA berada dalam sebuah bencana keamanan terburuk sepanjang sejarah A.S.

“Komandan, ini bukan salah Anda!” kata Susan berusaha mengalahkan suara sirene. “Kalau saja Tankado belum mati, kita masih bisa tawar-menawar—kita masih memiliki pilihan!”

Tetapi Komandan Strathmore tidak mendengarnya. Hidup Strathmore telah hancur. Dia mengabdikan dirinya kepada negara selama tiga puluh tahun. Saat ini seharusnya merupakan masa kejayaannya, mahakaryanya— sebuah celah pada standar pembuatan sandi dunia. Tetapi malahan, dirinya mengirim sebuah virus ke dalam bank data utama NSA. Tidak ada yang bisa menghentikan virus itu—tidak bisa tanpa memutuskan tenaga listrik dan menghapus miliaran bit data. Hanya cincin itu yang bisa menyelamatkan mereka, dan jika sampai sekarang David belum menemukan cincin itu ….

“Saya harus mematikan TRANSLTR!” Susan mengambil kendali. “Saya akan turun ke lantai bawah tanah dan memutuskan sambungan listriknya.”

Strathmore berpaling pelan ke arah Susan. “Aku yang akan melakukannya,” katanya serak. Dia berdiri terhuyung saat hendak beranjak dan belakang mejanya.

Susan membuat sang komandan terduduk kembali. “Tidak,” teriak Susan. “Saya yang akan pergi.” Suaranya tegas dan tidak bisa dibantah.

Strathmore meletakkan wajahnya ke dalam kedua belah tangannya. “Baiklah. Lantai dasar. Di sebelah pompa-pompa freon.”

Susan berbahk dan menuju pintu. Baru separuh jalan, dia berbahk lagi dan menatap ke belakang. “Komandan,” teriak Susan. “Ini belum berakhir. Kita belum kalah. Jika Dauid menemukan cincin tersebut tepat pada waktunya, kita bisa menyelamatkan bank data.”

Strathmore tidak mengatakan apa-apa.

“Hubungi bagian bank data!” perintah Susan. “Peringatkan mereka tentang virus itu! Kau adalah Wakil DirekturNSA. Kau bisa bertahan!”

Dengan gerakan lambat, Strathmore menengadah. Bagaikan seorang pria yang sedang membuat keputusan terpenting di dalam hidupnya, Strathmore mengangguk sedih pada Susan.

Dengan tekad yang bulat, Susan melangkah ke dalam kegelapan.

***

87

VESPA ITU meluncur masuk ke jalur lambat Carreta de Huelva. Saat itu hampir subuh, tetapi lalu-lintas sudah ramai—muda-mudi Sevilla baru pulang dari pesta pantai semalam suntuk. Sekelompok remaja di dalam sebuah van berlalu sambil membunyikan klakson. Sepeda motor Becker tampak bagaikan sebuah mainan di jalan bebas hambatan itu.

Seperempat mil di belakang Becker, sebuah taksi bobrok melaju ke dalam jalan bebas hambatan yang sama dengan per-cikan api pada bagian rodanya. Taksi itu mempercepat lajunya dan menyalip sebuah Peugeot 504, membuat mobil itu menerobos masuk ke dalam jalur hijau.

Becker melewati sebuah petunjuk jalan: SEVILLA CENTRO—2 KM. Jika dia bias mencapai pusat kota, dia mungkin masih mempunyai kesempatan. Penunjuk kecepatan pada motornya menunjukkan angka 60 kilometer per jam. Dua menit dari pintu keluar. Becker sadar bahwa dia tidak punya waktu sebanyak itu. Dari arah belakang, taksi itu menyusulnya. Becker melihat ke arah lampu-lampu pusat kota Sevilla yang semakin mendekat di depannya dan berdoa agar dia bisa mencapai tempat itu dalam keadaan hidup.

Dauid Becker berada separuh jalan dan pintu keluar ketika dia mendengar suara gesekan logam dan arah belakang. Becker membungkuk di atas motornya sambil memutar gas sepenuh mungkin. Dia mendengar suara tembakan yang teredam, dan sebuah peluru terbang melewatinya. Dia memotong ke km dan berkelit ke sana kemari di antara jalur lalu-hntas untuk mengulur waktu. Tetapi tidak ada gunanya. Pintu keluar yang melandai masih tiga puluh yard di depan, sedangkan taksi itu menderu beberapa mobil jaraknya dan Becker. Ahli bahasa itu sadar, tinggal masalah waktu sebelum dirinya ditembak atau ditabrak. Dia melihat ke depan untuk mencari jalan kabur, tetapi kedua sisi jalan raya itu dibatasi oleh lereng-lereng curam yang berkerikil. Setelah terdengar bunyi tembakan lagi, sang dosen membuat keputusan. Becker mencondongkan badannya ke kanan dan meluncur keluar dan jalan. Roda motor itu mendecit dan mengeluarkan percikan api. Ban-bannya menghantam bagian kaki lereng. Becker berusaha menjaga keseimbangannya saat Vespanya menghamburkan kerikil ke udara sembari bergerak dengan susah payah mendaki sisi curam tersebut. Roda-roda Vespa itu berputar hebat sambil berusaha mencengkeram tanah di bawahnya. Mesin kecil motor itu merengek parah. Becker memaksa motornya untuk terus sambil berharap mesinnya tidak mogok. Dia tidak berani menengok ke belakang. Dia yakin sebentar lagi taksi itu akan berhenti dan peluru akan beterbangan,

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.