Baca Novel Online

Digital Fortress

Kira-kira sepertiga jalan menuju ke atas, Hale merasakan ada gerakan pada bagian dasar tangga. Strathmore sedang bergerak! “Jangan coba-coba, Komandan,” desis Hale. “Kau hanya akan membuat Susan terbunuh.”

Hale menanti. Tetapi hanya ada kesunyian. Dia mendengar dengan cermat. Tidak ada apa-apa. Tidak ada gerakan di bagian bawah tangga. Apakah dia tadi hanya berkhayal? Tidak penting. Strathmore tidak akan berani mengambil risiko menembak selama Hale terhalang oleh Susan.

Tetapi saat Hale bergerak ke atas tangga sambil menyeret Susan, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Ada sebuah suara berdebam lembut pada akhir anak tangga di belakangnya. Hale berhenti. Adrenalinnya mengalir kencang. Apakah Strathmore berhasil menyelinap ke atas? Nalurinya mengatakan bahwa Strathmore masih berada di bawah tangga. Tetapi kemudian, dengan tiba-tiba, suara itu terdengar lagi—lebih keras sekarang. Terdengar sebuah langkah di bagian atas!

Dengan ngeri, Hale menyadari kesalahannya. Strathmore sedang berdiri di belakangku! Dia bisa menembak punggungku dengan leluasa! Dengan putus asa, Hale memutar Susan ke bagian depannya dan mulai menuruni tangga.

Saat Hale mencapai anak tangga terakhir di bawah, dia menatap dengan liar ke atas dan berteriak, “Mundur, Strathmore! Mundur, atau aku akan mematahkan-”

Di bagian bawah tangga, bagian pegangan Beretta melayang di udara dan menghantam tengkorak Hale.

Ketika Susan melepaskan dirinya dan Hale yang roboh, dia berputar dengan bingung. Strathmore menggapai dan menariknya, lalu mendekap badannya yang gemetar. “Syyy, “Strathmore menenangkan. “Ini aku. Kau baik-baik saja.”

Tubuh Susan bergetar. “Ko … mandan,” kata Susan terengah dan dengan bingung. “Saya pikir … saya pikir

Anda berada di lantai atas … saya mendengar

“Sekarang tenanglah,” bisik sang komandan. “Tadi aku melemparkan sepatuku ke atas.”

Susan tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan. Sang komandan baru saja menyelamatkan hidupnya. Sambil berdiri di dalam kegelapan, Susan merasa sangat lega. Tetapi walaupun begitu, dia bukannya tidak merasa bersalah. Bagian Keamanan sedang menuju kemari. Dia dengan bodohnya telah membiarkan Hale menawannya dan menggunakan dinDInya untuk melawan Strathmore. Susan sadar, sang komandan telah membayar mahal untuk menyelamatkan nyawanya. “Saya minta maaf,” katanya. “Untuk apa?”

“Rencana Anda dengan Benteng Digital … sudah hancur.”

Strathmore menggeleng. “Sama sekali tidak.”

“Tetapi … tetapi bagaimana dengan Bagian Keamanan? Mereka akan segera tiba. Kita tidak mempunyai waktu untuk-”

“Bagian Keamanan tidak akan kemari, Susan. Kita mempunyai banyak waktu.

Susan menjadi bingung. Tidak akan kemari? “Tetapi tadi Anda menelepon

Strathmore terkekeh. “Tipuan kuno. Aku tadi berpura-pura menelepon.”

***

83

TIDAK DIRAGUKAN lagi, Vespa Becker adalah kendaraan terkecil yang pernah melintas di landasan pacu Sevilla. Dengan kecepatan penuh pada 50 mil per jam, suaranya lebih mirip mesin gergaji listrik daripada sepeda motor. Malangnya, kecepatan tersebut tidak cukup untuk terbang.

Pada kaca spionnya, Becker melihat taksi tersebut muncul dari bagian landasan pacu yang gelap, kira-kira empat ratus kaki di belakangnya. Dengan cepat taksi tersebut menyusulnya. Becker menatap ke depan. Sekitar setengah mil jauhnya di depan, hanggar pesawat terlihat berdiri dengan latar belakang langit malam. Becker bertanya-tanya apakah dengan jarak itu taksi tersebut bisa mengejarnya. Ah, Susan bisa menghitung hai tersebut dengan cepat, David terkenang kekasihnya. Tiba-tiba dia merasa takut luar biasa.

Becker menundukkan kepalanya dan memutar gas setir semaksimal mungkin. Vespa itu melaju pada kecepatan tertinggi. Becker menduga kecepatan taksi di belakangnya mencapai sembilan puluh mil per jam, dua kali kecepatannya. Dia menatap ke arah tiga bangunan yang berdiri di kejauhan. Yang di tengah. Itulah tempat Learjet itu berada. Terdengar sebuah suara tembakan.

Peluru itu tertanam di dalam landasan pacu beberapa yard di belakang Becker. Dia menoleh ke belakang. Pembunuh itu sedang melongok dan jendela taksi dan berusaha membidik ke arahnya. Becker berkelit dan kaca spionnya meledak hancur. Dia bisa merasakan getaran tembakan itu pada gagang setirnya. Dia menundukkan badannya ke sepeda motornya. Tuhan, tolong aku, aku tidak, bisa lolos!

Aspal di depan Vespa Becker bertambah terang sekarang. Taksi itu semakin dekat. Lampu depannya rnen-ciptakan bayangan seram di atas landasan pacu. Pistol pembunuh itu meletus lagi. Sebuah peluru menyerempet lambung sepeda motor Becker.

Becker berusaha agar tidak oleng. Aku harus mencapai hanggar itu! Dia bertanya-tanya apakah pilot Learjet itu bias melihat kedatangannya. Apakah pilot itu memiliki senjata? Apakah dia bisa membuka pintu pesawat tepat pada waktunya? Tetapi ketika Becker mendekati hanggar yang terbuka lebar dan terang itu, dia sadar pertanyaannya tidak ada gunanya. Pesawat Learjet itu tidak kelihatan di mana-mana. Dia berusaha melihat de- ngan pandangannya yang kabur sambil berharap dirinya hanya sedang berhalusinasi. Tetapi ternyata tidak. Hanggar itu kosong melompong. Ya Tuhan! Di mana pesawat itu?

Ketika kedua kendaraan itu melesat masuk ke dalam hanggar kosong tersebut, Becker dengan nekat mencari jalan kabur. Tetapi tidak ada satu pun. Dinding dan lembaran logam yang bergelombang pada belakang bangunan itu tidak memiliki pintu maupun jendela. Taksi itu melaju di sisi Becker. Saat dia menoleh ke km, Hulohot sedang mengangkat pistolnya.

Refleks menguasai diri Becker. Dia menginjak remnya keras-keras. Tetapi kecepatannya hampir tidak berkurang. Lantai hanggar itu licin oleh minyak sehingga Vespa itu tergelincir ke depan.

Dan sisinya terdengar suara mendecit keras saat taksi tersebut direm dan ban-bannya yang botak meluncur di atas permukaan yang licin. Hanya beberapa inci di sebelah km Vespa Becker yang tergelincir, mobil itu berputar di dalam gumpalan kabut asap pembuangan dan asap karet yang terbakar.

Pada posisi yang saling bersebelahan, kedua kendaraan itu meluncur tak terkendali dan akan menabrak bagian belakang hanggar itu. Becker dengan nekat menginjak rem, tetapi tidak ada gunanya. Dia merasa seperti melaju di atas es. Di depannya, dinding logam tampak semakin mendekat. Segalanya terjadi begitu cepat. Saat taksi itu berputar bagai spiral di sampingnya, Becker menghadap dinding dan bersiap-siap menghadapi tubrukan.

Kemudian terdengar suara tabrakan antara baja dan logam bergelombang yang memekakkan telinga. Tetapi tidak ada rasa sakit. Tiba-tiba Becker mendapati dirinya di udara terbuka, masih di atas Vespanya, dan terpantul-pantul di atas lapangan berumput. Seolah-olah dinding belakang hangar di depannya tadi menghilang. Taksi itu masih berada di sisinya sambil melaju dengan gerakan zig-zag di atas lapangan. Selembar logam bergelombang dan dinding belakang hangar itu terbang di atas atap taksi dan melayang di atas kepala Becker.

Dengan jantung yang berpacu, Becker rnernacu Vespanya dan melaju ke dalarn kegelapan malam.

***

84

JABBA MENDESAH senang saat dia menyelesaikan patrian terakhirnya. Dia mematikan alat soldernya, meletakkan pen lampunya, dan berbaring beberapa saat di dalam komputer raksasa yang gelap itu. Jabba merasa lelah. Lehernya pegal. Pekerjaan di dalam selalu menyesakkan, apalagi untuk seseorang seukuran badannya.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.