Baca Novel Online

Digital Fortress

Dengan cepat dan jelas, Becker merasakan sesuatu yang belum pernah dialaminya sebelumnya. Seolah diperingatkan oleh naluri untuk bertahan hidup dan alam bawah sadarnya, setiap otot pada badannya bergerak secara bersamaan. Dia melompat ke udara saat sebutir peluru terlontar keluar dan pistol Hulohot. Dia jatuh di atas badan Megan. Peluru tersebut menghantam dinding di belakangnya.

“Mierda!” geram Hulohot. Entah bagaimana, Becker telah berhasil mengelak dan tembakannya. Pembunuh itu bergerak maju.

Dauid Becker berusaha bangkit dan tubuh remaja yang telah tewas itu. Dia mendengar suara langkah kaki. Suaranapas. Suara pistol yang dikokang.

“Adios,” bisik Hulohot sambil menerobos maju dan mengayunkan pistolnya ke dalam bilik.

Pistol itu meletus. Ada sesuatu yang berwarna merah melayang di udara, tetapi bukan darah. Benda lain. Sebuah benda yang tiba-tiba muncul, melayang keluar dan bilik, dan menghantam dada pembunuh itu. Akibatnya, pistol sang pembunuh meletus satu detik lebih cepat. Benda tersebut adalah tas Megan.

Becker mendobrak keluar dan dalam bilik. Dia menghambur ke dada pembunuh itu dan mendorongnya ke arah wastafel. Terdengar suara pecahan yang amat keras. Cermin di kamar kecil itu hancur. Pistol si pembunuh terjatuh. Kedua pria itu jatuh ke lantai. Becker melepaskan dirinya dan kabur ke arah pintu keluar. Hulohot menggapai pistolnya, berbahk, dan menembak. Pelurunya menancap pada daun pintu yang terbanting menutup.

Ruang luas di bandara yang kosong itu tampak bagaikan hamparan gurun yang tak terseberangi di depan Becker. Kakinya bergerak lebih cepat dan yang dibayangkannya.

Saat masuk ke dalam pintu putar itu, Becker mendengar sebuah letusan tembakan dan arah belakang. Panel kaca di depannya hancur berkeping-keping bagaikan hujan beling. Becker mendorong bingkai pintu itu dengan bahunya dan pintu itu bergerak maju. Sesaat kemudian dia terlontar ke arah trotoar di luar.

Ada sebuah taksi yang sedang menunggu. “Dejame entrar!” teriak Becker sambil menggedor pintu taksi yang terkunci itu. “Biarkan aku masuk!” Pengemudi itu menolak karena dia sedang menunggu penumpang berkacamata dengan bingkai kawat itu. Becker berbahk dan melihat Hulohot dengan pistol di tangan sedang menyeberangi ruang luas bandara tersebut. Becker melihat ke arah Vespa kecilnya di atas trotoar. Matilah aku.

Hulohot menerjang keluar dan pintu berputar itu dan melihat Becker berusaha menyalakan Vespanya dengan siasia. Hulohot tersenyum dan mengangkat senjatanya.

Choke-nya! Becker menarik tuas di dekat tangki bensin Vespa tersebut. Kemudian, dia mencoba menyalakan motor itu lagi. Motor tersebut terbatuk dan mati.

“El anillo. Cincin itu.” Suara Hulohot mendekat.

Becker menengadah. Dia melihat laras pistol itu. Ruang pelurunya sedang berputar. Becker menjejakkan kakinya ke pedal starter sekali lagi.

Tembakan Hulohot meleset dan kepala Becker saat motor kecil itu menyala dan meluncur maju. Becker berpegangan kencang pada motornya saat kendaraan tersebut meloncat turun dan tepi jalan yang berumput dan bergerak oleng di dekat pojok bangunan bandara ke arah landasan pacu.

Dengan marah Hulohot berlari ke arah taksi yang sedang menunggu. Beberapa detik kemudian, si sopir taksi tergeletak di jalan sambil menyaksikan kendaraannya menderu di balik kabut asap.

***

82

SAAT GREG Hale sadar akan implikasi telepon sang komandan ke Bagian Keamanan, kriptografer muda itu merasa lemas karena panik. Bagian Keamanan sedang menuju kemari,’ Cengkeramannya pada Su- san mulai melonggar. Hale tersadar dan kembali mempererat cengkeramannya pada bagian tengah tubuh Susan.

“Lepaskan aku!” jerit Susan. Suaranya bergema ke seluruh kubah.

Pikiran Hale kalang kabut. Telepon sang komandan telah mengejutkannya. Strathmore menghubungi Bagian Keamanan,’ Dia mengorbankan rencananya untuk Benteng Digital!

Hale tidak pernah membayangkan sang komandan akan melepaskan Benteng Digital. Celah itu adalah kesempatan sekali seumur hidup.

Saat gelombang panik menyerangnya, pikiran Hale seolah mempermainkan dirinya sendiri. Dia melihat laras Beretta Strathmore ke mana pun dia memandang. Dia mulai berputar sambil mendekap Susan untuk menangkis tembakan sang komandan. Karena takut, Hale dengan membabi buta menyeret Susan ke dekat tangga. Dalam lima menit, lampu akan kembali menyala, pintu-pintu akan terbuka, dan pasukan SWAT akan berhamburan masuk.

“Kau menyakitiku!” Susan tercekat. Dia terengah-engah sambil berusaha mengimbangi gerakan Hale yang berputar.

Hale mempertimbangkan untuk melepaskan Susan dan berlari ke arah lift Strathmore, tetapi itu sama saja dengan bunuh diri. Dia tidak memiliki kata kunci lift itu. Selain itu, saat dirinya berada di luar NSA tanpa seorang sandera, dia tahu dia akan segera mati. Bahkan mobil Lotus miliknya tidak akan bisa menyaingi armada helikopter NSA. Susan adalah satu-satunya hal yang membuat Strathmore tidak meledakkan aku di jalan.

“Susan,” kata Hale sambil menyeret Susan ke arah tangga. “Ikut aku! Aku bersumpah tidak akan menyakitimu!”

Ketika Susan memberontak, Hale sadar dirinya berada dalam masalah. Bahkan jika dia bisa membuka pintu lift Strathmore dan membawa serta Susan, wanita itu pasti akan terus meronta saat mereka berdua keluar dan gedung. Hale sepenuhnya sadar bahwa lift Strathmore hanya berhenti pada satu tempat. “Jalan Bawah Tanah,” sebuah akses bawah tanah berbentuk labirin yang khusus dilewati oleh para petinggi secara rahasia. Hale tidak ingin tersesat di koridor bawah tanah NSA bersama seorang sandera yang meronta-ronta. Itu benar-benar akan menjadi jebakan maut. Bahkan jika dia berhasil keluar, Hale sadar dia tidak memiliki senjata. Bagaimana dia akan menyeret Susan melintasi lapangan parkir? Bagaimana dia akan menyetir?

Suara seorang profesor strategi militer sewaktu Hale masih berada di marinir memberinya jawaban:

Gunakanlah kekerasan, suara tersebut mengingatkan, dan kau akan merasakan perlawanan. Tetapi jika kau bisa meyakmDI kan seseorang untuk berpikir seperti yang kaukehendaki, kau akan mendapatkan seorang sekutu.

“Susan,” Hale berkata, “Strathmore adalah pembunuh. Kau dalam bahaya di sini!”

Tampaknya Susan tidak mendengarkan. Hale sadar apa yang dilakukannya itu konyol. Strathmore tidak mungkin menyakiti Susan, dan Susan tahu itu.

Hale berusaha melihat di dalam kegelapan dan ber-tanyatanya di mana sang komandan bersembunyi. Strathmore tibatiba terdiam, membuat Hale bertambah panik. Dirinya merasa terdesak oleh waktu. Bagian Keamanan akan segera tiba.

Dengan sekuat tenaga, Hale merangkul pinggang Susan dan menariknya ke atas tangga. Susan berusaha melawan dengan mencantelkan kakinya pada anak tangga pertama, tetapi tidak ada gunanya. Hale jauh lebih kuat.

Dengan berhati-hati, Hale menaiki tangga dengan berjalan mundur sambil menyeret Susan. Mendorong wanita itu naik mungkin akan lebih mudah, tetapi bagian ujung tangga di atas diterangi oleh cahaya monitor Strathmore. Jika Susan naik lebih dahulu, Strathmore akan bisa menembak punggung Hale dengan leluasa. Dengan menyeret Susan di depannya, Hale memiliki seorang perisai manusia di antara dirinya dan lantai Crypto.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.