Baca Novel Online

Digital Fortress

Susan terengah. “Komandan! Jangan!”

Hale mempererat kepitannya. “Jika kau memanggil Bagian Keamanan, dia akan mati!”

Strathmore menarik telepon seluler dan ikat pinggangnya dan menyalakannya. “Greg, kau hanya menggertak.”

“Kau tidak akan pernah melakukannya!” teriak Hale. “Aku akan berbicara! Aku akan menghancurkan rencanamu! Sebentar lagi kau akan mencapai impianmu. Menguasai seluruh data di dunia! Tidak akan ada lagi batasan—hanya ada informasi gratis. Ini kesempatan seumur hidup! Kau pasti tidak ingin kehilangan itu!”

Suara Strathmore bagai baja. “Kita lihat saja nanti.”

“Tetapi—tetapi bagaimana dengan Susan?” tanya Hale tergagap. “Jika kau menelepon, dia akan mati!”

Strathmore bersikeras. “Itu risiko yang kuambil.”

“Omong kosong! Kau lebih menginginkannya dibandingkan dengan Benteng Digital! Aku kenal kau! Kau tidak akan mengambil risiko itu!”

Susan mulai memprotes marah, tetapi Strathmore mengalahkannya. “Anak muda! Kau tidak kenal aku! Aku mengambil risiko untuk hidup. Jika kau ingin bermain kasar, ayo!” Strathmore mulai memencet tombol pada teleponnya. “Kau salah menilaiku! Tidak ada yang boleh mengancam nyawa pegawaiku dan keluar dengan bebas!” Strathmore mengangkat telepon itu dan berteriak ke corong telepon seluler itu. “Operator! Hubungkan dengan

Bagian Keamanan!”

Hale mulai memelintir leher Susan. “A-aku akan membunuhnya. Aku bersumpah!”

“Kau tidak akan melakukannya!” seru Strathmore. “Membunuh Susan hanya akan memperkeruh suasana-” Strathmore berhenti dan menekan telepon itu ke mulutnya. “Bagian Keamanan! Ini Komandan Treuor Strathmore. Di Crypto ada seseorang yang ditawan! Kirimkan beberapa petugas kemari! Va, sekarang, sialan! Kita juga mempunyai masalah dengan pembangkit tenaga listrik. Aku ingin tenaga listrik disalurkan kemari dan segala sumber yang ada di luar. Aku menginginkan semua sistem berfungsi dalam waktu lima menit. Greg Hale telah membunuh seorang petugas Sys-Sec juniorku. Sekarang dia sedang menawan knptografer seniorku. Kau bebas menggunakan gas air mata jika perlu! Jika Mr. Hale tidak mau bekerja sama, kirim penembak jitu untuk menembaknya. Aku yang akan bertanggung jawab penuh. Lakukan sekarang!”

Hale berdiri tidak bergerak—tampaknya dia lemas karena tidak percaya. Cengkeramannya pada Susan menjadi longgar.

Strathmore mematikan teleponnya dan memasukkannya kembali ke ikat pinggangnya. “Giliranmu sekarang, Greg.”

***

80

DAVID BECKER, dengan pandangan kabur, berdiri di samping bilik telepon umum di bandara. Walaupun wajahnya terbakar dan merasa sedikit mual, semangatnya kembali bangkit. Semuanya telah berlalu. Benar-benar berlalu. Dia akan pulang. Cincin di tangannya adalah barang yang selama ini dicarinya. Dia mengangkat tangannya ke arah lampu dan memicingkan matanya ke arah cincin emas tersebut. Dia tidak bisa melihat dengan baik untuk membaca, tetapi ukiran pada cincin tersebut tidak tampak seperti bahasa Inggris. Simbol pertama mungkin Q, O, atau nol. Matanya terlalu perih untuk membaca dengan baik. Dia mempelajari beberapa karakter pertama pada cincin itu. Karakter-karakter tersebut tidak masuk akal. Inikah masaiah keamanan nasionai itu ?

Becker melangkah masuk ke dalam bilik telepon itu dan memutar nomor Strathmore. Sebelum dia memutar kode internasional, Becker mendengar sebuah suara rekaman. “Todos los circuitos estan ocupados,” kata suara dalam rekaman itu. “Silakan akhiri sambungan ini dan coba sekali lagi.” Becker mengernyit dan memutuskan sambungan itu. Dia lupa bahwa mendapatkan sambungan internasional dan Spanyol sama seperti permainan roulette. Semuanya bergantung pada waktu dan keberuntungan. Becker harus mencoba beberapa menit lagi.

Becker berjuang untuk mengabaikan rasa perih menyengat yang berangsur berkurang di matanya. Megan telah memberitahunya bahwa menggosok-gosok matanya akan memperburuk keadaan. Becker tidak bisa membayangkan hal itu. Dengan tidak sabar, dia mencoba menelepon lagi. Masih tidak ada hubungan. Becker tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Matanya benar-benar panas. Dia harus membilasnya dengan air. Strathmore bisa menunggu satu atau dua menit lagi. Dalam keadaan setengah buta, Becker menuju kamar kecil.

Bayangan kabur dan kereta pembersih masih tampak di depan pintu kamar kecil pria, jadi Becker kembali menuju pintu yang bertanda DAMAS. Dia merasa mendengar suara dan dalam. Dia mengetuk. “Hola?”

Sunyi.

Mungkin Megan, pikir Becker. Gadis itu masih mempunyai waktu lima jam sebelum pesawatnya terbang dan dia tadi bilang akan menggosok tangannya sampai bersih.

“Megan?” panggil Becker. Dia mengetuk lagi. Tidak ada jawaban. Dia mendorong pintu tersebut. “Halo?” Becker melangkah masuk. Kamar kecil itu tampak kosong. Becker mengangkat bahunya dan berjalan ke arah wastafel.

Wastafel itu masih tetap kotor, tetapi airnya dingin. Becker merasakan pon-ponnya mengencang saat dia membasuh wajahnya. Rasa perih yang dirasakannya mulai berkurang dan pandangannya yang berkabut secara perlahan mulai menjadi lebih jelas. Becker melihat bayangannya sendiri pada cermin. Tampangnya seperti habis menangis selama berhari-hari.

Setelah mengeringkan matanya dengan lengan jasnya, Becker tiba-tiba menyadari sesuatu. Dalam segala kehebohan yang terjadi, dia telah melupakan di mana dirinya berada. Dia berada di bandara! Di suatu tempat di luar sana, di dalam salah satu dan ketiga hanggar pesawat pribadi di bandara Seuilla, sebuah pesawat Learjet 60 sedang menanti untuk membawanya pulang. Sang pilot sudah mengatakannya dengan jelas. Saya diperintahkan untuk menunggu di sini sampai Anda kembali.

Ini benar-benar sulit dipercaya, pikir Becker. Setelah semua yang terjadi, dia kembali ke tempat dia mulai. Apa lagi yang kutunggu? Becker tertawa. Aku yakin pilot itu bisa mengirimkan pesan kepada Strathmore.

Sambil terkekeh sendiri, Becker berkaca dan merapikan dasinya. Dia baru saja akan pergi ketika dia melihat ada sesuatu di belakangnya melalui bayangan dalam cermin. Dia berbahk. Benda yang menonjol dan salah satu pintu bilik yang setengah terbuka itu tampak seperti ujung tas Megan.

“Megan?” Becker memanggil. Tidak ada jawaban. “Megan?”

Becker berjalan mendekat. Dia mengetuk pintu bilik itu dengan keras. Tidak ada jawaban. Dengan perlahan dia mendorong pintu tersebut. Daun pintunya bergerak terbuka.

Becker berusaha untuk tidak berteriak. Megan berada di dalam bilik kamar kecil tersebut. Mata gadis itu membelalak ke atas. Tepat di tengah dahinya terdapat sebuah lubang bekas peluru yang mengucurkan darah ke wajahnya.

“Oh, Tuhan!” Becker berteriak dengan terkejut.

“Esta rnuerta,” sebuah suara yang nyaris bukan suara manusia berbicara dan arah belakang Becker. “Dia telah mati.”

Ini seperti mimpi. Becker berbahk.

“Senor Becker? tanya suara yang mengerikan itu.

Dengan bingung, Becker mengamati pria yang sedang berjalan masuk ke dalam kamar kecil itu. Orang itu tampaknya tidak terlalu asing. “Soy Hulohot,” kata pembunuh itu.

“Saya Hulohot.” Katakatanya yang tidak jelas terdengar berasal dan rongga perutnya. Hulohot menyodorkan tangannya. “El anillo. Cincin itu.”

Becker menatap kosong.

Hulohot memasukkan tangannya ke dalam kantong dan mengeluarkan sebuah pistol. Dia mengangkat senjata itu dan menodongkannya ke arah kepala Becker. “El anillo.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.