Baca Novel Online

Digital Fortress

TIGA RIBU mil dan sana, sebuah uan pengawas melaju di jalan Seuilla yang gelap. Mobil itu diutus oleh NSA dengan tingkat kerahasiaan “Umbra” dan sebuah pangkalan militer di Rota. Dua pria di dalamnya merasa tegang. Ini bukan pertama kalinya mereka menerima perintah darurat dan Fort Meade, tetapi biasanya perintah itu tidak datang dan posisi yang begitu tinggi.

Agen di belakang kemudi berbicara lewat bahunya. “Ada tanda tentang pria itu?”

Mata rekannya tidak pernah meninggalkan tampilan monitor uideo lebar pada atap mobil. “Tidak. Jalan terus.”

***

78

DI BAWAH jalinan kabel yang simpang-siur, Jabba berkeringat. Dia masih berbaring terlentang dengan lampu pen yang terjepit di antara giginya. Dia sudah terbiasa bekerja hingga larut malam pada akhir pekan. Jam-jam yang lengang di NSA biasanya merupakan waktu yang tepat bagi Jabba untuk melakukan perawatan terhadap peranti keras. Saat dia memainkan alat solder besi yang merah menyala di antara jalinan kabel di atasnya, dia bergerak dengan sangat berhati-hati. Membakar salah satu kabel yang bergelantungan berarti bencana.

Hanya beberapa inci tagi, pikirnya. Pekerjaan itu lebih lama dari yang diperkirakannya.

Saat Jabba menaruh ujung solder di atas helaian timah terakhir, telepon selulernya berdering keras. Jabba terkejut, lengannya berdenyut, dan segumpal besar timah cair yang mendesis jatuh ke atas lengannya.

“Sial!” Jabba menjatuhkan alat soldernya dan hampir menelan lampu pennya. “Sial! Sial! Sial!”

Jabba menggosok tetesan timah tersebut dengan panik. Tetesan tersebut bergulir jatuh dan meninggalkan luka hangus yang lumayan. Cip yang tadi dia solder ikut terjatuh dan menimpa kepalanya.

“Sialan!”

Telepon itu berbunyi lagi, tetapi Jabba tidak menghiraukannya.

“Midge,” kutuk Jabba pelan. Sial kau! Crypto baik-baik saja! Telepon itu terus berbunyi. Jabba kembali menyolder cip tersebut. Semenit kemudian cip itu terpasang, tetapi teleponnya masih tetap berdering. Demi Tuhan, Midge! Menyerahlah!

Telepon itu berdering selama lima belas detik lagi dan akhirnya berhenti. Jabba bernapas lega.

Enam puluh detik kemudian, interkom di bagian atas berderak. “Apakah kepala Sys-Sec bisa menghubungi bagian switchboard utama untuk menerima sebuah pesan?”

Jabba memutar bola matanya dengan rasa tidak percaya. Midge benar-benar tidak, mau menyerah, ya? Jabba tidak mengacuhkan panggilan itu.

***

79

STRATHMORE MENGEMBALIKAN SkyPager ke dalam kantongnya dan menatap ke arah Node 3 di dalam kegelapan.

Strathmore meraih tangan Susan. “Ayo.”

Tetapi jari-jari mereka tidak pernah bersentuhan.

Ada teriakan panjang tercekat dari dalam kegelapan. Sesosok tubuh besar muncul—seperti sebuah truk raksasa tanpa lampu depan. Tak lama kemudian, terjadi sebuah tabrakan dan Strathmore tergelincir di atas lantai.

Itu adalah Hale. Pager Strathmore telah mengacaukan segalanya.

Susan mendengar pistol Beretta itu terjatuh. Untuk sejenak Susan terpaku di tempatnya. Dia tidak yakin hendak lari ke mana dan berbuat apa. Nalurinya menyuruhnya untuk kabur, tetapi dia tidak mempunyai kode lift. Hatinya menyuruhnya untuk menolong Strathmore, tetapi dengan cara apa? Ketika dia berputar dengan putus asa, dia mengira akan mendengar suara pergumulan antar hidup dan mati di atas lantai, tetapi dia tidak mendengar apa-apa. Tiba-tiba semuanya terdiam— seolah Hale telah menghantam sang komandan dan kemudian menghilang kembali dalam kegelapan.

Susan menunggu dan berusaha melihat di dalam kegelapan sambil berharap Strathmore tidak terluka. Setelah sekian lama, Susan berbisik, “Komandan?”

Bahkan pada saat dia mengucapkan kata tersebut, Susan menyadari kesalahannya. Pada saat itu juga bau Hale tercium dan arah belakang. Susan terlambat berbahk. Tanpa peringatan, dia meronta dan kehabisan napas. Ternyata dia menghantam sesuatu yang tidak asing lagi. Wajahnya membentur dada Hale.

“Buah zakarku sakit sekali,” kata Hale terengah di telinga Susan.

Lutut Susan menjadi lemas. Bintang-bintang di atas kubah mulai berputar.

***

80

HALE MENGEPIT leher Susan dan berteriak ke dalam kegelapan. “Komandan, aku telah menawan gadis kesayanganmu. Aku ingin keluar!”

Tuntutan Hale dibalas dengan kesunyian.

Kepitan Hale bertambah kencang. “Aku akan mematahkan lehernya.”

Sebuah pistol terkokang tepat di belakang mereka. Suara Strathmore tenang dan terkendali. “Lepaskan dia.”

Susan mengernyit kesakitan. “Komandan!”

Hale memutar badan Susan ke arah datangnya suara itu. “Jika kautembak, kau akan mengenai Susanmu tersayang. Apakah kau siap mengambil risiko itu?”

Suara Strathmore mendekat. “Lepaskan dia.”

“Tidak akan. Kau pasti akan membunuhku.”

“Aku tidak akan membunuh siapa pun.”

“Oh, ya? Katakan itu pada Chartrukian!” Strathmore bergerak mendekat. “Chartrukian telah mati.”

“Tentu saja. Kau yang membunuhnya.

Aku melihatnya!”

“Sudahlah, Greg,” kata Strathmore dengan tenang.

Hale mencengkeram Susan dan berbisik pada telinganya. “Strathmore telah mendorong Chartrukian—aku bersumpah!”

“Dia tidak akan jatuh ke dalam permainan adu dombamu,” kata Strathmore sambil bergerak mendekat. “Lepaskan dia.”

Hale mendesis dalam kegelapan, “Chartrukian hanyalah seorang anak kecil, demi Tuhan! Kenapa kau melakukannya? Untuk melindungi rahasia kecilmu?”

Strathmore tetap tenang. “Rahasia kecil apa itu?”

“Kau tahu dengan baik rahasia kecil apa itu! Benteng Digital!”

“Astaga,” Strathmore menggumam dengan gaya meremehkan. Suaranya sedingin es. “Jadi, kamu tahu tentang Benteng Digital. Tadinya kupikir kau akan menyangkalnya juga.”

“Bajingan kau.”

“Pertahanan diri yang cerdik.”

“Dasar bodoh,” umpat Hale. “Asal kautahu saja, TRANSLTR telah menjadi panas karena terlalu lama bekerja.”

“Masa?” Strathmore terkekeh. “Coba kutebak—aku harus membuka pintu dan memanggil petugas Sys-Sec?”

“Tepat sekali,” balas Hale. “Kau benar-benar bodoh jika tidak melakukannya.”

Kali ini Strathmore tertawa keras. “Jadi, itu masalah besar yang kaugembar-gemborkan? TRANSLTR menjadi terlalu panas sehingga semua pintu harus dibuka dan kita keluar dan sini?

“Memang begitu, sialan! Aku baru saja dan lantai bawah tanah! Pembangkit listrik cadangan tidak mampu memaksimalkan freon!”

“Terima kasih atas tipnya,” kata Strathmore. “Tetapi TRANSLTR bisa berhenti secara otomatis jika menjadi terlalu panas. Proses pemecahan Benteng Digital akan berhenti sendiri.”

Hale mencibir. “Kau sinting. Apa peduliku jika TRANSLTR meledak. Lagi pula, mesin itu seharusnya dilarang.”

Strathmore mendesah. “Psikologi anak-anak hanya berlaku untuk anak-anak, Greg. Lepaskan dia.” “Agar kau bisa menembakku?”

“Aku tidak akan menembakmu. Aku hanya menginginkan kunci sandi itu.”

“Kunci sandi apa?”

Strathmore mendesah lagi. “Vang dikirimkan Tankado kepadamu.”

“Aku tidak tahu apa maksudmu.”

“Pembohong!” jerit Susan. “Aku melihat surat Tankado di dalam account-mu!”

Hale menjadi kaku. Dia memutar badan Susan. “Kau masuk ke dalam account-ku?”

“Dan kau menggugurkan pelacakku?” bentak Susan.

Hale merasa tekanan darahnya melonjak naik. Dia pi-ker dia telah menutupi jejaknya. Dia tidak mengira Susan mengetahui apa yang telah dilakukannya. Tidak heran jika wanita itu tidak memercayai sepatah kata pun yang diucapkannya. Hale merasa terjepit. Dia tahu dirinya tidak bisa kabur—tidak sempat. Dia berbisik pada Susan dengan putus asa, “Susan … Strathmore telah membunuh Chartrukian!”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.