Baca Novel Online

Digital Fortress

Susan tidak berbicara.

Strathmore menatap Susan di dalam keremangan ruang kantor itu. Dia menepuk kursi di sebelahnya. “Susan, duduklah. Ada yang ingin kukatakan padamu.” Susan tidak bergerak. “Jika aku sudah selesai,” katanya, “aku akan memberimu kata kunci lift itu. Kau bisa memutuskan untuk pergi atau tidak.”

Mereka terdiam cukup lama. Dengan bingung, Susan menyeberangi ruangan itu dan duduk di samping Strathmore.

“Susan,” Strathmore mulai berbicara, “selama ini aku tidak sepenuhnya jujur padamu.”

***

73

DAVID BECKER merasa seolah wajahnya tersiram terpentin dan terbakar. Dia ber-gulingguling di lantai dan memicingkan matanya. Pandangannya kabur bagaikan melihat di dalam sebuah terowongan. Dia melihat gadis itu berlari separuh jalan ke arah pintu berputar. Gadis tersebut berlari dengan langkah pendek dan dipenuhi rasa takut, sambil menyeret tasnya di lantai. Becker berusaha berdiri, tetapi dia tidak mampu. Dia dibutakan oleh api yang merah membakar. Gadis itu tidak boleh sampai kaburi

Becker berusaha berteriak, tetapi tidak ada udara di dalam paru-parunya. Vang ada hanya rasa sakit yang menyesakkan. “Tidak!” dia terbatuk. Suaranya nyaris tidak keluar dari mulutnya.

Becker sadar, begitu gadis itu melewati pintu itu, dia akan hilang selamanya. Becker berusaha berteriak lagi, tetapi tenggorokannya terasa terbakar.

Gadis itu hampir mencapai pintu berputar. Becker terhuyung bangkit berdiri dan megapmegap. Dengan susah payah dia berusaha mengejarnya. Gadis tersebut buru-buru rnasuk ke dalarn salah satu sekat pintu berputar itu sambil terus menyeret tasnya. Dua puluh yard di belakangnya, Becker berjalan sempoyongan dalam keadaan buta menuju pintu tersebut.

“Tunggu!” Dauid terengah. “Tunggu!”

Gadis itu mendorong dengan kalut pintu itu. Pintu tersebut mulai berputar, tetapi kemudian macet. Gadis itu berbahk dan melihat tasnya tersangkut pada celah pintu. Dia membungkuk dan dengan panik menarik lepas tasnya.

Becker memusatkan penglihatannya yang kabur ke arah tas yang menonjol melewati pintu. Saat dirinya menerjang maju, dia hanya bisa melihat ujung tas merah dan bahan nilon itu. Dia meluncur maju dengan kedua lengan yang terjulur.

Saat dia terjatuh ke arah pintu, tangannya hanya beberapa inci jauhnya dan tas itu. Tas tersebut masuk ke dalam celah dan menghilang. Jemarinya mencengkeram udara kosong saat pintu itu kembali berputar. Gadis itu, beserta tasnya, terhuyung ke luar jalan.

“Megan!” jerit Becker tepat saat dirinya menghantam pintu. Jarum-jarum putih panas serasa menghunjam matanya. Pandangannya hilang dan gelombang rasa mual menyerangnya. Suaranya sendiri bergema di dalam kegelapan. Megan!

DAVID BECKER tidak yakin berapa lama dirinya telah tergeletak di sana sebelum akhirnya dia menyadari dengung bolabola lampu pijar di bagian atas. Suasana tempat itu sunyi. Di antara kesunyian itu terdengar sebuah suara. Seseorang sedang memanggilnya. Becker berusaha mengangkat kepalanya. Dunia di sekitarnya berputar-putar dan terlihat berair. Kemudian suara itu lagi. Becker memicingkan matanya ke sekeliling ruangan luas itu dan melihat sesosok tubuh pada jarak dua puluh yard. “Tuan?”

Becker mengenali suara itu. Gadis itu. Dia sedang berdiri pada pintu masuk lain di ujung lain ruangan luas tersebut, sambil mencengkeram tas ke dadanya. Dia terlihat lebih ketakutan daripada sebelumnya.

“Tuan?” gadis itu bertanya dengan suara yang bergetar. “Aku tidak pernah memberi tahu Anda namaku. Bagaimana Anda bisa tahu namaku?”

***

74

DIREKTUR LELAND Fontaine adalah seorang pria yang bertubuh amat besar, berusia 63 tahun, berambut pendek khas militer, dan bersikap kaku. Matanya hitam legam bagai arang saat dia merasa jengkel, dan hal itu sering terjadi. Fontaine mencapai posisi puncak di NSA dengan kerja keras, perencanaan yang baik, dan rasa hormat para pendahulunya. Dia direktur NSA pertama yang berkulit hitam, tetapi tidak ada yang pernah mengungkit perbedaan tersebut. Pandangan-pandangan politiknya tidak terpengaruh oleh warna kulit, dan para anggota staf lainnya mengikuti sikapnya itu.

Fontaine membiarkan Midge dan Brinkerhoff tetap berdiri saat dia menjalankan ritualnya, membuat secangkir kopi. Kemudian dia duduk di bangkunya, membiarkan kedua orang itu berdiri, dan menanyai mereka bagaikan muridmurid di ruang kepala sekolah.

Midge yang berbicara—menjelaskan serangkaian kejadian ganjil yang mengakibatkan mereka melanggar kesakralan ruang kantor Fontaine.

“Sebuah virus?” tanya sang direktur dengan dingin. “Kalian berdua pikir kita terserang virus?” Brinkerhoff mengernyit. “Ya, Pak,” jawab Midge.

“Karena Strathmore telah memotong jalan Gauntlet?” Fontaine memandang hasil cetak di depannya.

“Ya,” kata Midge. “Dan ada sebuah berkas yang belum terpecahkan dalam dua puluh jam terakhir.

Fontaine mengernyit. “Seperti yang disebutkan oleh datamu.”

Midge hendak memprotes, tetapi dia menahan diri. Sebaliknya, dia mengejutkan pria itu dengan berkata, “Tidak ada listrik di Crypto.”

Fontaine menengadah dan tampak terkejut.

Midge menegaskan dengan sebuah anggukan pendek. “Semua tenaga listrik lumpuh. Jabba berpikir mungkin-”

“Kau menghubungi Jabba?”

“Ya, Pak, saya-”

“Jabba?” Fontaine bangkit berdiri dengan marah. “Kenapa kau tidak menghubungi Strathmore?”

“Kami sudah melakukannya!” Midge membela diri. “Kata dia, semuanya baik-baik saja.”

Fontaine berdiri dengan dada yang turun naik. “Jadi, kita tidak mempunyai alasan untuk meragukannya.” Suaranya mengisyaratkan bahwa masalah itu sudah selesai. Fontaine menyesap kopinya. “Sekarang, tolong tinggalkan aku. Aku harus mengerjakan sesuatu.”

Midge menganga. “Maaf?”

Brinkerhoff sudah beranjak ke pintu, tetapi Midge terpaku di tempatnya.

“Kubilang selamat malam, Ms. Milken,” ulang Fontaine. “Kau boleh pergi.”

“Tetapi—tetapi, Pak,” Midge tergagap, “Saya … saya terpaksa protes. Saya rasa-”

“Kau protes?” tanya sang direktur. Dia meletakkan kopinya. “Aku yang protes! Aku memprotes kehadiranmu di ruang kerjaku. Aku memprotes sindiranmu bahwa wakil direktur perusahaan ini telah berbohong. Aku memprotes-”

“Kita memhki sebuah virus, Pak! Naluriku mengatakan-”

“Nalurimu salah, Ms. Milken! Sekali lagi, nalurimu salah!”

Midge tersentak. “Tetapi, Pak! Komandan Strathmore telah memotong jalan Gauntlet!” Fontaine melangkah ke arah Midge dan hampir tidak bisa menahan amarahnya. “Itu hak prerogatifnya! Aku membayarmu untuk mengawasi para analis dan pegawai bagian perawatan— bukannya memata-matai wakil direktur! Jika bukan karena dia, kita masih terus memecahkan kode dengan pensil dan kertas! Sekarang tinggalkan aku!” Fontaine berpaling kepada Brinkerhoff yang sedang berdiri di pintu dengan pucat dan gemetar. “Kalian berdua.”

“Dengan segala hormat, Pak,” kata Midge, “saya ingin mengusulkan agar kita mengirim sebuah tim Sys-Sec ke Crypto, sekadar untuk meyakinkan-”

“Kita tidak akan melakukan hal seperti itu!”

Setelah kekalahan telak itu, Midge mengangguk. “Baiklah. Selamat malam.” Midge berbahk dan pergi. Saat wanita itu

melewatinya, Brinkerhoff dapat melihat mata Midge tidak menunjukkan niat untuk melepaskan masalah ini—tidak sampai intuisinya terpuaskan.

Brinkerhoff melihat ke arah atasannya yang besar dan gusar di belakang meja di seberang ruangan. Dia bukanlah direktur yang selama ini dikenalnya. Direktur yang dikenalnya sangat memerhatikan detail-detail yang kecil dan teliti. Dia selalu mendorong anggota stafnya untuk selalu memeriksa dan menjelaskan setiap kesimpangsiuran dalam prosedur sehari-hari, tidak peduli seberapa kecilnya hal tersebut. Tetapi

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.