Baca Novel Online

Digital Fortress

Akhirnya, gadis itu menemukan apa yang dicarinya— PepperGard, sebuah alat pertahanan diri yang terbuat dari cabe—sebuah alat pertahanan alternatif yang ramah lingkungan sebagai pengganti Maze. Dengan sebuah gerakan cepat, Megan berputar dan menyemprotkan alat itu tepat ke mata Becker. Megan meraih tas jinjingnya dan berlari ke pintu. Saat dia menoleh ke belakang, David Becker berada di lantai sambil memegangi wajahnya dan menggeliat kesakitan.

***

71

TOKUGEN NUMATAKA menyalakan cerutunya yang keempat sambil terus berjalan mondar-mandir. Dia meraih gagang teleponnya dan menghubungi bagian switch-board utama.

“Sudah ada kabar tentang nomor telepon itu?” tanyanya sebelum si operator sempat berbicara.

“Belum ada, Pak. Sepertinya lebih lama dari yang diperkirakan—nomor itu berasal dari sebuah telepon seluler.”

Sebuah telepon seluler, pikir Numataka. Angka-angka. Untung bagi ekonomi Jepang. Orang-orang Amerika memiliki nafsu yang tak terpuaskan akan peralatan elektronik.

“Stasiun pemancarnya,” tambah sang operator, “berkode wilayah 202. Tetapi kita belum mendapatkan nomornya.”

“202? Di mana itu?” Di bagian mana dari negara Amerika yang luas itu, tempat North Dakota yang misterius ini bersembunyi?

“Di suatu tempat dekat Washington D.C, Pak.”

Numataka menaikkan alisnya. “Hubungi aku secepatnya jika kau sudah mendapatkan nomor itu.”

***

72

SUSAN FLETCHER berjuang susah payah menyeberangi lantai Crypto menuju tempat Strathmore. Kantor sang komandan adalah tempat terjauh dari Hale yang dapat dijangkau Susan di dalam kompleks yang terkunci itu.

Ketika dia mencapai puncak anak tangga, dia mendapati pintu ruang kantor sang komandan terbuka. Rupanya kunci elektroniknya tidak berfungsi saat ada ganguan listrik. Susan mendobrak masuk.

“Komandan?” Satu-satunya penerangan di dalam ruang itu berasal dari cahaya monitor komputer sang komandan. “Komandan!” Susan memanggil lagi. “Komandan!”

Susan tiba-tiba teringat bahwa sang komandan masih berada di laboratorium Sys-Sec. Dia mengitari ruang kantor yang kosong itu. Kepanikan akibat pengalaman yang tidak menyenangkan dengan Hale tadi masih dirasakannya. Susan harus keluar dari Crypto. Dengan atau tanpa Benteng Digital, sudah saatnya bertindak— saatnya menggugurkan proses pencarian TRANSLTR dan kabur. Susan melirik ke arah monitor Strathmore yang menyala, kemudian dia bergegas mendekati meja dan meraih keypad di atasnya. Gugurkan TRANSLTR! Ini tugas yang mudah karena Susan menggunakan komputer yang memiliki hak otorisasi untuk hal itu. Susan memanggil program yang sesuai dan mengetik:

GUGURKAN PROSES PENCARIAN

Untuk sesaat, jarinya menggantung di atas tombol ENTER.

“Susan!” sebuah suara berteriak dan arah pintu. Susan berbahk dengan ngeri. Dia takut jika itu Hale. Tetapi ternyata bukan. Itu Strathmore. Pria itu berdiri dengan pucat dan tampak mengerikan di dalam cahaya monitor. Dadanya bergerak naik turun. “Apa yang sedang terjadi!”

“Kom…mandan!” Susan terengah. “Hale berada di dalam Node 3! Dia baru saja menyerang saya!”

“Apa? Tidak mungkin! Hale terkunci di bawah-”

“Tidak! Dia lolos! Kita membutuhkan petugas keamanan di sini sekarang! Saya sedang menggugurkan TRANSLTR!” Susan menjulurkan jarinya ke atas keypad.

“JANGAN SENTUH ITU!” Strathmore menerjang ke arah komputer itu dan menarik tangan Susan menjauh.

Susan mundur dan terkejut. Dia memandang sang komandan dan, untuk kedua kalinya pada hari itu, dia merasa tidak mengenali pria itu. Tiba-tiba dia merasa sendirian.

STRATHMORE MELIHAT bercak darah pada kemeja Susan dan segera menyesali tindakannya tadi. “Astaga, Susan. Apakah kau baik-baik saja?”

Susan tidak menjawab. Strathmore tidak bermaksud melompat ke arah Susan. Pikirannya sedang kacau. Tindakannya berlebihan. Ada banyak hal di dalam benaknya—hal-hal yang tidak diketahui Susan Fletcher—hal-hal yang tidak dia beri tahukan kepada wanita itu dan dia berharap tidak harus memberitahukannya.

“Aku minta maaf,” kata Strathmore pelan. “Katakan padaku apa yang terjadi.”

Susan berpaling. “Itu tidak penting. Ini bukan darahku. Vang penting, keluarkan saya dan sini.”

“Apakah kau terluka?” Strathmore meletakkan tangannya di atas pundak Susan. Susan mundur. Strathmore menjatuhkan tangannya dan melihat ke arah lain. Ketika dia kembali melihat ke arah Susan, wanita itu kelihatannya sedang melihat sesuatu di dinding melalui bahu Strathmore.

Pada dinding, sebuah keypad menyala terang di dalam kegelapan. Strathmore mengikuti arah pandangan Susan dan mengernyit. Dia berharap Susan tidak memerhatikan panel kendali yang menyala itu. Keypad yang terang itu mengendalikan lift pribadinya. Strathmore dan tamu-tamu kelas atasnya menggunakan lift tersebut untuk datang dan pergi dan Crypto tanpa menarik perhatian anggota staf lainnya. Dan kubah Crypto, lift pribadi itu dapat turun lima puluh kaki ke bawah dan kemudian bergerak menyamping sejauh 109 yard melalui sebuah terowongan ke lantai bawah tanah bangunan utama NSA. Lift yang menghubungkan Crypto dengan NSA itu mendapatkan tenaga listrik dan bangunan utama. Jadi, lift tersebut tetap beroperasi walaupun terjadi gangguan listrik di Crypto.

Strathmore tahu listrik untuk lift itu menyala, tetapi walaupun tadi dia menggedor pintu keluar utama di bawah, Strathmore tetap tidak mengatakan apa-apa. Sang komandan tidak bisa membiarkan Susan keluar—belum. Dia bertanyatanya seberapa banyak yang harus diceritakan kepada Susan agar wanita itu tetap mau tinggal.

Susan bergegas melewati Strathmore dan berlari ke arah dinding di belakangnya. Susan menekan tombol-tombol yang menyala itu dengan panik.

“Ayolah,” Susan memohon. Tetapi pintu itu tidak terbuka.

“Susan,” kata Strathmore pelan. “Lift itu memerlukan kata kunci.”

“Kata kunci?” ulang Susan dengan marah. Dia melihat ke papan pengendali pada pintu itu. Di bawah keypad utama ada keypad kedua—yang ukurannya lebih kecil, dengan tombol-tombol yang kecil pula. Setiap tombol ber-tuhskan sebuah abjad alfabet. Susan berbahk ke arah Strathmore. “Apa kata kuncinya?” tanyanya.

Strathmore berpikir sejenak dan menghela napas panjang.

“Susan, duduklah.”

Susan terlihat seolah tidak percaya.

“Duduklah,” ulang sang komandan dengan suara yang tegas.

“Biarkan aku keluar!” Susan melihat ke arah pintu ruang kantor itu dengan gugup.

Strathmore menatap Susan yang panik. Dengan tenang komandan itu berjalan menuju ke arah pintu. Dia keluar dan melongok ke dalam kegelapan. Hale tidak terlihat. Sang komandan kembali masuk dan menutup pintunya. Kemudian, dia memalang sebuah kursi di depan pintu, berjalan ke tempat duduknya, dan mengeluarkan sesuatu dan lacinya. Di dalam cahaya monitor yang remang, Susan melihat apa yang sedang dipegang oleh Strathmore. Wajah Susan menjadi pucat. Itu adalah sebuah pistol.

Strathmore menarik dua buah kursi ke tengah ruangan. Dia memutar kursi-kursi itu menghadap pintu yang tertutup. Kemudian dia duduk. Dia mengangkat sebuah pistol Baretta semiotomatis yang berkilauan dan mengarahkannya ke pintu. Kemudian, dia meletakkan pistol itu ke pangkuannya.

Strathmore berbicara dengan tenang. “Susan, kita aman di sini. Kita harus bicara. Jika Greg Hale masuk melalui pintu itu ….” Dia membiarkan kata-katanya menggantung.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.