Baca Novel Online

Digital Fortress

“Direktur!” Brinkerhoff terengah. Dia melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya. “Selamat datang kembali, Pak.”

Pria besar itu tidak mengacuhkannya.

“S-saya pikir,” Brinkerhoff tergagap sambil menarik kembali tangannya, “Saya pikir Anda masih berada di Amerika Selatan.”

Leland Fontaine menatap pembantu pribadinya dengan sepasang mata bak peluru. “Ya … dan sekarang aku telah kembali.”

***

69

“HEI, TUAN!”

Becker sedang berjalan menyeberangi ruangan luas itu menuju telepon umum. Dia berhenti dan berbalik. Gadis yang telah dikejutkannya di kamar kecil tadi berjalan mendekat. Dia melambaikan tangannya untuk meminta Becker menunggunya. “Tuan, tunggu!”

Sekarang apa lagi? Becker mengerang. Dia ingin menuntutku karena telah melanggar hak privasinya ?

Gadis itu menarik tasnya. Ketika sampai di dekat Becker, dia tersenyum lebar. “Maaf, aku telah berteriak padamu tadi. Kau benarbenar mengejutkanku.”

“Tidak masalah,” kata Becker meyakinkan, agak bingung. “Aku berada di tempat yang salah.”

“Ini mungkin terdengar gila,” kata gadis itu sambil mengedipkan matanya yang merah, “tetapi apakah Anda bisa meminjamiku uang?”

Becker menatapnya dengan rasa tidak percaya. “Uang untuk apa?” tanya Becker. Aku tidak akan mendanai kebiasaanmu memakai obatobatan terlarang kalau itu maksudmu.

“Aku ingin pulang,” kata si pirang. “Bisakah kau membantu?”

“Ketinggalan pesawat?”

Gadis itu mengangguk. “Kehilangan tiket. Mereka tidak mengizinkan aku naik pesawat. Perusahaan penerbangan bisa sangat menyebalkan. Aku tidak punya uang tunai untuk membeli tiket lagi.”

“Di mana orangtuamu?” Tanya Becker.

“Amerika.”

“Bisakah kau menghubungi mereka?”

“Tidak. Sudah coba. Kurasa mereka sedang berakhir pekan di atas perahu pesiar seorang teman.”

Becker melihat pakaian mahal gadis itu. “Kau tidak memiliki kartu kredit?”

“Ya, tetapi ayahku telah memblokirnya. Dia pikir aku memakai obat-obat terlarang.”

“Apakah kau memakai obat-obat terlarang?” tanya Becker dengan terus terang sambil melihat lengan bagian atas gadis tersebut yang bengkak.

Gadis itu menatap marah. “Tentu saja tidak!” Dia melihat Becker dengan gaya gusar yang polos tidak bersalah, dan tiba-tiba Becker merasa sedang dibohongi.

“Ayolah,” kata gadis itu. “Kau tampak seperti pria kaya. Tidak bisakah kau meminjami aku uang? Nanti aku akan mengirimkannya kembali.”

Becker yakin, uang yang diberikannya pada gadis itu akan berakhir di tangan para pengedar obat bius di daerah Tnana. “Pertama-tama,” kata Becker, “aku bukan pria kaya—aku seorang guru, tetapi aku akan memberitahumu apa yang akan kulakukan Aku akan menantangmu. “Bagaimana kalau aku membelikan sebuah tiket untukmu?”

Gadis pirang itu menatap Becker dengan terkejut. “Apa?” dia tergagap. Matanya membelalak penuh harapan. “Anda akan membelikan aku sebuah tiket pulang? Oh, Tuhan, terima kasih!”

Becker terdiam. Dia telah salah perhitungan.

Gadis itu memeluknya. “Ini musim panas yang menyebalkan,” katanya tercekat hampir menangis. “Oh, terima kasih! Aku harus keluar dan sini!”

Becker membalas pelukannya dengan setengah hati. Gadis itu melepaskannya dan Becker kembali menatap lengan atasnya.

Gadis itu mengikuti arah pandangan Becker ke memar kebiruan di lengannya. “Menjijikkan, ya?”

Becker mengangguk. “Kupikir tadi kau mengaku tidak memakai obat-obat terlarang.”

Gadis itu tertawa. “Ini Magic Marker, spidol ajaib! Kulitku hampir terkelupas saat aku menghapusnya. Tintanya membekas.”

Becker memerhatikan lebih dekat. Di bawah lampu neon, dia dapat melihat, di bawah memar merah di lengannya, tulisan yang tidak jelas—kata-kata di atas kulit.

“Tetapi … tetapi matamu,” kata Becker dengan perasaan bodoh. “Matamu merah semuanya.”

Gadis itu tertawa. “Aku tadi menangis. Sudah kukatakan aku ketinggalan pesawat.”

Becker kembali melihat tulisan pada lengannya.

Gadis itu mengernyit dan merasa malu. “Ups, kau masih bisa membacanya, ya?”

Becker membungkuk lebih dekat. Dia memang bisa membacanya. Pesan itu sangat jelas. Saat membaca keempat kata itu, ingatan Becker selama dua belas jam terakhir berkelebat di depan matanya.

Dauid Becker melihat kembali dirinya saat berada di dalam kamar Alfonso XIII tadi. Pria Jerman gendut itu sedang memegang lengannya bagian atas dan berbicara dengan aksen yang buruk: Onyah sana dan mampuslah.

“Kau baik-baik saja?” tanya gadis itu sambil melihat Becker yang terpana.

Becker tidak berpaling dan lengannya. Dia merasa pusing. Keempat kata yang ada di lengan gadis itu membawa sebuah pesan sederhana: ENYAH SANA DAN MAMPUSLAH.

Gadis pirang itu menatap lengannya dan merasa malu. “Temanku yang menulisnya … bodoh sekali, bukan?”

Becker tidak bisa berbicara. Onyah sana dan mampuslah. Dia tidak bisa memercayainya. Orang Jerman itu tidak menyumpahinya. Pria itu berusaha membantu. Becker melihat wajah gadis itu. Di bawah lampu neon, dia bisa melihat sisa warna merah dan biru yang samar-samar pada rambut pirang gadis itu.

“K-kau Becker tergagap sambil melihat telinganya yang tidak tertindik. “Kau tidak memakai anting-anting?”

Gadis itu menatap Becker dengan perasaan aneh sambil mengeluarkan sebuah benda kecil dan kantongnya dan mengulurkannya. Becker melihat sebuah bandul tengkorak tergantung dan tangannya.

“Sebuah anting jepit?” tanya Becker tergagap.

“Ya,” balas gadis itu. “Aku takut jarum setengah mati. ”

***

70

DAVID BECKER berdiri di ruangan luas yang kosong itu dan merasa lututnya menjadi lemas. Dia menatap gadis di depannya dan sadar bahwa pencariannya sudah berakhir. Gadis itu telah mencuci rambutnya dan berganti pakaian—mungkin dengan harapan bernasib baik bisa menjual cincin itu—tetapi dia belum kembali ke New York.

Becker berusaha bersikap santai. Perjalanan gilanya hampir berlalu. Dia melihat jemari gadis itu. Jari-jari itu telanjang. Dia melihat tas jinjing gadis itu. Ada di dalam, pikirnya. Pasti ada di dalam!

Becker tersenyum, hampir tidak bisa menyembunyikan luapan kegembiraannya. “Ini mungkin terdengar gila,” kata Becker, “tetapi kurasa kau memiliki sesuatu yang aku butuhkan.”

“Oh?” Megan mendadak tampak tidak yakin.

Becker mengeluarkan dompetnya. “Tentu saja, aku akan dengan senang hati membayarmu.” Dia menunduk dan mulai menghitung uang di dalam dompetnya.

Saat Megan melihat Becker menghitung uang, dia menarik napas dengan kaget. Tampaknya dia salah menafsirkan maksud Becker. Dia melihat ke arah pintu berputar dengan tatapan takut … sambil memperkirakan jaraknya. Ada sekitar lima puluh yard.

“Aku bisa memberimu cukup untuk membeli tiket pulang jika-”

“Jangan katakan,” kata Megan dengan senyum yang dipaksakan. “Kurasa aku tahu persis apa yang Anda butuhkan.” Gadis itu membungkuk dan mulai mengaduk isi tasnya.

Becker merasakan secercah harapan. Dia memilikinya! Kata Becker pada diri sendiri. Dia memiliki cincin itu! Dia tidak tahu bagaimana gadis itu tahu apa yang dia inginkan, tetapi dia terlalu letih untuk memikirkan itu. Sekujur tubuhnya terasa rileks. Becker membayangkan dirinya menyerahkan cincin itu kepada Wakil Direktur NSA yang tersenyum. Kemudian, dia dan Susan akan berbaring di atas tempat tidur besar berkelambu di Stone Manor dan menikmati waktu yang telah hilang.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.