Baca Novel Online

Digital Fortress

“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Becker sambil mundur ke arah pintu.

“Aku baik-baik saja.” Suaranya angkuh. “Kau bisa pergi sekarang!”

Becker berbalik untuk pergi. Dengan sedih dia melihat bagian atas lengan gadis itu sekali lagi. Tidak ada yang bisa kaulakukan, Dauid. Tinggalkan saja.

“Sekarang!” jerit gadis itu.

Becker mengangguk. Saat dia akan pergi, dia tersenyum sedih. “Berhati-hatilah.”

***

67

“SUSAN?” HALE terengah. Wajahnya menempel pada wajah Susan.

Hale duduk mengangkangi Susan. Badannya menindih bagian tengah tubuh perempuan itu. Tulang ekornya menembus bahan tipis rok Susan dan menyakiti daerah selangkangannya. Hidungnya meneteskan darah ke atas wajah Susan. Susan merasa seperti akan muntah. Tangan Hale berada di atas dada Susan.

Susan tidak merasakan apa-apa. Apakah dia sedang menyentuhku? Beberapa saat kemudian Susan sadar bahwa Hale sedang memasang kembali kancing bagian atas blusnya yang terbuka.

“Susan.” Hale terengah kehabisan napas. “Kau harus mengeluarkan aku dari sini.”

Susan menjadi bingung. Tidak ada yang masuk akal.

“Susan, kau harus membantuku! Strathmore membunuh Chartrukian! Aku melihatnya!”

Perlu beberapa saat bagi Susan untuk memahami kata-kata tersebut. Strathmore membunuh Chartrukian? Hale pasti tidak tahu kalau Susan melihat dirinya di bawah sana tadi.

“Strathmore tahu aku telah melihatnya!” sembur Hale. “Dia akan membunuhku juga.”

Jika Susan tidak kehabisan napas karena takut, pasti dia sudah tertawa saat itu juga. Susan mengenali taktik mengadu domba khas marinir ini. Ciptakan kebohongan— adu lawanmu satu sama lain.

“Itu benar!” teriak Hale. “Kita harus meminta bantuan! Kurasa kita berdua berada dalam bahaya!”

Susan tidak memercayai sepatah kata pun uca- pan Hale.

Kaki-kaki Hale yang berotot itu menjadi kram sehingga dia melipatnya sambil sedikit bergeser. Hale membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi dia tidak mendapatkan kesempatan itu.

Saat tubuh pria itu naik, Susan merasa aliran darah mengalir turun ke bagian kakinya. Sebelum dia sadar apa yang telah terjadi, secara refleks kaki kirinya menendang keras ke arah selangkangan Hale. Dia merasakan lututnya menghantam gundukan lembut di antara paha Hale.

Hale mengerang kesakitan, dan segera menjadi lemas. Dia berguling ke samping sambil memegangi selangkangannya. Susan berjuang keluar dan bawah badan Hale yang berat. Dia berjalan dengan susah payah ke arah pintu, walaupun dia sadar dia tidak cukup kuat untuk keluar.

Setelah membuat keputusan yang cepat, Susan mengambil posisi di belakang meja pertemuan panjang dan kayu rnapie dan menekan kakinya ke dalam karpet. Untunglah meja tersebut beroda. Susan berjuang sekuat tenaga menuju dinding kaca yang melengkung sambil mendorong meja di depannya. Roda-roda itu berfungsi dengan baik dan meja itu bergerak dengan mudah. Di tengah-tengah Node 3, Susan mulai berlari cepat.

Lima kaki dan dinding kaca, Susan mengembuskan napas dan melepas meja itu. Dia melompat ke samping dan menutup matanya. Dinding itu pecah berkeping-keping diiringi oleh bunyi yang memekakkan telinga. Suara dan Crypto mengalir masuk ke dalam Node 3 untuk pertama kalinya sejak tempat itu didirikan.

Susan menengadah. Melalui lubang yang bergerigi itu, dia bisa melihat meja tadi. Meja itu masih terus bergerak, berputar lebar ke sekeliling lantai Crypto dan akhirnya hilang dalam kegelapan.

Susan memakai kembali sepatu Ferragamonya yang telah menjadi lusuh, melihat untuk terakhir kalinya ke arah Greg Hale yang masih menggeliat kesakitan, dan berlari di atas hamparan pecahan kaca ke arah lantai Crypto.

***

68

“NAH, GAMPANG bukan?” kata Midge sambil mencibir saat Brinkerhoff menyerahkan kunci uang kantor Fontaine. Brinkerhoff terlihat kalah.

“Aku akan menghapusnya sebelum aku pergi,” janji Midge. “Kecuali jika kau dan istrimu menginginkannya sebagai koleksi pribadi.”

“Ambil saja hasil cetakmu itu,” bentak Brinkerhoff. “Dan kemudian keluar!”

“Sf, senor,” kata Midge dengan aksen Puerto Rico yang kental sambil tertawa. Midge berkedip dan pergi menuju pintu rangkap Fontaine.

Ruang kantor pribadi Leland Fontaine tidak tampak seperti ruang lainnya di bagian direksi tu. Tidak ada lukisan, tidak ada kursi yang berlebihan, tidak ada tanaman hias, tidak ada jam antik. Ruangan itu dibuat seefisien mungkin. Mejanya yang berlapis kaca dan kursi kulit hitamnya berada tepat di depan jendela. Tiga buah lemari arsip berdiri di bagian pojok, di samping sebuah meja kecil dengan sebuah teko kopi Prancis. Bulan telah terbit tinggi di atas Fort Meade, dan cahayanya yang lembut menembus masuk melalui jendela, memperjelas ruang Fontaine yang sederhana.

Apa yang sedang aku lakukan? Brinkerhoff bertanya tanya.

Midge melangkah ke arah mesin cetak dan meraih daftar tunggunya. Dia memicingkan matanya dalam kegelapan. “Aku tidak bisa membaca datanya,” Midge mengeluh. “Nyalakan lampunya.”

“Kau akan membacanya di luar. Ayo sekarang.”

Tetapi tampaknya Midge sedang bersenang-senang. Dia mempermainkan Brinkerhoff. Dia berjalan ke arah jendela dan mengangkat kertas itu agar dapat membaca lebih baik.

“Midge

Dia terus membaca.

Brinkerhoff bergerak gelisah di dekat pintu masuk. “Midge … ayolah. Ini daerah pribadi Direktur.”

“Ada di sekitar sini,” gumam Midge sambil terus mempelajari hasil cetak itu. “Strathmore telah memotong jalan Gauntlet. Aku tahu itu.” Dia bergerak lebih dekat ke arah jendela.

Brinkerhoff mulai berkeringat. Midge terus membaca.

Setelah beberapa saat, Midge menganga terkejut. “Aku sudah menduganya! Strathmore melakukannya! Dia benarbenar melakukannya! Dasar idiot!” Midge mengangkat kertas itu dan menggoyang-goyangkannya. “Strathmore telah memotong jalan Gauntlet! Coba lihat!”

Brinkerhoff menatap dengan terkejut untuk beberapa saat dan kemudian berlari masuk ke ruangan itu. Dia berdiri di samping Midge di depan jendela. Midge menunjukkan bagian terakhir dan hasil cetak tersebut.

Brinkerhoff membaca dengan rasa tidak percaya. “Apa yang ….

Hasil cetak itu berisi sebuah daftar yang rnernuat 36 berkas yang telah rnasuk ke dalarn TRANSLTR. Di samping setiap berkas terdapat kode lolos Gauntlet yang terdiri atas empat digit. Tetapi, berkas terakhir tidak memiliki kode lolos—di sana hanya tertulis: PEMOTONGAN JALAN SECARA MANUAL.

Tuhan, pikir Brinkerhoff. Midge berhasil lagi.

“Si idiot itu!” sembur Midge dengan marah. “Lihat ini! Gauntlet telah menolak berkas tersebut dua kali! Rangkaian-rangkaian mutasi! Dan Strathmore masih tetap memotong jalannya! Apa yang dipikirkannya?”

Lutut Brinkerhoff terasa lemas. Dia bertanya-tanya kenapa Midge selalu benar. Tidak ada yang memerhatikan sebuah bayangan pada jendela di samping mereka. Sebuah sosok yang besar sedang berdiri dekat pintu Fontaine yang terbuka.

“Astaga!” Brinkerhoff tercekat. “Kau pikir kita terserang virus?”

Midge mendesah. “Tidak ada kemungkinan lain.” “Mungkin bukan urusanmu!” sebuah suara berat menggelegar dan arah belakang mereka.

Kepala Midge terantuk pada jendela. Brinkerhoff menjatuhkan kursi direktur dan berputar ke arah datangnya suara itu. Dia segera mengenali bayangan itu.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.