Baca Novel Online

Digital Fortress

“Tidak,” kata Midge sambil mengabaikan sikap sarkastis Brinkerhoff. “Strathmore sudah berbohong kepada kita satu kali hari ini.” Dia menatap ke dalam mata Brinkerhoff. “Apakah kau memiliki kunci ruang kantor Fontaine?”

“Tentu saja. Aku pembantu pribadinya.”

“Aku membutuhkannya.”

Brinkerhoff menatap Midge dengan rasa tidak percaya. “Midge, aku tidak mungkin membiarkanmu masuk ke ruang kantor Fontaine.”

“Kau harus melakukannya!” pinta Midge. Midge berbahk dan mulai mengetik sesuatu pada keyboard Big Brother. “Aku meminta daftar berkas antnan TRANSLTR. Jika Strathmore memotong jalan Gauntlet secara manual, hal itu akan muncul dalam hasil cetaknya.”

“Apa hubungannya hal itu dengan ruang kantor Fontaine?”

Midge berbahk dan menatap Brinkerhoff dengan marah. “Daftar tunggu itu hanya tercetak pada mesin cetak Fontaine. Kau tahu itu!”

“Dan itu karena informasi tersebut tidak boleh dilihat sembarang orang, Midge!”

“Ini darurat. Aku harus melihat daftar itu.”

Brinkerhoff meletakkan tangannya di atas pundak Midge. “Midge, cobalah untuk tenang. Kau tahu aku tidak bisa-”

Midge menghela napas dengan keras dan berbahk ke arah keyboard-nya. “Aku akan mencetak daftar tunggu itu. Aku akan masuk, mengambil hasil cetak itu, dan keluar. Sekarang berikan kunci itu.”

“Midge

Midge selesai mengetik dan berbahk ke arah Brinkerhoff. “Chad, laporan itu dicetak dalam tiga puluh detik. Begini kesepakatannya. Kau beri aku kunci itu. Jika Strathmore memotong jalan Gauntlet, kita menghubungi bagian keamanan. Jika aku salah, aku akan pergi, dan kau bisa mengoleskan selai jeruk pada sekujur tubuh Garmen Huerta.” Midge menatap Brinkerhoff dengan bengis dan mengulurkan tangannya untuk meminta kunci ruang kantor Fontaine.

Brinkerhoff mengerang. Dia menyesal telah memanggil perempuan itu kembali untuk memeriksa laporan Crypto.

Brinkerhoff menatap tangan Midge yang terjulur. “Kau membicarakan informasi rahasia di dalam daerah pribadi Direktur. Kau tahu apa yang akan terjadi jika kita tertangkap?”

“Direktur sedang berada di Amerika Selatan.”

“Maaf. Aku benar-benar tidak bisa.” Brinkerhoff melipat tangannya dan berjalan keluar.

Midge menatap Brinkerhoff dan belakang. Mata wanita itu berkilat marah. “Oh ya, kau bisa,” bisik Midge. Kemudian, Midge berbahk ke arah Big Brother dan mencari arsip rekaman video.

MIDGE AKAN melupakan hal itu, kata Brinkerhoff pada dirinya sendiri saat dia duduk kembali di kursinya dan mulai mengerjakan sisa laporannya. Dia tidak bisa menyerahkan kunci ruang kantor Direktur setiap kali Midge menjadi paranoid.

Brinkerhoff baru saja selesai memeriksa rincian COMSEC ketika pikirannya terganggu oleh suara-suara dan ruang sebelah. Dia meletakkan pekerjaannya dan berjalan ke pintu.

Ruang utama itu gelap—semuanya, kecuali seberkas cahaya lemah dan arah pintu Midge yang setengah terbuka. Bennkerhoff mendengarkan. Suara-suara itu terus terdengar. Kedengarannya suara-suara itu bersemangat. “Midge?”

Tidak ada jawaban.

Brinkerhoff melangkah ke dalam kegelapan ke arah ruang kerja Midge. Suara-suara itu terdengar tidak asing. Brinkerhoff mendorong pintu itu terbuka. Ruang itu kosong. Kursi Midge juga kosong. Suara-suara itu datang dan sistem pengeras suara di bagian atas. Brinkerhoff menatap monitor-monitor video dan mendadak mual. Gambar yang sama terpampang pada kedua belas layar monitor yang ada—seperti sebuah koreografi balet yang cabul. Brinkerhoff memegang sandaran kursi Midge untuk memapah dirinya dan menatap dengan perasaan ngeri.

“Chad?” kata sebuah suara dan arah belakang.

Brinkerhoff berbahk dan memicingkan matanya ke dalam kegelapan. Midge sedang berdiri di sebuah sudut di seberang daerah penerimaan tamu, di depan pintu rangkap direktur. Telapak tangan wanita itu terjulur. “Kuncinya, Chad.”

Brinkerhoff merona dan berbahk ke arah monitor-monitor itu. Brinkerhoff berusaha menghalangi gambar-gambar yang ada di atas kepalanya, tetapi sia-sia. Gambar dirinya yang sedang mengerang dalam kenikmatan dan meremas-remas payudara kecil berlumur madu milik Garmen Huerta ada di mana-mana.

***

66

BECKER MENYEBERANGI ruang luas bandara itu dan berjalan menuju ke kamar kecil. Dia mendapati pintu kamar kecil yang bertanda CABALLEROS terhalang oleh sebuah tonggak menara oranye dan sebuah kereta pembersih berisi deterjen dan alat-alat pel. Dia melihat ke arah pintu lainnya. DAMA5. Dia melangkah ke sana dan mengetuk dengan keras. “Hola?” panggil Becker sambil mendorong buka pintu kamar kecil wanita itu selebar satu inci. “Con permiso?” Sunyi.

Becker masuk.

Kamar kecil itu khas gedung-gedung pemerintahan Spanyol—persegi empat sempurna, berubin putih, sebuah bola lampu pijar di bagian atas. Ada sebuah bilik dan sebuah kakus. Apakah kakus benar-benar digunakan di dalam kamar kecil wanita tidaklah penting—dengan menambahkan kakus maka para kontraktor tidak perlu membuat sebuah bilik ekstra.

Becker mengintip ke dalam kamar kecil itu dengan jijik. Kotor sekali. Wastafelnya penuh dengan air berwarna cokelat yang keruh. Kertas tisu kotor bertebaran di rnana-rnana. Lantainya basah. Mesin pengenngtangan tua pada dinding berlumuran bekas jari berwarna kehijauan.

Becker melangkah ke depan cermin dan mendesah. Matanya yang biasa menatap tajam tidak begitu jernih malam ini. Sudah berapa lama aku berkeliaran di sini? Becker bertanya-tanya. Dia sudah tidak bisa mengingat lagi. Bertentangan dengan kebiasaan profesionalnya, Becker melonggarkan dasinya yang diikat dengan teknik Windsor. Kemudian dia pergi ke arah kakus di belakangnya.

Ketika sedang berdiri di sana, Becker bertanya-tanya apakah Susan sudah berada di rumah atau belum. Ke mana gerangan perginya? Ke Stone Manor tanpa diriku?

“Hei!” sebuah suara wanita berteriak dengan marah dan arah belakangnya.

Becker terloncat. “S-Saya Becker tergagap sambil berusaha menaikkan resleting celananya. “Maaf … saya….”

Becker berbahk menghadap gadis yang baru saja masuk. Dia seorang remaja keren seperti yang ada pada halamanhalaman majalah Seuenteen. Gadis itu mengenakan celana kotak-kotak yang konservatif dan sebuah blus putih tak berlengan. Dia membawa sebuah tas jinjing merah merek L.L.Bean. Rambut pirangnya tertata sempurna.

“Maaf,” kata Becker terburu-buru sambil mengaitkan kepala ikat pinggangnya. “Kamar kecil pria sedang … pokoknya … aku pergi sekarang.”

“Dasar bajingan aneh!”

Becker menatap gadis itu lagi. Umpatan itu terasa janggal keluar dan mulut gadis seperti dia—bagai air kotor yang mengalir dan sebuah karaf anggur yang terpoles

halus. Tetapi ketika dia melihat gadis itu lebih lama, dia menyadari gadis tersebut tidak sehalus yang dia kira sebelumnya. Mata gadis itu bengkak dan merah. Bagian atas lengan kirinya juga bengkak. Selain lengannya yang merah karena iritasi, terdapat memar kebiruan.

Tuhan, pikir Dauid. Penggunaan obat terlarang dengan jarum suntik. Siapa yang akan mengira?

“Keluar!” gadis itu berteriak. “Ayo keluar!”

Untuk sejenak Becker lupa tentang cincin itu, tentang NSA, tentang segalanya. Dia merasa iba pada gadis itu. Mungkin orangtuanya telah mengirimnya kemari untuk ikut sebuah program belajar sekolah dan disertai sebuah kartu VISA—dan gadis itu akhirnya terdampar di sebuah kamar kecil pada tengah malam sambil memakai obat bius.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.