Baca Novel Online

Digital Fortress

Susan pernah mendengar bahwa kengerian bisa melumpuhkan—sekarang dirinya tahu bahwa hal itu hanya sebuah mitos. Saat otaknya sudah mencerna apa yang sedang terjadi, dia segera bergerak—bergegas membalikkan badannya dengan satu pemikiran di dalam benaknya: kabur.

Saat itu juga, Susan mendengar suara keras di belakangnya. Hale yang dan tadi duduk dengan diam di atas kompor menghentakkan kakinya seperti sepasang alat pelantak. Daundaun pintu tersentak lepas dan engselnya. Hale meluncur ke dalam Node 3 dan mengejar Susan dengan langkah langkah yang kuat.

Susan menjatuhkan sebuah lampu di belakangnya untuk menghalangi langkah Hale. Dia bisa merasakan Hale melompati lampu itu tanpa susah payah. Hale dengan cepat mengejarnya.

Ketika lengan kanan Hale melingkar pada pinggangnya dan arah belakang, Susan merasa seolah telah menabrak sebatang besi. Dia terengah kesakitan dan kehabisan napas. Otot-otot bisep Hale meremukkan tulang rusuknya.

Susan melawan dan mulai menggeliat dengan liar. Entah bagaimana, sikutnya menghantam tulang rawan hidung Hale. Hale melepaskan cengkeramannya dan memegangi hidungnya. Hale terjatuh di atas lututnya dengan kedua tangan menutup wajahnya.

“Kepar-” Hale menjerit kesakitan.

Susan berlari ke arah lempengan yang peka terhadap tekanan di dekat pintu sambil berdoa agar Strathmore pada saat itu juga berhasil mengaktifkan tenaga listrik dan pintupintu akan terbuka. Tetapi Susan hanya bisa memukul pintu kaca dengan keras.

Hale berjalan dengan susah payah ke arah Susan dengan hidung yang berdarah. Dengan cepat, tangannya memeluk Susan lagi—satu tangannya mencengkeram erat payudara km Susan dan yang satunya lagi berada di dekat bagian perut Susan. Hale mengangkat Susan dan lantai. Perempuan itu menjerit. Tangannya meraih-raih di udara untuk menghentikan Hale, tetapi sia-sia.

Hale menarik Susan mundur. Kepala ikat pinggang Hale menekan tulang belakang Susan. Si perempuan tidak pernah membayangkan betapa kuatnya si lelaki. Hale menarik Susan di atas karpet. Sepatu-sepatu Susan pun terlepas. Dengan sebuah gerakan yang mudah, Hale mengangkat dan membanting knptografer kepala itu ke atas lantai di dekat komputernya.

Tiba-tiba Susan berada dalam keadaan terlentang dengan rok yang terangkat tinggi hingga ke bagian paha. Kancing atas blusnya terlepas, dan dadanya kembang-kempis dalam cahaya kebiruan. Dia menatap ke atas dengan ngeri saat Hale duduk mengangkang dan menekan dirinya ke bawah. Susan tidak bisa menebak arti tatapan mata Hale. Kelihatannya seperti rasa takut. Atau mungkin rasa marah? Mata Hale menembus badannya. Susan merasakan sebuah gelombang panik melanda dirinya.

Hale duduk dengan mantap di atas badan Susan sambil menatap wanita itu dengan dingin. Segala hal tentang pertahanan diri yang pernah dipelajari Susan tiba-tiba hilang dan ingatannya. Dia berusaha melawan, tetapi badannya tidak bereaksi. Dia menjadi mati rasa. Dia menutup matanya.

Oh, tolong, Tuhan. Tidak!!!

***

65

BRINKERHOFF BERGEGAS ke ruang kantor Midge. “Tidak ada yang memotong jalan Gauntlet.

Ini tidak mungkin!”

“Salah,” balas Midge. “Aku baru saja berbicara dengan Jabba. Dia mengatakan bahwa dia baru saja memasang sebuah tombol pemotong jalan tahun lalu.”

Pembantu pribadi itu terlihat ragu-ragu. “Aku tidak pernah mendengar tentang hal itu.”

“Memang tidak ada yang pernah. Hal itu sangat rahasia.”

“Midge,” Brinkerhoff mencoba berdebat, “Jabba sangat terobsesi tentang masalah keamanan! Dia tidak akan pernah memasang sebuah tombol untuk memotong jalan-”

“Strathmore memaksanya,” sela Midge. Brinkerhoff hampir bisa mendengar otak Midge berbunyi klik.

“Masih ingat tahun lalu,” tanya Midge, “ketika Strathmore menangani sebuah ancaman telepon dari teroris antisemit di California?”

Brinkerhoff mengangguk. Itu menjadi prestasi Strathmore tahun lalu. Dengan menggunakan

TRANSLTR untuk memecahkan sebuah kode yang disadap, Strathmore berhasil menyingkap sebuah rencana untuk meledakkan sebuah sekolah Vahudi di Los Angeles. Strathmore berhasil memecahkan pesan dan teroris hanya dua puluh menit sebelu bom itu meledak, dan dengan menggunakan sambungan telepon cepat, dia berhasil menyelamatkan tiga ratus anak sekolah.

“Coba dengar,” kata Midge sambil mengecilkan suaranya, yang sebenarnya tidak perlu. “Jabba mengatakan bahwa Strathmore menyadap kode teroris itu enam jam sebelum bom tersebut meledak.”

Brinkerhoff menganga. “Tetapi … lalu kenapa dia menunggu-”

“Karena dia tidak bisa memecahkan berkas itu dengan TRANSLTR. Dia telah mencobanya, tetapi Gauntlet terus-menerus menolak berkas tersebut. Berkas itu disandikan dengan sebuah alogaritma kunci publik yang baru. Jabba membutuhkan hampir enam jam untuk menemukannya.”

Brinkerhoff tampak terpana.

“Saat itu, Strahmore sangat marah. Dia memaksa Jabba memasang sebuah tombol untuk memotong jalan di dalam Gauntlet, sekadar untuk berjaga-jaga jika hal yang sama terjadi lagi.”

Oh, Tuhan,” kata Brinkerhoff dengan perasaan khatir. “Aku tidak tahu.” Kemudian, matanya mengecil. “Jadi, apa maksudmu?”

“Kurasa Strathmore menggunakan tombol itu hari ini … untuk mengolah sebuah berkas yang telah ditolak Gauntlet.” “Jadi? Memang itulah fungsi tombol itu, bukan?” Midge menggeleng. “Tidak jika berkas tersebut memiliki virus.”

Brinkerhoff terloncat. “Virus? Siapa yang bilang ada virus?”

“Hanya itulah satu-satunya penjelasan yang mungkin,” kata Midge. “Jabba mengatakan bahwa hanya viruslah satusatunya hal yang bisa membuat TRANSLTR beroperasi selama ini, jadi-”

“Tunggu dulu!” Brinkerhoff memberi aba-aba dengan tangannya untuk berhenti. “Strathmore tadi mengatakan segalanya berjalan baik!”

“Dia berbohong.”

Brinkerhoff menjadi bingung. “Kau ingin mengatakan bahwa Strathmore dengan sengaja telah memasukkan sebuah virus ke dalam TRANSLTR?”

“Tidak,” kata Midge dengan ketus. “Aku kira Strathmore tidak sadar bahwa berkas tersebut bervirus. Kurasa dia telah tertipu.”

Brinkerhoff tidak berkata apa-apa. Midge Milken pasti keliru.

“Hal tersebut menjelaskan banyak persoalan,” Midge bersikeras. “Hal itu menjelaskan kenapa Strathmore berada di dalam sana sepanjang malam.”

“Strathmore memasukkan sebuah virus ke dalam komputernya sendiri?”

“Bukan,” kata Midge dengan kesal. “Dia sedang berusaha menutupi kesalahannya! Dan sekarang dia tidak bisa menggugurkan TRANSLTR dan mendapatkan tenaga listrik cadangan kembali karena virus tersebut telah mengunci prosesornya!”

Brinkerhoff memutar matanya. Midge pernah bertindak

gila pada masa lalu, tetapi tidak pernah seperti ini. Brinkerhoff berusaha menenangkannya. “Jabba kelihatannya tidak terlalu khawatir.”

“Jabba itu bodoh,” desis Midge.

Brinkerhoff tampak terkejut. Belum pernah ada yang menyebut Jabba ‘bodoh’-‘babf mungkin pernah, tetapi tidak pernah ‘bodoh’. “Kau lebih memercayai naluri kewanitaanmu dibandingkan dengan kehebatan Jabba dalam program antiserangan virus?”

Midge menatap Brinkerhoff dengan marah. Brinkerhoff mengangkat tangan tanda menyerah. “Lupakan. Aku tank lagi ucapanku.” Dia tidak perlu diingatkan akan kemampuan Midge yang hebat dalam mencium adanya bencana. “Midge,” dia memohon, “aku tahu kau membenci Strathmore, tetapi-”

“Ini tidak ada hubungannya dengan Strathmore!” kata Midge dengan tidak sabar. “Hal pertama yang harus kita lakukan adalah memastikan bahwa Strathmore telah memotong jalan Gauntlet. Kemudian, kita menghubungi Direktur.”

“Bagus.” Brinkerhoff mengerang. “Aku akan menghubungi Strathmore dan memintanya untuk mengirimi kita sebuah pernyataan yang ditandatanganinya.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.