Baca Novel Online

Digital Fortress

Sang komandan berjuang membuka pintu itu sedikit. Dia meletakkan wajahnya pada celah sempit itu. “Demi Tuhan, Susan—apakah kau baik-baik saja?”

Susan berdiri dan merapikan dirinya. “Baik-baik saja.”

Susan melihat ke sekelilingnya. Node 3 kosong dan hanya diterangi cahaya monitor komputer. Bayang-bayang kebiruan membuat suasana tempat itu menjadi menyeramkan. Dia berbahk pada Strathmore di celah pintu. Wajah sang komandan terlihat pucat dan sakit dalam sinar berwarna biru.

“Susan,” kata Strathmore. “Beri aku dua puluh menit untuk menghapus berkas-berkas di Sys-Sec. Saat semua jejak hilang, aku akan pergi ke komputerku dan menggugurkan TRANSLTR.”

“Begitu lebih baik,” kata Susan sambil melihat ke arah pintu kaca yang berat itu. Susan sadar bahwa dirinya sekarang menjadi tahanan di dalam Node 3 sampai TRANSLTR berhenti menyedot tenaga listrik cadangan.

Strathmore melepas daun-daun pintu itu yang kemudian segera menutup. Melalui kaca pintu tersebut, Susan mengamati sang komandan menghilang di dalam gelapnya Crypto.

***

63

SEPEDA MOTOR Vespa yang baru dibeli Becker berjuang di jalan menuju Aeropuerto de Sevilla. Buku-buku jarinya menjadi putih sepanjang jalan. Jam tangannya menunjukkan pukul 2:00 pagi waktu setempat.

Saat mendekati terminal utama, Becker mengarahkan motornya ke atas trotoar dan meloncat turun dari motornya dengan mesin yang masih menyala. Motor itu roboh ke atas trotoar dan mesinnya mati. Becker berlari dengan kaki yang gemetar melalui pintu putar. Tidak akan pernah iagi, Becker bersumpah pada dirinya sendiri.

Terminal itu steril dan sangat terang. Selain seorang petugas pembersih yang sedang memoles lantai, tempat itu kosong. Di sisi seberang ruangan luas itu, seorang petugas tiket sedang menutup meja Iberia Airlines.

Becker menganggap hal itu sebagai pertanda buruk. Becker berlari mendekat. “El vuelo a los Estados Unidos?”

Wanita Andalusia yang sangat menarik di belakang meja itu menatap Becker dan tersenyum dengan gaya meminta maaf.

“Acaba de sahr. Anda terlambat.” Kata-katanya menggantung di udara untuk beberapa saat.

Aku terlambat. Bahu Becker merosot turun. “Apakah ada tempat duduk cadangan di pesawat itu?”

“Banyak,” wanita itu tersenyum. “Hampir kosong. Tetapi besok jam delapan pagi juga ada—”

“Saya harus mencari tahu apakah teman saya ada di dalam penerbangan tersebut. Dia memesan tempat duduk cadangan.”

Wanita itu mengernyit. “Maaf, Tuan. Malam ini ada beberapa penumpang cadangan, tetapi peraturan privasi kami menyatakan-”

“Ini sangat penting,” desak Becker. “Saya hanya perlu tahu apakah dia berada dalam penerbangan itu. Hanya itu.”

Wanita itu mengangguk dengan penuh simpati. “Pertengkaran sepasang kekasih?”

Becker berpikir sejenak. Kemudian dia tersenyum malu-malu pada wanita itu. “Apakah hal itu sangat terlihat jelas?”

Wanita itu berkedip padanya. “Siapa namanya?”

“Megan,” jawab Becker dengan sedih.

Wanita itu tersenyum. “Apakah teman wanita Anda memiliki nama belakang?”

Becker menghela napas perlahan. Va, tapi aku tidak tahu! “Sebenarnya, masalah ini agak rumit. Anda tadi mengatakan pesawat itu hampir kosong. Mungkin Anda bisa-”

“Tanpa nama belakang, saya benar-benar tidak bisa-” “Sebenarnya,” sela Becker yang telah menemukan ide lain. “Apakah Anda bekerja semalaman?”

Wanita itu mengangguk. “Dan jam tujuh sampai jam tujuh.”

“Jadi, mungkin Anda telah melihatnya. Dia seorang gadis muda. Mungkin sekitar lima belas atau enam belas tahun? Rambutnya-” Sebelum kata-kata tersebut meluncur dan mulutnya, Becker menyadari kesalahannya.

Mata wanita itu mengecil. “Kekasih Anda berusia lima belas tahun?”

“Tidak!” Becker terengah. “Maksud saya Sialan. “Tolong bantu saya, ini sangat penting.”

“Maaf,” kata wanita itu dengan dingin.

“Ini tidak seperti yang terdengar. Jika saja Anda dapat-”

“Selamat malam, Tuan.” Wanita itu menutup pagar besi dan menghilang ke dalam ruang belakang.

Becker mengerang dan mendongak ke atas langit. Bagus, Dauid. Bagus sekali. Dia memerhatikan ruangan luas itu. Tidak ada seorang pun. Gadis itu pasti telah menjual cincin tersebut dan naik ke pesawat itu. Becker berjalan menuju ke arah petugas kebersihan itu. “Has uisto a una nina?” tanya

Becker sambil mencoba mengalahkan suara mesin poes lantai. “Apakah Anda tadi melihat seorang gadis?”

Pria tua itu membungkuk dan mematikan mesinnya. “Hah?”

“Una nina?” ulang Becker. “Pelo rojo, azul, y blanco. Rambut merah, putih, dan biru.”

Petugas pembersih itu tertawa. “Cjue fea. Kedengarannya seram.” Dia menggeleng dan kembali bekerja.

DAVID BERDIRI di tengah-tengah ruangan luas di bandara itu dan bertanya-tanya apa yang harus dilakukan berikutnya. Malam ini benar-benar merupakan sebuah lelucon

yang tidak lucu. Kata-kata Strathmore terus berkumandang di dalam kepalanya. Jangan menghubungiku sampai kau mendapatkan cincin itu. Becker merasa teramat lelah. Jika Megan telah menjual cincin tersebut dan ikut dalam penerbangan itu, maka tidak ada yang tahu siapa yang memiliki cincin itu sekarang.

Becker menutup matanya dan mencoba untuk berkonsentrasi. Apa langkahku berikutnya? Dia memutuskan untuk menunda memikirkan hal itu selama beberapa saat. Pertamatama dia harus pergi ke kamar kecil dulu.

***

64

SUSAN BERDIRI sendiri di dalam Node 3 yang sunyi dan remang-remang. Tugasnya sederhana: Akses komputer Hale, temukan kunci sandi miliknya, kemudian hapus semua komunikasinya dengan Tankado. Tidak akan ada lagi petunjuk tentang keberadaan Benteng Digital di mana pun.

Ketakutan Susan mengenai masalah keamanan kunci sandi tersebut dan membuka Benteng Digital yang dia rasakan sebelumnya muncul lagi. Selama ini mereka cukup beruntung. North Dakota telah muncul di hadapan mereka bagai mukjizat dan terperangkap. Pertanyaan yang tersisa hanyalah mengenai David. David harus menemukan kunci sandi lainnya. Susan berharap sang kekasih mendapat kemajuan.

Saat melangkah lebih jauh ke dalam Node 3, Susan berusaha menjernihkan pikirannya. Sungguh aneh, dirinya merasa tidak nyaman di tempat yang dikenalnya dengan baik ini. Segala hal di dalam Node 3 tampak aneh di dalam kegelapan. Tetapi ada hal lainnya. Untuk sesaat, Susan merasa ragu-ragu dan menatap ke arah pintu yang tidak berfungsi itu. Tidak ada jalan untuk melarikan diri. Dua puluh menit, pikirnya.

Saat berjalan ke arah komputer Hale, Susan mencium sesuatu yang aneh, seperti layaknya bau parfum pria— yang pasti bukan bau Node 3. Susan bertanya-tanya apakah penyegar ruangan juga rusak. Bau itu tidak terlalu asing baginya dan seketika itu juga dia merasa menggigil. Dia membayangkan Hale yang terkunci di bawah di dalam sel raksasa yang beruap. Apakah Hale telah membakar sesuatu? Susan melihat ke arah lubang angin dan membaui udara. Tetapi bau itu sepertinya berasal dan suatu tempat di dekat dirinya. Susan melihat ke arah pintu dapur kecil yang berkisikisi. Dan segera dia mengenali bau itu. Itu bau kolonye … dan keringat.

Secara naluriah Susan mundur. Dia tidak siap untuk apa yang dilihatnya. Dan balik kisi-kisi di dapur kecil itu, sepasang mata menatapnya. Susan tidak membutuhkan waktu lama untuk menyadari kenyataan itu. Greg Hale tidak terkunci di lantai bawah tanah—Hale berada di dalam Node 3! Dia telah menyelinap ke atas sebelum Strathmore mengunci pintu kolong itu. Hale cukup kuat untuk membuka semua pintu itu sendiri.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.