Baca Novel Online

Digital Fortress

“Jadi, menurut Anda apa yang harus kita lakukan?” tanya Susan. Dia hanya ingin pergi dari situ. Strathmore berpikir sejenak. “Jangan tanyakan bagaimana ini bisa terjadi,” kata Strathmore sambil memandang pintu kolong yang terkunci itu, “tetapi kelihatannya kita secara tidak sengaja telah menemukan dan melumpuhkan North Dakota.” Dia menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya. “Benar-benar suatu keberuntungan, jika kau tetap bertanya.”

Strathmore tampak masih merasa terkejut akan keterlibatan Hale di dalam rencana Tankado. “Aku rasa Hale menyembunyikan kunci sandi itu di suatu tempat di dalam komputernya—mungkin dia mempunyai salinannya di rumah. Bagaimanapun juga, sekarang dia terperangkap.”

“Lalu kenapa kita tidak memanggil petugas keamanan gedung dan membiarkan mereka menggiringnya pergi?”

“Belum,” kata Strathmore. “Jika para petugas Sys-Sec menemukan statistik tentang TRANSLTR yang beroperasi tiada henti ini, kita akan menghadapi masalah baru. Aku menginginkan semua jejak Benteng Digital dihapus sebelum kita membuka pintu ini.”

Susan mengangguk dengan enggan. Itu rencana yang bagus. Ketika Bagian Keamanan mengeluarkan Hale dan lantai bawah tanah dan menuntutnya atas kematian Chartrukian, dia mungkin akan mengancam untuk membeberkan kepada publik tentang Benteng Digital. Tetapi bukti-bukti akan dihapus—Strathmore bisa berlagak bodoh. Operasi yang tiada henti? Sebuah alogaritma yang tidak bisa dipecahkan? Konyol. Apakah Hale tidak, pernah mendengar tentang Prinsip Bergofsky?

“Ini yang harus kita kerjakan.” Strathmore dengan tenang menguraikan garis besar rencananya. “Kita menghapus semua korespondensi Hale dengan Tankado. Kita hapus semua catatan tentang tindakanku memotong jalan Gauntlet, semua analisis Sys-Sec Chartrukian, semua catatan Run-Monitor, segalanya. Benteng Digital lenyap. Tidak pernah ada. Kita mengubur kunci sandi milik Hale dan berdoa pada Tuhan semoga Dauid menemukan salinan Tankado.”

Dauid, pikir Susan. Dia menyingkirkan pria itu dan pikirannya. Dia harus memusatkan perhatiannya pada masalah yang dihadapinya sekarang.

“Aku akan menangani laboratorium Sys-Sec,” kata Strathmore. “Statistik Run-Monitor, statistik mutasi kegiatan, dan yang lainnya. Kau menangani Node 3. Hapus semua email Hale. Setiap catatan korespondensi dengan Tankado dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Benteng Digital.”

“Baik,” balas Susan dengan penuh perhatian. “Aku akan menghapus seluruh dnve Hale. Melakukan format ulang pada segalanya.”

“Jangan!” respons Strathmore dengan tegas. “Jangan lakukan itu. Pasti Hale memiliki sebuah salinan kunci sandi itu di dalamnya. Aku menginginkannya.”

Susan menganga kaget. “Kau menginginkan kunci sandi itu? Kupikir kita bermaksud menghancurkannya!”

“Benar. Tetapi aku menginginkan sebuah salinan. Aku ingin membuka berkas itu dan mencari tahu tentang program Tankado.”

Susan juga merasakan keingintahuan yang sama, tetapi nalurinya mengatakan bahwa membuka alogaritma Benteng Digital bukan tindakan yang bijaksana, walaupun hal itu sangat menarik. Sekarang, program mematikan itu terkunci di dalam sebuah ruang besi yang bersandi—sama sekali tidak berbahaya. Segera setelah Strathmore memecahkannya … “Komandan, bukankah lebih baik jika-”

“Aku menginginkan kunci sandi itu,” balas Strathmore.

Susan harus mengakui, sejak mendengar tentang Benteng Digital, dirinya merasakan keingintahuan akademis tentang bagaimana Tankado bisa berhasil menulisnya. Keberadaan alogaritma itu sendiri bertentangan dengan aturan-aturan mendasar di bidang knptografi. Susan melirik sang komandan. “Anda akan segera menghapus alogaritma itu setelah kita melihatnya?”

“Tanpa bekas.”

Susan mengernyit. Dia tahu dia tidak akan dengan cepat menemukan kunci sandi milik Hale. Menemukan sebuah kunci sandi yang tidak jelas di salah satu peranti keras Node 3 mirip dengan mencari sebuah kaus kaki di dalam kamar tidur seluas Texas. Pencarian dengan komputer hanya bisa berhasil jika Anda tahu apa yang Anda cari; sedangkan kunci sandi ini tidak jelas. Walaupun begitu, untungnya, Crypto selalu berurusan dengan banyak masalah yang tidak jelas. Susan dan beberapa orang lainnya berhasil mengembangkan sebuah proses rumit yang dikenal dengan “pencarian tidak beraturan.” Pencarian itu pada dasarnya meminta komputer untuk mempelajari rangkaian karakter pada peranti kerasnya, membandingkan setiap rangkaian dengan sebuah kamus besar, dan menandai setiap rangkaian yang tidak masuk akal atau tidak jelas. Terus-menerus memperbarui parameter adalah proses yang sulit, tetapi hal itu mungkin dikerjakan.

Susan tahu bahwa dirinya adalah pilihan yang logis untuk menemukan kunci sandi tersebut. Dia mendesah dan berharap tidak menyesal nanti. “Jika segalanya berjalan baik, hal ini akan memakan waktu kira-kira setengah jam.”

“Kalau begitu mari mulai bekerja,” kata Strathmore sambil meletakkan tangannya di atas pundak Susan dan membimbingnya dalam kegelapan menuju Node 3.

Di atas mereka, langit bertabur bintang membentang di seluruh kubah. Susan bertanya-tanya apakah Dauid bisa melihat bintang-bintang yang sama di Seuilla.

Ketika mereka mendekati pintu kaca Node 3, Strathmore mengutuk perlahan. Tombol pada pintu Node 3 tidak menyala, dan pintu itu tertutup.

“Sialan,” katanya. “Tidak ada listrik. Aku lupa.”

Strathmore mempelajari pintu geser tersebut. Dia meletakkan telapak tangannya di atas pintu kaca itu.

Kemudian dia mencondongkan badannya ke samping sambil berusaha membuka pintu tersebut. Tangannya berkeringat dan licin. Dia mengeringkan kedua telapak tangannya pada celananya dan mencoba lagi. Kali ini pintu itu bergeser dan menganga sedikit.

Karena merasa ada kemajuan, Susan berdiri di belakang Strathmore dan mereka berdua mendorong bersama. Pintu itu menganga selebar satu inci. Mereka menahannya selama beberapa saat, tetapi tekanannya terlalu besar. Pintu itu menutup lagi.

“Tunggu,” kata Susan sambil berpindah posisi ke depan Strathmore. “Baik, sekarang coba.”

Mereka mendorong. Kembali pintu itu terbuka hanya sekitar satu inci. Seberkas sinar biru tipis muncul dan dalam. Komputer-komputer di dalam Node 3 masih menyala. Komputer-komputer tersebut dianggap penting untuk TRANSLTR sehingga menerima tenaga listrik cadangan.

Susan menancapkan jemari kakinya di dalam sepatu Ferragamonya ke lantai dan mendorong lebih keras lagi. Pintu itu mulai bergerak. Strathmore bergerak untuk mendapatkan posisi yang lebih baik. Sambil meletakkan kedua telapak tangannya ke daun pintu sebelah km, Strathmore mendorong dengan keras. Susan mendorong daun pintu sebelah kanan ke arah yang berlawanan. Secara perlahan dan dengan susah payah, kedua daun pintu itu mulai terpisah. Lebarnya sekarang kira-kira satu kaki.

“Jangan lepaskan,” kata Strathmore terengah sambil terus mendorong dengan keras. “Sedikit lagi.”

Susan berpindah posisi dengan menempatkan bahunya pada celah itu. Dia mendorong lagi, kali ini dengan posisi yang tepat. Kedua belah daun pintu itu berusaha menutup kembali.

Sebelum Strathmore bisa menghentikan Susan, perempuan itu menyelipkan badannya yang langsing ke dalam celah pintu itu. Strathmore memprotesnya, tetapi dia bersikeras. Susan ingin keluar dan Crypto, dan dia mengenal Strathmore dengan baik untuk tahu bahwa pria tersebut tidak akan ke manamana sebelum kunci sandi milik Hale ditemukan.

Badan Susan masuk sampai setengahnya ke dalam celah itu. Dia mendorong dengan segenap kekuatannya. Daundaun pintu itu bergerak menutup. Tiba-tiba Susan kehilangan pegangannya. Daun-daun pintu itu menjepitnya. Strathmore berjuang untuk menahan pintu-pintu itu, tetapi pintu-pintu tersebut terlalu kuat. Tepat saat pintu itu menutup, Susan mendesak masuk dan terjatuh di sisi dalam.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.