Baca Novel Online

Digital Fortress

Strathmore mengangkat tangannya sebagai tanda meminta waktu untuk berpikir.

Susan menatap dengan gugup ke arah pintu kolong. Lubang di lantai itu tersembunyi di balik TRANSLTR, tetapi cahaya kemerahan memancar ke atas ubin hitam seperti bara di atas es. Ayolah, panggilkan petugas keamanan, Komandan! Gugurkan TRANSLTR! Ayo keluar dari tempat mi!

Tiba-tiba Strathmore terloncat. “Ikuti aku,” katanya. Dia berjalan ke arah pintu kolong tersebut.

“Komandan! Hale berbahaya! Dia-”

Tetapi Strathmore telah hilang dalam kegelapan. Susan bergegas mengikuti bayangannya. Sang komandan mengitari TRANSLTR dan tiba di lubang di atas lantai itu. Strathmore mengintip ke dalam lubang dengan asap yang berputar itu. Dengan perlahan dia melihat ke sekeliling lantai Crypto yang gelap itu. Kemudian, dia membungkuk dan mengangkat daun pintu kolong itu. Pintu itu berayun membentuk lengkungan yang rendah. Ketika Strathmore melepaskannya, daun pintu itu terbanting menutup dengan suara keras. Crypto kemudian menjadi gua gelap yang sunyi senyap lagi. Kelihatannya North Dakota telah terperangkap.

Strathmore berlutut. Dia mengembalikan kaitan berbentuk kupu-kupu ke tempatnya. Lantai bawah tanah telah tersegel.

Baik dia maupun Susan tidak mendengar langkah-langkah pelan menuju Node 3.

***

60

TWO-TONE MENUJU lorong bercermin yang menghubungkan teras di luar dengan lantai dansa. Saat dia berbalik untuk memeriksa peniti pada bayangan dirinya di cermin, dia merasakan ada yang berdiri di belakangnya. Dia berputar, tetapi terlambat. Sepasang tangan sekeras batu menekan badan dan wajahnya ke cermin.

Remaja punk itu berusaha berbalik. “Eduardo? Hei, friend, kaukah itu?” Two-Tone merasa sebuah tangan menggerayangi dompetnya sebelum sosok itu menyenderkan badannya dengan kuat pada punggungnya. “Eddie!” remaja punk itu berteriak. “Jangan main-main! Ada pria yang sedang mencari Megan.”

Sosok itu memegang erat badannya.

“Hei, Eddie, friend, hentikan!” Tetapi ketika Two-Tone melihat ke arah cermin, dia melihat sosok yang menghimpitnya itu bukanlah temannya.

Wajah itu bopeng dan penuh dengan luka parut. Dua mata tak bernyawa menatap bagaikan arang dari balik kacamata berbingkai kawat. Pria itu mencondongkan badannya ke depan sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Two-Tone. Sebuah suara aneh seperti tercekik bertanya, “Adonde fue? Ke mana perginya pria itu?” Kata-katanya terdengar tidak jelas.

Remaja pria itu diam tidak bergerak, lumpuh karena takut.

“Adonde fue?” ulang suara itu. “El Amencano.” “Ke … bandara. Aeropuerto,” Two-Tone tergagap.

“Aeropuerto?” ulang pria itu. Matanya yang gelap mengawasi bayangan bibir Two-Tone di cermin.

Remaja punk itu mengangguk.

“Tenia el anillo? Apakah pria tadi mendapatkan cincin itu?”

Dengan takut Two-Tone menggeleng. “Tidak.”

“Viste el anillo? Kau melihat cincin itu?”

Two-Tone terdiam. Apa kiranya jawaban yang tepat?

“Viste el anillo?” tanya suara yang tidak jelas itu.

Two-Tone mengangguk mengiyakan sambil berharap kejujuran bisa menyelamatkannya. Tetapi ternyata tidak. Beberapa detik kemudian, dia merosot ke atas lantai dengan leher yang patah.

***

61

JABBA TERLENTANG dan menjulurkan separuh badannya ke bawah mesin komputer yang terbongkar. Di mulutnya terdapat sebuah lampu berbentuk pen. Di tangannya terdapat sebuah alat patri besi. Di atas perutnya terhampar sebuah cetak biru petunjuk tentang mesin komputer itu. Dia baru saja memasang beberapa alat pada sebuah motherboard yang bermasalah ketika telepon selulernya berbunyi.

“Sial,” kutuknya sambil mencari teleponnya di antara tumpukan kabel. “Jabba di sini.”

“Jabba. Ini Midge.”

Jabba menjadi cerah. “Dua kali dalam semalam? Orang-orang akan mulai bergunjing.”

“Crypto sedang dalam masalah.” Suara Midge terdengar tegang.

Jabba mengernyit. “Kita sudah pernah membahas masalah ini. Ingat?”

“Ini masalah tenaga listriknya.”

“Saya bukan ahli listrik. Hubungi bagian teknik listrik.”

“Kubah itu gelap.”

“Kau melihat yang tidak-tidak. Pulanglah.” Jabba berpaling kembali ke kertas petunjuknya. “Gelap gulita!” teriak Midge.

Jabba mendesah dan meletakkan pen lampunya. “Midge, pertama-tama, kita memiliki tenaga listrik cadangan di sana. Tidak mungkin gelap gulita. Kedua, Strathmore bisa mengawasi Crypto lebih baik daripada aku sekarang. Kenapa kau tidak menghubunginya?”

“Karena ini ada hubungannya dengan dia. Dia sedang menyembunyikan sesuatu.”

Jabba memutar bola matanya. “Midge, Manis, aku sedang terkubur oleh sambungan kabel di sini. Jika kau membutuhkan seorang teman kencan, aku akan ke sana. Jika tidak, hubungi teknisi listrik.”

“Jabba, ini serius. Aku bisa merasakannya.”

Dia bisa merasakannya? Tidak diragukan lagi, pikir Jabba, Midge sedang bertingkah. “Jika Strathmore tidak khawatir, aku juga tidak akan khawatir.”

“Crypto gelap gulita, sialan!”

“Mungkin Strathmore sedang menyaksikan bintang.”

“Jabba! Aku sedang tidak bercanda!”

“Baiklah, baiklah,” gerutu Jabba sambil berusaha bangkit dengan bantuan sikutnya. “Mungkin sebuah pembangkit tenaga listrik terganggu. Jika aku sudah selesai di sini, secepatnya aku akan mampir ke Crypto dan-”

“Bagaimana dengan tenaga listrik cadangan?” tanya Midge. “Jika sebuah pembangkit tenaga rusak, kenapa tidak ada tenaga listrik cadangan?”

“Aku tidak tahu. Mungkin Strathmore membiarkan TRANSLTR tetap bekerja sehingga seluruh tenaga listrik cadangan terpakai.”

“Lalu kenapa dia tidak menggugurkan TRANSLTR? Mungkin ini karena sebuah virus. Kau tadi menyebutnyebut soal virus.”

“Sialan, Midge!” Jabba meledak. “Sudah kuberi tahu kau bahwa tidak ada virus di dalam Crypto! Berhentilah bertingkah seperti orang paranoid!”

Sambungan telepon itu terdiam.

“Maafkan aku, Midge,” kata Jabba. “Biar aku jelaskan.” Suaranya tegang. “Pertama-tama, kita memiliki Gauntlet— tidak ada virus yang bisa menembusnya. Kedua, jika ada kegagalan dalam sistem penyediaan tenaga listrik, hal itu terkait dengan peranti kerasnya-vtrus tidak bisa memutuskan aliran listrik. Mereka hanya menyerang peranti lunak dan data. Apa pun yang terjadi di dalam Crypto bukan karena virus.”

Sunyi.

“Midge? Kau masih di sana?”

Jawaban Midge sedingin es. “Jabba. Aku memiliki tugas yang harus kukerjakan. Aku tidak ingin dibentak-bentak hanya karena aku berusaha menjalankan tugasku. Ketika aku menelepon untuk bertanya kenapa sebuah fasilitas seharga jutaan dolar menjadi gelap, aku mengharapkan sebuah jawaban yang profesional.”

“Ya, Bu.”

“Sebuah jawaban ya atau tidak sudah cukup. Apakah mungkin masalah di dalam Crypto terkait dengan virus?”

“Midge … aku sudah memberitahumu-”

“Ya atau tidak. Mungkinkah TRANSLTR terserang virus?”

Jabba mendesah. “Tidak, Midge. Itu sama sekali tidak mungkin.”

“Terima kasih.”

Jabba memaksakan sebuah tawa kecil dan berusaha mencairkan suasana. “Kecuali jika kau berpikir Strathmore menciptakan virus itu sendiri dan memotong jalan penya-nngku.”

Mereka terdiam sejenak. Ketika Midge berbicara, suaranya terdengar ngeri. “Strathmore bisa memotong jalan Gauntlet?”

Jabba mendesah. “Itu hanya lelucon, Midge.” Tetapi dia sadar sudah terlambat.

***

62

SANG KOMANDAN dan Susan berdiri di samping pintu kolong yang tertutup. Mereka berdebat tentang langkah berikutnya.

“Di bawah ada mayat Chartrukian,” kata Strathmore. “Jika kita meminta bantuan, Crypto akan berubah menjadi sebuah sirkus.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.