Baca Novel Online

Digital Fortress

Becker merasa tercekat. “Kapan dia akan pulang?”

Two-Tone menatapnya. “Kapan?” Dia tertawa. “Dia sudah pergi jauh sekarang. Dia ke bandara beberapa jam yang lalu. Tempat terbaik untuk menjual cincin itu— banyak wisatawan kaya dan sebagainya. Begitu dia mendapatkan uang tunai, dia akan terbang keluar.”

Becker merasa mual. Ini pasti lelucon yang buruk, bukan? Dia berdiri diam untuk beberapa lama. “Siapa nama belakangnya?”

Two-Tone memikirkan pertanyaan itu sesaat dan mengangkat bahunya.

“Dia terbang dengan pesawat apa?”

“Dia pernah menyebut-nyebut tentang Roach Coach.”

“Roach Coach?”

“Ya. Pesawat malam di akhir pekan—Seuilla, Madrid, La Guardia. Begitulah mereka menyebutnya. Para mahasiswa memakai penerbangan itu karena murah. Mungkin mereka bisa duduk di dalamnya sambil mengisap mariyuana.”

Bagus. Becker mengerang dan menyisir rambutnya dengan jemarinya. “Jam berapa terbangnya?”

“Jam dua pagi tepat, setiap hari Minggu. Dia sudah berada di atas Atlantis sekarang.”

Becker memeriksa jam tangannya. Pukul 1:45 pagi. Dia berpaling pada Two-Tone, bingung. “Kau bilang penerbangan itu jam dua pagi?”

Remaja punk itu mengangguk sambil tertawa. “Sepertinya kau sedang apes, Pak Tua.”

Becker menunjuk ke arah jamnya dengan marah. “Tetapi sekarang baru jam dua kurang seperempat!”

Two-Tone melihat ke arah jam itu dengan bingung. “Wah, aneh sekali.” Dia tertawa. “Saya biasanya tidak semabuk ini sebelum jam empat pagi!”

“Apa cara tercepat untuk pergi ke bandara?” tany Becker.

“Dengan taksi.”

Becker mengambil lembaran uang seribu peseta dan menjejalkannya ke dalam tangan Two-Tone.

“Hei, Pak, terima kasih!” teriak remaja punk itu. “Jika kau bertemu Megan, sampaikan salamku!” Tetapi Becker telah pergi.

Two-Tone mendesah dan terhuyung kembali ke arah lantai dansa. Dia terlalu mabuk untuk memerhatikan seorang pria dengan kacamata berbingkai kawat yang mengikutinya.

Di luar, Becker mencari taksi di lapangan parkir. Dia tidak menemukan satu pun. Dia berlari ke arah tukang pukul klab yang bertubuh gempal itu. “Taksi!”

Tukang pukul itu menggeleng. “Demasiado temprano. Terlalu pagi.”

Terlalu pagi? Becker bersumpah serapah. Sekarang sudah jam dua pagi!

“P dame uno! Panggilkan satu untukku!”

Pria itu mengeluarkan sebuah walkie-talkie. Dia mengucapkan beberapa patah kata dan memutuskan hubungan. “Viente minutos,” katanya.

“Dua puluh menit?!” tanya Becker. “V el autobus?”

Tukang pukul itu mengangkat bahunya. “45 minutos.”

Becker mengangkat tangannya. Sempurna!

Suara sebuah kendaraan kecil membuat Becker memalingkan kepalanya. Suaranya seperti sebuah gergaji listrik. Seorang remaja besar dan teman kencannya yang memakai banyak hiasan dan rantai sedang memasuki lapangan parkir. Mereka duduk di atas sebuah motor Vespa 250 tua. Rok gadis itu tertiup tinggi hingga ke bagian paha. Kelihatannya gadis itu cuek aja. Becker berlari mendekati mereka. Aku tidak percaya aku melakukan hal ini, pikirnya. Aku membenci sepeda motor. Dia berteriak pada pengendaranya. “Aku akan membayarmu sepuluh ribu peseta untuk mengantarku ke bandara.”

Remaja itu mengabaikannya dan mematikan mesin kendaraannya.

“Dua puluh ribu!” teriak Becker. “Aku harus pergi ke bandara.”

Anak itu menatapnya. “Scusi?” Dia orang Italia. “Aeroporto! Per fauore. Sulla Vespa! Venti mille pesete!”

Orang Italia itu melihat ke arah temannya, motor kecilnya, dan tertawa. “Venti mille pesete? La Vespa?”

“Cinquanta mille! Lima puluh ribu!” tawar Becker. Jumlah itu nilainya kira-kira empat ratus dolar.

Orang itu tertawa ragu-ragu. “Dou’e la plata? Mana uangnya?”

Becker mengeluarkan lima lembar uang kertas 10.000 peseta dan kantongnya dan mengulurkannya. Orang Italia itu melihat uang tersebut dan kemudian ke arah pacarnya. Gadis itu menyambar uang itu dan memasukkannya ke dalam blusnya.

“Grazie!” orang Italia itu tersipu. Dia melemparkan kunci Vespanya kepada Becker. Kemudian, dia meraih tangan pacarnya, dan mereka berlari ke arah bangunan itu sambil tertawa.

“Aspetta!” teriak Becker. “Tunggu! Vang aku inginkan adalah tumpangan!”

***

59

SUSAN MERAIH tangan Strathmore saat sang komandan membantunya menaiki tangga ke atas lantai Crypto. Bayangan Phil Chartrukian yang tergeletak hancur di atas mesin pembangkit tenaga terpatri di dalam ingatannya. Ingatan akan Hale yang bersembunyi di dalam perut Crypto telah membuatnya pusing. Kenyataan ini sungguh tidak dapat dipungkiri—Hale telah mendorong Chartrukian.

Susan bergerak melalui bayang-bayang TRANSLTR menuju pintu keluar utama Crypto—pintu yang dilaluinya beberapa jam yang lalu. Dia menekan tombol yang padam pada pintu itu dengan panik, tetapi pintu itu tidak bergerak. Dia terperangkap. Crypto adalah sebuah penjara. Kubahnya menjulang bagaikan sebuah satelit, 109 yard dari bangunan utama NSA, dan hanya bisa dicapai melalui gerbang utama. Sejak Crypto memiliki pembangkit tenaga listrik sendiri, mungkin operator telepon di depan bahkan tidak tahu kalau mereka sedang ada masalah.

“Pembangkit tenaga utamanya mati,” kata Strathmore di belakangnya. “Kita memakai tenaga cadangan.”

Persediaan tenaga cadangan di dalarn Crypto dirancang agar TRANSLTR dan sistem pendinginannya lebih diutamakan daripada sistem-sistem lainnya, termasuk penerangan dan jalan masuk. Dengan cara seperti ini, gangguan listrik seperti apa pun tidak akan mengganggu proses kerja TRANSLTR yang penting. Hal ini juga berarti, TRANSLTR tidak akan beroperasi tanpa sistem pendinginan. Tanpa pendinginan, panas yang dihasilkan oleh tiga juta prosesornya akan mencapai tingkat yang berbahaya—mungkin bahkan bisa membakar cip-cip silikon dan membuatnya meleleh. Tidak ada seorang pun yang menginginkan hal itu terjadi.

Susan berjuang untuk mengenali keadaan sekelilingnya. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan petugas Sys-Sec itu di atas mesin pembangkit tenaga. Susan menekan tombol pada pintu lagi. Tetap tidak ada hasil. “Gugurkan perintahnya!” pinta Susan. Memerintahkan TRANSLTR untuk menggugurkan proses pencarian kunci sandi Benteng Digital akan memutuskan sirkuitnya dan menyediakan cukup tenaga untuk membuat pintu-pintu berfungsi kembali.

“Tenang, Susan,” kata Strathmore sambil memegang pundak Susan untuk menenangkannya.

Sentuhan sang komandan yang meyakinkan membuat Susan tersadar dan perasaan bingungnya. Tiba-tiba dia ingat alasan dirinya mencari Strathmore. Dia berputar, “Komandan! Greg Hale adalah North Dakota!”

Sepertinya kesunyian meliputi kegelapan untuk selamanya. Akhirnya Strathmore menjawab. Suaranya terdengar lebih seperti orang yang sedang bingung daripada kaget. “Apa maksudmu?”

“Hale Susan berbisik. “Dia adalah North Dakota.”

Mereka terdiam lagi saat Strathmore mencerna kata-kata Susan. “Pelacak itu?” Strathmore kedengarannya bingung. “Pelacak itu menunjuk pada Hale?”

“Pelacak itu belum kembali. Hale menggugurkannya!”

Susan menjelaskan bagaimana Hale menghentikan pelacaknya dan bagaimana dia menemukan email dan Tankado di dalam account Hale. Kemudian mereka terdiam lagi. Strathmore menggeleng dengan rasa tidak percaya.

“Tidak mungkin Greg Hale adalah jaminan Tankado! Itu konyol! Tankado tidak akan memercayai Hale.”

“Komandan,” kata Susan, “Hale pernah menenggelamkan kita sebelumnya—Skipjack. Tankado memercayainya.”

Tampaknya Strathmore tidak bisa berkata apa-apa. “Gugurkan TRANSLTR,” Susan memohon padanya. “Kita sudah mendapatkan North Dakota. Panggilkan petugas keamanan gedung. Mari keluar dan tempat ini.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.