Baca Novel Online

Digital Fortress

Remaja itu tersenyum untuk pertama kalinya. “Sepakat.”

“Baiklah.” Becker melanjutkan dengan suara pelan. “Kurasa gadis yang sedang aku cari mungkin sering kemari. Dia berambut merah, putih, dan biru.”

Two-Tone mendengus. “Sekarang adalah acara peringatan untuk Judas Taboo. Setiap orang ber-”

“Dia juga mengenakan kaus bergambar bendera Inggris dan sebuah tengkorak di telinganya.”

Wajah Two-Tone menunjukkan seolah-olah dirinya mengenali gadis yang dimaksud. Becker melihatnya dan merasa mempunyai secercah harapan. Tetapi tidak lama kemudian, ekspresi Two-Tone berubah menjadi kaku. Dia membanting botol birnya dan merenggut kemeja Becker.

“Dia milik Eduardo, dasar bajingan kau! Aku akan mengawasinya! Jika kau sentuh gadis itu, Eduardo akan membunuhmu!”

***

56

MIDGE MILKEN berjalan dengan marah ke arah ruang konferensi yang berada di seberang ruang kantornya. Selain ada sebuah meja mahogani sepanjang 32 kaki dengan lambang NSA berwarna ceri hitam dan walnut pada bagian permukaan, ruang konferensi itu juga berisi tiga lukisan cat air karya Marion Pike, sebatang tanaman pakis Boston, sebuah meja bar dari marmer, dan tentu saja sebuah pendingin air Sparkletts yang selalu harus ada. Midge minum segelas air dengan harapan hal itu bisa menenangkan syarafnya.

Sambil menyesap air itu, Midge melihat keluar jendela. Cahaya bulan masuk dari antara kerai jendela Venesia dan menyinari urat kayu pada meja. Midge selalu berpikir bahwa ruangan ini akan menjadi ruang direktur yang lebih baik dibandingkan dengan ruang yang sekarang ditempati Fontaine di bagian depan gedung ini. Daripada menghadap lapangan parkir, ruang konferensi ini menghadap jejeran gedung-gedung lain yang menakjubkan milik NSA— termasuk kubah Crypto, sebuah pulau berteknologi tinggi yang mengapung terpisah dan bangunan utama di atas lahan berhutan seluas tiga hektar. Sengaja dibangun di belakang perlindungan alami pepohonan maple, Crypto sulit terlihat dan hampir semua jendela di NSA, tetapi pemandangan dan bagian direksi sungguh sempurna. Bagi Midge, ruang konferensi adalah tempat yang paling strategis bagi seorang raja untuk mengawasi daerah kekuasaannya. Midge telah mengusulkan pada Fontaine untuk pindah ruangan, tetapi sang direktur hanya menjawab, “Jangan di bagian belakang.” Fontaine bukanlah tipe pria yang biasa ditemukan di bagian belakang apa saja.

Midge membuka kerai jendela. Dia menatap ke arah perbukitan. Sambil mendesah sedih, dia membiarkan matanya berkelana ke arah tempat Crypto berdiri. Dia selalu merasa terhibur dengan pemandangan kubah Crypto—sebuah mercusuar yang menyala tanpa henti. Tetapi malam ini, ketika dia melihat keluar, dia tidak merasa terhibur. Midge menatap ke arah yang kosong. Sambil menekan wajahnya ke atas kaca, dia diliputi oleh perasaan panik kekanakan yang liar. Di bagian bawah tidak terdapat apa-apa selain kegelapan. Crypto telah lenyap!

***

57

KAMAR KECIL di Crypto tidak berjendela, dan kegelapan yang menyelimuti Susan Fletcher benar-benar pekat. Susan berdiri diam sejenak sambil berusaha mereka-reka keadaan di sekelilingnya. Dia sadar akan rasa panik yang menyerang dirinya. Jeritan mengerikan dari lubang angin tadi seperti berputar-putar di sekitarnya. Walaupun dia berusaha mengatasi rasa takut yang semakin meningkat, kengerian merayapi sekujur tubuhnya dan menguasai dirinya.

Dengan gerakan-gerakan yang tidak terkendali, Susan meraba-raba pintu bilik dan wastafel. Dengan perasaan bingung, dia berputar di dalam kegelapan dengan tangan terjulur ke depan dan berusaha mengenali ruangan sekitarnya. Dia membalikkan sebuah tempat sampah dan menabrak dinding berubin. Sambil menelusuri dinding itu dengan tangannya, Susan berjuang mencari jalan keluar dan menemukan pegangan pintunya. Dia menarik pintu itu sampai terbuka dan terhuyung keluar ke atas lantai Crypto.

Dia tidak bergerak untuk beberapa saat.

Lantai Crypto tidak terlihat seperti beberapa saat sebelumnya. TRANSLTR merupakan sebuah bayangan kelabu di bawah sinar senja temaram yang masuk melalui kubah. Semua lampu di bagian atas padam. Bahkan tombol-tombol elektronik pada pintu juga padam.

Saat mata Susan sudah terbiasa pada kegelapan, dia melihat satu-satunya sinar yang ada di dalam Crypto berasal dan pintu kolong yang menganga terbuka—sebuah kilauan merah yang lemah dan ruang perawatan di bawah. Sambil bergerak ke arah itu, Susan mencium bau ozon yang tipis di udara.

Ketika mencapai pintu kolong itu, Susan mengintip ke dalam lubang yang menganga itu. Saluran-saluran freon masih terus mengeluarkan kabut yang berputar-putar di dalam cahaya kemerahan, dan dan suara dengungan melengking pembangkit tenaga listrik, Susan tahu bahwa Crypto masih berfungsi dengan tenaga cadangan. Di antara kabut, dia bisa melihat Strathmore sedang berdiri di landasan bawah. Strathmore sedang bersandar pada pagar pembatas dan menatap ke kedalaman, ke arah badan TRANSLTR yang bergemuruh.

“Komandan!”

Tidak ada jawaban.

Susan menuruni tangga. Udara panas dan bawah berembus ke dalam roknya. Pijakan tangganya licin karena kondensasi. Dia kemudian berpijak pada permukaan landasan yang kasar.

“Komandan?”

Strathmore tidak berpaling. Dia terus menatap ke bawah dengan tatapan kaget yang kosong, seolah-olah kerasukan. Susan mengikuti arah pandangannya ke bawah. Untuk sejenak dia tidak melihat apa-apa kecuali gumpalan uap. Kemudian, secara tiba-tiba, dia melihatnya. Sesosok tubuh. Enam lantai di bawahnya. Tubuh itu terlihat sekilas di balik gumpalan uap yang membubung. Kemudian, terlihat lagi. Sembilan puluh kaki di bawah mereka tergeletak seonggok tubuh yang terpelintir. Phil Chartrukian tergeletak di atas sirip-sirip besi pembangkit tenaga listrik utama. Tubuhnya kelam dan hangus. Chartrukian terjatuh ke sana sehingga mengganggu cadangan listrik utama Crypto.

Tetapi pemandangan yang paling mengerikan bukanlah Chartrukian, melainkan orang lain. Sesosok badan lain yang berdiri di tengah tangga, sedang membungkuk dan bersembunyi di dalam bayangan. Badan yang kekar itu tidak mungkin milik orang lain. Itu adalah Greg Hale.

***

58

REMAJA PUNK itu berteriak kepada Becker.

“Megan milik temanku, Eduardo! Menjauhlah darinya!”

“Di mana dia?” jantung Becker berpacu tidak terkendali.

“Persetan denganmu!”

“Ini darurat!” bentak Becker. Dia mencengkeram lengan baju remaja itu. “Dia menyimpan cincin milikku. Aku akan membayarnya! Dengan jumlah besar!”

Two-Tone terdiam dan tertawa histeris. “Maksudmu, benda emas jelek itu milikmu?”

Mata Becker membelalak. “Kau pernah melihatnya?”

Two-Tone mengangguk tersipu.

“Di mana cincin itu?” Tanya Becker. “Tidak tahu.” Two-Tone terkekeh. “Megan pernah berusaha menjualnya di sini.”

“Dia berusaha menjualnya?”

“Jangan khawatir, Pak, dia tidak berhasil. Seleramu dalam perhiasan buruk sekali.”

“Kau yakin tidak ada yang membelinya?” “Kau bercanda? Seharga empat ratus dolar? Kubilang pada Megan untuk melepasnya seharga lirna puluh, tetapi dia menginginkan lebih. Dia mau membeli tiket pesawat.”

Becker merasa darah mengalir turun dan wajahnya. “Ke mana?”

“Connecticut,” bentak Two-Tone. “Eddie ingin ikut.” “Connecticut?”

“Benar. Pulang ke rumah Mami dan Papi di pinggiran kota. Dia membenci keluarga tempatnya tinggal selama berada di Spanyol. Ketiga anak laki-laki keluarga itu selalu berusaha mendekatinya. Dan tidak ada air panas.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.