Baca Novel Online

Digital Fortress

“Di bagian Amerika mana?” tanya Numataka. “Mereka sedang mencari tahu, Pak.” “Bagus. Beri tahu aku jika kau dapat informasi lagi.” Operator itu membungkuk lagi dan pergi. Numataka merasa otot-ototnya menjadi lebih lemas. Kode negara 1. Benar-benar berita baik.

***

54

SUSAN FLETCHER berjalan mondar-mandir dengan tidak sabar di dalam kamar kecil Crypto sambil berhitung perlahan sampai lima puluh. Kepalanya berdenyut-denyut. Tinggal sebentar lagi, dia berujar sendiri. Hale adalah North Dakotai

Dia menduga-duga apa rencana Hale. Apakah Hale akan mengumumkan kunci sandi itu? Akankah Hale menjadi serakah dan berusaha menjual alogaritma itu? Su-san tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia harus memberi tahu Strathmore.

Dengan hati-hati Susan membuka pintu dan mengintip keluar ke arah dinding Crypto yang memantul di kejauhan. Tidak mungkin Hale masih mengawasinya. Susan harus bergerak lebih cepat ke tempat Strathmore. Jangan terlalu cepat, tentunya—dia tidak boleh membuat Hale curiga kalau dirinya sedang mengadukannya. Susan meraih pintu dan hendak membukanya ketika dia mendengar sesuatu. Suara-suara. Suara-suara pria.

Suara-suara itu datang dari lubang angin kamar kecil di dekat lantai. Susan melepas pegangannya pada pintu dan bergerak ke arah lubang angin itu. Suara-suara tersebut tenggelam dalam dengungan mesin pembangkit tenaga di bawah. Percakapan itu kedengarannya berasal dan jalan sempit di lantai bawah tanah. Sebuah suara terdengar melengking marah. Kedengarannya seperti Phil Chartrukian.

“Anda tidak memercayaiku?”

Perdebatan itu terdengar lebih hebat.

“Kita memiliki virus!”

Kemudian, terdengar suara kasaf berteriak. “Kita harus menghubungi Jabba.”

Kemudian terdengar suara gaduh seperti orang sedang bergulat.

“Lepaskan aku.”

Keributan yang menyusul hampir tidak terdengar seperti suara manusia. Bunyi itu adalah jeritan panjang penuh kengerian, seperti seekor binatang tersiksa yang akan mati. Susan diam tak bergerak di samping lubang angin itu. Tiba-tiba keributan itu mereda seperti saat mulainya. Kemudian semuanya menjadi sunyi.

Segera setelah itu, bagaikan sudah diatur untuk pertunjukan film horor tengah malam, lampu-lampu di ka-mar kecil meredup, kemudian berkedip dan padam. Susan berdiri dalam kegelapan.

***

55

“KAU DUDUK di tempatku, brengsek!”

Becker mengangkat kepalanya dari tangannya. Tidak adakah yang berbahasa dengan benar di negara terkutuk ini?

Seorang pemuda pendek, berkepala botak, dan berjerawat sedang menatapnya. Separuh dari kulit kepalanya berwarna merah dan yang separuhnya lagi berwarna ungu. Pemuda itu tampak seperti sebutir telur Paskah. “Kubilang kau duduk di tempatku, brengsek.”

“Aku sudah dengar tadi,” kata Becker sambil berdiri. Dia sedang tidak ingin bertengkar. Sudah saatnya pergi.

“Di mana kauletakkan botol-botolku?” geram si pemuda yang memasangkan sebuah peniti pada bagian hidungnya.

Becker menunjuk pada botol-botol bir yang diletakkannya di lantai. “Botol-botol itu sudah kosong.”

“Itu botol-botol kosong-ku!”

“Maaf,” kata Becker dan beranjak pergi.

Remaja punk itu menghalangi jalannya. “Angkat botol-botol itu!”

Becker mengejapkan matanya dan merasa hal itu tidak lucu. “Kau bercanda, kan?” Dia lebih tinggi satu kaki dan lebih berat kira-kira lirna puluh pon daripada remaja itu.

“Apa aku tampak sedang bercanda?”

Becker tidak berkata apa-apa.

“Angkat botol-botol itu!” bentak remaja itu.

Becker berusaha rnernutarinya, tetapi remaja itu menghalangi jalannya. “Aku bilang, angkat botol-botol itu!”

Para punk yang mabuk di dekat meja itu mulai memerhatikan keributan itu.

“Kau tidak ingin melakukan hal ini, Nak,” kata Becker dengan tenang.

“Kupenngatkan kau!” Remaja itu mendidih marah. “Ini mejaku! Aku kemari setiap malam. Sekarang angkat botol-botol itu!”

Kesabaran Becker habis. Bukankah seharusnya dia berada di Smokys bersama dengan Susan? Kenapa dia berada di Spanyol dan berdebat dengan seorang remaja sakit jiwa?

Tanpa peringatan, Becker meraih remaja itu di bagian ketiaknya, mengangkatnya, dan membanting bokongnya ke atas meja. “Dengar, bocah tengik ingusan. Kau tidak usah menggertak atau aku akan menarik peniti itu dan hidungmu dan memasangnya di mulutmu agar diam!”

Wajah remaja itu menjadi pucat.

Becker mencengkeramnya untuk beberapa saat sebelum kemudian melepas pegangannya. Tanpa melepaskan pandangannya dan remaja yang ketakutan itu, Becker membungkuk untuk mengangkat botol-botol itu, dan meletakkannya kembali ke atas meja. “Bilang apa?” tanya Becker.

Remaja itu tidak berkata apa-apa.

“Terima kasih kembali,” bentak Becker. Anak mi benarbenar sebuah iklan berjalan untuk program keluarga berencana.

“Pergi ke neraka!” teriak remaja itu. Dia sadar teman-temannya sedang menertawainya. “Dasar lap pantat!”

Becker bergeming. Tiba-tiba dia menangkap sesuatu yang dikatakan remaja itu. Aku kemari setiap malam. Dia bertanyatanya apakah mungkin remaja ini bisa membantunya. “Maaf,” kata Becker, “siapa namamu?”

“Two-Tone,” desis pemuda itu, seolah-olah dirinya baru menjatuhkan hukuman mati.

“Two-Tone (Dua warna)?” ulang Becker sambil berpikir. “Coba kutebak … karena rambutmu?” “Tidak salah, Sherlock.”

“Nama yang menarik. Kau yang ciptakan sendiri?” “Benar sekali,” jawabnya bangga. “Aku akan mematenkannya.”

Becker mengerutkan dahinya. “Maksudmu, mendaftarkan merek dagangnya?”

Remaja itu kelihatan bingung.

“Untuk sebuah nama, kau membutuhkan merek dagang,” kata Becker. “Bukan hak paten.”

“Terserah,” teriak remaja punk itu dengan putus asa.

Di meja-meja sekitarnya, sekumpulan muda-mudi yang mabuk dan di bawah pengaruh obat bius tertawa histeris. Two-Tone berdiri dan mencemooh Becker. “Apa yang kauinginkan danku?”

Becker berpikir sesaat. Aku ingin kau mencuci rambutmu, membersihkan bahasa yang kaupekai, dan mencari pekerjaan. Mereka baru pertama kali bertemu, jadi Becker merasa permintaan itu berlebihan. “Aku membutuhkan informasi,” katanya.

“Persetan.” “Aku sedang mencari seseorang.” “Aku tidak melihatnya.”

“Belum melihatnya,” koreksi Becker sambil melambai pada seorang pramusaji yang lewat. Dia membeli dua bir Aguila dan menyodorkan satu untuk Two-Tone. Anak laki-laki itu tampak terkejut. Dia menenggak bir itu dan menatap Becker dengan curiga.

“Kau sedang mencoba merayuku, Tuan?”

Becker tersenyum. “Aku sedang mencari seorang gadis.”

Two-Tone tertawa melengking. “Dengan pakaian seperti itu, yang pasti kau tidak akan mendapatkan kesenangan apaapa.”

Becker mengernyit. “Aku tidak sedang mencari kesenangan. Aku hanya ingin berbicara padanya. Mungkin kau bisa membantuku menemukannya.”

Two-Tone meletakkan birnya. “Kau polisi?” Becker menggeleng. Mata remaja itu mengecil. “Kau kelihatan seperti polisi.”

“Nak, aku berasal dan Maryland. Jika aku polisi, aku sedang berada di luar wilayah kewenanganku, benar tidak?”

Pertanyaan itu tampaknya membuatnya terpana.

“Namaku Dauid Becker.” Becker tersenyum dan mengulurkan tangannya ke seberang meja.

Remaja punk itu mundur dengan perasaan jijik. “Mundur, banci.”

Becker menarik tangannya kembali.

Remaja itu mencemoohnya. “Aku akan membantumu, tetapi kau harus bayar.”

Becker mengikuti permainannya. “Berapa?”

“Seratus dolar.”

Becker mengernyit. “Aku hanya punya peseta.”

“Terserah! Seratus peseta pun jadi.”

Tampaknya nilai tukar valuta asing bukanlah salah satu kekuatan Two-Tone; seratus peseta nilainya hanya sekitar S7 sen. “Sepakat,” kata Becker sambil mengetuk-ngetukkan botol birnya ke atas meja.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.