Baca Novel Online

Digital Fortress

Midge berpikir sesaat. Dia juga pernah mendengar tentang hal itu. Midge berpikir jangan-jangan dirinya terlalu paranoid.

“Midge.” Jabba mendesah dan menenggak minumannya lagi. “Jika mainan Strathmore bervirus, dia akan menghubungiku. Strathmore cerdas, tetapi dia tidak tahu apa-apa tentang virus. TRANSLTR adalah segalanya bagi dia. Jika ada masalah, dia pasti sudah menekan tombol panik—dan di tempat ini, tombol itu adalah aku.” Jabba mengisap sehelai panjang serat keju mozzarella. “Lagi pula, tidak mungkin TRANSLTR bervirus. Gauntlet adalah serangkaian paket penyaring terbaik yang pernah kubuat. Tidak ada yang bisa menembusnya.”

Setelah terdiam lama, Midge mendesah. “Ada kemungkinan lain?”

“Ya. Datamu salah.”

“Kau sudah mengatakannya tadi.”

“Tepat sekali.”

Midge mengernyit. “Maksudmu kau tidak mendengar apa-apa? Sama sekali?”

Jabba tertawa parau. “Midge … dengarkan. Skipjack payah. Strathmore mengacaukannya. Tetapi lupakan yang dulu. Itu sudah berlalu.” Mereka terdiam lama, dan Jabba sadar dia telah melampaui batas. “Maaf, Midge. Aku tahu kau yang kena getahnya waktu itu. Strathmore salah. Aku tahu bagaimana perasaanmu padanya.”

“Ini tidak ada hubungannya dengan Skipjack,” kata Midge dengan tegas.

Ya, tentu saja, pikir Jabba. “Dengar, Midge. Aku tidak mempunyai perasaan apa pun terhadap Strathmore.

Maksudku, pria itu seorang knptografer. Pada dasarnya, mereka semua adalah cecunguk yang egois. Mereka membutuhkan data mereka. Bagi mereka setiap berkas dapat menyelamatkan dunia.” “Apa maksudmu?”

Jabba mendesah. “Maksudku, Strathmore adalah seorang pengidap sakit jiwa seperti yang lainnya. Tetapi aku juga ingin mengatakan, cintanya pada TRANSLTR lebih besar daripada cintanya pada istrinya. Jika memang ada masalah, Strathmore pasti sudah menghubungiku.”

Midge terdiam lama. Akhirnya dia mendesah pelan. “Jadi, kau menganggap dataku yang salah?”

Jabba terkekeh. “Apakah ada gaung di sini?”

Midge tertawa.

“Dengar, Midge. Beri aku sebuah perintah kerja. Aku akan naik memeriksa mesinmu pada hari Senin. Sementara itu, keluarlah dan sini. Ini malam Minggu. Carilah teman tidur atau apalah.”

Midge mendesah. “Aku sedang berusaha, Jabba. Percayalah, aku sedang berusaha.”

***

52

KLUB EMBRUJO—yang berarti penyihir pria—terletak di luar kota di akhir rute bus nomor 27. Rupa tempat itu lebih mirip sebuah benteng pertahanan daripada sebuah klub dansa. Tempat itu dikelilingi oleh dinding berplester semen bertabur potongan botol bir—sebuah sistem keamanan sederhana untuk mencegah para penyusup masuk tanpa meninggalkan potongan dagingnya.

Selama perjalanan, Becker telah mengakui kegagalannya. Sudah saatnya mengabari Strathmore tentang berita buruk ini. Pencariannya sia-sia. Dia telah melakukan yang terbaik. Sekarang saatnya untuk pulang.

Tetapi sekarang, begitu melihat rombongan pelanggan saling mendorong di pintu masuk, Becker tidak yakin hati nuraninya akan mengizinkannya untuk menyerah. Dia sedang menyaksikan kumpulan punk terbesar yang pernah dilihatnya. Dia melihat rambut merah, biru, dan putih di mana-mana.

Becker mendesah, mempertimbangkan pilihannya. Dia melihat kerumunan itu dan mengangkat bahunya. Di mana lagi perempuan itu mungkin berada pada malam Minggu? Sambil mengutuki nasibnya, Becker turun dan bus.

Jalan masuk Klub Embrujo adalah sebuah lorong batu sempit. Saat masuk, Becker mendapati dirinya terjebak di antara pelanggan yang sangat bersemangat untuk masuk.

“Minggir, banci!” Seseorang yang tampak seperti bantalan jarum menyeruak masuk dan menyikut Becker.

“Dasi yang bagus.” Seseorang menarik dasi Becker.

“Mau seks?” tanya seorang gadis remaja yang tampak seperti makhluk dalam film Dawn of the Dead.

Lorong yang gelap itu berujung di sebuah ruang semen berbau alkohol dan badan manusia. Pemandangan tempat itu bergaya surealis—sebuah gua di dalam gunung yang dipenuhi oleh ratusan manusia yang bergerak menjadi satu. Mereka meloncat naik turun dengan kedua tangan di sisi badan dan kepala yang mengangguk-angguk seperti sebuah bola tak bernyawa di ujung tulang yang kaku. Jiwa-jiwa kerasukan meloncat dan panggung dan mendarat di atas lautan manusia. Badan-badan manusia dioper ke sana-sini seperti bola voli pantai. Di bagian atas, lampu-lampu disko yang berkedip membuat segalanya tampak seperti sebuah film bisu yang kuno.

Pada sisi dinding yang jauh, beberapa pengeras suara sebesar mobil minivan bergetar keras sehingga para penari yang paling terlatih pun tidak bisa mendekat lebih dan tiga puluh kaki di depan woofer yang menghentak-hentak.

Becker menutup telinganya dan mencari-cari di antara kerumunan itu. Ke mana pun dia memandang, pasti yang tampak adalah kepala berambut merah, putih, dan biru. Badan mereka berhimpitan begitu dekat sehingga Becker tidak bisa melihat apa yang mereka pakai. Dia tidak melihat ada tanda-tanda bendera Inggris di mana pun. Sudah jelas, dia tidak bisa memasuki kerumunan itu tanpa terinjak-injak. Kemudian, seseorang di dekatnya muntah.

Bagus. Becker mengerang. Dia bergerak mendekati sebuah lorong yang bercat semprot.

Lorong itu berubah menjadi sebuah terowongan sempit bercermin, yang kemudian berakhir di sebuah teras terbuka dengan meja dan kursi yang tersebar di mana-mana. Teras itu dipenuhi oleh para punk rocker, tetapi bagi Becker teras itu bagaikan pintu masuk ke Shangn-La—di atasnya terbentang langit musim panas dan suara musik melemah.

Sambil mengabaikan beberapa tatapan heran, Becker berjalan ke arah kerumunan di sana. Dia melonggarkan dasinya dan duduk di sebuah kursi di meja terdekat. Rasanya sudah lama sekali sejak dia terbangun tadi pagi.

Setelah menyingkirkan botol-botol bir kosong dan atas meja, Becker membenamkan kepalanya di dalam tangannya. Hanya untuk beberapa menit, pikirnya.

Lima mil dan sana, seorang pria dengan kacamata berbingkai kawat duduk di tempat duduk belakang sebuah taksi Fiat yang meluncur sepanjang jalan pedesaan.

“Embrujo,” dia bergumam untuk mengingatkan sopir taksi itu ke mana tujuan mereka.

Sopir itu mengangguk sambil melihat pria itu dengan heran lewat cermin di depannya. “Embrujo,” gumamnya sendiri, “kerumunan orang yang makin bertambah aneh tiap malamnya.”

***

53

TOKUGEN NUMATAKA berbaring telanjang di atas meja pijat di dalam ruang kantornya di griya tawang. Tukang pijat pribadinya berusaha menghilangkan kepenatan di lehernya. Wanita itu menekan sambil memutar telapak tangannya di sekitar ceruk berdaging pada tulang belikat Numataka. Dia terus memijat turun ke arah bagian bokong yang tertutup handuk. Wanita itu menyelipkan tangannya lebih ke bawah lagi… ke bawah handuk. Numataka hampir tidak memerhatikannya. Pikirannya sedang berada di tempat lain. Dari tadi dia menunggu saluran telepon pribadinya berdering. Tetapi ternyata belum juga.

Ada ketukan di pintu.

“Masuk,” Numataka menggerutu.

Tukang pijat itu segera menarik tangannya dari bawah handuk.

Operator switchboard masuk dan membungkuk. “Ketua yang terhormat?”

“Bicara.”

Operator itu membungkuk untuk kedua kali. “Saya telah berbicara dengan perusahaan telepon. Telepon itu memiliki kode negara 1—Amerika Serikat.”

Numataka mengangguk. Ini berita baik. Telepon itu berasal dan Amerika. Numataka tersenyum. Ini tidak main-main.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.