Baca Novel Online

Digital Fortress

Becker meraih ke atas dan menarik tanda peringatan bagi pengemudi di dinding. Sudah saatnya untuk turun. Dia menarik lagi. Tidak terjadi apa-apa. Dia menarik untuk ketiga kalinya dengan lebih keras. Tidak terjadi apa-apa.

“Mereka memutuskan sambungannya untuk bus 27.” Anak itu kembali meludah. “Supaya tidak kami mainin.”

Becker berbahk. “Maksudmu, aku tidak bisa turun?’

Anak itu tertawa. “Tidak sebelum sampai akhir rute.”

LIMA MENIT kemudian, bus itu meluncur di atas jalan pedesaan Spanyol yang gelap. Becker berpaling kepada anak di belakangnya. “Apakah kendaraan ini akan berhenti?”

Anak itu mengangguk. “Beberapa mil lagi.” “Kita hendak ke mana?”

Tiba-tiba remaja itu menyeringai lebar. “Maksudmu, kau tidak tahu?”

Becker mengangkat bahunya.

Anak itu mulai tertawa histeris. “Oh, gila. Kau akan menyukainya.”

***

50

BEBERAPA YARD dari lambung TRANSLTR, Phil Chartrukian berdiri di atas sebuah plat dengan tulisan putih di lantai Crypto.

LANTAI BAWAH CRYPTO HANYA BAGI YANG BERWENANG

Chartrukian sadar bahwa dirinya sama sekali tidak termasuk yang berwenang. Dia melihat ke arah ruang kantor Strathmore dengan cepat. Tirai-tirainya masih menutup. Chartrukian telah melihat Susan pergi ke kamar kecil, jadi dia tahu perempuan itu tidak menjadi masalah. Masalah yang lain adalah Hale. Chartrukian melihat ke arah Node 3, dan bertanya-tanya apakah krip-tografer itu sedang memerhatikannya atau tidak.

“Peduli setan,” gumam petugas Sys-Sec itu.

Di bawah kakinya, bingkai pintu kolong yang berada di dalam ceruk pada lantai hamper tidak kelihatan. Chartrukian meraba kunci yang tadi diambilnya dari laboratorium Sys-Sec.

Dia berlutut, memasukkan kunci itu pada lubang di lantai, dan berbahk. Dia kemudian melepas kancing pintu untuk membukanya. Setelah menoleh ke belakang untuk memeriksa sekali lagi, Chartrukian berjongkok dan menarik pintu tersebut. Daun pintu kecil yang berukuran tiga kaki kali tiga kaki itu sangat berat. Ketika akhirnya terbuka, petugas Sys-Sec itu terhuyung ke belakang.

Semburan udara panas dengan sengatan tajam gas Freon menerpa wajahnya. Gelombang-gelombang uap mengalir keluar, disinari oleh lampu di bawahnya. Suara dengungan pembangkit tenaga di bagian bawah berubah menjadi gemuruh. Chartrukian bangkit berdiri dan melihat ke dalam lubang itu. Rupanya lebih mirip pintu masuk ke neraka daripada sebuah jalan masuk ke bagian perawatan komputer. Sebuah tangga sempit menghubungkan lantai Crypto dengan sebuah landasan di bawahnya. Di sana terdapat beberapa anak tangga. Tetapi yang bisa dilihat Chartrukian hanyalah kabut kemerahan.

GREG HALE berdiri di belakang kaca satu arah Node 3. Dia memerhatikan Phil Chartrukian menjejakkan kakinya pada tangga untuk turun ke ruang bawah tanah. Dan tempat Hale berdiri, bagian kepala petugas Sys-Sec itu seolah telah tertebas dan badannya dan tertinggal di atas lantai Crypto. Kemudian, secara perlahan kepala itu tenggelam dalam kabut yang berputar.

“Tindakan yang berani,” gumam Hale. Dia ta- hu ke mana Chartrukian akan pergi. Mematikan TRANSLTR secara manual dalam keadaan darurat adalah sebuah tindakan logis jika petugas Sys-Sec tersebut berpikir bahwa komputer itu terseranguirus. Malangnya, hal itu juga berarti Crypto akan dipenuhi oleh petugas Sys-Sec sepuluh menit lagi. Segala tindakan darurat akan memberikan tanda peringatan pada switchboard utama. Hale tidak bisa membiarkan Sys-Sec menyelidiki Crypto. Dia meninggalkan Node 3 dan berjalan menuju pintu kolong itu. Chartrukian harus dihentikan.

***

51

JABBA MIRIP seekor kecebong raksasa. Seperti tokoh film darimana nama panggilannya berasal, dia adalah seorang pria bulat tak berambut. Sebagai malaikat penjaga sistem komputer di NSA, Jabba berge rak dari satu departemen ke departemen lainnya sambil bekerja dan menegaskan kembali keyakinannya bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Tidak ada komputer di NSA yang terinfeksi selama masa kekuasaan Jabba; dan dia berniat mempertahankan keadaan itu.

Pangkalan utama Jabba adalah sebuah ruang kerja yang agak tinggi dan menghadap ke ruang bawah tanah NSA yang berisi bank data maharahasia. Di sanalah virus akan mengakibatkan kehancuran terbesar sehingga Jabba menghabiskan sebagian besar waktunya di situ. Tetapi pada saat itu, Jabba sedang beristirahat dan menikmati calzone, sejenis pai Italia, yang berisi daging asap pepperoni di kantin NSA yang buka sepanjang malam. Dia baru saja akan melahap porsi ketiganya ketika telepon selulernya berdering.

“Bicaralah,” katanya sambil terbatuk karena berusaha menelan apa yang ada di dalam mulutnya.

“Jabba,” kata sebuah suara wanita. “Ini Midge.”

“Ratu data!” seru pria besar itu. Dia selalu suka pada Midge Milken. Wanita itu cerdas, dan dia juga satu-satunya wanita yang mau bercumbu-rayu dengan Jabba. “Apa kabarmu?”

“Baik.”

Jabba mengelap mulutnya. “Kau ada di kantor?” “Ya.”

“Mau makan calzone bersamaku?”

“Mau sih, Jabba, tetapi aku sedang diet.”

“Benarkah?” Dia mencibir. “Aku boleh ikut?”

“Kau nakal.”

“Kau tidak tahu

“Senang bisa menemukanmu,” kata Midge. “Aku butuh nasihat.” Jabba menenggak minuman Dr Pepper. “Ceritakan.”

“Mungkin tidak berarti apa-apa,” kata Midge, “tetapi statistik Cryptoku menunjukkan sesuatu yang ganjil. Kuharap kau bisa menjelaskan beberapa hal.”

“Apa yang kaumihki?”

“Aku memiliki sebuah laporan yang menunjukkan bahwa TRANSLTR telah memproses sebuah berkas selama delapan belas jam dan belum berhasil memecahkannya.

Minuman Dr Pepper dalam mulut Jabba tersembur ke atas calzone-nya. “Kau bilang apa?”

“Ada ide?”

Jabba mengelap calzone-nya dengan serbet. “Laporan apa itu?”

“Laporan produksi. Analisis biaya dasar.” Midge dengan cepat menjelaskan apa yang dia dan Brinkerhoff temukan.

“Sudahkah kau menghubungi Strathmore?”

“Ya. Dia bilang segalanya baik-baik saja di Crypto. TRANSLTR bekerja dengan kecepatan penuh. Katanya data kami yang salah.”

Jabba mengerutkan keningnya yang bundar. “Jadi, apa masalahnya? Laporanmu keliru.” Midge tidak menjawab. Jabba menangkap jalan pikirannya. Dia mengernyit. “Kau tidak berpikir laporanmu keliru?”

“Betul.”

“Jadi, kau pikir Strathmore berbohong.”

“Bukan begitu,” kata Midge secara diplomatis karena sadar dia berada di posisi yang sulit. “Masalahnya statistikku tidak pernah salah sebelumnya. Aku ingin pendapat kedua.”

“Yah,” kata Jabba, “Aku tidak suka mengatakan ini, tetapi datamu salah.” “Kau pikir begitu?”

“Pekerjaanku taruhannya.” Jabba menggigit calzone-nya yang basah dan berbicara dengan mulut penuh. “Waktu terlama sebuah berkas pernah berada di dalam TRANSLTR adalah tiga jam. Itu sudah termasuk diagnostik, uji batas, segalanya. Satu-satunya yang bisa membuatnya bekerja selama delapan belas jam adalah virus. Tidak ada lagi yang bisa melakukannya.”

“Virus?”

“Ya, sejenis putaran yang berulang. Sesuatu masuk ke dalam prosesor, menciptakan sebuah perputaran, dan mengacaukan segalanya.”

“Ya,” kata Midge, “Strathmore telah berada di dalam Crypto selama 36 jam berturut-turut. Ada kemungkinan dia sedang melawan virus itu?”

Jabba tertawa. “Strathmore telah berada di dalamnya selama 36 jam? Malang sekali. Mungkin istrinya melarangnya pulang. Kudengar istrinya marah.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.