Baca Novel Online

Digital Fortress

“TRANSLTR memecahkan sebuah kode setiap enam menit lebih. Berkas terakhir setiap harinya diproses sampai mendekati tengah malam. Ini benar-benar tidak tampak seperti—” mendadak Midge berhenti dan terengah.

Brinkerhoff terloncat. “APA!”

Midge menatap kertas itu dengan rasa tidak percaya. “Berkas itu? Vang masuk ke TRANSLTR semalam?” “Ya?”

“Berkas tersebut belum terpecahkan. Waktu masuknya adalah 23:37:08—tetapi di sini tidak tercetak kapan berkas itu terpecahkan.” Midge membolak-balik laporan itu. “Kemarin ataupun hari ini!”

Brinkerhoff mengangkat bahunya, “Mungkin orang-orang itu mencobakan sebuah tes diagnostik yang sulit.”

Midge menggeleng. “Sampai delapan belas jam?” Dia terdiam. “Tidak mungkin. Lagi pula, antnan data menunjukkan berkas itu berasal dan luar. Kita harus menghubungi Strathmore.”

“Di rumah?” Brinkerhoff menelan ludah. “Pada Sabtu malam?”

“Tidak,” jawab Midge. “Aku tahu Strathmore, dan kukira dia tahu tentang hal ini. Aku berani bertaruh, dia pasti ada di sini. Hanya firasat saja.” Firasat Midge adalah hal kedua yang tidak pernah diragukan orang. “Mari,” kata Midge sambil berdiri. “Coba kita lihat apakah aku benar.”

BRINKERHOFF MENGIKUTI Midge ke ruang kerja wanita tersebut. Sampai di sana, Midge langsung duduk dan mulai mengetik pada papan tuts Big Brother layaknya seorang pemain organ kawakan.

Brinkerhoff melihat deretan monitor video yang ada di dinding. Layar-layarnya menampilkan lambang NSA. “Kau akan menyusup ke dalam Crypto?” Brinkerhoff bertanya dengan gugup.

“Tidak,” jawab Midge. “Kuharap aku bisa, tetapi Crypto adalah tempat yang tersegel. Tidak ada video. Tidak ada suara. Tidak ada apa-apa. Perintah Strathmore. Vang bias aku gunakan adalah statistik dan beberapa hal mendasar tentang TRANSLTR. Kita sudah beruntung bisa mendapatkan itu. Strathmore menginginkan isolasi penuh, tetapi Fontaine bersikeras bahwa isolasi untuk hal-hal utama saja.”

Brinkerhoff tampak bingung. “Tidak ada video di dalam Crypto?”

“Kenapa?” tanya Midge tanpa berpaling dan monitornya. “Kau dan Carmen mencari tempat yang lebih aman?”

Brinkerhoff menggumamkan sesuatu yang tidak terdengar.

Midge mengetik sesuatu. “Aku memeriksa daftar penggunaan lift Strathmore.” Midge mempelajari monitornya sesaat dan kemudian mengetukkan jemarinya di atas meja. “Strathmore ada di sini,” kata Midge tanpa tedeng aling-aling. “Strathmore berada di dalam Crypto sekarang. Perhatikan ini. Omong-omong tentang waktu yang panjang—Strathmore masuk kemarin pagi-pagi sekali, dan liftnya tidak bergerak sejak saat itu. Tidak ada laporan tentang penggunaan kartu magnet oleh dirinya di pintu utama. Jadi dia pasti ada di dalam NSA.”

Brinkerhoff sedikit bernapas lega. “Jadi, jika Strathmore berada di sini, berarti semua baik-baik saja, bukan?”

Midge berpikir sesaat. “Mungkin,” akhirnya dia memutuskan.

“Mungkin?”

“Kita harus menghubungi Strathmore dan memeriksa ulang.”

Brinkerhoff mengerang. “Midge, dia itu wakil direktur. Aku yakin dia bisa mengatasi segala hal. Jangan meragukan-”

“Oh, ayolah, Chad—jangan seperti anak kecil. Kita hanya melakukan tugas kita. Kita mempunyai masalah di bagian statistik dan kita hanya sedang menyelesaikannya. Lagi pula,” tambah Midge, “aku ingin mengingatkan Strathmore bahwa Big Brother terus mengawasi. Biar dia berpikir dua kali sebelum merencanakan tindakan-tindakan tololnya untuk menyelamatkan dunia.” Midge mengangkat gagang telepon dan mulai memutar nomornya.

Brinkerhoff tampak gelisah. “Kau yakin kau perlu mengganggunya?”

“Aku tidak mengganggunya,” kata Midge sambil menyodorkan gagang telepon itu ke arah Brinkerhoff. “Kau yang melakukannya.”

***

48

“APA?” SEMBUR Midge dengan rasa tidak percaya. “Strathmore mengatakan data kita salah?”

Brinkerhoff mengangguk dan menutup telepon itu.

“Strathmore menyangkal bahwa TRANSLTR terjebak dengan satu berkas selama delapan belas jam?”

“Dia tadi cukup ramah saat mendengar semuanya.” Brinkerhoff bersemu karena merasa senang bisa selamat dari percakapan telepon dengan Strathmore. “Dia meyakinkanku bahwa TRANSLTR bekerja dengan baik. Katanya mesin itu memecahkan sebuah kode setiap enam menit, bahkan pada saat kita berbicara. Dia juga berterima kasih karena sudah memastikan hal ini dengannya.”

“Dia bohong,” kata Midge ketus. “Aku telah mengolah statistik Crypto selama dua tahun. Dataku tidak pernah salah.”

“Selalu ada yang pertama kali untuk segala hal,” kata Brinkerhoff dengan santai.

Midge menatapnya dengan marah. “Aku memeriksa semua data dua kali.” “Yah … kau tahu, kan, apa kata orang tentang komputer. Jika dia berbuat salah, paling tidak dia tetap konsisten.”

Midge berbahk dan menatap Brinkerhoff. “Ini tidak lucu, Chad! Wakil Direktur Operasional baru saja menyampaikan kebohongan yang mencolok kepada kantor Direktur Utama. Aku ingin tahu kenapa!”

Brinkerhoff tiba-tiba berharap dirinya tidak memanggil Midge kembali tadi. Pembicaraannya dengan Strathmore di telepon telah membuat Midge mengamuk. Semenjak kasus Skipjack, kapan pun Midge merasa terjadi sesuatu yang mencurigakan, wanita itu akan secara mengerikan berubah dan seorang teman bercumbu menjadi setan. Tidak ada yang bisa menghentikannya sampai dia berhasil menyelesaikan masalahnya.

“Midge, mungkin saja data kita keliru,” kata Brinkerhoff dengan tegas. “Maksudku, coba pikir—sebuah berkas yang terjebak di dalam TRANSLTR selama delapan belas jam? Belum pernah kudengar sebelumnya. Pulanglah. Sudah malam.”

Midge menatapnya dengan angkuh dan melempar laporan itu ke atas meja. “Aku memercayai data ini. Naluriku mengatakan data itu benar.”

Brinkerhoff mengernyit. Bahkan sang direktur tidak mempertanyakan naluri Midge Milken—wanita itu memiliki bakat untuk selalu benar.

“Ada sesuatu yang terjadi,” tegas Midge. “Dan aku bermaksud mencari tahu apa itu.”

***

49

BECKER MENARIK dirinya dari atas lantai bus dan terhenyak ke atas sebuah kursi yang kosong.

“Tindakan yang hebat, goblok.” Anak muda dengan tiga duri itu mencibir. Mata Becker memicing di dalam cahaya yang remang-remang itu. Remaja itu adalah anak yang dikejarnya sampai ke atas bus. Dengan murung Becker melihat ke arah lautan rambut berwarna merah, putih, dan biru itu.

“Kenapa rambut kalian seperti itu?” Becker mengerang sambil menunjuk ke arah yang lain. “Semuanya

“Merah, putih, dan biru?” lanjut anak

itu.

Becker mengangguk sambil berusaha untuk tidak menatap infeksi pada lubang di bibir atas anak itu.

“Judas Taboo,” kata anak itu apa adanya.

Becker kelihatan bingung.

Anak punk itu meludah di lorong antar deretan kursi. Jelas dia kesal pada ketidaktahuan Becker. “Judas Taboo? Punk terhebat setelah Sid Vicious? Dia menembak kepalanya tepat setahun yang lalu hari ini. Ini adalah peringatan atas kernatiannya.”

Becker mengangguk lemah, sama sekali tidak mengerti.

“Taboo menata rambutnya seperti ini waktu dia mati.” Anak itu meludah lagi. “Setiap penggemar setianya memiliki rambut merah, putih, dan biru hari ini.”

Untuk beberapa lama, Becker tidak berkata apa-apa. Secara perlahan, seolah dirinya telah diberi suntikan penenang, Becker berbahk dan menatap ke depan. Dia memerhatikan kelompok di dalam bus tersebut. Semua penumpang berdandan gaya punk dan kebanyakan dan mereka sedang menatap Becker.

Setiap penggemar memiliki rambut merah, putih, dan biru.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.