Baca Novel Online

Digital Fortress

Komputer besar pemecah sandi itu memiliki virus— petugas Sys-Sec itu sangat yakin. Ada satu hal yang harus dilakukannya. Matikan komputer itu.

Chartrukian tahu ada dua cara untuk mematikan computer itu. Cafa yang pertama adalah melalui komputer pribadi sang komandan, yang selalu terkunci di dalam ruang kantornya—sehingga tidak memungkinkan. Cafa kedua adalah dengan menggunakan sebuah tombol manual yang terletak di salah satu lantai di bawah Crypto.

Chartrukian menelan ludah. Dia membenci lantai-lantai bawah tanah itu. Dia hanya pernah berada di sana satu kali, waktu latihan. Tempat itu seperti dunia mahkluk asing yang penuh dengan jalan sempit berkelok-kelok, pipa-pipa freon, dan rangkaian kabel memusingkan sepanjang 136 kaki yang terhubung dengan pembangkit tenaga di bawahnya ….

Itu adalah tempat terakhir yang ingin dikunjunginya, dan Strathmore adalah orang terakhir yang ingin dilawannya, tetapi tugas adalah tugas. Mereka akan berterima kasih padaku besok, pikirnya sambil bertanya-tanya apakah dirinya benar.

Sambil menghirup napas panjang, Chartrukian membuka pintu lemari penyimpanan dan logam. Pada sebuah rak yang penuh dengan suku cadang komputer terdapat sebuah gelas mug alumni Stanford yang tersembunyi di belakang sebuah konsentrator media dan alat penguji LAN. Tanpa menyentuh bibir mug itu, Chartrukian menggapai ke dalam dan mengeluarkan sebuah kunci Medeco. “Ajaib,” gerutunya, “apa yang tidak diketahui oleh para petugas Sys-Sec mengenai masalah keamanan.”

***

47

“SEBUAH KODE rahasia seharga satu miliar?” cibir Midge sambil mendampingi Brin-kerhoff berjalan kembali di lorong. “Lucu juga.”

“Sumpah,” kata Brinkerhoff.

Midge melihatnya dengan tatapan ragu. “Jangan sampai ini hanya akal-akalan untuk melucuti bajuku.”

“Midge, aku tidak akan pernah—” katanya dengan gaya sok suci.

“Aku tahu, Chad. Jangan ingatkan aku.”

Tiga puluh detik kemudian, Midge duduk di kursi Brinkerhoff dan mempelajari laporan Crypto.

“Benar bukan?” kata Brinkerhoff sambil mencondongkan badannya ke arah Midge dan menunjuk ke angka tersebut. “MCD ini? Satu miliar dolar!”

Midge terkekeh. “Tampaknya sedikit terlalu tinggi, bukan?”

“Ya.” Brinkerhoff mengerang. “Hanya sedikit.”

“Kelihatannya seperti sebuah pembagian dengan angka nol.” “Apa?”

“Sebuah pembagian dengan angka nol,” kata Midge sambil memeriksa seluruh data. “Nilai MCD dihitung dalam pecahan—total pengeluaran dibagi dengan jumlah sandi yang dipecahkan.”

“Tentu saja.” Brinkerhoff mengangguk tanpa perhatian dan berusaha untuk tidak melirik ke bagian depan gaun Midge.

“Jika penyebutnya nol,” jelas Midge, “hasil baginya menjadi tidak terbatas. Komputer membenci jumlah yang tidak terbatas, jadi mesin itu menyuguhkan angka sembilan dalam seluruh tampilan.” Midge menunjuk ke kolom yang berbeda. “Lihat ini?”

“Ya.” Perhatian Brinkerhoff kembali tertuju pada kertas itu.

“Ini data kasaf produksi hari ini. Perhatikan jumlah sandi yang dipecahkan.”

Dengan patuh, Brinkerhoff mengikuti gerak jari Midge di atas sebuah kolom.

JUMLAH SANDI VANG DIPECAHKAN = □

Midge mengetukkan jarinya pada angka itu. “Seperti yang kuduga. Sebuah pembagian dengan angka nol.”

Alis Brinkerhoff melengkung ke atas. “Jadi, semua baikbaik saja?”

Midge mengangkat bahunya. “Artinya, kita belum memecahkan kode apa pun hari ini. TRANSLTR pasti sedang beristirahat.”

“Beristirahat?” Brinkerhoff tampak ragu-ragu. Dia sudah cukup lama menyertai sang direktur untuk tahu bahwa “beristirahat” tidak termasuk dalam gaya kerja beliau— terlebih jika berhubungan dengan TRANSLTR. Fontaine telah membayar US$2 miliar untuk mesin raksasa pemecah kode itu, dan dia tidak ingin uangnya terbuang percuma. Setiap detik TRANSLTR tidak bekerja sama dengan uang terbuang ke dalam kakus.

“Ah … Midge?” kata Brinkerhoff. “TRANSLTR tidak pernah beristirahat. Mesin itu bekerja siang malam. Kau tahu itu.”

Midge mengangkat bahunya. “Mungkin semalam Strathmore tidak ingin tinggal untuk menyiapkan tugas-tugas akhir pekan? Mungkin dia tahu Fontaine sedang tidak ada dan kemudian pergi memancing.”

“Ayolah, Midge.” Brinkerhoff memandangnya dengan pandangan kesal. “Jangan seperti itu kepadanya.”

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Midge tidak menyukai Treuor Strathmore. Strathmore telah berusaha membuat sebuah manuver licik dengan menulis Skipjack, tetapi dia tidak ditangkap. Walaupun niat Strathmore mulia, NSA harus membayar mahal perbuatannya. EFF telah mendapatkan kekuatan sehingga Fontaine kehilangan kredibilitasnya di Kongres, dan yang terburuk adalah, agensi itu banyak kehilangan kerahasiaannya. Tiba-tiba para ibu rumah tangga di Minnesota mengeluh kepada American Online and Prodigy bahwa NSA mungkin mengintip email mereka—seolah-olah NSA peduli pada sebuah resep rahasia untuk membuat permen talas.

Kesalahan Strathmore telah merugikan NSA dan Midge merasa bertanggung jawab—bukan karena dia seharusnya bias mengantisipasi tindakan sang komandan, tetapi karena tindakan tidak sah itu dilakukan tanpa sepengetahuan Direktur Fontaine. Padahal, Midge dibayar untuk memastikan agar hal seperti itu tidak terjadi. Sikap Fontaine yang tidak mau ikut campur membuat dirinya menjadi rentan; dan hal ini membuat Midge resah. Tetapi sejak dulu, sang direktur telah belajar untuk mundur dan membiarkan para ahli mengerjakan tugas mereka. Dengan cara seperti inilah Fontaine memperlakukan Strathmore.

“Midge, kau tahu pasti Strathmore tidak pernah lalai,” debat Brinkerhoff. “Dia menjalankan TRANSLTR bagai kesetanan.”

Midge mengangguk. Jauh di dalam hatinya, Midge mengakui bahwa menuduh Strathmore berbuat lalai adalah hal konyol. Sang komandan sangat berdedikasi— terlalu berdedikasi. Tugasnya memerangi segala kejahatan di dunia bagaikan sebuah salib yang harus dipikulnya. Rencana Skipjack NSA adalah hasil pemikirannya—sebuah usaha yang berani untuk mengubah dunia. Malangnya, seperti kebanyakan orang suci lainnya, perjuangan Strathmore berakhir dengan penyaliban.

“Baiklah,” Midge mengaku, “aku memang sedikit terlalu keras.”

“Sedikit?” Mata Brinkerhoff mengecil. “Strathmore memiliki timbunan berkas sepanjang satu mil. Dia tidak akan membiarkan TRANSLTR menganggur sepanjang akhir pekan.”

“Baiklah, baiklah,” Midge mendesah. “Aku salah.” Dia mengerutkan kening dan bertanya-tanya kenapa TRANSLTR belum memecahkan sebuah kode pun sepanjang hari. “Biar aku periksa kembali,” kata Midge dan mulai membolak-balik laporan itu. Dia menemukan apa yang dicarinya saat memeriksa angka-angka tersebut. Setelah beberapa saat, dia mengangguk. “Kau benar, Chad. TRANSLTR telah bekerja secara maksimal. Konsumsi energi bahkan sedikit lebih tinggi dan biasanya. Kita menghabiskan lebih dan setengah juta kilowatthour sejak tengah malam tadi.”

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

Midge bingung. “Aku tidak yakin. Ini aneh.”

“Kau ingin memeriksa ulang datanya?”

Midge menatap Brinkerhoff dengan tatapan tidak setuju. Ada dua hal yang tidak diragukan orang tentang Midge. Vang pertama adalah ketepatan datanya. Brinkerhoff menanti, sementara Midge mempelajari beberapa angka.

“Hah,” akhirnya Midge bergumam. “Statistik kemarin kelihatannya tidak bermasalah. Ada 237 kode yang terpecahkan. MCD, US$ S74. Waktu rata-rata per kode, enam menit lebih sedikit. Angka konsumsi energi, rata-rata. Kode terakhir yang memasuki TRANSLTR-” Midge berhenti.

“Ada apa?”

“Ini aneh,” kata Midge. “Berkas terakhir dalam daftar antnan kemarin mulai diproses jam 11:37 malam.” “Jadi?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.