Baca Novel Online

Digital Fortress

Brinkerhoff memerhatikan ruang kantor berlapis kayu di sekelilingnya. Dia sadar dia telah mencapai posisi tertinggi yang mungkin dicapainya di NSA. Dia berada di lantai sembilan— Deretan Mahogani. Ruang kantor 9A197. Bagian Direksi.

Saat itu malam Sabtu, dan Deretan Mahogani kosong. Para eksekutif telah lama pulang—pergi menikmati segala macam kegiatan santai yang biasa dilakukan oleh orang-orang berpengaruh di waktu senggang mereka. Walaupun selalu memimpikan sebuah posisi yang “nyata” di perusahaan itu, Brinkerhoff akhirnya bekerja sebagai “pembantu pribadi”—sebuah posisi resmi namun buntu di antara persaingan politis yang tiada akhir. Kenyataan bahwa dirinya bekerja berdampingan dengan satusatunya pria paling berkuasa di bidang intelijen Amerika tidak banyak menghiburnya. Bnnkerhoff lulus dengan cemerlang dan Andouer and Williams, dan tetap saja dirinya berada di sini, setengah baya, tanpa kuasa yang nyata—tidak ada tantangan yang nyata. Dia menghabiskan hari-harinya mengatur jadwal orang lain.

TENTU SAJA ada keuntungan-keuntungan tertentu dengan bekerja sebagai pembantu pribadi sang direktur— Bnnkerhoff memiliki sebuah ruang kantor mewah di bagian direksi, akses penuh ke semua departemen NSA, dan sedikit rasa hormat dan perusahaan yang dikelolanya. Dia melakukan beberapa hal untuk para penguasa di eselon tertinggi. Jauh di dalam hatinya, Bnnkerhoff sadar dia terlahir untuk menjadi pembantu pribadi—cukup cerdas untuk membuat catatan, cukup tampan untuk memberikan konferensi pers, dan cukup malas untuk merasa bahagia dengan pekerjaannya.

Suara dentingan manis dan jam di tempat perapiannya menandakan berakhirnya satu hari lagi dalam kehidupannya yang menyedihkan itu. Sial, pikir Bnnkerhoff. Jam lima sore pada hari Sabtu. Apa yang sedang aku lakukan di sini?

“Chad?” Seorang wanita muncul di ambang pintu.

Chad menengadah. Ternyata Midge Milke, analis keamanan internal, anak buah Fontaine. Wanita itu berusia enam puluh tahun, agak gempal, dan, ini yang agak membingungkan Bnnkerhoff, masih tampak cukup menarik. Wanita amat genit dan janda tiga kali itu berpatroli di keenam ruangan di bagian direksi dengan gaya sok kuasa. Dia cerdas, penuh intuisi, pekerja keras, dan digosipkan tahu tentang semua kinerja di dalam tubuh NSA lebih baik dibandingkan Tuhan

Sialan, pikir Brinkerhoff sambil melihat wanita yang mengenakan gaun kasmir abu-abu itu. Entah aku yang bertambah tua, atau dia yang kelihatan lebih muda.

“Laporan mingguan.” Wanita itu tersenyum sambil melambaikan setumpuk kertas. “Kau harus memeriksa fi-gure (angka-angka) ini.”

Brinkerhoff menatap tubuh Midge. “Dan sini figur (bentuk badan)-nya kelihatan bagus.”

“Jujur saja, Chad,” kata Midge sambil tertawa. “Aku cukup tua untuk menjadi ibumu.”

Jangan ingatkan aku, pikir Brinkerhoff.

Midge melangkah masuk dan berjalan pelan-pelan menuju meja Brinkerhoff. “Aku hendak keluar, tetapi Direktur menginginkan semua ini disusun sebelum dia kembali dan Amerika Selatan pada hari Senin pagi-pagi sekali.” Midge menjatuhkan kertas-kertas itu di depan Brinkerhoff.

“Memangnya siapa aku ini? Seorang akuntan?” “Tidak, say, kau direktur pengendali. Kupikir kautahu

itu.”

“Jadi apa yang kulakukan, mengunyah angka-angka?”

Wanita itu mengacak-acak rambut Brinkerhoff. “Kau membutuhkan lebih banyak tanggung jawab. Nah, ini dia.” Dia mendongak dengan sedih ke arah wanita itu. “Midge … aku tidak memiliki kehidupan.”

Midge mengetuk tumpukan kertas itu dengan jarinya. “Ini hidupmu, Chad Brinkerhoff.” Midge menatapnya dan sikapnya melunak. “Ada yang bisa kuambilkan sebelum aku

pergi?”

Bnnkerhoff melihat Midge dengan pandangan memohon dan memutar lehernya yang sakit. “Bahuku pegal.” Midge tidak terpancing. “Minum aspinn.” Bnnkerhoff cemberut. “Tidak ada pijatan di punggung?”

Midge menggeleng. “Cosmopohtan melaporkan, dua per tiga dan acara pijat punggung berakhir dengan seks.” Bnnkerhoff tampak dongkol. “Kita tidak pernah berakhir begitu.”

“Tepat sekali.” Midge berkedip. “Itulah masalahnya.” “Midge-”

“Malam, Chad.” Dia berjalan ke pintu. “Kau akan pergi?”

“Kau tahu aku ingin tinggal,” kata Midge sambil berhenti di dekat pintu, “tetapi aku masih punya harga diri. Aku tidak mau jadi cadangan—terutama untuk seorang remaja.”

“Istriku bukan remaja,” kata Bnnkerhoff membela diri. “Dia hanya bertingkah seperti remaja.”

Midge menatapnya dengan terkejut. “Aku tidak sedang membicarakan istrimu.” Midge mengedipkan bulu matanya dengan gaya tidak bersalah. “Aku sedang membicarakan Garmen.” Midge menyebut nama itu dengan aksen Puerto Rico yang kental.

Suara Bnnkerhoff menjadi agak sumbang. “Siapa?”

“Garmen? Di bagian layanan makanan?”

Bnnkerhoff merasa dirinya bersemu. Garmen Huerta adalah juru masak kue berusia 27 tahun yang bekerja di kantin NSA. Bnnkerhoff telah beberapa kali menikmati pertemuan yang seharusnya bersifat rahasia bersama perempuan itu di gudang makanan.

Midge berkedip nakal padanya. “Ingat, Chad … Big Brother mengetahui segalanya.”

Big Brother? Brinkerhoff menelan ludah. Big Brother juga mengawasi gudang?

Big Brother, atau “Brother” sebagaimana Midge sering memanggilnya, adalah mesin Centrex 333 yang berada di sebuah rungan kecil di luar ruang tengah bagian direksi. Brother adalah segalanya bagi Midge. Mesin itu menerima informasi dan 14S kamera video sirkuit tertutup, 399 pintu elektronik, 377 penyadap telepon, dan 212 penyadap mandiri di seluruh kompleks NSA.

Para direktur NSA pernah mendapatkan pelajaran pahit. Mereka akhirnya sadar bahwa 26.000 karyawan, selain sebuah aset yang besar, juga merupakan tanggung jawab yang besar. Setiap pelanggaran keamanan besar sepanjang sejarah NSA berasal dan dalam. Tugas Midge seorang analis keamanan internal adalah mengawasi apa saja yang terjadi di dalam dinding-dinding NSA … rupanya termasuk gudang makanan di kantin.

Brinkerhoff berdiri untuk membela diri, tetapi Midge telah keluar.

“Tangan di atas meja,” seru Midge lewat bahunya. “Jangan berbuat yang tidak-tidak setelah aku pergi. Dinding-dinding mempunyai mata.”

Brinkerhoff kembali duduk dan mendengar suara ketukan hak sepatu Midge menghilang di lorong. Paling tidak dia tahu Midge tidak akan membocorkan rahasianya. Midge bukannya tidak mempunyai kelemahan. Perempuan itu telah beberapa kali menuruti kehendak hati untuk bersenang-senang—yang biasanya berupa acara pijat punggung bersama Brinkerhoff.

Pikiran Brinkerhoff kembali kepada Garmen. Dia membayangkan tubuh Garmen yang lentur dan gesit, pahanya yang berwarna gelap, radio AM yang selalu disetelnya kencang—lagu salsa San Juan yang panas. Bnnkerhoff tersenyum. Mungkin aku akan mampir untuk, sedikit makanan kecil setelah aku selesai nanti.

Bnnkerhoff membuka halaman pertama pada tumpukan kertasnya.

CRVPTO—PRODUKSI/PENGELUARAN

Semangat Bnnkerhoff segera naik. Midge telah memberinya mainan. Laporan Crypto biasanya mudah. Secara teknis, dia harus menyusun rapi segala hal, tetapi satu-satunya angka yang diminta oleh Direktur adalah MCD (Mean Cost per Descryption) atau biaya rata-rata per sandi yang dipecahkan. MCD adalah perkiraan biaya yang diperlukan TRANSLTR untuk memecahkan sebuah kode. Sejauh itu di bawah US$ 1.000, Fontaine tidak akan khawatir. Seribu dolar untuk setiap sandi yang berhasil dipecahkan. Bnnkerhoffterkekeh. Biaya tersebut dibayar dengan uang pajak yang didapatkan oleh pemerintah.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: April 4, 2018 00:52

    pramsky

    mesti gonta ganti kontras
  • Posted: September 13, 2018 09:34

    Ken aguero drako

    banyakin dong. The lost symbol juga. Novel agatha christie juga dong. Semangat.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.